
Dhyanda menyiapkan makan malam seadanya untuk ibu Arumi dan Aldrick. Mereka makan bersama dimeja makan kecil nan sederhana dirumah itu.
"Maafin ibu ya, Dhy. Kamu jadi susah ngurusin ibu kaya gini" gumam Arumi saat Dhyanda dengan cekatan mengambilkan nasi serta lauk pauknya ke atas piring dihadapan Arumi.
"Gak apa-apa Bu, aku kan udah biasa masakin ibu kaya gini. Ibu lupa?" balasnya kini sibuk menuangkan air putih ke gelas ibu asuhnya.
"Iya, tapi gak sampe dilayani seperti ini juga" balas Arumi. Ia merasa kasihan dengan Dhyanda, sejak kecelakaan yang menimpanya kemarin, terpaksa Dhyanda harus menggantikan semua pekerjaan rumahnya. Tapi bukankah itu hal wajar sebagai seseorang yang sudah dianggap sebagai anak?
Dhyanda tersenyum melirik Arumi, "Tangan ibu kan masih sakit, wajar kalo aku layani" ucapnya.
Arumi hanya tersenyum lirih, kagum dengan sikap Dhyanda yang penyayang meski diantara mereka tidak ada ikatan darah apapun.
"Ayo kak, makan! gak perlu aku layanin seperti ke ibu kan?" Dhyanda melirik Aldrick yang sedari tadi sudah duduk manis seraya memperhatikan dirinya.
"Oh, oke" Aldrick terkesiap, ia langsung meraih sendok nasi dan menuangkannya ke atas piring. Dan tak disangka Dhyanda akhirnya membantu menuangkan capcay buatannya ke atas piring Aldrick, "Aku aja, Kamu juga makan!" cegahnya cepat.
Dhyanda mengangguk, lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Makan yang banyak, Dhy! badanmu kok sekarang lebih kurusan?" kata Arumi disela makannya.
"Masa sih? aku masih doyan makan lho Bu" sahut Dhyanda sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya yang masih penuh.
Aldrick yang melihatnya hanya bisa mengulum senyum melihat tingkah Dhyanda yang menggemaskan. Lelaki itu lebih banyak diam ketika sedang makan. tapi memperhatikan percakapan kecil antara ibu Arumi dan Dhyanda saat makan malah membuat Aldrick jadi merindukan Aleena. Sang adiknya itu selalu banyak bicara saat dimeja makan hingga Aaron seringkali menegurnya.
Namun sejak Aleena melakukan kesalahan fatal yang satu itu, sikap Aleena yang ceria dan humble tidak Aldrick temukan lagi dalam diri sang adik. Aldrick benar-benar kehilangan sosok Aleena yang menyenangkan seperti dulu. Terlebih saat Aaron memisahkannya dan mengirim Aleena ke London.
.
Vero menghubungi Aldrick tiba-tiba tepat saat mereka baru saja menyelesaikan makan malamnya. Aldrick beranjak berdiri, meminta ijin pada Dhyanda dan Bu Arumi untuk mengangkat telpon dari Vero.
“Mmm… aku balik sekarang ya?”, ucap Aldrick terpaksa harus menyudahi pertemuannya dengan sang pacar.
“Ada apa? Urgent ya?” tanya Dhyanda menyadari sikap Aldrick setelah selesai menerima panggilan telepon barusan.
“Enggak kok. Ini udah malem aja kali, Dhy. Ntar di grebek pak RT” seringai Aldrick mengelak.
__ADS_1
“Baru jam 8” protes Dhyanda.
“Kenapa? Kamu masih kangen ya?” goda Aldrick.
“Ya gak gitu…” cebik Dhyanda tersipu.
“Nanti aku telpon” jawab Aldrick beranjak berdiri, lalu berpamit kepada Ibu Arumi sebelum dirinya benar-benar pergi karena ada hal penting.
***
Dengan tergesa Aldrick mengendarai mobilnya kembali menuju ke gedung perusahaan O’Neill Grup. Kali ini lelaki itu memencet tombol 10 ditombol lift yang baru saja ia masuki. Aldrick menuju ke ruang kerja pribadinya.
“Apa yang lo dapet, Ver?” sambut Aldrick saat dilihatnya Vero yang sudah duduk menunggu di ruangan kerja Aldrick.
“Kaya yang lo duga, dia pelakunya. Lo bisa liat sendiri disana. Dia sedang diinterogasi sama bang Sony”, jawab Vero. Kali ini lelaki bernama Vero itu tampak santai berbincang dengan Aldrick. Tidak seperti tadi siang saat ada Dhyanda disamping Aldrick. Terlihat kaku seperti seorang bawahan yang sedang berbicara kepada atasannya. Vero itu teman semasa kuliah Aldrick, mereka cukup dekat. Vero dan Rizki si potografer freelance itu adalah sahabat baik Aldrick sudah lama.
