
"Ini perpustakaan, bisa kalian lanjutin duel ini diluar saja?" Kata Aldrick yang terganggu dengan suara ribut dan menyadari bahwa pelakunya adalah Dhyanda. Tatapannya tetap dingin dan kecewa pada sang pacar, hingga membuat suasana tambah tegang.
"Pak Aldrick?" Suara Mauren dibuat mendayu manja dan membuat Dhyanda merasa jijik.
"Maaf pak," Imel yang akhirnya berusaha membuat Aldrick tak salah paham, "kami cuma sedang mempertahankan hak kami" ujarnya.
"Hak?" Aldrick memicingkan matanya serius.
"Bukan gitu, Pak" Sahut Bianca "Dhyanda ini tiba-tiba mendatangi kami dan marah-marah. Ngomong gak jelas, nuduh kami ngerebut kursi dan ngehina kami juga" jelasnya penuh drama.
"Apa lo bilang? Ngehina?" Suara Dhyanda melengking, ia sudah siap mengomel tapi langsung terdiam saat Aldrick meliriknya sangat tajam.
"Jadi cuma masalah tempat duduk?" Desis Aldrick tak percaya, "masih banyak yang kosong itu!" tunjuknya tak acuh.
"Kami sebenarnya juga udah nyuruh mereka gitu Pak," Mauren menambahkan, mencari perhatian sang guru tampan, "tapi mereka berdua ngeyel dan malah nuduh kami macam-macam. Saksinya banyak kok pak"
"Luar biasa sandiwara kalian bertiga!" gemas Imel jadi ingin menjambak rambut Mauren seperti yang tadi mau Dhyanda lakukan.
"Berhenti membuat keributan yang tidak perlu!" Cegah Aldrick langsung menoleh Dhyanda kali ini.
"Bapak gak tau masalahnya, jadi saya rasa itu gak adil" serang Dhyanda jadi kesal sama Aldrick yang seolah memihak Mauren dan memojokan dirinya.
Aldrick memejamkan matanya sambil menghela napas. 'Gue bantu lo biar nggak jadi pusat perhatian dan tetep terlihat berkelas didepan semua orang, gadis kecil!' gemas Aldrick dalam hati.
"Jadi urusan saya karena ini di perpustakaan sekolah ya, dan kalian sudah mengganggu ketenangan pengunjung lain" jawab Aldrick masih menatap Dhyanda.
"Tapi Pak----" sahut Imel.
"Cukup! Ini cuma masalah kursi lho" potong Aldrick.
"Bukan cuma masalah itu!" sengal Dhyanda tak terima karena Aldrick seolah menganggap remeh masalah ini.
Gumaman tak suka muncul lagi dari semua orang yang menyimak keributan. Banyak yang menyalahkan dan mencibir Dhyanda. Mereka jadi membandingkan penampilan Dhyanda dan Mauren, menjadikan itu sebagai topik utama. Aldrick yang mendengar itu ikut merasa panas hatinya.
"Kami sebenarnya juga gak mau bikin masalah besar pak," Mauren berkata lagi, "tapi Bapak bisa lihat sendiri kan siapa disini yang arogan dan egois"
"Saya bilang cukup!" Aldrick kini menatap tajam ke arah Mauren.
"Iya Pak. Saya sudah tidak berniat melawan. Biar saja orang menilai siapa yang salah" sela Mauren masih dengan sikapnya yang sok manja.
"Kamu?" Aldrick menoleh Dhyanda, "masih mau memperpanjang masalah?"
"Kenapa di sini keliatannya saya yang salah?" Protes Dhyanda.
"Jelas lo yang salah! Lo yang tiba-tiba marah dan ngusir kita, nuduh kita ngerebut kursi", sergah Fatiya tak mau kalah.
Aldrick tak bicara, ia geram menghadapi para remaja yang sulit diatur ini. Aldrick berkacak pinggang, menatap Dhyanda begitu dingin. Merasa tak nyaman ditatap demikian, Dhyanda memilih menarik tangan Imel dan bersiap pergi.
__ADS_1
"Ayo Mel! Perpustakaan ini udah gak steril" racaunya hingga membuat Aldrick mengerutkan dahinya tak paham.
***
Dhyanda dan Imel memutuskan untuk pulang. Mereka berpisah diperempatan jalan setelan berjalan kurang lebih tiga ratus meter dari gerbang sekolah.
"Gue duluan ya, Dhy" pamit Imel hendak menyeberang.
"Langsung ke Kafe?" tanya Dhyanda dan hanya hanya mendapat anggukan dari Imel yang sudah mulai menyebrang jalan mumpung lampu lalulintas sedang merah.
"Hati-hati!" teriak Dhyanda.
Imel sekilas menoleh dalam langkahnya lantas tersenyum pada Dhyanda seraya mengacungkan ibu jarinya.
Mobil Aldrick berhenti tepat didepan Dhyanda, Aldrick menurunkan kaca pintu sebelah kiri dan memberi instruksi Dhyanda untuk masuk.
Meski masih kesal Dhyanda pun menurut karena mobil Aldrick berhenti tepat diperempatan jalan yang lumayan rame dan posisi lampu lalu lintas sedang hijau.
Dhyanda menatap Aldrick masih kesal dan tak mengerti. Terang-terangan tadi di perpustakaan Aldrick sama sekali tidak membelanya. Dhyanda tidak sadar, bukannya dia sendiri yang bilang kalau hubungan mereka tidak ada yang boleh tau kecuali Imel yang terlanjur basah karena beberapa kali memergokinya.
