
Di London, bukan karena Aldrick tidak bisa diandalkan, tapi ia tengah terjebak dalam situasi yang sangat tidak enak. Disaat malam ini dirinya akan bertolak ke Jakarta, tiba-tiba Aaron meminta Aldrick untuk menemaninya menemui keluarga klien bisnisnya, yang baru datang dari Singapore sambil makan siang.
Wajah Aldrick terlihat sangat tidak senang, ia duduk diam tanpa suara dikursinya. Diseberang sana ada Tuan William dan Istrinya Katrin, disebelah kiri pasangan Kinara dan Aaron kedua orangtuanya. Sementara disebelah kanan Aldrick, duduk dengan sangat anggun dan cantik Annely, putri tunggal dan pewaris satu-satunya perusahan Seageal, milik Tuan William. Bisa terbayang situasi klise macam apa yang tengah dihadapi Aldrick saat ini.
Aldrick tidak bisa menolak kemauan sang Papa, Aaron. Apalagi jika sudah menyangkut tentang perusahaan. Sebagai anak ia tetap harus patuh pada orangtuanya yang telah melahirkan dan membesarkannya dari lahir. Terutama kepada Kinara, sang Mama.
Seperti kebiasaan keluarga konglomerat yang lainnya, perjodohan untuk urusan bisnis sengaja disamarkan dengan dalih makan siang bersama antar keluarga.
"Gimana dengan proyek kita disini, Al? Aman?" Tanya Aaron pada putra kebanggaannya itu.
Aldrick berhenti menyantap dessert didepannya. "Fine and finish" katanya datar.
"Untuk ukuran calon penerus O'Neill Grup, anakmu memang luar biasa" puji William mengacungkan jempolnya pada Aldrick yang mengangguk hormat tanpa senyum.
"Annely sendiri, udah siap ambil alih perusahaan Seageul?" tanya Kinara ramah pada Annely yang tersenyum malu. Sesekali melirik Aldrick yang masih tanpa ekspresi.
"Saya masih perlu belajar banyak, Bibi" balas Annely merendah.
Kinara hanya tersenyum mengangguk, sebenarnya ia berkata seperti itu hanyalah basa-basi saja. Dari awal Kinara sudah tau maksud Aaron dan William mengadakan makan siang bersama ini. Meski kinara tidak setuju dengan rencana suaminya, ia tidak bisa apa-apa. Biarlah Aldrick sendiri yang memutuskan.
"Sepertinya kamu harus belajar banyak dari Aldrick, Ann" sela Katrin, Mamanya Annely. "tolong ajari Annely ya, Al!" pintanya melirik Aldrick.
"Malam ini saya akan kembali ke Jakarta", tegas Aldrick pada semuanya.
"Kamu kan bisa kembali minggu depan, Al. Ajaklah Annely jalan-jalan dulu mumpung ia disini", pinta Aaron sambil menekan kalimatnya seolah memaksanya.
"Pa, please! Kita udah bahas ini kemaren" geram Aldrick masih berusaha sabar dan duduk dengan sopan.
"Oke, tapi nggak perlu malam ini kan? kamu nggak kasian sama Annely yang datang jauh-jauh dari Singapore buat nemuin kamu?" ujar Aaron tetap memaksa.
"Excuse me?" kata Aldrick tak mengerti dengan jalan pikiran Papanya itu.
"Nggak perlu, paman. Aku baik-baik saja kok" jawab Annely tersenyum simpul.
Aldrick tampak menggeleng-gelengkan kepalanya tak peduli. Ia memilih menyuap dessertnya kembali, menahan ketidak nyamanan. Tanpa sepengetahuannya, ponselnya terus menyala, nama Dhyanda ada di layar ponsel yang diatur dalam mode silent itu.
"Ada apa di Jakarta hingga membuatmu ingin segera kembali? Kekasih mu, Al?" tanya William menggodanya seolah tidak terjadi apa pun barusan.
__ADS_1
"Tidak ada! Dia hanya merindukan teman-teman kumpulnya saja" , buru-buru Aaron menutupinya.
Aldrick melirik sinis pada Aaron. Namun ia tetap diam.
"Jadi bisa dong ditunda dulu balik ke Jakartanya untuk menemani Annely?" pinta Katrin, istri Tuan William penuh harap.