“Dimana?” tanya Aldrick tak sabar.
“Brengsek!” Aldrick menjatuhkan tubuhnya dikursi. “Mana?”tangannya menjulur meminta sesuatu pada Vero
Dengan sigap Vero langsung mengeluarkan ipad ditangannya, “Bang Sony masih disana” tambah Vero sambil menunjukkan video dari kamera yang dipasang disalah satu dinding gudang berkas yang lokasinya tidak begitu jauh dari kantor.
Disanalah Gio, menghadapi orang kepercayaan Aldrick atau lebih tepatnya kaki tangan Aaron untuk hal-hal kasar dan berbahaya. Gio tak mengaku, meski Sony sudah menekannya dengan menunjukkan foto Dhyanda yang sudah dieditnya.
“Lo nggak mau keluar dengan selamat dari tempat ini?” ancam Sony setelah melayangkan satu bogem ke wajah Gio.
“Menuduh tanpa bukti?” balas Gio sengak.
Sony kesal, ia mengambil ponselnya dan menunjukkan bukti cctv di warnet, juga salinan isi ponsel Gio yang sudah teretas sempurna.
“Kecil-kecil mo jadi penjahat lo? Sekolah dulu yang bener! ” geram Sony. “orang gue udah ngurus kepindahan lo ke sekolah yang baru mulai besok. Jangan pernah lo ganggu Dhyanda lagi! Lo tinggal pilih, pindah sekolah dan jauhin tuh cewek, atau bokap lo yang bakalan kehilangan pekerjaannya gara-gara ulah brengsek lo”, terang Sony emosi.
Gio tercekat. Ia tak menyangka perbuatan isengnya akan berakhir seperti ini. Bahkan semua perbuatannya diancam dengan menghubungkannya dengan pekerjaan sang ayah.
__ADS_1
“Siapa lo berani ngancem gue?” gumam Gio kehabisan kata untuk membela diri.
“Gue? abangnya Dhyanda!” balas Sony bangga. “Kalo sampe gue tau lo nemuin Dhyanda lagi, jangan salahin gue kalo keluarga lo bakal jadi gembel diluar sana!” ancam Sony.
“Oke, gue ngaku salah bang. Gue minta maaf. Gue Cuma gak terima aja saat Dhyanda dengan mudahnya nerima cowo yang baru-baru ini dikenalnya. Dari sana gue berpikir kalau ternyata dia itu matre dan murahan”
Sony mengepalkan kedua tangannya geram. Ingin sekali ia menonjok lagi wajahnya. Namun Aldrick sudah memperingatkannya untuk tidak membuat pelakunya babak belur.
"Lo suka Dhyanda?" tanya Sony sinis.
Gio terdiam, sudah lama dia menyukai Dhyanda. tapi Dhyanda sudah terlanjur menganggapnya tak lebih hanya sebatas sahabat.
“Picik banget pikiran Lo, Tong. Dasar bocah!” sahut Sony, akhirnya menyerahkan Gio kepada dua temannya untuk mengawal Gio keluar dari gudang itu mengantar Gio pulang ke tengah-tengah keluarganya dengan selamat.
“Pastiin bocah itu pindah sekolah ke daerah yang jauh dari sekolah lamanya dan tidak lagi mengganggu Dhyanda!” sambut Aldrick saat Sony menemui Aldrick dan Vero diruangannya.
“Gue udah nyuruh anak buah gue buat awasi dia. Lo tenang aja”, kata Sony menepuk bahu Aldrick santai. Kalau sama Aaron mana berani dia melakukan hal itu. Jangankan menepuk bahu, menatapnya saja Sony tidak berani. Mungkin karena Aldrick lebih humble ketimang bapanya. Lagipula diusianya yang udah 33 tahun, Sony lebih cocok mengawal Aldrick daripada mengawal Aaron.
“Pastiin dia nggak tau kalau lo orang gue,” ujar Aldrick serius.
“Siap bos kecil!” seriangai Sony.
“Thanks, Bang!” Aldrick tersenyum lega. Posisi Sony ini lebih seperti kakak bagi Aldrick. Mereka tidak terlalu dekat karena Sony jarang mendampingi Aldrick. Sony lebih sering mendampingi Aaron kemana pun bos besar itu pergi jika memang itu diperlukan.
"Kelar deh tugas gue hari ini" seringai kecil Sony juga Vero.
.
.
.
Sebagian karena Laki-laki biasanya bersahabat dengan perempuan atas dasar ketertarikan, sedangkan perempuan biasanya bersahabat dengan laki-laki atas dasar kenyamanan. Wajar saja sang lelaki suka duluan memelihara perasaan dan harapan lebih, baik diakui maupun dipendam.
__ADS_1