Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Sarapan buatan Dhyanda


__ADS_3

"Pagi!" sapa Aldrick yang baru keluar dari kamar.


Hari ini Aldrick nampak sangat berbeda. Ia terlihat lebih tampan dari biasanya. Setelan jas hitam dengan kemeja hitam pula, dipadu dengan dasi merah maroon yang sangat cocok dipakainya.


"Pagi!" sapa Dhyanda balik, memberi senyum termanisnya dari balik minibar disamping dapur. Dhyanda terbangun dari jam empat pagi dan tidak bisa tidur lagi. Ia menyibukkan diri ke dapur dan memasak. Untungnya isian kulkas tak pernah kosong, Seminggu sekali Aldrick dan Dhyanda pergi ke supermarket yang tak jauh dari apartemen mewahnya untuk membeli bahan-bahan makanan.


"Ganteng amat hari ini, mirip salah satu komplotan gengster di film-film itu lho," pujinya Dhyanda bangga.


"Kenapa? karena make serba hitam ya?" balas Aldrick spontan mendekat dan mengecup pelipis Dhyanda sayang.


"Kemana sih, Kak? ini masih pagi lho," tanya Dhyanda penasaran.


"Nggak kemana-mana, pagi ini ada rapat sama pemegang saham, biar kelihatan sangar aja kalo pake item," balas Aldrick sok keren.


"Nggak perlu pake item juga udah sangar kamu tuh, dingin pula" cibir Dhyanda.


"Masa? nyatanya kamu cinta kan?" goda Aldrick.


"Iya deh, aku kalah kalo udah bawa perasaan," ucap Dhyanda memanyunkan bibirnya. "Mau bawa bekal? aku abis masak capcay telur puyuh sama ayam pokpok. Pasti nggak akan sempat makan tuh nanti kalo udah rapat-rapat elit begitu," tebak Dhyanda membayangkan kesibukan Aldrick hari ini.


"Boleh," Aldrick mengangguk seneng. "Eh, tapi apaan tuh chicken pokpok?" ia tiba-tiba mengernyit bingung tapi penasaran.


"Chicken pokpok itu paha ayam fillet yang dikasih tepung, dipotong kecil-kecil," jawab Dhyanda, ia lalu mengangkat piring berisi chicken pokpok yang sudah matang. "Nih, coba dulu!" tawarnya pada Aldrick.


Lelaki itu spontan mencomot satu chicken pokpok kedalam mulutnya. "Enak," ujarnya tak lama kemudian.


Dhyanda tersenyum bangga, "Aku bawain sekalian buat Kak Vero dan Bang Sony ya," gegas Dhyanda mengambil kotak makanan yang masih kosong dari dalam lemari.


"No!" cegah Aldrick dan membuat Dhyanda langsung menolehnya. "Ngapain sih ngurusin perut orang? Aku aja!" pintanya.


"Tapi aku masaknya banyak lho, Kak. Sayang lho kalo nggak abis," kata Dhyanda. "Sekali-kali nggak apa-apa lah, toh aku jarang-jarang lho masak banyak gini. Banyak malesnya sejak tinggal disini, keenakan delivery order sih kamu tuh Kak," ucapnya lagi.


"Kok jadi aku disalahin, aku cuma nggak pengen kamu cape," sahut Aldrick mencebik. "Ya udah bungkus sekalian aja! mereka juga pastinya nggak akan sempet pada sarapan," kata Aldrick akhirnya setuju.


Dhyanda tersenyum, ia segera memasukkan makanan kedalam food container susun, setelah semuanya terisi, lalu dimasukkannya kedalam goodie bag berwarna hitam.


"Kuliah jam berapa?" tanya Aldrick.


"Hari ini kosong. Aku boleh ke rumah kontrakan sama Imel?"


"Kita udah bahas itu semalam ya, Dhy" kata Aldrick.


"Aku nggak jadi nginep, cuma mau ngambil barang aja," sahut Dhyanda.

__ADS_1


"Barang apa? bukannya semua barang dan baju-baju kamu udah dibawa? tinggal barang-barang milik ibu aja kan yang masih disana," kata Aldrick yakin.


"Ada buku lamaku yang masih disana. Dan sekarang aku membutuhkannya,"


"Buku apa?" tanya Aldrick teliti.


"Ih kepo deh kamuh..." ucap Dhyanda sok manja, sengaja melingkarkan kedua tangannya keleher Aldrick agar dia nggak fokus dan berhenti mencurigainya dengan terus bertanya.


"Jangan gitu ya Dhy! aku bisa nggak jadi rapat nih kalo gini kondisinya," Aldrick mulai merasa resah.


"Emang kenapa?" tantang Dhyanda.


"Oh beneran nih kamu nggak pengen aku ke kantor hari ini," Aldrick malah balas menarik pinggang Dhyanda hingga menempel dengan tubuhnya.


Aldrick mengangkat tubuh kecil Dhyanda keatas meja minibar. Akhirnya ciuman panas pun terjadi juga ditempat itu. Lelaki itu memang kecanduan bibir gadisnya, bahkan hawa tubuhnya mulai menuntut ingin yang lebih. Keduanya menghentikan pagutan manis itu setelah ponsel Aldrick bergetar dari dalam saku jas hitamnya. Vero kembali mengingatkan si Bos bahwa rapat hari ini akan dimulai jam 9 pagi ini.


