
"Aaaww!!"
Casey yang tengah asik bermain game di laptopnya tersentak mendengar teriakan Dhyada. Ditutupnya laptop itu tiba-tiba, lantas ia berlari ke kamar mandi.
"Ada apa?" tanya Casey masuk begitu aja.
Sesaat suasana canggung kembali merebak. Dhyanda jatuh terduduk dilantai kamar mandi. Dari pinggang hingga ke lututnya terbalut handuk. Sementara kemeja miliknya basah oleh air dari shower yang sudah menyala.
"Lo pake handuk gue?", sempat-sempatnya Casey bahas masalah handuk yang dipakai Dhyanda.
"Iya, kenapa? Mau protes disaat seperti ini?" tantang Dhyanda.
Casey mendengus. Tersadar, ia segera mematikan shower air. Lantas berjongkok disamping Dhyanda yang tengah meringis.
"Baju lo tembus pandang", gumam Casey lirih menjaga pandangannya.
"Heuh?" Reflek Dhyanda menyilangkan kedua lengan didepan dadanya.
"Lain kali pake baju tuh yang lebih tebal, biar kena air daleman bra lo nggak tercetak gitu", lanjut Casey.
"Ih, Lo kok mesum sih!" pekik Dhyanda salah tingkah tapi tak kuasa bangun dari posisinya.
"Lo liat sendiri! Ngelirik aja udah jelas kentara gitu bentuknya" ucap Casey sedingin biasanya. "Lagian diliat dari luar pun gue udah tau nggak ada yang menarik dari tubuh lo!" Meski begitu Casey berusaha membantu Dhyanda berdiri.
Dhyanda mendengus tak terima dengan ucapan Casey yang menurutnya sudah melakukan body shamming terhadapnya, "Lo mau ngapain?" tahan Dhyanda saat tangan Casey terulur ke bawah pahanya.
"Lo mau tidur di kamar mandi?"
Dhyanda menggeleng.
"Bisa bangun dan jalan sendiri?"
Dhyanda menggeleng lagi. Dirasakan kakinya masih gemetaran.
"Berarti lo butuh bantuan gue kan?" ucap Casey.
"Lo mau gendong gue lagi?" Tanya Dhyanda mencebik.
"Kalo ngerasa keberatan, gue panggil security depan aja gimana? Biar dia yang gendong lo", balas Casey siap berdiri tapi Dhyanda menahan lengannya.
Dhyanda menggeleng cepat, "nggak mau!"
"Makanya nurut!" gumam Casey akhirnya menggendong Dhyanda keluar dari kamar mandi.
"Tadi gue kepeleset sabun punya lo" jelas Dhyanda saat berada digendongan Casey.
__ADS_1
"Itu akibatnya kalo lo make barang orang tanpa ijin" omel Casey.
"Huh, menyebalkan landak laut!" gumam Dhyanda kesal.
Casey tak lagi merespon gumaman Dhyanda. Gadis itu didudukan di sofa yang ada dikamar Casey, sementara Casey kembali ke kamar mandi untuk mengambil baju ganti milik Dhyanda. Ia taksir bahwa gadis itu belum jadi membersihkan dirinya.
"Lo ganti dulu, bajunya basah tuh!" ujar Casey sekembalinya dari kamar mandi.
"Gue belum sempat mandi lho" ucap Dhyanda.
"Terus lo mau gue mandiin?" lirik Casey tersenyum licik.
"Enak aja!" tolak Dhyanda cepat "maksud gue, karna nggak jadi mandi gue nggak perlu ganti baju."
"Terus seharian lo mau make baju basah itu?" tunjuk Casey pada baju Dhyanda yang terbalut handuk. "Ganti baju lo! gue cari kotak p3k dulu buat ngobatin luka lo", katanya.
"Luka?" Kening Dhyanda berkerut.
"Tuh!" tunjuk Casey ke arah siku Dhyanda.
Dhyanda tersadar, diamatinya sikunya sendiri. Baru ia tau bahwa siku kirinya tergores cukup dalam entah oleh apa. Perihnya baru ia rasakan setelah tau. Cepat-cepat ia mengganti bajunya dengan kemeja yang dipinjam Casey setelah lelaki itu benar-benar sudah keluar dari kamarnya.
"Sini, gue bantu obatin" ujar Casey mendekat sambil membawa satu plester luka untuk Dhyanda.
