
Setengah jam waktu Dhyanda lalui dengan hanya melirik Aldrick sesekali. Pun melihat cara Aleena makan dan mencontohnya.
"Kita ngobrol sebentar diruang tamu, Aldrick dan Dhyanda, yang lain boleh kembali dengan aktivitas masing-masing," ucap Aaron pada Aldrick.
Sebenarnya Dhyanda berharap bahwa Aldrick akan mengajaknya ikut membubarkan diri. Namun Aldrick justru mengangguk menyetujui ucapan Papanya dan ikut kembali ke ruang tamu. Sementara yang lainnya memilih berkumpul diruang santai dekat kolam renang sambil bercengkrama.
"Ini soal Annely, Al" ujar Aaron memulai.
Aldrick langsung mendongak saat nama Annely disebut. Lantas ditatapnya Dhyanda yang terdiam tanpa ekspresi.
"Jawabanku udah jelas kan Pa?" gumam Aldrick malas. Ia jadi tau bahwa tujuan makan malam kali ini untuk menekannya menerima perjodohan dengan keluarga William.
"Apa yang kurang dari Annely, Al?" sergah Aaron.
"Nggak ada! Annely sempurna banget, setidaknya dimata Papa sendiri," sambar Aldrick, "Papa tega, anak yang papa besarkan penuh cinta ini gedenya cuma dijadikan komoditas bisnis semata? apa itu tujuan Papa dari dulu?" tanyanya menguatkan hati.
"Jangan berpikir terlalu jauh, Al!" sentak Aaron.
"Aku nggak berpikir jauh. Aku nanya serius! uang bisa dicari, bisnis bisa dirintis lagi, tapi ikatan keluarga antara ayah dan anak, apa pada akhirnya cuma sebatas bisnis?"
"Keterlaluan kamu! kami berusaha memberi yang terbaik buat kamu, yang sesuai sama kehidupan keluarga besar kita!" desak Aaron melirik Dhyanda yang hanya diam saja, tangannya digenggam erat oleh Aldrick.
"Yang bakalan aku nikahi itu Dhyanda Genovefa, bukan dia. Kami udah tinggal serumah, aku bakalan urus semua syarat pernikahan kami dan ngelamar dia langsung ke ibu asuhnya. Aku nggak peduli Papa atau siapapun yang nggak setuju!" ujar Aldrick.
__ADS_1
Setelah berkata, lelaki itu lantas menarik lengan Dhyanda pergi mengikutinya. Tanpa berpamit mereka keluar dari rumah mewah itu dengan tergesa.
"Kita pulang!" ajak Aldrick beranjak berdiri.
"Dia masih punya ayah, Al! Aldrick!" cegah Aaron melihat anaknya yang sudah mulai pergi. "Papa belum selesai bicara. Shit!" teriak Aaron mengumpat karena Aldrick tak lagi menghiraukan perkataannya lagi. Ia merasa anaknya itu sudah berubah, semakin keras kepala dan tidak lagi menuruti apa maunya.
"Kita nggak pamitan dulu sama yang lain?" tahan Dhyanda yang berjalan pontang panting mengimbangi langkah lebar Aldrick yang masih menggenggam lengannya.
"Nggak perlu. Kamu dihina begitu, dipandang rendah, masih mau pamit? aku nggak akan ngebiarin kamu digituin dan dibandingin sama orang lain, Dhy," tegas Aldrick langsung membukakan pintu mobilnya untuk Dhyanda.
Dhyanda menurut saja. Ia masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara, ditatapnya wajah tegang Aldrick dengan rahang kokohnya yang masih mengeras.
"Aku pesen makan lagi buat dirumah, kamu masih laper kan? kulihat tadi kamu makan cuma dikit, padahal biasanya porsimu nggak segitu," ujar Aldrick masih memikirkan hal lain disaat kondisi seperti ini.
Dhyanda hanya mengangguk kecil, diusapnya pundak Aldrick yang tengah menyetir, mencoba menenangkannya.
Aldrick menggeleng. Di pemberhentian traffic light, ia mengalihkan pandangan menutupi kegundahannya dari Dhyanda. Ia tau betul bahwa masalah perjodohannya dengan Annely William sudah terlanjur ada ditahap yang cukup serius. Ia marah karena Aaron tidak berdiskusi dulu dengannya. Seolah kemampuannya dalam mengelola bisnis keluarga tengah diragukan oleh Papanya itu.
"Maafin aku, Dhy," sesal Aldrick seakan merasa gagal melindungi gadisnya.
"Kamu nggak salah, ngapain minta maaf," bisik Dhyanda seraya mengusap pipi Aldrick dengan ibu jarinya. "Jalan dulu, dah hijau tuh lampunya. Kita lanjutkan nanti dirumah," katanya lagi sambil melihat lampu hijau yang sudah menyala.
Aldrick tersadar, ia tersenyum menyetujui dengan pandangan yang sudah fokus pada jalanan didepannya lagi.
__ADS_1
"Nanti mampir beli makan dulu ya, aku lagi pengen makan soto Betawi nih, enak kayanya panas-panas," kata Aldrick tiba-tiba.
"Hah?" Dhyanda langsung melirik Aldrick penuh selidik. "Alasan kamu ya bilangin aku tadi makannya dikit, bilang aja kalo kamu sendiri yang masih laper."
Aldrick terkekeh, "itu kamu tau," jawabnya.
"Haish!! pinter cari alasan dengan ngatain orang," gumam Dhyanda gemas, tapi hatinya merasa lega. Setidaknya Aldrick sudah terlihat baik-baik saja, emosinya kembali stabil.
***
Sementara di rumah kediaman Aaron, para orangtua itu tengah berdebat kembali.
"Liat apa yang sudah kamu lakuin?" tunjuk Kinara geram. Ia marah dengan suaminya yang terlalu memaksakan kehendak hingga membuat Aldrick pergi begitu saja tanpa pamitan. "Aku kecewa sama kamu, Aar" lirih Kinara dengan kedua matanya yang mulai mengembun.
"Apa yang salah? aku hanya ingin yang terbaik buat dia," ujar Aaron.
"Tapi cara kamu itu salah! kamu membahas tentang Annely pada Aldrick didepan Dhyanda, jelas Al tidak akan terima. Kamu nggak tau gimana dia ngelindungin gadis itu. Tiba-tiba kamu hina Dhyanda didepannya. For God sake, Aar. Kamu kelewatan!" ucap Kinara panjang lebar, meluapkan pendapatnya yang sedari tadi sudah diujung kerongkongan.
"Kamu terlalu buru-buru, seharusnya bicarakan lagi masalah ini diwaktu yang lain. Emosi Al sedang nggak stabil dari awal datang. Harusnya kamu lebih peka, Aar" tegur Matthew sambil menepuk bahu kakak iparnya itu.
Aaron mengambil napas panjang sambil meraup wajahnya, masih kesal. Tapi ia menyadari kesalahannya. Benar apa yang dikatakan Matthew, harusnya ia bersikap lebih bijaksana. Jangan memancing kemarahan dengan kemarahan lagi sebab hal itu hanya memperkeruh suasana.
.
__ADS_1
.
.