Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Dimana kalian semua?


__ADS_3

Dhyanda masih mendekap erat lututnya disudut kamar, air matanya terus mengalir, tak bisa ditahan. Ia ketakutan, terpinggirkan, merasa tak memiliki siapa pun dan itu terasa menyiksa batin dan jiwanya. Ia membutuhkan ibu Arumi disisinya, memeluknya dan menenangkannya. Namun semua itu hanya mimpi semata karena nyatanya Arumi sedang berada di kampung halaman. Dhyanda tidak tega memberitahunya karena tidak ingin membuat Ibu Arumi khawatir dan kepikiran.


Setelah memastikan bahwa yang datang dan mengetuk pintu rumahnya dengan lembut adalah pasukan dari kepolisian, Dhyanda baru berani beranjak menuruni tangga. Berjalan tertatih dan gontai. Kedua kakinya lunglai seperti tak bertulang. Beruntung, dalam tim tanggap cepat yang dikirim ada seorang polwan ikut serta. Dhyanda langsung berlari menubruknya. Menangis sesenggukan sambil memeluk.


"Ada bekas sepatu!" tunjuk Briptu Adam menunjuk teras rumah.


Para tim dari kepolisian mengikuti arah tunjukan Briptu Adam dan mengangguk membenarkan.


"Dipintu juga ada bekas dibuka paksa. Semacam dicongkel, komadan!" Lapor Briptu Fahri pada seniornya, sedangkan Iptu Kirey tengah memeluk Dhyanda yang terlihat masih syok.


"Coba periksa lagi, saya dan Mbak Dhyanda ke dalam aja biar lebih tenang!" perintah Iptu Kirey sambil memapah Dhyanda ke ruang tamu.


Setelah Dhyanda cukup tenang Iptu Kirey membawakan segelas air putih untuk Dhyanda agar semakin nyaman dan tidak ketakutan lagi. Di genggaman tangan Dhyanda masih ada ponselnya, satu-satu harapannya yang masih tersisa. Ya, ia masih berharap Imel atau Aldrick segera menghubunginya.


"Mbak Dhyanda disini tinggal sendiri?" tanya Iptu Kirey lembut.


Dhyanda mengangguk pelan, pandangannya kosong.


"Dari data diri yang tadi Mbak Dhyanda laporkan pada petugas kami dikantor, Mbak Dhyanda seorang mahasiswa tingkat pertama di universitas Tunasjaya, betul?"


Lagi-lagi Dhyanda hanya menjawab dengan anggukan.


"Sepertinya ini bukan ulah orang iseng. Alangkah lebih baiknya Mbak Dhyanda untuk sementara tinggal dengan kerabat terdekat"


"Saya nggak punya keluarga di Jakarta, Bu", sela Dhyanda pilu.

__ADS_1


"Kalo gitu teman yang bisa dipercaya barangkali?" tanya Iptu Kirey sekali lagi.


Dhyanda tak menjawab lagi. Tak terhitung sudah berapa kali ia mengecek layar ponselnya, berharap Imel memberi balasan. Namun tak ada satupun pesan yang masuk, Imel tak memberi respon sama sekali, termasuk Vero, lelaki suruhan Aldrick yang katanya siap membantunya dalam keadaan genting sekalipun. Mana?


"Bagaimana Mbak Dhyanda, ada?" 


"Ya, ada Bu. Rumah sahabat saya didaerah pasar gledek" jawab Dhyanda akhirnya memilih rumah Imel.


"Syukurlah, nanti biar kami yang mengantar Mbak Dhyanda ke rumah temannya itu"


Dhyanda hanya mengangguk pelan.


"Kenapa Mbak Dhyanda tidak tinggal di asrama? setau saya Universitas Tunasjaya menyediakan asrama untuk para mahasiswanya" ujar Iptu Kirey.


Dua jam kemudian, setelah tim tanggap cepat menyelesaikan olah TKP, mereka pamit. Dhyanda tak memiliki pilihan lain selain ikut dengan mobil polisi, mereka dengan baik hati akan mengantarkan Dhyanda ke rumah Imel.


.


"Didepan belok kanan!" ujar Dhyanda mengarahkan jalan menuju rumah Imel. "saya turun disini aja, Bu!" pinta Dhyanda saat mobil milik polisi itu tiba disebuah perkampungan dekat pasar gledek.


"Yang mana rumahnya?" tanya Iptu Kirey sambil mengedarkan matanya.


"Itu, yang cat kuning!!" tunjuk Dhyanda ke arah rumah bercat kuning yang terlihat jelas diseberang jalan.


Mobil polisi yang mengantar Dhyanda pun berhenti, gadis itu pun segera keluar setelah berpamit dan mengucapkan terimakasih kepada Iptu Kirey dan 2 orang petugas polisi didalamnya.

__ADS_1


Dhyanda segera menghampiri rumah Imel, lalu tanpa ragu mengetuk pintu perlahan. Tiga ketukan tidak ada respon.


Gadis itu pun terpaksa mengetuknya berkali-kali sambil memanggil nama Imel. Namun tidak pula diresponnya. Dhyanda mengusap wajahnya gusar, ia menengok ke belakang, disekitar nampak sudah sangat sepi. Mobil polisi yang mengantarnya pun sudah berlalu pergi.


"Apa Imel, Ibu dan kakaknya sudah tidur ya?" gumamnya jadi tidak enak jika terus menggedor pintu rumah tersebut. "Bodoh kamu, Dhy! kenapa tadi nggak minta antar ke rumah Ayu? Disana kan banyak orang yang gue kenal!" rutuk Dhyanda menyesali dirinya sendiri. Namun percuma jarak dari sini ke daerah rumah lamanya memang lumayan jauh. Apalagi sekarang Dhyanda hanya membawa bekal ponsel dan baju yang kini melekat di badannya. Ia melupakan semua barang termasuk tas berisi dompetnya di rumah itu saking panik dan gugup.


Dhyanda kembali menghubungi Imel, namun nada telponnya kali ini tidak tersambung. Ponselnya tidak aktif. Apa Imel dan keluarganya sedang tidak dirumah?


Cukup lama Dhyanda berdiri diteras rumah Imel. Dinginnya malam mulai menusuk tulang-tulangnya meski baju berlengan panjang. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari sana.


Dhynda tidak sadar dirinya sudah berjalan jauh meninggalkan rumah Imel. Ia juga tidak sadar kini dirinya berada dilingkungan apa dan bagaimana bahayanya. Yang terpikirkan olehnya sekarang adalah kemana ia harus pergi tengah malam begini. Hatinya pilu, Imel masih tak bisa ia hubungi, pesannya pun tak kunjung mendapat balasan. Air matanya menetes, merasa bener-benar sebatang kara.


"Kak Al," desah Dhyanda sesekali mengamati layar ponselnya. Ia memberanikan diri untuk menghubunginya. Di London masih sore, pastinya Aldrick tidak sedang tidur.


Tersambung, tapi tak segera diangkatnya. Sekali lagi Dhyanda mencoba menekan icon berwarna hijau dilayar ponselnya. 


"Kamu lagi apa sih Kak, kok gak diangkat-angkat? Sibuk ya?" Lirihnya pilu, akhirnya menyerah dan melanjutkan langkah kakinya. Dhyanda tidak sadar kalau ada dua lelaki asing yang tengah mengikutinya.


'Benar-benar tidak ada yang bisa diandalkan', batin Dhyanda pasrah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2