"Makasih" lirih Dhyanda.
"Kaki gue rada sakit sih" jelas Dhyanda.
"Masih bisa jalan kan?" tanya Casey.
Dhyanda mengangguk lemah.
"Selesain dulu ganti bajunya baru gue bantu obatin lagi" ujar Casey seraya berdiri dan keluar dari dalam kamar tanpa bicara apapun lagi.
Dhyanda terdiam. Casey memang dingin dan terkesan angkuh. Namun ada masa dimana Dhyanda merasa juga bahwa Casey adalah pribadi yang cukup perhatian di waktu-waktu tertentu, dengan caranya sendiri.
"Gini doang nggak perlu pake celana juga udah bagus," gumam Dhyanda setelah menyadari perbandingan tubuhnya yang kecil dengan besarnya kemeja yang dipinjamkan Casey.
Merasa lelah, Dhyanda memutuskan untuk keluar dari kamar meski berjalan agak tertatih akibat terpeleset tadi.
"Celananya nggak dipake?" tegur Casey saat melihat Dhyanda keluar dari kamar hanya dengan mengenakan kemejanya sebatas pahanya yang mulus.
"Lo pengen liat gue kaya orang-orangan sawah? celana Lo gede banget, pinggangnya melorot gitu. Maksa mau dipake?" balas Dhyanda kesal.
Casey tertawa licik. Ia hanya merasa gemas melihat Dhyanda dalam balutan kemejanya, seksi dan menarik, cukup menggoda, tapi dalam penglihatan Casey itulah versi terbaik dari seorang Dhyanda.
__ADS_1
"Lo nggak kuliah?" tanya Dhyanda mengalihkan pembicaraan seraya menjatuhkan dirinya diatas sofa.
"Kosong" jawab Casey sekenanya. Ia menyalakan kembali laptopnya untuk bermain game, menghindari pandangannya atas Dhyanda yang bisa mengalihkan dunianya jadi jungkir balik.
"Siang ini gue ada jadwal kuliah, tapi kayanya gue harus absen gara-gara kaki gue kepeleset sabun" kata Dhyanda.
"Jangan salahin sabun, lo-nya aja yang ceroboh!" sahut Casey sambil memasangkan headphone gaming menutupi kedua telinganya. "jangan ganggu gue!" ujarnya lagi sebelum ia benar-benar fokus ke layar laptop dihadapannya.
"Hish!" desis Dhyanda mencebik, lalu mengambil remote yang tergeletak begitu saja diatas meja untuk menyalakan televisi tanpa sungkan. Kali ini Casey tidak lagi protes.
TING TONG!! TING TONG!!
Bel pintu apartemennya berbunyi berkali-kali seakan tak sabar.
"Ada orang tuh!" kata Dhyanda tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi. Tidak ada tanggapan dari Casey. Terpaksa ia menoleh, "pantes aja budeg!" ucapnya saat menyadari Casey memakai Headphone gaming menutupi telinganya. Akhirnya Dhyanda menepuk bahu Casey.
"kenapa?" Casey terpaksa menurunkan headphone gaming dilehernya.
"Ada yang dateng tuh! dari tadi pencet-pencet bel pintu" ujar Dhyanda.
Casey mengernyit, tanpa banyak tanya ia langsung beranjak membuka pintu.
"Mana Dhyanda?" tanpa dipersilahkan masuk Aldrick masuk begitu saja tanpa sungkan. Casey hanya memberi isyarat menggerakkan dagunya mengarah ke arah Dhyanda yang tengah duduk manis menonton tv.
Mendengar namanya disebut Dhyanda langsung menoleh, mengalihkan pandangan pada Aldrick yang balas menatapnya. Rindu mereka bertemu, air mata tak kuasa menetes mewakili perasaan dirinya selama ini.
Kadangkala rindu terjawab pada waktu yang tak terduga.
.
.
.
Jangan lupa LiKE KOMEN and VOTEnya ya 😁🤗
Sambil nunggu Up bisa mampir di novel ku yang lain:
- IN A BROKEN HEART TO FIND YOU (season 1)
- IN YOUR LOVE (season 2)
- LOVELY ATREYA (season 3)
- PENANTIAN DHYANDA (season 4) on going
__ADS_1
- ALEEYA (sejak menikahi x ipar)