
"Yakin kita masuk ke rumah ini, kak? Bagaiman kalo orang yang niat jahat itu datang lagi?" Dhyanda masih sedikit trauma.
"Nggak apa-apa, Dhy. Ada aku", ujar Aldrick meyakinkan Dhyanda. "Sekarang mending kamu istirahat dikamar ya". Ia membawa gadis itu ke kamarnya untuk istirahat.
"Kak!" Dhyanda meraih jemari Aldrick dan menahannya agar tak pergi, "aku takut" bisiknya memohon.
Aldrick langsung mengangguk duduk di sisi tempat tidur Dhynda. Ia membiarkan lengannya dipeluk Dhyanda, begitu nyaman disana. Sebelah tangannya terangkat mengusap kening Dhyanda lembut, lantas mengecupnya hati-hati.
"Kamu aman disini, tenang ya" hibur Aldrick berbisik ditelinga Dhyanda.
"Aku tau" balas Dhyanda tak kalah lirih. "Sama kamu, aku kaya menemukan rumah kedua setelah ibu, tempat yang selalu ngebuat aku pengen pulang, apapun kondisinya", ucapnya.
Aldrick balas tersenyum, dikecupnya sekali lagi kening gadisnya. Kali ini lebih dalam dan lama. Bagaimana tidak? Untuk bisa sampai ke momen semacam ini, Dhyanda harus melalui banyak hal menyakitkan dan traumatis dalam hidupnya. Aldrick tak ingin semua itu kembali terulang. Benar, ini tentang kekuasaan seorang lelaki dalam kehidupan seorang perempuan. Aldrick dikarunia Tuhan segala kelebihan dengan tujuan untuk digunakannya menjaga Dhyanda. Harta, tahta yang ia punya hanya milik satu wanita.
**
Menjelang pagi, tubuh Dhyanda menggigil. Ia demam tinggi hingga membuat Aldrick panik bukan main. Semua dokter kenalan yang ada dikontak miliknya coba Aldrick hubungi. Dhyanda tak sadarkan diri, ia mengigau, sesekali merintih kesakitan dan seperti ketakutan.
"Demamnya sampe 40 derajat, Al" ucap Dokter Rani, seorang dokter perempuan yang biasa memeriksa kesehatan Mamanya, Kinara.
"Dia ngigau sejak subuh tadi. Tubuhnya menggigil dan meracau yang nggak-nggak, Ran" lapor Aldrick pada dokter Rani yang adalah teman sekolahnya saat SMA dulu.
"Coba saya cek dulu, takutnya ada luka dalam yang kita nggak tau," kata Dokter Rani sambil mendekati Dhyanda.
Baru saja dokter Rani meraih tangan Dhyanda. Mata gadis itu terbuka. Tatapan tak nyamannya menyapu ruangan. Lantas Dhyanda memekik ketakutan. Ia melihat sosok Aldrick di sisi tempat tidur dan langsung bangun memeluknya.
"Aku takut, aku nggak mau di pegang-pegang mereka Kak, nggak mau!" Rengek Dhyanda tak mau melepas pelukan, "jangan mendekat!" ancam Dhyanda pada dokter Rani yang berusaha mendekatinya.
"Dhy, Rani ini dokter. Dia mau meriksa kondisi kamu" bujuk Aldrick lemah lembut.
"Enggak mau! Mereka pasti bakalan pegang-pegang tubuh aku Kak. Aku nggak mau!" Dhyanda menangis ketakutan.
__ADS_1
"Aku keluar dulu. Tolong tenangin dia, baru kita bicara", pamit dokter Rani paham situasi dan segera pergi keluar menghindari teriakan Dhyanda yang ketakutan saat melihatnya.
Sepeninggal Dokter Rani, Dhyanda mulai tenang meski demamnya tetap bertahan. Dipelukan Aldrick, ia bersedia untuk kembali berbaring diatas tempat tidur. Aldrick maklum, tak mudah di posisi Dhyanda yang mungkin kejadian kemarin membuatnya trauma tapi gadis itu menahannya sendirian.
"Jangan pergi," lirih Dhyanda memeluk kuat-kuat pinggang Aldrick.
"Aku disini, Dhy. Kamu tenang ya..." bujuk Aldrick sabar.
Dhyanda mengangguk, ia mulai mau berbaring sepenuhnya. Pun setelah Aldrick menyodorkan air putih untuknya. Jemarinya menggenggam erat pergelangan tangan Aldrick, tak rela ditinggalkan.
"Jangan sakit, Dhy" bisik Aldrick sembari mengecup kening Dhyanda yang masih demam.