"Enaugh, Mom!" sela Annely jadi merasa sungkan.
"Maaf, tidak bisa!" sambar Aldrick dingin. "Ma, Pa" ujarnya menatap Mama dan Papanya sangat serius, "I have to go!"
"Kemana Al?" tanya Kinara pelan.
"Pulang. Packing untuk nanti malam" sahut Aldrick lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Al!" cegah Aaron.
"Cukup, Pa! permisi semuanya", pamit Aldrick kepada semua orang yang ada dimeja tersebut. Ia pun meninggalkan mejanya begitu saja, muak dengan perjodohan berkedok makan siang yang diatur antar keluarga tersebut.
Tak ada yang bicara setelah Aldrick menekan kata-katanya. Pun Aaron yang tercekat. Annely tampak tertegun, seperti kehilangan harapan padahal ia sudah tertarik pada Aldrick sejak pandangan pertama beberapa jam yang lalu.
Aldrick membanting pintu mobilnya emosi. Vero yang setia menunggunya sebagai sopir sampai berjingkat kaget.
"Santai dong Al! Kaget gue", ujar Vero setelah mengatur napasnya.
"Perjodohan berkedok bisnis. Bikin muak!" sungut Aldrick meluapkan amarahnya pada Vero.
"Cewe yang tadi? Cantik lho dia" ledek Vero menahan senyum.
"Lo boleh ambil kalo dia mau", ujar Aldrick sembarang.
Vero terbahak, "bodo banget kalo dia nggak mau sama gue" katanya masih terkekeh, "btw kita malem ini jadi kan balik ke Jakarta?"
"Jadi lah... Lo bantuin packing sekarang!" sahut Aldrick memasang safety belt ditubuhnya.
"Jujur ya Bos, gue kurang puas disini seminggu. Coba dari bulan lalu lo panggil gue ke London, mungkin gue udah dapet gebetan buat dibawa pulang nemuin emak gue", keluh Vero yang baru satu Minggu menyusul Aldrick ke London. Itu pun dadakan karena ada dokumen asli yang harus ia bawa dari Jakarta untuk diberikan kepada Aaron.
Kali ini giliran Aldrick yang terbahak. "Ngarep lo, Ver" balasnya.
__ADS_1
"Jangan sombong Lo Al, mentang-mentang ganteng lo ngeremehin gue?" kata Vero berdecak kesal.
Tapi Aldrick tak lagi meladeni ocehan Vero. Ia teringat pada ponselnya yang sedari tadi tak sempat ia buka. Senyum Aldrick mengembang saat melihat notifikasi panggilan tak terjawab dari Dhyanda 2x.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Vero melihat mimik wajah Aldrick.
"Sepuluh menit yang lalu Dhyanda nelpon 2x tapi gak kejawab karena gue silent" ujar Aldrick seraya menunjukan ponselnya pada Vero.
"Dia belom tidur? Dijakarta ini tengah malem lho", kata Vero tanpa curiga.
Aldrick lalu mencoba untuk balas menghubunginya. Tersambung, dan terdengar lirih suara Dhyanda di lain negara.
"Kak Al..." sapa Dhyanda terbata.
"Kamu belum tidur? Sorry aku baru pu---"
"Tolongin aku kak," Dhyanda memotong kalimat Aldrick dengan suara tangis ketakutan. "Aku udah hubungin kak Vero tapi nggak ada respon"
Aldrick tercekat. Bukan hanya suara Dhyanda yang didengarnya, tapi juga tawa beberapa lelaki yang sangat dekat ditelinga. Siapa mereka? Dhyanda ada dimana?
"Mereka gangguin aku, kak, tolongin aku" isak Dhyanda makin lirih.
"Kamu dimana? Siapa yang ribut dibelakang kamu? Apa yang terjadi Dhy?" Tanya Aldrick mulai panik.
"A-aku---"
Sambungan tiba-tiba terputus.
Aldrick menoleh pada Vero yang penasaran dengan ekspresi horornya. "Mana hp lo?" Tanya Aldrick geram.
"Hp gue pan ketinggalan di rumah lo, Al. Ada apa?" Vero terkesiap. Apa yang terjadi dengan pacar kecil bos nya itu?
.
.
.
__ADS_1