Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Penantian panjang


__ADS_3

Pagi itu Dhyanda membuatkan sarapan pertamanya untuk sang suami. Sebenarnya ini bukan yang pertama baginya membuat sarapan untuk Aldrick. Sebelumnya memang setiap hari Dhyanda memasak untuk lelakinya itu, namun dulu status lah yang membedakannya.


Kenikmatan yang diberikan nasi goreng memang nggak ada duanya bagi Dhyanda. Jangan heran untuk menyemangati pagi harinya, nasi goreng selalu menjadi menu andalan untuk sarapan. Kali ini Dhyanda memodifikasi menu nasi gorengnya menjadi lebih spesial. Ia menambahkannya dengan kacang polong, sosis, suir ayam dan telur, tak lupa menambahkan bawang merah, bawang Bombay, bawang putih, cabai dan kecap.


Sarapan sudah siap saat seseorang memencet bel pintu rumahnya dari luar. Dengan tergesa Dhyanda berjalan untuk membuka pintu. "Siapa yang pagi-pagi gini bertamu?" gumamnya.


"Ibu?"


Ternyata yang bertamu sepagi itu Arumi. Dhyanda mempersilahkan ibunya itu masuk dan duduk di sofa.


"Ibu ganggu ya, Dhy?"


"Ya nggak lah Bu. Aku udah bangun kok, baru aja selesai bikin nasgor untuk sarapan. Kita sarapan bareng ya! aku bangunin Kak Al dulu," ujar Dhyanda hendak beranjak ke kamar untuk membangunkan Aldrick.


"Nggak usah, Nak! ibu sudah sarapan kok," cegah Arumi, dan membuat Dhyanda duduk kembali, urung. "Ibu cuma mau pamit. Pagi ini ibu mau pulang ke Sumedang pake bis," ujarnya.


"Kok cepet banget sih Bu? kirain beberapa hari lagi ibu tinggal."


"Kasian bibi kamu ibu tinggal lama-lama disana. Kerepotan ngurus warung makan sendirian. Kapan-kapan lagi ibu kesini lagi buat jengukin kamu ya," ucap Arumi.


Dhyanda hanya mengangguk lemah. Sebetulnya ia masih mengharapkan Ibu Arumi akan tinggal beberapa hari lagi disini.


"Sebenarnya ada yang mau ibu sampaikan juga sebelum pulang kampung," gumam Arumi ragu.


"Ya?" Dhyanda langsung duduk mendekat saat mimik wajah Arumi tiba-tiba terlihat serius. "Ada apa Bu?"

__ADS_1


"Ini tentang Daddy kamu," gumam Arumi tanpa berani menatap Dhyanda.


"Daddy?" Dhyanda begitu terkesiap. Apa yang ingin disampaikan Arumi tentang ayah kandung Dhyanda?


"Ibu denger Tuan Andrew ada di Singapore saat ini," ujar Arumi pelan.


"Apa? Ibu denger dari siapa?" tanya Dhyanda kaget dan begitu antusias.


"Ibu Atreya yang bilang. Akan sangat berdosa kalo ibu nggak ngomong ke kamu, Dhy. Kamu sudah dewasa, Ibu rasa kamu memang harus tau kebenarannya. Ibu nggak mau suatu saat kamu tau dari orang lain yang mungkin ceritanya akan ditambah atau dikurangin, dan malah bikin kamu jadi bimbang," jelas Arumi. Sebenarnya ini dilema untuk Ibu Arumi, ia tidak mau membicarakan masalah ini dulu disaat Dhyanda baru saja berbahagia menikah dengan Aldrick. Namun, Arumi tidak punya waktu banyak, dan ia merasa Dhyanda perlu segera tau masalah ini.


"Tante Atreya kenal sama Daddy?" tanya Dhyanda polos.


"Hmm, ya. Mereka---"


"Ibu Arumi," tiba-tiba Aldrick yang baru keluar dari kamarnya langsung menyapa Arumi. "Udah lama, Bu?" tanyanya lagi ramah, lalu ikut duduk.


