
Apa kata-kata ku barusan menyinggung mu?" tanya Dhyanda sedikit khawatir. Perasaannya pada Aldrick sudah terlanjur dalam, mustahil ia mundur teratur sekarang. Yang harus ia lakukan adalah menegaskan pada Aldrick bahwa ia mencintai lelaki itu sebagai satu individu merdeka yang tak terkait sama sekali dengan hartanya.
"It belongs to you," ucap Aldrick seraya menyerahkan pouch yang dibawanya ke tangan Dhyanda.
Kening Dhyanda mengerut, "Maksudnya apa nih?" ekspresi wajahnya pun nampak gamang.
"Semua buku tabungan, aset, deposito, investasi ada disitu" ujar Aldrick setenang mungkin.
Dhyanda tercekat. Apa saat ini Aldrick tengah menyerahkan seluruh hartanya pada Dhyanda?
"Aku nggak ngerti apa maksud kamu ini ya," ujar Dhyanda.
Tangan Aldrick terangkat dan mengusap kepala Dhyanda. "Itu semua yang aku miliki"
"Kamu pamer apa gimana sih?" kata Dhyanda makin tak mengerti.
"Kamu bisa ambil itu semua, termasuk hidupku kalo kamu minta."
"Aku nggak butuh hartamu, kak. Nggak sama sekali!" tolak Dhyanda sedikit melempar semua benda-benda yang Aldrick percayakan padanya.
"Kamu ngerti nggak kenapa aku ngasih semua itu ke kamu?" tanya Aldrick malah bertanya.
"Yes I know, kamu menilaiku sama kaya cewek lainnya. Dimatamu aku cuma cewek matre yang ngincer hartamu kan?"
"Kamu salah Dhy! Aku ngasih itu karena aku bersyukur masih punya sesuatu yang bisa bikin kamu menerimaku. Maksudku, aku percaya sama kamu, percaya sama perasaanmu terhadap ku. Makanya aku kasih itu semua karena aku yakin kamu nggak akan menyalahgunakan kepercayaanku!" jelas Aldrick tanpa bisa memahami bagaimana perasaan gadisnya saat ini.
"Tapi aku nerimanya nggak gitu. Kamu sengaja ngetes aku kan? sekarang kamu masih perlu pembuktian perasaanku. Kenapa harus gini sih?", kata Dhyanda mulai lelah.
"Dhy," Aldrick meremas pundak Dhyanda tapi ditepis dengan cepat oleh pemiliknya. "karena cuma itu yang aku miliki untuk ngebuat kamu menerimaku. Aku percaya sepenuhnya sama kamu, juga sama perasaan kamu."
__ADS_1
Dhyanda terdiam berusaha mencerna semua perkataan dan sikap Aldrick yang bertolak belakang dengannya. Bagi Dhyanda, Aldrick masih terkesan menilainya sebagai perempuan matre dan pengincar harta.
"Ekspresi mu terbaca Kak. Kamu menilaiku karena mencintai uangmu," tuduh Dhyanda mencari pembenaran.
Aldrick berdecak gemas, "Enggak gitu maksudku, Dhy. Gimana caranya biar kamu tau aku nggak pernah mikir begitu?"
"Kamu jahat Kak" lirih Dhyanda berubah sedih.
"Hey, kamu salah kalo mikir aku nganggap kamu matre!" sanggah Aldrick.
"Terus apa?" tantang Dhyanda mengerucutkan bibirnya.
"Jangan manyun-manyun gitu bibirnya napa," kata Aldrick malah fokus ke bibir Dhyanda.
"Biarin, bodo amat!"
Dhyanda tak menolak meski sebelumnya sempat meronta. Ciuman adalah jalan keluar yang paling baik, setidaknya Dhyanda berhenti mencecar Aldrick dan keadaan kembali berubah manis, tak setegang sebelumnya.
"Udah dibilang jangan dimanyun-manyunin," bisik Aldrick berhenti sebentar, kemudian kembali memagut bibir mungil Dhyanda yang sekarang hobinya nyeroscos itu. Dhyanda pasrah. ia melingkarkan kedua tangannya dileher Aldrick, satu posisi yang mengisyaratkan bahwa Aldrick kini miliknya. Pun Aldrick makin menarik Dhyanda menempel padanya, seolah dunia hanya milik berdua.
"Haish! ilang semua yang mau aku omongin gara-gara serangan taktis kamu Kak!" keluh Dhyanda setelah Aldrick melepas pagutannya.
Aldrick menyeringai, "Misi terselesaikan!" gumamnya puas, dikecupnya kening Dhyanda lembut, begitu sayang.
"Sampe dimana obrolan kita tadi?" tanya Dhyanda menyandarkan punggungnya di sofa, melayang karena perlakuan manis Aldrick yang berhasil membuyarkan pikirannya.
"Obrolan? omelan kamu lebih tepatnya," koreksi Aldrick ikut menyandarkan punggungnya disamping Dhyanda hingga gadisnya leluasa menyandarkan kepala dipundaknya.
"Aku salah nggak mikir gitu?" tanya Dhyanda.
__ADS_1
"Ya salah, karena aku nggak pernah nganggap kamu seperti yang ada dipikiranmu. Aku nggak peduli kamu mencintai hartaku atau nggak, itu hak kamu. tapi cukup kamu selalu ada di sisiku, itu udah cukup." kata Aldrick serius.
"Tapi aku peduli dengan penilaianmu, aku nggak pernah berpikir buat ngedeketin kamu karena uangmu"
"Oke, Sekarang dibalik. Kalo tiba-tiba O'Neill grup bangkrut terus Papaku menarik semua harta dan fasilitas ku bagaimana? would you still love me the same?" tanya Aldrick dengan ekspresi yang berubah dingin dan ketus.
"Yes, I would. Nggak ada alasan buat aku ninggalin kamu. Aku nggak ada urusan sama harta dan fasilitas kamu. urusanku sama kamu, Pak Aldrick mantan guru bahasa Inggris yang galak dan dingin yang anehnya aku malah jadi cinta banget," balas Dhyanda jujur.
Aldrick tersenyum, lalu kembali mengecup kening Dhyanda lembut. "Udah malem, sebaiknya kamu tidur" pintanya.
"Mau balik ke kantor lagi?" tanya Dhyanda masih betah menyandarkan kepalanya dipundak Aldrick.
"Kenapa? kamu ngusir?" Aldrick malah balik bertanya dengan lirikan tajamnya.
"Biasanya kan gitu," jawab Dhyanda pelan.
Aldrick tertawa, lalu mengusap kepala Dhyanda lembut. "Cape banget aku tuh hari ini Dhy. Jadi kayanya nggak akan balik ke kantor, ada Vero disana yang stand by" ujarnya.
"Jadi keingetan rumah kontrakan. Mungkin aku harus buru-buru nyari kontrakan lagi Kak"
"Nggak perlu!!" cegah Aldrick, "Pokoknya itu tetap rumah yang kamu sewa. Biar Vero yang ngurus dengan divisi GA,"
"Bener nggak apa-apa? aku nggak enak aja Kak"
"Pegawai baru itu bisa nempatin rumah yang lain. Bukannya rumah yang disebelah kosong kan?"
Dhyanda hanya bisa mengangguk pasrah. Dia sedang berusaha memahami lebih jauh lagi tentang kekasihnya itu.
Cinta mereka bukan hanya tentang memiliki, tetapi tentang menghargai dan bersyukur atas yang sudah mereka miliki.
__ADS_1