Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Reaksi Arumi


__ADS_3

Satu Minggu pun berlalu. Aldrick memang tak mau buang waktu dengan rencana yang ingin segera menikahi gadisnya. Dua hari lalu ia meminta Sony untuk menjemput Ibu Arumi di Sumedang. Awalnya Ibu Arumi kaget dengan kedatangan ajudan Aldrick yang tiba-tiba. Ia mengira ada hal buruk yang menimpa anak angkatnya itu di Jakarta.


"Kamu sudah yakin mau nikah sama Aldrick? apa nggak terlalu buru-buru? kamu masih muda lho," tanya Arumi pada Dhyanda yang masih melahap nasi bakar ayam suwir pedas buatan ibunya itu. Sudah lama Dhyanda tidak merasakan kenikmatan luar biasa dengan menyantap masakan khas sang Ibu.


"Trus kuliah kamu gimana? masih dua tahun lagi lulusnya kan?" ucap Arumi lagi sambil mengamati Dhyanda yang masih fokus ke makanannya. "Dhy, kamu denger ibu ngomong nggak sih?" protesnya saat Dhyanda sedari tadi tak merespon ucapannya.


"Iya, denger Bu," jawabnya singkat. Mulutnya masih betah melahap nasi bakar didalam balutan daun pisang yang warnanya sudah sedikit menghitam dan kering akibat proses pembakaran. "Coba pake teri Medan, Bu. pasti lebih mantap."


"Kamu kok malah bahas makanan, ibu serius ngomong ini!" Ibu Arumi melotot tajam.


Terpaksa Dhyanda menghentikan kegiatan mengunyahnya sejenak untuk menanggapi obrolan ibunya yang serius. "Aku tetep ngelanjutin kuliah meski udah nikah, Bu. Nggak akan ada yang berubah, hanya status aja yang tadinya single jadi double," ujarnya dan spontan mendapatkan cubitan dilengan dari ibunya yang gemas atas jawaban yang tidak memuaskan tersebut.


"Kamu tuh ya, ibu tanya kamu yakin mau nikah muda tapi jawabnya nggak nyambung. Nikah itu bukan main-main, Dhy. Nikah itu bukan semata-mata untuk menjauhi dosa, atau mendapat status legal dan keamanan finansial. Tapi juga harus didasari Cinta, menyatakan komitmen seumur hidup untuk saling menemani, saling melengkapi, berbagi dan saling mengisi satu sama lain dalam menjalani kehidupan kalian selanjutnya," ujar Ibu Arumi memberi wejangan.


Dhyanda mengangguk, diraihnya kedua tangan Arumi kedepan dadanya. "Ibu jangan khawatir. Kami saling mencintai, dan kami sudah siap menjalani bahtera kehidupan selanjutnya diatas janji pernikahan," lirih Dhyanda lalu mencium kedua tangan Arumi. Bagi gadis itu, ibu Arumi adalah segalanya. Sampai kapan pun Ibu Arumi tetap akan menjadi ibunya.


Arumi hanya terdiam, ia hanya bisa balas menatap mata Dhyanda yang mulai mengembun. Ditariknya gadis kecil yang selama ini ia besarkan ke dalam rengkuhannya. Mereka saling berpelukan. Antara sedih atau bahagia yang kini dirasakan perempuan paruh baya itu. Sedih, karena tak lama lagi Dhyanda mungkin akan berpisah dengannya. Gadis itu akan berpindah kepemilikan, ia akan menjadi milik suaminya. Bahagia, ya jelas Arumi juga bahagia. Siapa yang tidak bahagia jika anaknya akan menikah.

__ADS_1


***


Sore itu Kinara, dan Atreya datang ke rumah kontrakan Dhyanda untuk menemui Arumi. Aldrick meminta mereka berkunjung sekaligus membicarakan perihal rencana pernikahannya dan Dhyanda. Untuk persiapan pernikahan memang perempuan lah yang lebih bisa diandalkan.


Arumi dan Dhyanda sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menjamu tamu yang akan datang, karena sebelumnya Aldrick memang telah memberitahukan akan kedatangan sang Mama juga Tantenya tersebut.


Dari awal siapapun pilihan Aldrick, Kinara pasti mendukungnya. Meski suaminya belum memberi restu atas hubungan kedua sejoli itu, Kinara tetap akan membantu putra sulungnya meraih keinginan untuk mempersunting Dhyanda.


"Apa kabar Ibu Arumi, lama nggak ketemu ya," sapa Kinara ramah setelah keduanya bersalaman.


"Hallo, masih ingat saya, Bu Arumi?" sapa Atreya pelan, ia seakan bisa membaca pikiran Arumi saat ini.


"Ya?" Arumi sontak terkejut. Ia mengerjapkan matanya, kembali menyakinkan penglihatannya apa perempuan itu benar-benar perempuan yang dulu sempat disekap dirumah majikannya. "Anda bukannya Nona itu?" tanyanya ragu.


"Nona siapa, Bu? ibu ini sok kenal. Ini Tantenya Kak Al yang tinggal di Jerman, Bu" sambar Dhyanda dan sukses membuat Arumi menohok kaget. 'Jerman?'


Atreya tersenyum mengangguk, lalu mengedipkan matanya, memberi isyarat agar Arumi untuk tidak bertanya dulu tentang masa lalu itu. Arumi pun paham, tapi masih belum yakin.

__ADS_1


Kini entah kenapa Arumi jadi khawatir. Jika memang benar, Ia tidak menyangka kalau Nona yang dulu disekap dan disakiti majikannya itu ternyata tantenya Aldrick ini.


"Di minum dulu, Tante!" pinta Dhyanda yang baru saja menyodorkan minuman ke hadapan Kinara dan Atreya.


"Ah, terimakasih Dhyanda," balas Kinara.


"Silahkan diminum!" pinta Arumi sungkan, "Emh... Papanya nak Aldrick---" tiba-tiba Arumi menanyakan tentang Aaron. Ia jadi penasaran tapi ragu hingga kalimatnya jadi terpotong dengan sendirinya.


"Maaf Bu Arumi, Papanya Aldrick tidak bisa datang. Maklum dia sibuk terus, makanya saya bawa adik ipar saya, Atreya. Dia ibunya Casey dari Jerman, kebetulan sedang berada di Jakarta," kata Kinara merasa tidak enak. Ia tidak mungkin berbicara jujur kalau sebenarnya suaminya itu belum bisa merestui hubungan Aldrick dan Dhyanda.


Atreya? ya, Arumi masih ingat nama itu. Nama yang menurutnya terdengar unik hingga langsung ingat ketika seseorang menyebutnya. Tidak salah lagi, perempuan yang duduk disamping Kinara itu perempuan yang sama. Perempuan yang disekap Tuan Andrew, majikannya beberapa tahun yang lalu. Apa Dhyanda dan Aldrick tau tentang hal ini? bagaimana reaksinya? Arumi tidak bisa membayangkan kalau Dhyanda tau alasan kenapa ayahnya dulu kabur meninggalkannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2