
Pagi itu cuaca memang tidak begitu mendukung untuk beraktivitas. Namun Dhyanda tetap semangat untuk berangkat ke sekolah meski hujan sedang mengguyur ibu kota dari semalam.
"Hujannya makin deres lho, Dhy. Yakin berangkat sekarang?" ujar Ibu Arumi melihat Dhyanda yang bersiap hendak berangkat.
Dhyanda hanya mengangguk memberi jawaban. Sebenarnya males juga basah-basahan ke sekolah, tapi bagaimana lagi, Senin ini ada ulangan bahasa Inggris di jam pertama pelajaran.
"Kamu masih marah sama ibu?" terka Arumi melihat sikap Dhyanda yang diam saja sejak bangun tidur subuh tadi.
Mendengar itu Dhyanda mengernyit, "marah? maksud ibu?" ia jadi bingung sendiri.
"Iya marah, soalnya ibu nggak ngijinin kamu kerja di kafe itu kan? ibu hanya pengen kamu fokus belajar. Bekerja bukan kewajiban kamu untuk sekarang. Kamu ngerti kan maksud ibu?" ujar Arumi.
"Ya ngerti Bu. Tenang aja, aku nggak marah kok sama ibu" sahut Dhyanda sambil menggelayut manja ke lengan ibunya.
"Trus kalo bukan marah kenapa kamu diemin ibu dari tadi?" tanya Arumi.
"Beneran aku nggak apa-apa Bu, efek hujan dari semalem jadi bawaannya males aja" sahut Dhyanda.
Arumi tersenyum lega, dipikirnya Dhyanda marah karena ia tidak mengijinkan anaknya itu kerja sebagai penyanyi kafe.
"Aku berangkat sekarang ya Bu" pamit Dhyanda seraya membuka payungnya.
Arumi mengangguk, "kamu hati-hati ya!" ucapnya hanya mengantar Dhyanda sampai depan pintu.
Dhyanda harus berjalan lima puluh meter terlebih dahulu sampai ke depan komplek. Disana barulah ada angkutan umum yang melewati sekolahnya. Memang rumah yang sekarang lebih dekat jaraknya ke sekolah dibanding rumah kontrakan dalam gang dulu. Aldrick memang sengaja memilih rumah baru itu untuk memudahkan Dhyanda ke sekolah.
TIDD! TIDD!
Baru beberapa langkah suara klakson mobil mengagetkannya dari arah belakang. Gadis itu reflek menoleh, dilihat mobil Range Rover berwarna putih sudah berhenti disampingnya. Kaca mobil itu pun perlahan turun, menampakkan seseorang yang tersenyum manis ke arah Dhyanda.
"Hujan, ayo naik!" teriaknya dari balik kemudi.
Dhyanda mengernyit bingung, merasa mengenali orang itu tapi ragu.
"Lupa ya? Saya yang dulu nemuin kamu sama Pak Aldrick di kantor" ujar lelaki yang ternyata Vero.
"Kantor?" gumam Dhyanda berusaha mengingat, "Oh ya ya... kakak yang dulu bantuin aku ngelacak pelaku penyebar foto itu kan?"
"Benar, ayo masuk! saya antar ke sekolah" sahut Vero.
Awal Dhyanda menolak, tapi setelah mati-matian Vero membujuk akhirnya gadis itu mau juga diantar ke sekolah.
"Mana hp kamu?" tanya Vero.
__ADS_1
"Heuh? buat apa?" Dhyanda terkesiap. Kaget juga ada orang yang terang-terangan menodongnya didalam mobil.
"Jangan salah paham. Saya hanya mau menyimpan nomer saya di kontak kamu. Kalo ada apa-apa jangan sungkan hubungin saya, dalam keadaan urgent sekalipun cepat hubungin saya" ujar Vero tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Dhyanda karena masih fokus menyetir.
"Kenapa harus ngehubungin kakak?" Dhyanda mengerutkan keningnya, masih nggak paham maksud perkataan kaki tangannya Aldrick itu.
"Pak Aldrick yang menyuruh saya buat jagain kamu selama dia nggak ada"
"Hah?" Dhyanda menganga seraya membulatkan matanya sempurna.
"Dia juga berpesan jangan pergi ke One Kafe itu lagi, apalagi pulang sampai larut malam sendirian seperti malam Minggu kemarin" ujar Vero dan langsung membuat Dhyanda terkaget-kaget.
"Apa? Kok dia tau gue ke One Kafe kemarin lusa?" tanya Dhyanda serius menatap Vero dari kursi penumpang samping kemudi.
"Maaf, selama ini Pak Aldrick meminta saya mengawasi mu. Apa yang kamu lakuin tiap hari ya saya laporkan"
"Lo gila ya!" Dhyanda lagi-lagi melotot kaget, "Jadi selama ini Lo buntutin gue?" ujarnya mulai tersulut.
Vero hanya mengangguk tenang dibalik kemudinya. Dhyanda yang melihat sikap Vero malah jadi keder sendiri. Apa semua orang-orang yang dekat dengan Aldrick bisa se-cool itu ya?
"Ah, sorry kalo barusan kata-kata gue kasar. Nggak nyangka aja kalo Kak Aldrick sampai segitunya" ucap Dhyanda yang sadar akan kata-katanya yang kurang sopan sama orang yang baru dikenalnya.
