
"Jadi Lo ampir kebablasan Dhy?" Imel melotot kaget setelah Dhyanda menceritakan kisahnya semalam bersama Aldrick. "Kayanya Lo musti segera balik ke rumah kontrakan deh," sarannya.
"Gue masih takut tinggal sendirian, Mel" balas Dhyanda.
"Lo terlalu nyaman diposisi Lo sekarang, gimana kalo malam-malam selanjutnya dia berhasil membuat Lo terlena dan jadi ketergantungan sama dia?" ujar Imel mengingatkan.
"Lo terlalu naif, kita udah dewasa, bukan anak SMA lagi" gumam Dhyanda.
"Naif?" Imel berdecak, "Ya, gue emang naif, Dhy. Pikiran gue emang kolot karena ilmu gue mentok sampe SMA. Pengetahuan gue juga udah nggak bisa diupgrade. Gue nggak bisa kaya temen kampus Lo yang bernama Belina itu, yang menganggap s*x bebas itu hal biasa. Bagi gue, hal itu masih tabu," balas Imel panjang lebar, merasa rendah diri dengan kenyataan bahwa dirinya tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Imel berdiri dari duduknya, hendak beranjak tapi Dhyanda langsung mencekal lengannya.
"Bukan gitu maksud gue Mel," Dhyanda meminta Imel untuk duduk kembali. Imel pun mengurungkan niatnya. Dhyanda sadar ucapannya mungkin sudah menyinggung sahabatnya.
"Lo cinta banget ya sama Pak Aldrick?" tanya Imel setelah keduanya saling diam beberapa saat.
Dhyanda mengangguk, "Dia juga cinta sama gue," katanya.
"Dan Lo yakin?" Imel menatap tajam pada Dhyanda, mengintimidasi.
"Setelah apa yang dia lakuin ke gue selama ini, nggak alasan lagi buat gue untuk nggak meyakininya," sahut Dhyanda mantap.
"Kalo gitu kenapa nggak nikah aja? begitu lebih baik kan? kalian udah tinggal bersama, nggak ada yang menjamin keperawanan Lo bertahan sampe Lo nikah nanti jika tidur aja udah seranjang," saran Imel.
"Nikah?" Dhyanda tertegun. Imel benar, ucapannya tidak ada yang salah. Tepat sekali jika Dhyanda menceritakan hal ini pada Imel. Lain halnya jika ia menceritakan hal yang sensitif ini pada Belina, pendapatnya pasti akan berlawanan. "Gue belum nyampe berfikir kesana Mel, tapi saran Lo akan gue pikirin. Mungkin gue harus balik ke rumah kontrakan lagi," ujar Dhyanda tertawa kecil, menutupi keraguan dihatinya kini.
Imel balas tersenyum menatap sahabatnya itu, "Nah gitu dong, Gue yakin Lo tuh berani Dhy, nanti gue bakal sering nginep dirumah Lo," sahut Imel seraya menjambak ringan rambut Dhyanda yang terurai kedepan.
"Gimana kerjaan Lo di kafe? denger-denger Bang David mau ngejual kafenya ke orang lain, beneran tuh?" tanya Dhyanda, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Imel mengambil napasnya panjang, "Bang David rencananya mau pulang kampung ke Kendari, Sulawesi Selatan," ucapnya lemas.
"Sulawesi Tenggara, neng" ralat Dhyanda terkekeh.
"Oh, salah ya?" Imel nyengir.
"Udah laku emang?"
Imel mengangguk, "Dengernya sih gitu. Dan pemilik yang baru itu mau ngeganti semua karyawan lama dengan yang baru katanya,"
"Oya? nggak bener nih. Ganti kepemilikan jangan sampai merugikan karyawan yang lama dong harusnya," protes Dhyanda tak terima.
__ADS_1
"Nggak tau gue, Dhy. Pasrah ajalah gue mah," ujar Imel. "Kalo masih kepake ya sukur, kalo nggak mah ya tinggal nyari kerjaan yang Laen," katanya enteng.
Dhyanda tersenyum sambil mengusap-usap bahu Imel, "Apapun kondisinya gue pasti bantuin dan dukung Lo Mel"
"Yah mentang-mentang punya pacar tajir Lo, Dhy" ledek Imel tertawa, "Kalo gitu Lo coba bilang dia, bisa nggak gue kerja jadi sekertaris pribadinya gitu?"
"Hey!" pekik Dhyanda melotot, "Lo mau jadi orang ke tiga diantara hubungan gue sama dia?"
