
5 Minggu berlalu. Kehidupan Dhyanda dan Ibu Arumi tidak seperti dulu. Sejak kebakaran kiosnya dipasar itu, Arumi terpaksa harus menjual rumah untuk menutupi hutang pada bank keliling dipasar yang nominalnya hampir 60 juta plus bunga dan denda keterlambatan pembayaran setiap minggunya.
"Kenapa kamu nolak untuk tinggal di apartemen ku, Dhy? apartemen itu sudah hampir satu taun kosong setelah sebelumnya disewa orang" ujar Aldrick yang kecewa dengan sikap Dhyanda dan Ibu Arumi yang sudah jelas menolak bantuan darinya.
"Makasih, Kak. Tapi kami baik-baik aja, bahkan uang dari hasil penjualan rumah masih nyisa kok. Masih cukup untuk nyari rumah kontrakan dan biaya hidup sehari-hari" kata Dhyanda meyakinkan Aldrick. Meski dalam hatinya ia ragu sampe dimana uang sisa penjualan rumah itu bakalan habis. Apalagi Ibu Arumi belum tau hendak buka usaha apa lagi dengan modal yang sangat minim.
"Tapi Dhy---"
"Kalo gitu aku balik dulu ya Kak" potong Dhyanda berpamit, "hari ini aku sama ibu mau nemuin orang yang punya kontrakan didaerah kampung baru, sepertinya ibu cocok dengan rumah disana, soalnya Minggu depan kita harus udah pindah dari rumah lama" tambahnya pada Aldrick setelah mobil Aldrick sudah berhenti di mulut gang menuju rumahnya.
"Rumah Pak haji Daim yang kamu ceritain kemarin?" terka Aldrick memicingkan matanya.
"Iya" sahut Dhyanda.
"Tapi daerah sana gak aman lho, atau aku antar nyari yang lain? aku punya kenalan di agen properti" ujar Aldrick semangat.
Dhyanda malah tertawa, "kita gak nyari apartemen sewaan atau rumah-rumah cluster, Kak. Kita gak ada kriteria rumah idaman, yang penting murah itu aja. Jadi gak perlu pake agen properti segala kali ya" ujarnya menggeleng-gelengkan kepala.
Aldrick mendesah halus, kecewa dengan penolakan Dhyanda akan niat baiknya, lelaki itu hanya tidak ingin gadisnya tetap aman.
"Kak Al mending balik ke kantor aja. Makasih karena udah nyuri waktu kerjanya untuk jemput aku di sekolah" ucap lagi Dhyanda lalu membuka pintu mobil hendak keluar.
"Dhy!!" Aldrick meraih pergelangan tangan Dhyanda hingga gadis itu mengurungkan niatnya sejenak lalu menoleh ke arah Aldrick. "Maaf kalo sekarang kita jadi jarang ketemu", ucapnya lagi.
Sudah dua Minggu Aldrick tidak lagi mengajar disekolah Dhyanda. Ibu Kanaya Megan sudah aktif lagi mengajar setelah tiga bulan cuti melahirkan. Aldrick sebetulnya masih ingin mengajar disana, namun sekolah itu belum membutuhkan tenaga pengajar baru. Mau tidak mau Aldrick kembali ke status awalnya, seorang eksekutif muda di perusahaan sang Ayah.
"Hish! gak apa-apa kali kak. Aku ngerti kok, pacar ku ini kan udah papan, eh mapan" balas Dhyanda terkekeh. "Kak Al ati-ati ya! nanti chat aku kalo udah nyampe kantor lagi" ucapnya lagi lalu benar-benar berlalu dari hadapan Aldrick.
Aldrick hanya bisa mengangguk dan tersenyum. Ia baru ingat sore ini dirinya harus bertolak ke Singapore. Ada janji dengan klien bisnis ayahnya dari perusahaan property ternama disana.
**
"Kenapa Pa Aji gak ngomong kalo rumahnya udah ada yang ngisi? jadi aku sama Ibu gak perlu cape kemari" protes Dhyanda saat tau rumah kontrakan yang di sesarnya bersama Ibu Arumi ternyata sudah dibooking orang lain.
Ibu Arumi menghela napas panjang, dia tidak tau harus mencari kemana lagi rumah kontrakan yang murah dalam 5 hari kedepan.
__ADS_1
"Ayo Bu, kita pulang aja!" ajak Dhyanda menghentakkan kakinya kecewa, lalu berpamit pada si pemilik kontrakan itu.
"Iya, kita cari rumah kontrakan besok lagi, ini udah mendung" kata Arumi seraya mendongak melihat awan abu-abu pekat diatas kepalanya.
