Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Salah paham


__ADS_3

Dhyanda dan Aldrick, keduanya terdiam sambil menunggu lift terbuka menuju ke apartemen mewahnya dilantai sebelas.


"Makasih untuk selalu ada disaat-saat aku kesulitan," ucap Dhyanda lirih. Akhirnya keluar juga kalimat itu setelah tertahan di tenggorokannya. Sungguh memalukan memang, dirinya bisa terlibat percekcokan karena perselingkuhan orang lain hingga berakhir dikantor polisi tadi.


"Never mind," balas Aldrick singkat. ia hanya melirik sebentar Dhyanda yang berdiri diseberangnya. Lelaki itu tengah sibuk mengetik sesuatu dilayar ponselnya. Entah sedang berbagi pesan dengan siapa.


.


Sesampainya dirumah, Aldrick lebih dulu mandi. Sementara Dhyanda masih duduk di sofa membayangkan pengalaman hidupnya hari ini yang konyol bersama Belina. Dia tidak pernah menyangka dirinya bisa bertindak konyol dan impulsif seperti tadi siang. Memukul wajah Gavin dengan keras menggunakan sepatu sneakernya. Belum puas Dhyanda mencakar lengan lelaki buaya darat itu dengan kuku-kuku panjangnya. Sungguh konyol.


Drrttt! Drrtt!


Suara getar ponselnya Aldrick membuyarkan semua lamunan Dhyanda. Diambilnya ponsel Aldrick yang tergeletak sembarang diatas meja.


Angkat, jangan? angkat, jangan?


Sudah tiga kali panggilan tak terjawab dari notifikasi ponsel Aldrick yang kini dipegangnya. Kali ini ponselnya bergetar lagi dari nomor yang sama, 'Vero'. Ini pasti penting! Dhyanda segera berlari ke arah pintu kamar mandi.


"Kak!! ada telpon nih," teriak Dhyanda didepan pintu kamar mandi yang tertutup rapat, "udah empat kali nelpon, takutnya penting!" teriaknya lagi.


"Tolong kamu angkat aja Dhy. Paling itu Vero!", sahut Aldrick dari dalam kamar mandi.


"Oke, aku angkat ya," balas Dhyanda, lalu kembali menjauh dari pintu kamar mandi menuju kembali ke ruang depan.

__ADS_1


Dhyanda akhirnya mengangkat panggilan dari ponsel Aldrick yang terus saja bergetar.


"Al, gimana nih. Dari Divisi GA menanyakan perihal rumah yang dipake Dhyanda, cewe Lo. Rencana rumah itu mau diisi karyawan dari divisinya yang baru mutasi dari Surabaya. Apa barangnya perlu segera gue kemasin dan dipindahin ke rumah contoh?" jelas Vero yang nyeroscos diseberang sana.


Dhyanda masih bungkam, ia tidak mengerti apa yang dikatakan Vero barusan. Tapi mendengar namanya disebut, pastilah ini ada hubungan dengannya.


"Bos! Lo denger nggak sih? Hallo..."


"Kak Aldrick masih dikamar mandi," jawab Dhyanda akhirnya menjawab panggilan Vero.


Vero yang diseberang sana pun terperanjat kaget, "Ini Dhyanda?" tanyanya meyakinkan sekali lagi. 'Shit!! salah ngomong gue. Habis dah!' umpat Vero dalam hati.


"Maaf Kak, maksudnya tadi apa ya?" tanya Dhyanda.


"Mmm... maksudnya----"


Aldrick yang sudah mandi dan sudah berganti pakaian langsung menghampiri Dhyanda. Gadis itu langsung memberikan ponsel yang masih menempel ditelinganya kepada Aldrick.


"Kak Vero," gumam Dhyanda datar.


Aldrick langsung mengambil alih ponselnya, "Ada apa Ver?" tanyanya. Aldrick terdiam beberapa saat dengan ponsel masih menempel ditelinga kanan mendengarkan lawan bicaranya diseberang sana. Lalu matanya melirik Dhyanda yang tengah menatapnya dengan tatapan horor.


