
"Papa sudah nggak tau lagi cara nasehatin kamu, Al. Kamu keras kepala, nggak seperti anak Papa yang dulu," ucap Aaron berbicara santai diruang tv selepas makan malam.
"bukannya kata pepatah buah jatoh nggak jauh dari pohonnya?" sindir Aldrick acuh.
Sejak Dhyanda kembali ke kontrakan bersama ibu Arumi, Aldrick lebih sering pulang ke rumah orangtuanya. Itu bukan keinginan dirinya, melainkan Kinara yang meminta putranya itu untuk lebih sering pulang kerumah sebelum pernikahannya dengan Dhyanda berlangsung.
"Ah, itu sih pepatah masa lampau yang masih dipandang aktual saja sampai sekarang," sahut Aaron menyangkal.
"Dipandang aktual gimana?" serang Kinara dari arah dapur. Ia lalu ikut duduk diantara suami dan anaknya tersebut. "Selama ini kamu memang tidak hanya berperan dalam mencari nafkah saja lho, Pa. melainkan turut andil dalam menumbuhkan karakter mereka, terutama Al," protesnya.
"Mana Aleena? jam segini kok belom pulang?" tanya Aaron malah mengalihkan topik pembicaraan. Sengaja menghindari perdebatan yang biasanya akan berujung saling berdiaman berhari-hari, dan kali ini Aaron memilih menghindar karena ia sedang menginginkannya malam ini.
"Ngeles kamu ya," sindir Kinara terkekeh, "Aleena tadi ijin nginep ditempat tantenya. Dia kalo udah sama Casey pasti betah," ujarnya lagi.
"Anak itu, bukannya mulai fokus belajar di perusahaan malah masih suka main-main," gumam Aaron menggerutu.
"Biarkan Aleena menikmati apa yang dia mau dulu, mungkin dia jenuh 5 tahun di luar negeri dan jauh dari teman kecilnya bahkan keluarganya seperti Casey," bela Kinara.
"Bagaimana kalo laki-laki itu datang lagi mendekati Aleena?" kekhawatiran Aaron tentang masa lalu putrinya membuatnya kembali cemas.
"Bukannya Papa udah kasih perhitungan sama anak itu, bahkan keluarganya juga kan?" sambar Aldrick mengingatkan akan sikap protektif Aaron jika menyangkut harga diri dan keselamatan keluarganya. Aldrick masih ingat kala dulu sang Papa sampai menyewa orang untuk menghajar lelaki bernama Axel yang sudah menyakiti dan menghancurkan masa depan Aleena sebagai perempuan. Tak puas sampai disitu, Aaron menjebloskan Pemuda bernama Axel itu ke penjara dan menutup rapat kasusnya untuk publik. Bahkan mengancam seluruh keluarganya untuk tidak memblow up ke media.
"Tapi tetap saja, selama berandal itu masih ada di negeri ini Papa nggak tenang, apalagi sekarang dia sudah bebas lagi berkeliaran. Mungkin Aleena lebih baik ikut tinggal dengan tantenya ke Jerman, dia bisa mulai meniti karirnya disana. Biar nanti Matthew dan Satria yang bantu mengajarinya, bagaimana?" ujar Aaron. Entah dari mana dia mendapat ide spontan seperti itu dan membuat Kinara langsung naik darah.
__ADS_1
"Aku nggak setuju, Aar!" kesal Kinara berbicara informal pada suaminya. "Kamu mau pisahin Aleena dariku lagi? mau sampai kapan? Aleena sekarang udah dewasa, dia udah tau mana yang benar mana yang salah, dan Aleena nggak akan jatuh kelubang yang sama. Kamu harus belajar untuk mempercayainya," ujarnya penuh penekanan sambil beranjak berdiri. Kinara benar-benar ngambek pada Aaron. "Aku nggak mau ya jauh-jauhan lagi sama anak-anak ku!" tambahnya sebelum benar-benar pergi.
Aaron hanya diam, usahanya untuk mengalah kali ini pada Istrinya ternyata sia-sia. Ucapannya membuat sang istri kesal dan memilih untuk pergi ke kamar dan menguncinya dari dalam. Sepertinya malam ini Aaron kembali akan tidur di kamar tamu.