"it's oke, santai aja" sahut Vero masih terlihat kalem.
Busyett dah, lama-lama Dhyanda bisa shock sama sikap cool ni cowok. Jika Imel tau ada cowok model Vero begini pasti bisa bikin dia klepek-klepek tuh. Apa lagi face nya yang mirip Li Xian si aktor drama cina favoritnya itu.
"Ya, dia sedang berada di Irlandia sekarang, ada sedikit masalah pekerjaan disana. Besok lusa baru kembali ke London" jelas Vero.
"Oh, gitu ya" gumam Dhyanda merasa lega, setidaknya Aldrick baik-baik saja.
Akhirnya mobil yang dikemudikan Vero pun berhenti tepat didepan gerbang sekolah. Dhyanda pun segera turun setelah berpamit terlebih dulu pada Vero yang sudah berbaik hati mengantarnya ke sekolah ditengah hujan dan cuaca dingin seperti ini.
Dhyanda segera masuk ke kelas, nampak Imel sedang mengibas-ngibaskan rambutnya yang kelimis, juga seragamnya yang sedikit basah.
"Hujan kok awet bener ya. Kalo nggak ada ulangan nggak bakalan deh gue sekolah. Basah kuyup gini gue! oh my gosh," rutuk Imel.
Dhyanda malah menertawakannya, Imel berdecak kesal, apalagi melihat kondisi Dhyanda yang baik-baik saja. Seragamnya masih terlihat bersih, licin dan kering. Sepatunya pun masih terlihat aman-aman saja.
"Ke sekolah lewat mana Lo?" sindir Imel sinis.
"Pintu ajaib doraemon, makanya nggak kehujanan" jawab asal Dhyanda.
Imel mendengus, "ngayal!"
__ADS_1
Dhyanda tertawa lagi, bahagia betul kayanya ngerjain Imel pagi ini setelah tadi dirinya pun dikerjain Aldrick melalui Vero. Ya, Dhyanda merasa dikerjain Aldrick karena selama ini ternyata gerak geriknya dipantau cctv bernyawa.
"Om-om siapa lagi tuh yang nganter Lo barusan?" kedatangan Mauren dan Fatiya langsung mengintimidasi Dhyanda secara tiba-tiba.
"Apaan nih?" tantang Imel langsung pasang badan.
"Lo nggak tau kan kalo tadi sahabat Lo ini dianter si Om ke sekolah pake mobil mewah?" ucap Fatiya sinis.
"Apa urusannya sama kalian? ngiri?" balas Imel.
Mauren maju selangkah lebih dekat, "Jangan malu-maluin nama sekolah deh. Cuma ngingetin kalo mau jualan jangan pake seragam!" sarkas Mauren dan sukses membuat Imel geram.
"Eh, brengsek Lo ya!!" tunjuk Imel ke muka Mauren. Ia hampir saja mendorong tubuh Mauren namun Dhyanda segera mencegahnya.
"Udah, Mel!! nggak usah ditanggapin apa kata mereka yang hatinya busuk" ucap Dhyanda menjauhkan Imel dari Mauren. "dan Lo, Ren. Kayanya Lo musti ngaca dulu untuk ngeliat siapa diri Lo sebelum menghujat orang lain!" kali ini kalimatnya ditujukan pada Mauren dan Fatiya yang tak bosan-bosannya mengusili dirinya.
"Sialan!" umpat Mauren terpaksa kembali ke mejanya karena guru mata pelajaran pertama sudah datang. Pun dengan Fatiya yang selalu menjadi ekor Mauren. Kali ini mereka hanya berdua, karena teman satu gengnya, Bianca sudah pindah sekolah ketika kenaikan kelas beberapa bulan yang lalu.
.
Sepulang dari sekolah Dhyanda dan Imel memutuskan untuk mampir dulu dikedai es langganannya. Mereka duduk asik sambil menyeruput es Boba dari cupnya masing-masing.
"Pagi hujan, eh siangnya panas gini ya. Cuaca sekarang emang gak bisa diprediksi" ungkap Dhyanda.
"Itu makanya ramalan cuaca sekarang udah nggak ada. Cuacanya udah kagak mau diramal lagi" ujar Imel terkekeh.
"Apaan sih, nggak nyambung Lo, Mel" protes Dhyanda.
"Btw siapa tadi pagi yang nganter Lo ke sekolah?" tanya Imel masih penasaran karena Dhyanda belum mau buka suara.
"Oh, itu temennya Kak Aldrick" sahut Dhyanda akhirnya ngaku.
"Heran ya, kemarin sepupunya, sekarang temennya, besok siapanya lagi tuh yang nemuin lo?"
Dhyanda mengangkat bahunya, "ngapain dipikirin, liat aja besok" jawabnya enteng.
"Kok temennya Pak Aldrick bisa nganterin Lo ke sekolah? kebetulan apa sengaja?" tanya Imel lagi masih penasaran.
Akhirnya Dhyanda pun menceritakan semuanya pada Imel. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya takjub setelah Dhyanda selesai menjelaskan. "Nggak kaget sih gue" gumam Imel.
'Keseriusan Pak Aldrick nggak disitu aja, Dhy. Lo nggak tau aja kalo rumah kontrakan murah itu pun juga campur tangannya', batin Imel yang sudah berjanji untuk tidak membocorkannya pada Dhyanda.
.
__ADS_1
.
.