Lelaki itu nampak mengangguk-anggukan kepalanya, "Lo atur, pastikan rumah itu nggak ada yang ngisi!" ucap Aldrick lalu mengakhiri panggilan teleponnya.

__ADS_1


"Maksudnya apa ini ya? rumah kontrakan itu punya siapa? jadi selama ini ada campur tangan kamu?" cecar Dhyanda langsung menuduh.


Aldrick menghembuskan napasnya sejenak sebelum memberi jawaban atas semua pertanyaan Dhyanda. "Aku cuma pengen kamu selalu berada dalam jangkauanku dan aman, Dhy. Meski nyatanya kemarin kamu hampir dijahati orang karena keteledoranku. Bahkan aku ingin kamu terus bahagia, tanpa kekurangan apa pun. Aku bisa memenuhi kebutuhanmu, Dhy"


Dhyanda menggeleng-gelengkan kepalanya, benar-benar merasa tersinggung dengan kata-kata Aldrick barusan. "Jadi itu bener semuanya permainan Kak Aldrick? Jangan-jangan beasiswa itu juga?" tanyanya sambil memicingkan sebelah matanya curiga. "Mungkin dimata orang lain ato kamu, aku ini cewe matre yang ngemanfaatin cowo tajir. Iya kan Kak?" ucapnya kini berkata lirih.


Aldrick hanya menoleh gadisnya sebentar, lalu duduk disofa dan mengalihkan pandangannya pada televisi yang menyala disana. Lelaki itu memilih diam daripada menanggapi gadisnya yang sedang emosi.


"Aku anggap diem kamu itu iya," ujar Dhyanda menyimpulkan. "Dan ini pembelaanku. Pertama, kalo aku bakalan ngincer hartamu dan manfaatin kamu. Kedua, aku pasti nggak bakalan susah-susah nyari kontrakan lagi karena sekarang udah tinggal dengan nyaman dirumah ini dan bisa berlagak jadi nyonya rumah. Toh kamu juga jarang pulang, jadi aku tinggal disini pun nggak masalah. Tapi aku nggak gitu Kak! kamu tau aku dan ibu dulu nyari kontrakan sampai dapet rumah dengan harga sewa yang sangat murah karena usaha kami berdua. Meskipun akhirnya aku tau juga kalo rumah itu milik perusahan O'Neill grup, seenggaknya aku nggak pernah memanfaatkan fasilitas punyamu buat keuntunganku"


Aldrick hanya menatap Dhyanda dalam diam, seolah menegaskan bahwa apa yang diperkirakan Dhyanda benar dan gadis itu semakin yakin, Aldrick menganggapnya tergila-gila harta.


"Menurutmu aku matre?", Dhyanda sampai pada kesimpulannya sendiri.


"Udah ya, nggak usah bahas itu, kamu cape Dhy, sebaiknya kamu istirahat," pinta Aldrick sangat tenang, nada suaranya kini terdengar datar.


"Harusnya dari dulu kita nggak usah pacaran," lirih Dhyanda serius sehingga Aldrick bereaksi cepat menolehnya, "Aku ngerasa bodoh dan konyol aja ada dalam hubungan yang aku sendiri nggak paham sama perasaan pasanganku. Apa yang ada dipikirannya, gimana dia melihatku sebagai seorang perempuan yang menganggap dirinya adalah duniaku. Stupid banget ya kak aku tuh?"


Bukannya menjawab, Aldrick justru malah meninggalkan Dhyanda ke kamarnya. Namun tak berapa lama Aldrick kembali dengan satu pouch kecil bermerk terkenal dan menarik Dhyanda agar duduk kembali di sofa. Meski tak mengerti apa maksud Aldrick, Dhyanda menurut saja.


.


.

__ADS_1


.


Dukung terus Author dengan Like, Komen, and Vote-nya ya... makaciih.


__ADS_2