
Dhyanda menjadi canggung dan sungkan saat menguntit langkah Aldrick ke dalam bangunan perusahaan besar itu. Seakan mata seisinya tertuju pada Dhyanda dan memaksa ia berjalan bak putri Indonesia yang selalu menjadi pusat perhatian. Didepannya Aldrick masih tak acuh, membiarkan beberapa karyawan perusahaan menatapnya tak biasa.
“Kak, kenapa rasanya aku jadi pusat perhatian gini ya?” bisik Dhyanda malu.
“Terpesona sama ABG. Mereka udah lama gak liat anak SMA kali” sahut Aldrick dengan pandangan tetap lurus angkuh.
"Masa? tapi tatapan mereka beda" sangkal Dhyanda.
"Oh, mungkin karena kamu mirip Alien", balas Aldrick sekenanya.
Plak!! Reflek Dhyanda menepuk keras punggung Aldrick.
Langkah Aldrick terhenti, ia menoleh Dhyanda dengan tatapan tajam seakan hendak menerkam. Belum lagi reaksi beberapa karyawan yang langsung memelototinya, terlihat tak terima dengan perlakuan Dhyanda yang tidak sopan pada atasannya itu.
“Kak Al gak boleh ngatain aku begitu, itu namanya penghinaan tau” ucap Dhyanda sambil menggigit bibir bawahnya imut. “Mm… kayaknya mereka tersinggung karena aku memukul Kak Al barusan ya?” lanjutnya seraya melirik sekitarnya.
“Manners Maketh Man”, geram Aldrick menekan suaranya.
Dhyanda memang tau banyak hal dan sangat cerdas, ia paham yang dimaksud Aldrick. Arti Manners Maketh Man sebenarnya adalah motto dari Winchester College, sebuah sekolah asrama khusus pria di Inggris yang artinya sopan santun dan etika adalah hal yang membuat seseorang itu manusia.
Namun gadis itu nyatanya tidak terlalu menanggapinya, hanya memonyongkan bibirnya sambil mengekor langkah Aldrick. Ia berusaha berlindung dari tatapan asing para karyawan yang menyempatkan diri untuk melihat siapa yang datang bersama putra mahkota pimpinan perusahaan ini. Entah hanya perasaan Dhyanda atau memang charisma Aldrick yang begitu luar biasa. Saat berjalan didepan Dhyanda begini, wibawa Aldrick terpancar. Lelaki ini layaknya eksekutif muda dengan visual dewa yang sukses dan kaya raya. Jelaslah, Aldrick kan kelak penerus perusahaan besar ini.
“Kita ke lantai 7,” ucap Aldrick menunjuk satu pintu lift di sudut ruang lobby besar itu.
“Kak Al,” Dhyanda berusaha mengimbangi langkah Aldrick, berjalan sejajar dengannya, “Kak Al bekerja disini juga? Presiden Direktur perusahaan ini suaminya tante Kinara kan?” tanya Dhyanda yang membuat Aldrick menoleh ke arahnya.
“Heuh?” Aldrick berdecak tanpa menjawab. Dari ekspresinya Dhyanda tau Aldrick malas untuk menjawabnya. Namun Dhyanda tidak menyerah, ia masih mengejar jawaban.
__ADS_1
“Masih gak mau ngaku nih? Aku baru tau ini dari si kakak"
"Kakak siapa lagi?" Aldrick merespon cepat seraya memiringkan wajahnya merasa terdistraksi.
"Kakak google" sahut Dhyanda terkekeh. "Forget it! Buatku yang terpenting sekarang adalah siapa orang yang sudah jahatin aku” ujar Dhyanda tak ingin membahasnya lagi. Anak siapapun seorang Aldrick tidak akan membuat Dhyanda berubah.
Aldrick masih diam, tangannya sibuk menekan tombol pintu lift. Lantas mengantongi kedua tangannya disaku celana. Dhyanda yang sedianya siap menyerang pertanyaan lagi, justru terpana. Pesona Aldrick memang luar biasa ternyata, Dhyanda hanya mampu mengembangkan senyumnya takjub.
Pintu lift pun terbuka, keduanya langsung masuk. Dhyanda tidak menyadari bahwa lift yang mereka gunakan adalah lift khusus untuk para eksekutif di perusahaan, jadi sudah pasti didalamnya hanya ada ia dan Aldrick.