"Iya nak Al, Ibu nggak bisa lama-lama di Jakarta. Disana ibu kan juga punya kerjaan," jawab Arumi.


"Saya paham Bu, kapan-kapan saya dan Dhyanda yang akan berkunjung ke sana. Ibu juga jangan sungkan untuk berkunjung kesini kapan saja," ujar Aldrick.


Ibu Arumi kini merasa tenang, kini Dhyanda memiliki Aldrick yang begitu menyayanginya. Ia yakin Dhyanda akan bahagia bersama Aldrick. Arumi tidak akan khawatir lagi, ia menyerahkan Dhyanda sepenuhnya kepada lelaki itu.


"Ibu mau teh tawar apa pake gula?" tanya Dhyanda hendak beranjak ke dapur membuatkan minuman untuk Arumi dan Suaminya yang baru bangun tersebut.


"Ibu tawar aja," sahut Arumi.

__ADS_1


"Aku pake gula sedikit ya," susul Aldrick sambil mengerling sebelah matanya pada sang istri, genit. Kontan Dhyanda bersemu merah, malu. Sementara Arumi yang juga kebetulan melihatnya hanya mampu tersenyum, bahagia.


"Bu, biar saya nanti yang bicara dengan Dhyanda tentang Daddy-nya. Saya akan bicara pelan-pelan sama dia. Kalo sekarang bilang, takutnya dia belum siap, dan malah jadi shok," ujar Aldrick pada Arumi selepas Dhyanda pergi ke dapur untuk membuatkan teh.


"Oh, gitu ya," Arumi terkesiap, ia sadar tindakan terlalu gegabah. Untung saja Aldrick datang tepat waktu untuk menghentikan kalimatnya barusan. "Baik, Ibu serahkan semuanya ke kamu. Tolong jaga Dhyanda, jangan sampai ia terluka."


"Pasti. Saya akan jaga dia selamanya. Mau semenyakitkan apa pun, mau seberapa sulit liku yang harus dilalui, saya tetap akan bersamanya," ujar Aldrick meyakinkan Arumi.


"Ibu sekarang tenang, semoga kalian bahagia selamanya," ucap Arumi mengembangkan senyumnya.


Tak lama kemudian Dhyanda datang dengan membawa dua cangkir teh tawar dan teh manis hangat ke hadapan Arumi dan Aldrick.


"Jadi suaminya Tante Atreya itu dulunya temannya Daddy?" tanya Dhyanda setelah Arumi terpaksa harus menceritakan sedikit tentang Andrew, karena Dhyanda terlanjur penasaran dengan ucapannya tadi.


"Iya, ibu nggak nyangka ternyata mereka mengenal Daddy kamu, Dhy." jawab Arumi. "Tapi Ibu Atreya juga ragu apa yang dilihatnya di Singapore itu benar Tuan Andrew atau bukan, masalahnya itu sudah lama," jawab Arumi akhirnya memutus cerita kebenarannya.


"Oh, jadi belum pasti ya kalo hanya melihatnya," ujar Dhyanda lemas. Sepertinya penantiannya akan sangat panjang. 'Ada hati yang menunggumu pulang, ada hati yang menunggumu kembali, ada hati yang kosong sejak kamu pergi, Dad' batin Dhyanda mengeluhkan rasa rindu yang mulai membatu direlung hatinya.


"Nanti kita coba tanya langsung Om Matthew aja ya, tapi kita harus sabar dulu, soalnya Om Matthew semalam langsung terbang ke Sidney menemui kakaknya. Abis itu rencananya kembali ke Jakarta menjemput Tante Rea untuk pulang ke Berlin," jelas Aldrick seraya mengusap punggung Dhyanda supaya tetap tenang.


"Oke, kita tunggu suaminya Tante Atreya kembali," sahut Dhyanda, tidak sulit baginya untuk bisa menerima karena terbiasa.


.


.

__ADS_1


.


Meneduhkan di kala gelisah, dekat di kala susah, mengobati di kala sakit, dan mesra di kala bahagia. Itulah cinta sejati.


__ADS_2