
Semalaman Aldrick berpikir, Ia harus melakukan sesuatu agar gadisnya itu tidak merasa ketakutan lagi dirumahnya sendiri. Trauma yang dialami Dhyanda membuat Aldrick khawatir jika meninggalkannya sendirian. Terlebih Aldrick merasa kurang nyaman tinggal dirumah kontrakan yang notabene milik perusahaanya tersebut. 80 persen penghuni komplek perumahan ini adalah para karyawan di O'Neill Grup yang sudah berumah tangga. Aldrick tidak mau Dhyanda dituduh macam-macam oleh orang-orang disekitar karena membawa nginap laki-laki dirumahnya.
apalagi kalau sampai ke telinga Presdir O'Neill grup, habis lah sudah.
"Yakin mau masuk kuliah? kamu baru sembuh lho", ujar Aldrick setelah menepikan mobil sport besutan eropa itu dilahan parkiran kampus Tunasjaya.
"Yakin dong," jawab Dhyanda mantap.
Aldrick menghela nafasnya, ia tidak bisa membujuk Dhyanda lagi setelah tadi pagi sempat bersitegang dengannya yang tetap keukeuh ingin pergi ke kampus. "Tapi inget, jangan cape-cape dulu"
"Aku kuliah, bukan marathon" sahut Dhyanda sambil melepas sabuk pengaman mobil.
"Pulang jam berapa? Aku jemput ya," kata Aldrick.
"Kuliah hari ini sih cuma sampe jam 3, tapi abis itu aku mau ke kafe Imel dulu. Penasaran aja kenapa dia kemarin susah banget dihubungi", ujar Dhyanda.
"Kamu baru aja sembuh lho, Dhy. Kapan-kapan aja ya nemuin Imelnya?" cegah Aldrick masih khawatir.
"Udah beberapa hari ini aku lost kontak sama dia. Aku khawatir makanya mau nyoba nyari dia di kafe"
"Please, Dhy. Kali ini kamu nurut ya. Kamu baru aja sembuh", pinta Aldrick tegas. "Urusan keberadaan Imel biar nanti Vero yang nyari, Oke?" sarannya.
Dhyanda kini tak bisa protes lagi. ia ingat tadi pagi janjinya hanya ingin kuliah lantas selesai itu pulang.
"Jam 3 nanti aku tunggu ditempat ini lagi" kata Aldrick sambil mengusap puncak kepala Dhyanda lembut. "kamu ati-ati ya"
Dhyanda hanya mengangguk diam, lalu beranjak keluar dari mobil Aldrick.
.
Gadis itu berjalan dari tempat parkir menuju gedung kampus, sudah tiga hari ia tidak mengikuti perkuliahan membuatnya harus mengejar ketinggalan. Dicarinya Belina, teman sekelasnya yang cukup dekat dengan Dhyanda saat dikampus.
"Bel!!" teriak Dhyanda saat melihat teman yang dicarinya ada didepan gedung fakultas hukum. "Ngapain disini?" tanyanya terengah-engah kehabisan napas akibat tadi berlari menemui Belina.
"Gue nyari Gavin, gue mau bikin perhitungan sama dia!" ucap Belina geram sambil meremas jemari tangannya sendiri.
"Kenapa dia?", Dhyanda mengernyit bingung.
"Gaviin!!" pekik Belina mengejar lelaki yang baru saja keluar dari gedung fakultas hukum.
Dhyanda yang melihat Belina menjauhinya hanya bisa mengangkat bahunya tinggi-tinggi. "Sepertinya mereka lagi ada masalah," gumam Dhyanda akhirnya memutuskan pergi mencari ruangan untuk mata kuliah jam sekarang.
__ADS_1
**
Jam kuliah terakhir usai, Dhyanda berlari gembira mendatangi mobil Aldrick yang sudah terparkir dihalaman kampus.
“Seneng amat yang dijemput si pacar,” ledek Aldrick saat Dhyanda sudah masuk ke dalam mobil. Ia mendekat ke arah kursi penumpang hingga hampir mencium pipi Dhyanda.
“Eh, ngapain?” tanya Dhyanda gugup. “Ini kampus lho”
“Seatbelt-nya Nyonya Aldrick,” bisik Aldrick kembali pada posisinya dan mulai melajukan mobilnya dengan ekspresi geli.
“Ini kita langsung pulang?” tanya Dhyanda.
“Ya, kamu pulang ke rumah ku,”
“Apa?” kaget Dhyanda langsung menatap Aldrick.
“Mulai malem ini kamu tinggal di apartemenku. Eh, apartemen kita maksudnya”, ralat Aldrick dan sukses membuat gadisnya itu terbelalak. “Rumah kontrakan itu menyimpan trauma buat kamu, Dhy. Jadi ku rasa kamu harus pindah dari situ.”
