Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Genggam tanganku erat


__ADS_3

Aldrick membelokkan mobilnya ke sebuah toko bunga yang biasa menjadi langganan sang Mama. Dhyanda ikut turun dari dalam mobil, tergoda dengan wangi dan indahnya bunga didepan mata. Bukankah pada dasarnya setiap perempuan menyukai bunga?


"Bukannya kamu lebih suka bunga bank?" ledek Aldrick sambil membungkukkan badan mendekati wajah kekasihnya.


Dhyanda reflek langsung memukul lengan Aldrick, "Apaan sih, bercanda aku tuh tadi Kak"


Aldrick terkekeh, "Iya, aku tau. Bohong banget kalo cewek nggak suka bunga. Kamu suka bunga apa?" tanyanya kemudian sambil mengambil satu buket bunga Lily dihadapannya.


"Semua bunga yang warnanya cantik dan wangi aku suka. Yang Favorit sih ada beberapa, kayak tulip, baby breath, rose, seruni," ujar Dhyanda seraya matanya mengitari bunga-bunga yang terpajang cantik hampir di seluruh ruangan. "Seruninya cantik tuh yang warna hijau ya," tunjuk Dhyanda ke pojok ruangan.


"Hemm," balas Aldrick sambil membayar buket bunga Lily pesanannya, "Yuk lanjut," katanya sambil berbalik pergi tanpa melirik sedikitpun arah tunjukan Dhyanda.


"Kalo nggak peduli gitu ngapain nanya-nanya suka bunga apa, coba!" sungut Dhyanda seraya menguntit lelakinya masuk ke mobil.


Dhyanda pikir, setidaknya Aldrick akan membelikan satu buket khusus untuknya karena tadi nanya-nanya bunga favoritnya, tapi nyatanya Aldrick bukan tipe lelaki romantis pemberi bunga yang mainstream. Banyak yang bisa Aldrick beri pada Dhyanda, bahkan seluruh deposito miliknya bisa ia berikan pada gadisnya itu. Namun, perempuan mana yang akan menolak diberi bunga favoritnya oleh sang pacar?


Dhyanda menekuk wajahnya meski Aldrick sudah mulai melajukan mobilnya lagi. 'jadi serius nih gue nggak dapet bunga juga? nyebelin juga ternyata! mentang-mentang gue bilang tadi lebih suka bunga bank bukan berarti gue nggak mau bunga beneran kali!" ia terus mengumpat dalam hati.


"Kita bisa ke Belanda buat bulan madu kali ya," celetuk Aldrick mengagetkan Dhyanda yang masih mendumel dalam hati.


"Hah, Belanda?" Dhyanda menganga.


"Bukannya kamu suka bunga tulip. Di Belanda ada taman khusus bunga tulip. Kita cari musim yang bagus buat bisa ke Keukenhof Garden," ujar Aldrick lagi.


Dhyanda tak bisa menahan senyumnya. Seketika rasa kesalnya pada Aldrick hilang begitu saja.


"Ke China juga ya, disana ada taman bunga tulip terindah didunia," pinta Dhyanda tamak, seakan ingin balas dendam karena barusan tidak dibelikan bunga oleh Aldrick.


"Kalo kamu mau boleh, ke Shanghai flower port kan?" tanya Aldrick tersenyum.


Dhyanda mengangguk-angguk mantap, "Ke Tonami Tulip Fair di Jepang juga ada!" tambahnya tak tau diri, semangat mengompori lelakinya.

__ADS_1


"Terserah kamu ke mana juga, tinggal disana sekalian juga boleh," balas Aldrick pengertian.


"Boleh gitu? Nanti di Jepang bisa sambil nikmatin hanami ya Kak?" bujuk Dhyanda.


"Iya, apa sih yang nggak buat kamu?" ucap Aldrick tanpa keberatan sama sekali.


Senyum Dhyanda makin lebar, ia adalah perempuan paling beruntung di dunia menurutnya. Jika hanya untuk menikmati bunga, sebenarnya ia bisa aja datang ke Lembang, Bandung.


"Kita keliling Indonesia dulu aja deh, Kak. Banyak destinasi wisata yang tak kalah indah dari luar negeri," ucap Dhyanda setelah terdiam sebentar.


Memikirkan jadwal kerja Aldrick yang selalu padat, tentu ia tidak boleh serakah dengan meminta liburan yang banyak menyita waktu dan tenaga. Lagipula keliling Indonesia adalah salah satu impian Dhyanda yang dari dulu mustahil terwujud.