"Mama marah tuh Pa," ucap Aldrick malah mengompori Aaron yang sudah terlihat frustasi.
"Gara-gara kamu itu!" jawab Aaron.
"Seriously?" Aldrick menahan tawa. Ia memilih kembali membuka-buka ponsel ditangannya.
Aaron mendengus, lalu kembali menatap putranya serius. "Papa udah nggak tau lagi harus gimana dengan hubungan kamu sama gadis itu," ujarnya.
Mendengarnya Aldrick langsung balas menatap Aaron, "Dhyanda, maksud Papa?" tanyanya seraya mengangkat kedua alisnya seolah mempertegas pertanyaannya tersebut.
"Dia itu anak penculik, dan cucunya pembunuh. Kalian juga kenyataannya masih keterikatan keluarga jauh kalau menurut silsilah. Yakin mau menikahinya Minggu depan?" ujar Aaron sengaja, berharap Aldrick berubah pikirin.
"Terserah. Papa sudah nggak mau ikut campur masalah pilihan kamu itu, selama tidak mempengaruhi hubungan baik dengan perusahaan Seageal. Tapi yang pasti kamu itu bikin Papa malu, Al. Untung Tuan William tidak membatalkan kontrak kerjasama dan tetap profesional. Begitu juga dengan Annely yang berbesar hati tidak mempermasalahkan perjodohan yang batal gara-gara kamu," ujar Aaron meluapkan rasa kecewanya. Namun pada akhirnya dia tak bisa menghentikan niat serius Aldrick yang bersikeras ingin menikahi gadis pilihannya itu.
Mendengar hal itu Aldrick bisa bernapas lega. Akhirnya Aaron luluh dengan sikap Aldrick yang tetap keukeuh tidak mau dijodohkan dengan Annely karena hatinya telah tertambat pada Dhyanda. Namun, sebetulnya Kinara lah yang membuat Aaron menurunkan egonya. Lelaki itu memang keras, tapi sesungguhnya sifat kerasnya tersebut bisa tiba-tiba luluh jika berhadapan dengan perempuan yang sudah menjadi belahan jiwanya.
.
Sementara itu, Ibu Arumi mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya. Lalu menemui Dhyanda yang sedari tadi dikamarnya.
__ADS_1
"Ibu udah nyicil beliin kamu beberapa baju baru dan pakaian dalam, tapi ibu lupa belum beliin kamu baju tidur," ujar ibu Arumi.
"Buat apa beli itu semua Bu, baju-baju ku masih layak pake kok, daleman juga masih bagus belum ada yang bolong-bolong," jawab Dhyanda.
"Kamu itu bentar lagi udah mau nikah, masa iya masih pake daleman yang lama. Udah kumel-kumel gitu, makanya ibu beliin yang baru," kata Arumi.
"Didalem ini kan nggak keliatan juga kali Bu."
"Suami kamu liat gimana? kamu nggak malu?" tegur Arumi.
"Ih, apaan sih Bu," Dhyanda langsung ngeles. Paham dengan maksud ibunya, tapi tidak harus segitunya juga, begitu pikir Dhyanda.
"Kamu beli baju tidur model lingerie gitu buat malam pertama nanti, Ibu nggak tau model yang kamu seperti apa," ucap Arumi sambil menyerahkan beberapa lembar uang pada Dhyanda.
"Emang perlu banget ya Bu?" tanya Dhyanda belum mau menerima uang itu.
"Kamu itu nikah bukan sama orang sembarangan lho Dhy. Kamu nurut aja apa kata ibu. Nih! pokoknya beli saja baju itu," kata Arumi lalu menyimpan uangnya kedepan Dhyanda. "Ibu ngantuk, kamu jangan tidur malem-malem ya," ucapnya lagi sambil berlalu pergi.
Dalam hatinya Arumi masih bimbang. Pernikahan Dhyanda akan dilaksanakan seminggu lagi, Haruskah ia jujur pada Dhyanda tentang hubungan keluarga Aldrick dengan Andrew, ayah kandung Dhyanda?
Arumi sudah mendengar semuanya dari Kinara dan Atreya. Mereka sempat mengobrol serius saat Dhyanda sedang pergi kuliah kemarin.
.
__ADS_1
.
.