Imel terbahak, merasa terhibur dengan sikap Dhyanda yang over protective pada Aldrick sang kekasih tampannya.
***
Sementara dikantor, Aldrick tengah sibuk bekerja. Meski sudah masuk jam istirahat dan makan siang, ia sengaja mengabaikannya karena masih berkutat dengan berkas-berkas yang berhubungan dengan proyeknya.
"Bos," kedatangan Vero yang tiba-tiba membuat Aldrick menoleh kaget.
"Attitude please!" Aldrick menatap Vero begitu tajam.
"Sorry," Vero kembali keluar dari ruangan Aldrick, mengulangnya kembali dengan mengetuk pintu terlebih dulu. Setelah mendapat persetujuannya, barulah Vero kembali masuk.
"Ada apa?" kata Aldrick masih fokus didepan layar laptopnya.
"Tadi Rizki kemari," gumam Vero.
"Gue larang, kan Lo yang bilang kalo Lo lagi nggak mau nemuin tamu siapapun,"
Aldrick tak komplen. Vero melakukan hal yang benar sebagai asistennya.
"Sabtu depan Rizki ngundang kita dateng ke acara pembukaan kafe barunya"
"What?" Aldrick terkejut. "emang dia udah bosen sama fotografinya, hingga alih fungsi ke bisnis kafe?"
Vero mengangkat bahunya tinggi-tinggi, "Maybe" sahutnya. "Lo nggak makan siang, Al?" tanya Vero kemudian.
"Nanggung, kalo Lo mau makan duluan aja, Ver!" pinta Aldrick kembali serius pada pekerjaannya didepan muka.
"Oke, kalo gitu gue duluan. Kalo butuh sesuatu telpon gue," kekeh Vero.
"Kesannya disini Lo yang atasan gue. Nggak sopan," ujar Aldrick tak terima.
__ADS_1
Vero malah terkekeh nyengir, "Kali-kali Bosqu," ujarnya sambil berlalu pergi.
Baru saja Vero keluar, ponsel Aldrick berdering. Ada nama 'PAPA' yang muncul dilayar sentuhnya. Meski enggan mengangkatnya saat ini, Aldrick lebih tidak mau diomeli.
"Yes, Pa," sapa Aldrick.
'Kamu sengaja mau hidup sendiri? Nggak mau lagi tinggal dirumah dan milih hidup masing-masing? Kamu sama Casey sama saja," serang Aaron tanpa basa basi.
"I'm busy now. Banyak proyek yang harus aku selesaikan Pa. Aku nggak punya waktu buat debat masalah sepele seperti ini," jawab Aldrick.
'Sepele kamu bilang? Kami sudah kembali dan kalian berdua hidup masing-masing diluar sana.'
"What?" Aldrik terbelalak, "Kalian di Jakarta?" tanyanya kaget.
'Kami sudah kembali,' jawab Aaron diseberang sana.
"Bukannya masih Minggu depan?" tanya Aldrick.
'Proyek dengan Seageal kali ini Papa sendiri yang akan turun.'
Aldrick mengernyitkan keningnya, "Aku udah bentuk tim sendiri, Pa" protesnya.
'Besok kamu pulang, Tuan William dan keluarganya akan datang kerumah. Dan mungkin Annely akan menetap di Jakarta untuk mengelola hotelnya. Jadi Papa harap kali ini kamu nurut Al, kalian berdua cocok.'
Aldrick mendengus, "Perjodohan berkedok bisnis lagi," desis Aldrick jengah. "Aku nggak akan datang!" tegasnya.
'Selain mereka, Tante dan Om kamu juga akan datang. Papa harap kali ini kamu nurut, Alena terus menanyakan mu,' pinta Aaron sekali lagi tegas.
"Tapi, Pa---"
'Besok jam 3 sore kamu jemput Anelly dihotel Sultan ya!' potong sang Papa.
"No!!" tolak Aldrick.
"Listen to me, Al!! Jika kamu sama Annely, kerjasama antar perusahaan akan saling sangat menguntungkan. Dan kamu nggak kasih pilihan yang menguntungkan buat papamu ini,' desis Aaron. Menurutnya jika yang dibawa pulang oleh Aldrick bukan Annely sebaiknya tidak usah mengajak siapa pun.
Aldrick sudah bertekad bagaimana pun kondisinya, hanya Dhyanda yang akan ia kenalkan sebagai calon istri pada keluarganya.
.
__ADS_1
.
.