Ponsel Dhyanda bergetar tanda ada panggilan masuk.
"Bentar Bu, Imel telpon" ucap Dhyanda. Arumi mengangguk, mereka singgah dan duduk sebentar dikursi depan minimarket.
"Apa, Mel?" sapa Dhyanda.
'udah dapet kontrakannya?' tanya Imel diseberang.
"Telat. Udah keburu diisi orang" sahut Dhyanda dengan nada kesal.
'Temen kakak gue kerja di agen properti, Lo coba hubungin dia. Barangkali dia punya rumah yang mau dikontrakkan dengan harga murah. Gue kirim alamatnya ya,'
"Gila Lo. Kagak mau gue!" tolak Dhyanda.
'Apa salahnya nyoba. Kata kakak gue agen properti temennya itu untuk kelas menengah ke bawah. So, saran gue mending Lo nyoba datengin tuh! Gue kirimin alamatnya sekarang, bye Dhy'
Dan sambungan telpon pun terputus secara sepihak. "Eh, malah diputus ni Mak lampir!" desis Dhyanda kesal.
"Ngejahatin anak orang itu dosa!"
"Kok jahat? Gue itu niatnya baik"
"Al!" Vero tak sabar berbicara informal, "gadis itu dan ibunya cape-cape nyari rumah dan lo seenaknya membooking dengn harga mahal rumah kontrakan biar mereka gak bisa masuk. Itu gak jahat?" gemasnya.
Aldrick membenahi posisi duduknya. Matanya mengitar, meneliti jadwal keberangkatan pesawatnya menuju Singapore yang tinggal beberapa menit lagi.
"Lingkungan sekitar rumah kontrakan yang disasar Dhyanda itu gak aman, Ver. Bang Sony udah nyari info dari orang sekitar. Mending gue keluarin sedikit uang tapi dia dan ibunya gak kenapa-napa" terang Aldrick nampak serius khawatir.
Vero tercengang. Luar biasa dengan sahabat sekaligus bos kecilnya ini. Baru kali ini Aldrick mati-matian menolong seorang cewek.
"Dengan ngejaga dia dan ibunya dalam jangkauan gue, gue ngejaga dia dari hal-hal yang membahayakan hidupnya. Bisa dimengerti?" Tanya Aldrick dan beranjak untuk boarding.
__ADS_1
"Yes Bos! udah ngerti gue," Balas Vero mengulum senyum dan mengikuti langkah atasannya itu ke dalam pesawat menuju Singapore.
***
Hari ini Dhyanda dan Arumi berencana pergi ke agen property. Mereka sengaja datang agak pagi agar lebih memiliki waktu lebih panjang untuk mencari rumah kontrakan yang lain jika belum ada yang cocok.
"Hari Minggu gini emang buka ya, Dhy?" tanya Arumi ragu.
"Kata Imel sih buka, Bu" sahut Dhyanda terdengar ragu juga.
Keduanya melangkah masuk, masih sepi, seorang lelaki berkacamata seumuran Aldrick meyambut kedatangan mereka. Seakan sudah tau akan datang pelanggan baru untuknya, lelaki itu bernama Rizki itu tersenyum begitu ramah.
"Ada yang bisa kami bantu?" sambut Rizki tersenyum manis.
Dhyanda dan ibu Arumi mengangguk kepala seraya tersenyum kompak. Mereka dipersilakan duduk.
"Saya Rizki, pengelola agen properti ini" ujar Rizki memperkenalkan diri.
Dhyanda dan Arumi meringis malu. Mereka tak sampai hati untuk bicara mengenai keuangannya kepada Rizki. Apalagi untuk taraf agen properti, uang sisa penjualan rumah lama Arumi pasti tidak mencukupi.
"Hhm begini Pak Rizki, saya ini nyari rumah kontrakan yang murah", sambar Arumi memberanikan diri.
"Oh begitu. Boleh saya tau untuk kisaran berapa kira-kira bu?" tanya Rizki.
"Yang perbulannya nggak nyampe sejuta ada gak kira-kira ya?" balas ibu Arumi pesimis.
Rizki nampak berpikir, lantas beranjak ke belakang meja kerjanya. Ia membolak balikan beberapa katalog. Lalu kembali menemui mereka.
"Sepertinya ada 2 unit, Bu"
"Hah? beneran nih?" sambar Dhyanda tak percaya.
.
.
__ADS_1
.
Rumah tidak selalu berarti tempat dimana raga kita berada. Tapi rumah adalah tempat dimana hati kita berada.