Sunyi, tak ada yang berinisitif memulai pembicaraan. Pun juga merasa mereka tidak memiliki topik untuk dibahas lagi saat ini. Dhyanda hanya asik memainkan jemarinya, sesekali menghentak-hentakan sepatu converse hitam-putih bertali yang setia menemani langkahnya kemana pun selama masih berseragam putih-abu. Sedangkan Aldrick sendiri masih dengan gaya yang sama, kedua telapak tangan disimpan disaku celana, wajah serius dengan mata tajam yang menyimpan lirikan maut. Dalam Benak Aldrick, lelakinya itu merasa sangat bersalah kepada Dhyanda. Seandainya kemarin ia bisa menahan untuk tidak mencium gadisnya itu, mungkin tidak akan ada kejadian seperti ini. Meski nyatanya tidak ada yang menjamin jika seseorang memang sudah mempunyai niat jahat pada Dhyanda.
Sikap Aldrick yang demikian memaksa Dhyanda untuk memperhatikannya. Dalam pandangan Dhyanda, Aldrick memang memiliki visual dewa yang pesonanya bahkan tak bisa ia lewati begitu saja. Memiliki tinggi badan sekitar 180 cm, berat badan ideal, kulit putih bersih, hidung mancung menantang, dan alis tebal yang rapi, belum lagi bibirnya yang sukses membuat Dhyanda gemas ingin sekali menariknya tiap kali Aldrick mengucap kata.
“Apa kamu nggak bakalan berhenti, Dhy?” Aldrick menoleh tiba-tiba.
“Kamu!” desis Aldrick, “Mau aku cium lagi?” tanyanya menggoda Dhyanda. Aldrick sadar sedari tadi Dhyanda terus memperhatikannya dari samping.
“Hah?” Dhyanda terkejut.
“Jangan ngeliat cowok lain dengan pandangan begitu, mereka bisa salah paham nanti” pinta Aldrick beralih menatap pintu lift lagi. Mereka hampir sampai dilantai 7. Sebenarnya Aldrick hanya takut akan kehilangan kendali, lelaki itu selalu terlena setiap kali melihat gadis kecilnya berada dekat dengannya. Ingin selalu memeluk dan menciumnya gemas.
“Emang aku ngeliatin Kak Al kaya gimana? Kaya ngeliat cowo brengsek atau cowo mesum ya?” tanya polos Dhyanda.
“Kita cuma berdua disini, kamu nggak takut didalam lift bersama cowo mesum dan brengsek versi kamu?” ancam Aldrick menyeringai.
“Maksudnya apaan nih?” Dhyanda curiga.
__ADS_1
“Biasanya cowo brengsek itu bakalan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Lift adalah lahan yang sangat tepat” senyum Aldrick muncul, senyuman mengancam, benar-benar mendebarkan hati Dhyanda.
“Ada CCTV lho, Kak!” ancam Aldrick balik, menunjuk sudut kanan lift.
Lagi-lagi Aldrick menyeringai. Cepat ditariknya Dhyanda ke sudut mati, tepat dibawah CCT, dikuncinya tubuh mungil itu disana. Aldrick membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Dhyanda.
“Kak Al mau ngapain?” jelas Dhyanda panik. Lukanya belum sembuh dari foto editan itu, masa iya sekarang akan menghadapi masalah baru lagi. Dhyanda tidak bisa melawan, matanya hanya terus melirik ke arah pintu, memastikan pintu lift akan segera terbuka dan membebaskannya.
Aldrick kembali menegakkan tubuhnya, “sengaja bikin jantung kamu berdebar. Aku berhasilkan kan?” katanya seraya berbalik, bersiap keluar dari lift dengan meninggalkan senyum jail melihat tingkah menggemaskan Dhyanda.
“Kak Al licik!” seru Dhyanda kesal. Aldrick benar-benar sudah menyilaukan matanya.
“Attitude, Please!” pesan Aldrick seraya tersenyum lagi melihat rona merah diwajah Dhyanda. Dan pintu lift pun terbuka, mereka lantas melangkah keluar dari sana.
"Gini ini nih, pacaran sama Om-om. Banyak aturan" gumam Dhyanda bersungut nyaris tak terdengar, tapi masih terdengar cukup jelas oleh Aldrick.
"Excuse me?" Aldrick menghentikan langkahnya lagi. "kalo gue Om-om, anggap saja Lo itu sugar baby gue" sahutnya seraya menyunggingkan senyuman miring.
"Heuh?" Dhyanda kemakan omongannya sendiri.
Aldrick lalu melingkarkan tangannya ke bahu Dhyanda, "Come on, sugar baby!" ucapnya sambil membawa gadis itu kedalam langkahnya.
.
.
.
__ADS_1