"Aku harus ke kantor sekarang," ucapnya pada Dhyanda sambil menurunkan tubuh gadisnya itu dari atas meja minibar, lalu bergegas hendak pergi.


"Sarapannya jangan lupa dimakan ya," susul Dhyanda sambil membawakan food container, mengantar Aldrick sampai kedepan pintu.


Aldrick kembali menghadap Dhyanda, "Aku usahakan pulang lebih awal, jadi sebelum aku pulang, kamu sudah harus ada dirumah. Ati-ati ya!" ujarnya lalu mengecup kening gadisnya penuh sayang. Dhyanda hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman termanisnya.


***


"Sarapan Bos?" tanya Sony yang ikut menghadiri rapat, bertindak sebagai benteng pertahanan terakhir sang penerus perusahaan.


"Nanti dulu. Saya perlu ngobrol penting sebentar sama kalian berdua. Ikut ke ruangan Saya!" ucap Aldrick bicara dalam mode formal.


Sony dan Vero menguntit bos-nya masuk kedalam ruangan. Mereka duduk dikursi tamu, menunggu Aldrick mengambil sesuatu di meja kerjanya.


"Proyek dengan perusahaan Tuan William, aman?" tanya Aldrick pada Vero.


"Aman bos, malah ini udah masuk termin kedua," jawab Vero.


"Kenapa, ada masalah?" tanya Sony curiga.


Aldrick lalu duduk diantara Sony dan Vero. Kini menempatkan dirinya sebagai teman, bukan seorang atasan.


"Gue udah ngomong bokap kalo nolak perjodohan itu. Gue nggak mau jadi boneka perjodohan bisnis antara perusahaan ini dengan Perusahaan Seageul milik tuan William," gumam Aldrick.


"Oya? jadi Lo nolak anak tuan William?" kaget Sony menatap Aldrick dengan tatapan sulit dipercaya. Sony yang sudah kenal sosok Annely yang cantik bak bidadari itu ternyata ditolak Aldrick. 'lo waras?' batinnya mengumpat.


"Gue punya Dhyanda, Bang. Gue serius sama dia. Dan Annely jelas bukan tipe gue," ungkap Aldrick jujur. "Tapi yang gue khawatirkan sekarang, mereka bakal nggak terima. Lantas mempersulit atau bahkan membatalkan proyek yang sudah disepakati dan udah berjalan ini," ucapnya lagi kini mulai resah.

__ADS_1


Sony tampak menghela napas panjang, "Yang gue tau tuan William itu nggak seperti itu. Bokap Lo bukan sekali ini aja kerjasama dengan Seageul, berkali-kali, bahkan sebelum Lo gabung disini. Dan setau gue, Tuan William profesional banget orangnya, gue nggak yakin kerjasama kali ini dibuat diatas perjodohan Lo sama Annely," ujar Sony sanksi.


"Apa itu akal-akalan bokap lo aja supaya Lo cepet kawin, Al? dan Annely anak tunggal Tuan William, sudah pasti itu hartanya bakal tumplek ke dia," celetuk Vero tanpa disaring.


"Ngawur, gue nggak minat sama hartanya," desis Aldrick mendelik pada Vero. "Kayanya gue harus nyari tau nih alasannya"


"Perlu gue yang selidiki?" tanya Sony menawarkan diri.


"Boleh tuh Bang," sahut Aldrick girang. bagaimana nggak seneng, secara Sony juga salah satu orang kepercayaan Aaron dari dulu selain adiknya sendiri, Marshall. Dia akan lebih banyak mendapatkan informasi masalah ini.


"Siap, Bos!" sahut Sony.


"Oke, so far so good, right?" Aldrick bergumam, "gue harus kebut agar proyek ini cepet selesai. Kalian berdua orang yang nanti pasti kena imbasnya. Gue pikir nggak masalah karena kalian masih jomblo dan itu menguntungkan," kata Aldrick menghina tipis.


"Vero doang yang jomblo, betewe," celetuk Sony tak terima.


"Lo udah punya cewek, Bang?" tanya Aldrick shok, bersemangat untuk bergosip. "Siapa? kok gue nggak tau?"


Sony celingungan kikuk. Disebelahnya Vero memandang iri tapi juga kesal. Sementara Aldrick menatapnya berbinar, akhirnya lelaki berumur yang sudah dianggapnya kakak ini berniat kawin juga.


"Udah selesai rapat terbatasnya?" tanya Sony berusaha mengalihkan topik, "gue sarapan dulu, Pak Bos," pamitnya seraya berdiri.


"Lo nggak sarapan? bentar lagi juga makan siang ini mah," keluh Vero ikut berdiri.


"Gue dibawain bekal khusus sama istri," kata Aldrick sombong.


"Vero dan Sony langsung memberi Aldrick tatapan sinis Mereka. Apalagi saat dengan bangganya Aldrick membuka food container yang disiapkan Dhyanda.


"Jiwa jombo gue meronta ini mah," keluh Vero sambil mengelus dadanya.


Aldrick terbahak, "Duduk lagi kalian!" perintahnya. "Istri gue baik banget bawain sarapan buat kalian juga," ucapnya lagi bangga.


"Hah? beneran?" Sony tak sabar dan langsung duduk kembali.


"Wihh, mantap ini Bos," sambar Vero saat melihat ada banyak makanan dalam susunan food container yang sudah terbuka.


.


.


.


Sarapan akan lebih bernilai ketika orang lain membuatnya untukmu.

__ADS_1


__ADS_2