Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Hatiku milik kamu, Dhy


__ADS_3

*


"Kita kemana sekarang?" tanya Dhyanda.


"Makan malam kan?" ucap Aldrick tenang.


"Jalannya nggak kenal aku. ke restoran mana? Jangan yang banyak porsinya deh, aku masih agak kenyang," keluh Dhyanda setelah tadi siang sempat makan bakso bersama Imel dan ngemil camilan yang membuat perutnya kenyang tanpa makan nasi.


"Nanti kamu juga tau," balas Aldrick.


Dhyanda hanya mengangguk, ia memeluk lengan kiri Aldrick. Mereka lalui perjalanan dalam diam, ditemani musik indah mengalun dari MP3 player dimobil milik kekasihnya. Ditambah diluar hujan rintik menambah syahdu suasana.


"Kamu yang dulunya asing jadi yang paling deket sama aku," gumam Dhyanda sambil memandang kekasihnya dari samping, masih fokus menyetir.


"Mau dipisahin nggak kalo udah deket gini?" pancing Aldrick.


"Kok ngomongnya gitu sih?" Dhyanda mengerutkan dahinya, "Mana mungkin aku rela. Aku cinta mati sama kamu, Kak" sanggahnya.


Aldrick tertawa bangga, "Iya, iya, nggak akan pergi kok akunya juga," ujarnya.


Dhyanda tersenyum lega, bahagia memang selalu sederhana. ditatapnya Aldrick penuh cinta, mengagumi mahakarya Tuhan atas wajah serupa dewa yang kini utuh miliknya.


Mobil Aldrick berbelok ke sebuah hotel bintang lima terkemuka. Dhyanda yang menyadari bahwa Aldrick membawanya ke hotel menoleh panik.


"Katanya makan malam!" seru Dhyanda mengerjap bingung.

__ADS_1


"Iya, emang," jawab Aldrick.


"Kok ke hotel? Jangan bilang kita mau Check---"


"Negatif amat pikirannya!" sambar Aldrick gemas, "Tuh, sky lounge!" tunjuknya ke atas gedung, "Mereka punya tempat makan dengan pemandangan Jakarta di malam hari. Kita ke sana," lanjutnya.


Dhyanda kembali bernapas lega, diiringi tawa khas Aldrick yang puas mengerjainya. Lelaki ini turun dari mobil dan membukakan pintu penumpang untuk gadisnya.


"Silahkan Nyonya Aldrick," kata Aldrick mesra.


"Ih, apaan sih Kak" Dhyanda berjenggit geli, pipinya makin merah merona, "Kalo tau makannya mau disini, aku kan dandan dulu, pake dress dan high heels. Nggak kasual begini. Liat coba penampilan ku! urakan banget keliatannya," ujar Dhyanda jadi enggan melangkah setelah keluar dari mobil.


"Kamu cantik apa adanya, Aku suka kamu yang kaya gini, Dhy. Lagian kamu ke sini sebagai calon nyonya Aldrick. Percaya dirilah," ucap Aldrick setengah menarik lengan Dhyanda agar ikut masuk bersamanya.


Dengan rasa tidak percaya diri, Dhyanda menguntit langkah Aldrick masuk ke dalam lift. ditolehnya penampilan Aldrick dari kepala hingga kaki. Sungguh timpang dengan penampilan Dhyanda yang sederhana.


Aldrick mengangguk seperlunya. Begitu pintu penthouse dibuka, udara malam menyambut Dhyanda. Mereka memasuki sky lounge indah dihiasi lampu warna-warni dibeberapa sudutnya.


Ini bukan tempat sembarangan, hanya orang dari kelas atas yang mampu membayar fasilitas sky lounge sang pemilik hotel. Aldrick menyewa dan mempersiapkan tempat ini secara privat untuk menyenangkan gadisnya. Ia ingin Dhyanda menyaksikan kembang api yang bertebaran di udara tepat pada saat gadis itu duduk dikursi yang diseret Aldrick untuknya.


Dhyanda begitu takjub sampai harus menutup mulutnya bahagia bukan kepalang. Sungguh momen yang sangat tepat seakan lelakinya itu memang sengaja menyiapkan untuknya.


"Kamu sengaja bawa aku ke sky lounge ini Kak?" tanya Dhyanda setelah ketakjubannya mereda.


"Yes. Kamu tau aku suka suasana disini, dan aku yakin kamu juga bakalan suka" balas Aldrick fokus pada makanan dan minuman yang dibawa keluar oleh para pelayan.

__ADS_1


Dhyanda mengangguk pasti, "Ada live music juga?" tanya Dhyanda saat pandangan matanya mengarah ke satu set alat musik di sudut sebelah kanan yang memang difungsikan sebagai panggung, lengkap dengan pemain band-nya.


Aldrick hanya mengangguk menanggapi ketakjuban gadisnya.


"Berasa memperingati anniversary kita jadian deh," gumam Dhyanda, "Eh, btw kita jadian tanggal berapa coba? aku malah nggak ngeh dulu ya," lanjutnya.


"Anggap aja hari ini. Biar keinget terus," balas Aldrick.


Kali ini Dhyanda yang mengangguk setuju.


"Kita makan dulu," pinta Aldrick lembut. Ia memberi kode pada seorang pelayan untuk menyiapkan menu utama mereka.


Dhyanda melebarkan matanya. Apa yang disajikan oleh pelayan membuatnya mengerutkan kening. Hidangan itu tidak banyak, hanya dua porsi mirip tumis tapi asing sekali. satu piring untuk menu jamur truffle menggoda dan satu lagi menu kaviar.


"Gnocchi with truffled mushrooms," kata Aldrick menjawab rasa penasaran Dhyanda. "Pernah denger?" tanyanya.


Dhyanda mengangguk dengan wajah polosnya yang menggemaskan. Dia pernah baca tentang jamur langka itu disalah satu artikel online. Jamur truffle salah satu dari bahan makanan termahal didunia.


"Apa ini tidak berlebihan, Kak?" bisiknya sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Aldrick. "Mahal lho," ujarnya dengan mimik wajah menggemaskan.


Aldrick lagi-lagi tersenyum, "Sesekali nggak apa-apa," balasnya santai.


"Berapa harga seporsinya, by the way?" bisiknya lagi. Wajah Dhyanda semakin maju ke depan wajah Aldrick, seolah pertanyaannya takut terdengar pelayan yang masih sibuk menaruh minuman keatas meja.


"Sesenti lagi bibir kamu maju, aku emam kamu ya, Dhy!" ancam Aldrick merasa terpancing dengan tingkah polos Dhyanda yang menggemaskan.

__ADS_1


Spontan Dhyanda menarik kembali posisi tubuhnya ke tempat semula. "Ih, apaan sih," gumamnya mencebik. Aldrick lalu mengusap mengusap rambut gadisnya, begitu sayang.


__ADS_2