Dhyanda seperti tak memedulikan ucapan Aldrick. Ia bergumam tak jelas, bibirnya gemetaran dan pandangannya kosong. Kejadian kemarin malam begitu membekas, dibarengi demam tinggi yang menyerang tubuhnya dari sebelum kejadian kemarin, tapi sayang Dhyanda mengabaikannya.
Beruntung Dhyanda semakin tenang setelah beberapa saat dan tertidur saking lelahnya. Kesempatan itu digunakan Aldrick untuk menemui Dokter Rani.
"Udah tidur?" Sambut Dokter Rani saat melihat Aldrick keluar dari dalam kamar.
"Dia defensif sama orang yang nggak dikenal. Trauma banget kayanya," ujar Dokter Rani prihatin.
"Wajar, dia hampir dijahatin orang dua kali dalam satu malam. Kalo dia biasa aja malah nggak normal, Meski tampak ceria diluar", Aldrick menghela napas panjang, menyesali dirinya yang tidak ada disamping Dhyanda malam itu.
"Karena saya tidak bisa mendekatinya, kamu yang harus merawatnya. Saya ajarin kamu cara ngompres dan membersihkan badannya. Nanti kalo bagian tubuh yang sensitif kamu bisa minta dia bersihin pas buang air aja," kata Dokter Rani pengertian.
Aldrick mengangguk setuju, kemudian mengikuti Dokter Rani ke dapur. Dari mulai menyiapkan kompres air hangat hingga air untuk mengelap tubuh Dhyanda. Aldrick mempelajarinya sangat serius. Ia begitu telaten karena tak ingin disalahkan.
"Kamu bisa lakuin setiap dua jam sekali untuk ngontrol suhunya," bisik Dokter Rani saat Aldrick selesai mengukur suhu tubuh Dhyanda yang masih bertahan di angka 40 derajat.
"Obatnya?" tanya Aldrick mengingatkan.
"Kalo dia sadar penuh, baru boleh kasih obat. Tapi kalo demamnya turun, kasih aja dia vitaminnya. Tapi harus makan dulu lho ya," pesan Dokter Rani mewanti-wanti.
__ADS_1
Aldrick mengangguk paham. Ia berdiri mengantar Dokter Rani hingga ke depan pintu rumah kontrakan Dhyanda.
Semalaman Aldrick tidak tidur sama sekali. Kondisi Dhyanda yang demam tinggi memaksanya ikut bergadang, ia takut terjadi sesuatu jika matanya terpejam.
"Bos, makan dulu sana! Tadi gue beli masakan padang sebelum kemari", tawar Vero yang baru datang. Ia terpaksa menemui Aldrick karena ada dokumen yang harus Aldrick tanda tangani untuk keperluan tender besok.
Aldrick menggeleng, "gue mau mandi sebentar, lo awasi dia. Awas kalo macam-macam!" pesan Aldrick.
"Tenang Bos, gue nggak berani macem-macem", kekeh Vero, "dia masih sakit ya?"
Aldrick menahan langkahnya, "Iya, masih demam" jawab Aldrick lalu lekas-lekas pergi mandi karena tidak ingin lama-lama meninggalkan Dhyanda yang tengah dijaga Vero.
.
Menjelang siang, demam Dhyanda mulai turun, kendati demikian Aldrick sama sekali tak beranjak dari kamar. Ia dengan telaten mengompres Dhyanda terus menerus.
Sore harinya Dhyanda terbangun, ia belum kuat untuk turun dari tempat tidur, hingga hanya mengedip-ngedipkan matanya untuk mengumpulkan nyawa. Dilihatnya sosok Aldrick tengah berdiri didepan jendela, berbicara dengan ponselnya.
"Saya belum bisa ke kantor, Kamu urus dulu semuanya. Saya sudah hubungi Pak Marshall untuk menggantikannya ke Bandung besok pagi. Paham?" ucap Aldrick serius dengan seseorang diseberang sana.
"Kak," panggil Dhyanda lirih.
Aldrick langsung menoleh, lalu memutus panggilan telponnya sepihak, "Hey, udah bangun?" sapanya pada Dhyanda mendekat. "badannya gimana, udah enakan?" tanyanya lagi seraya menempelkan punggung tangannya dikening Dhyanda.
"Udah, dua kali jauh lebih baik malahan," kata Dhyanda tersenyum begitu manisnya. Aldrick tersenyum lega. Tak henti-hentinya ia bersyukur karena Dhyanda sudah membaik dan mulai mau bercanda lagi.
.
.
.
__ADS_1
Dukung terus Authornya dengan LiKE, KOMEN, and VOTEnya ya 😉