"Serius nih?" tanya Aldrick memastikan.


"Serius lah. Ke luar negeri kalo kita udah punya anak-anak aja, dan Daddy-nya anak-anak udah nggak terlalu sibuk seperti sekarang", ucap Dhyanda tersipu saat melirik Aldrick bersamaan dengan mengucap kata 'Daddy-nya anak-anak.'


Aldrick ikut tersenyum bangga. Mereka sedang serius membahas mengenai masa depan sekarang. Sebuah obrolan yang berat dan tidak pasti, tapi begitu mengalir terasa menyenangkan.


"Ngomong apa sih?" gumam Aldrick terdengar tak nyaman saat berandai mengenai hal yang menurutnya tidak akan terjadi. "Kamu lupa kata-kataku, Dhy? Aku akan bahagiain kamu selamanya," ucapnya.


Dhyanda tersenyum gamang, "Sekarang aku udah bahagia banget lho"


"Artinya aku harus ngejaga kebahagiaan itu kan? aku nggak akan pergi Dhy, tanamkan keyakinan itu dalam dirimu kuat-kuat!" pinta Aldrick.


"Kamu janji ya Kak?" desah Dhyanda menatap Aldrick yang masih fokus menyetir.


"Of course, this I promise you!" kata Aldrick tulus.


Sebenarnya bukan Aldrick yang Dhyanda khawatirkan, tapi keluarga besarnya. Dhyanda hanya ada seujung kukunya, ia tau kalau Aaron, Papanya Aldrick tidak begitu menyukainya. Bagaimana jika nanti ia diremehkan dan dihina karena terlalu tinggi ingin mendapatkan pewaris tahta O'Neill grup ini? Namun melihat sorot teduh dimata Aldrick, Dhyanda memantapkan hati. Apapun yang akan ia hadapi nanti, Mereka tidak akan membantainya sampai mati, ada Aldrick yang siap pasang badan untuknya.


"Kalo seumpama nanti keluarga besar kamu terutama Papa kamu nolak aku gimana?" gumam Dhyanda memikirkan kemungkinan terburuk.

__ADS_1


"Kaya di drama-drama yang sering kamu tonton maksudmu?" tebak Aldrick.


"Ini seumpama," balas Dhyanda.


"Biar aja mereka menolak, yang penting aku nerima kamu. Yang bakalan nikah kan kita, bukan mereka. Kamu nggak perlu mikirin mereka,"


"Nggak perlu mikirin gimana? itu keluarga mu lho Kak, ngawur ih!" gemas Dhyanda.


"Yang penting kita bersama, iya kan?"


Dhyanda meringis khawatir, Namun seperti biasa Aldrick selalu memiliki cara untuk menenangkan gadisnya. Sebenarnya mampir ke toko bunga tadi adalah salah satu usahanya untuk membuat Dhyanda lebih tenang dan tanpa beban.


.


Tak terasa mereka sudah hampir sampai. Jantung Dhyanda berdebar kencang saat mobil yang dibawa Aldrick itu memasuki satu lingkungan komplek rumah elit. Rumah kediaman orangtua Aldrick pun sudah terlihat dari kejauhan.


"Kita masuk," kata Aldrick seraya menarik pergelangan tangan Dhyanda agar mengikutinya.


Rumah yang tidak begitu asing bagi Dhyanda, karena dulu sempat beberapa kali dirinya berkunjung kesini. Didepan pintu besar berornamen ukiran Jepara itu, Dhyanda menahan langkah Aldrick sebentar. Dihelanya napas panjang menyiapkan kekuatan, lantas ia mengangguk menggertakkan giginya.


Pintu besar terbuka. Langkah pasti Aldrick diiringi Dhyanda masuk dan langsung menuju ruang tamu yang besar itu. Disana tiba-tiba ketakutan membayangi Dhyanda dan menelan habis keberaniannya. Ia menggeser posisi berdirinya menjadi sedikit berada dibelakang Aldrick, mencari perlindungan.


Sudah terlambat bagi Dhyanda untuk mundur. Tak ada waktu lagi untuknya menyerah sekarang. Keluarga besar Aldrick sudah ada didepan mata.


"Al!" sambut Kinara, matanya berbinar melihat anak sulungnya datang. Matanya kini beralih pada sosok gadis disamping Aldrick, "Dhyanda?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2