“Heuh? Tapi barang-barang ku----?”
“Tadi aku nyuruh pegawai kantor cewek buat nyepaki barang-barang penting dan sebagian pakaian punya mu. Sisanya kita bisa beli baru” kata Aldrick begitu entengnya.
“Perabotnya tetap dirumah itu. Barangkali suatu hari nanti Ibu Arumi ke Jakarta jengukin kamu, kan masih ada tempat tinggal”. ujar Aldrick menjelaskan.
Dhyanda mengangguk paham. Aldrick memang benar, Dhynda memang sedikit trauma dengan rumah itu. Ia masih ketakutan dan merasa cemas seperti ketika mati lampu kemarin malam. Tapi apa harus dirinya tinggal bersama Aldrick?
“Kita akan tinggal bersama disana. Aku nggak mau terjadi apa-apa lagi sama kamu, Dhy. Mau kan?”
Dhyanda kalah telak. Ia tidak bisa menolak lagi. Ditatapnya Aldrick yang serius menyetir, wajah setampan dewa yang tak bisa Dhyanda bisa tolak pesonanya,
“Oke, aku punya dua syarat. Kalo kamu setuju, aku pasti bakalan mau tinggal dirumah kamu, gimana?” tawar Dhyanda tak habis akal.
“Yah, pake syarat segala,” protes Aldrick menoleh sebentar dengan wajah tak rela.
“Pertama,” ucap Dhyanda tak peduli protes dari lelakinya, “Kita tidur dikamar terpisah”
“Nggak bisa. Cuma ada satu kamar diapartemen itu” tolak Aldrick mentah-mentah.
“Seriously? Apartemenmu lebih murah dari punya Casey yang memiliki dua kamar? Demi apa?” pekik Dhyanda tak percaya sama sekali. Dalam otaknya ia membayangkan apartemen Aldrick tak jauh dari kost-kostan yang ada dekat kampusnya. 1 ruang tamu, 1 kamar, dan 1 kamar mandi. Tidak mungkin.
“Ada sih. dilantai dua. Tapi jarang banget dipake. Dulu sempet ku pake buat ngandangin uler, tapi lepas dan nggak tau kemana tuh uler perginya”, dusta Aldrick dengan wajah seriusnya.
__ADS_1
“Uler apa?” tanya Dhyanda dengan ekspresi horornya.
“Pithon”
“Mending balik ke rumah kontrakan! Nggak mau gue.” tolaknya mentah-mentah.
“Makanya, di kamar yang biasa aja kenapa. Lagian apa yang kamu takutin dari sekamar sama aku sih? aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Nggak akan *****-grepein! Kalo niat kesitu kenapa nggak kemarin aja pas kamu sakit. Kamu juga nggak bakalan nyadar”, ucap Aldrick meyakinkan.
“Bukan itu yang aku pikirin, kak” lirih Dhyanda lantas membuang pandangan keluar jendela.
Dhyanda takut tak bisa mengendalikan dirinya jika sekamar dengan Aldrick. Bagaimana ia bisa menahan diri saat disampingnya tidur dengan nyenyak lelaki berwajah dewa? Siapa yang tahan dengan godaan sebesar itu? Dhyanda sangsi pada dirinya sendiri.
“Aku nggak akan nyentuh kamu,” janji Aldrick menyadarkan fantasi Dhyanda.
“Oke, nggak akan nyentuh!” kata Dhyanda menunjuk pipi Aldrick iseng. “Syarat kedua, nggak ada yang boleh tau kalo kita tinggal satu rumah!”
“Keberatan!” sambar Aldrick tak mau kalah, “kenapa nggak boleh tau?”
“Hey! Ini Indonesia Pak Bos. Mana ada cowo sama cewe tinggal satu atap tanpa ikatan yang sah. Apa kata orang nanti. Meski ras aku beda, tapi dari kecil aku tinggal di Indonesia, dididik dengan adab dan sopan santun budaya Indonesia.”
“Fine, tapi Vero dan Bang Soni pengecualian”, ujar Aldrick mengalah.
“Imel juga,” sahut Dhyanda. “Ah, sudah ada kabar dari Imel? Kamu janji kan tadi pagi, Kak” Dhyanda jadi teringat keberadaan Imel lagi yang seolah hilang ditelan bumi.
“Dia baik-baik saja. Beberapa lalu neneknya meninggal di Bogor. Ia dan keluarganya pergi kesana, sialnya didalam bis HP imel dicopet, makanya lost kontek”
“Oya? Kalo gitu anter aku nemuin Imel Kak!”
“Nggak sekarang Dhy. Besok ya, Please!” pinta Aldrick.
Dhynda menghela napasnya dan terpaksa mengangguk setuju. "Oke" lirihnya lemas.
.
.
.
__ADS_1