"Manner maketh man itu perlu, Dhy!" kata Aldrick melirik Dhyanda ditengah fokusnya menyetir mobil.
"Maksud Kak Al, aku nggak sopan karena udah bersikap benar?" Suara Dhyanda kembali nge-gas.
"Membuat keributan bukan hal yang benar, Dhyanda Genovefa!" Balas Aldrick menyebut nama lengkap Dhyanda untuk pertama kalinya.
"Minuman dan makanan aku sama Imel mereka buang. Apa itu sopan namanya?" balas Dhyanda mengutik lagi.
Aldrick tersenyum, tangan kirinya membelai puncak kepala Dhyanda. "Jangan biarkan orang lain membuatmu marah hingga sampai pada titik di mana kamu menjelma menjadi seseorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalinya, Dhy. Itu tadi bukan kamu."
Dhyanda terdiam menunduk. Dia merenung, dan akhirnya menyadarinya.
"Orang yang udah ngedit foto kamu udah aku bikin perhitungan" gumam Aldrick dan sukses membuat Dhyanda mendongak mengangkat kembali kepalanya menatap lelaki disampingnya.
"Orangnya udah ketemu, Kak? siapa?" tanyanya penasaran.
"Kamu gak akan kenal. Dia cuma orang iseng yang iri dengan hubungan kita" jawab Aldrick tenang. Dia tidak ingin membuat Dhyanda lebih kecewa lagi jika tahu orang terdekatnya lah pelakunya.
"Hah? orang iseng gimana Kak? aku gak ngerti deh" Dhyanda memicingkan matanya menatap Aldrick.
"Ya udah kalo gak ngerti gak usah dipaksain. Pokoknya masalah ini udah selesai dan pihak sekolah tau kalo itu foto editan. Termasuk foto lelaki yang cium kamu juga anggap saja itu editan. Clear!"
"Kok bisa gitu? cowok itu kan Kak Al" ucap Dhyanda polos.
Aldrick berdecak, "Oh jadi kamu udah siap nih ngakuin ke semua kalo aku ini pacar kamu?" liriknya menggoda.
"Ih, nggak-nggak!" Dhyanda menggeleng cepat. Aldrick malah tersenyum dibalik kemudinya tanpa menoleh.
__ADS_1
'gue tau gue salah karena udah berani cium Lo ditempat umum. Dan gue cuma gak mau orang menganggap Lo rendah, Dhy.' batin Aldrick berkata lirih.
"Belok ke pasar bentar ya, Kak!" pinta Dhyanda membuyarkan lamunan Aldrick. "udah dua hari ibu gak jualan, tadi pagi ibu minta aku ngambil buku stok barang dikios"
"Oke, siap nyonya Aldrick" kata Aldrick yang langsung mendapat pukulan keras dari Dhyanda di bahunya.
"Ih, apaan sih. Geli gue dengernya" balas Dhyanda bergidik. Aldrick pun tertawa.
Jalan menuju ke arah pasar nampak macet total, deretan mobil tak mampu bergerak barang sejengkal pun.
Dhyanda membuka kaca mobil hendak bertanya pada orang yang melintas disamping mobil.
"Ada kecelakaan ya, Bang?" tanyanya pada penjual asongan yang kebetulan melintas.
"Kios deket pasar kebakaran" sahutnya.
"Kios mana, Bang?" Dhyanda panik, pikirannya langsung tertuju pada kios ibu Arumi.
"Wah gak tau, neng. katanya ada beberapa kios yang kebakar disana," balas si babang penjual asongan itu sambil berlalu pergi.
Dhyanda bergegas membuka safety belt hendak keluar namun tangan Aldrick dengan cepat meraihnya.
"Kemana?"
"Gue turun disini! gue harus mastiin kios ibu aman" kata Dhyanda tak sabar.
"Tapi ini rame lho, macet total!" kata Aldrick yang enggan Dhyanda pergi.
"Gue bisa jalan, kak. lagian udah deket kok", tanpa banyak bicara lagi Dhyanda benar-benar pergi.
"Dhy! Dhyanda!" teriak Aldrick dari dalam mobil. Namun gadis itu sudah berlari jauh.
Aldrick segera menepikan mobilnya dan menyusul Dhyanda dengan berlari.
Dari kejauhan asap hitam mengepul membumbung tinggi diangkasa. Dhyanda dengan tergesa menerobos kerumunan orang yang tengah berteriak histeris.
"Ibu?!" teriak Dhyanda saat melihat ibu Arumi yang tengah dibopong beberapa orang. Dhyanda kaget kenapa ibu Arumi ada disini.
"Kios kita, Dhy" lirih ibu Arumi sambil terisak saat melihat Dhyanda.
Dhyanda melongo, kedua matanya hanya mampu memandang puing-puing kios ibu Arumi yang sudah hangus didepan matanya. Tatapan gadis itu berubah nanar, 'ini ada apa lagi?'
"Kios ibu kamu ikut kebakar. Kebetulan kiosnya tutup jadi kami tidak bisa membantu mengeluarkan barang-barang didalamnya" ucap seorang Bapak pemilik kios diseberang kios milik Arumi. "Maaf, kami gak bisa nyelamatin barang dagangan ibu Arumi", sesalnya lagi.
.
.
__ADS_1
.