
Setelah membayar makanannya Zhou Shiyue bertanya pada perempuan pemilik kedai tersebut.
“Bibi kalau boleh tahu festival bulan merah itu apakah sangat penting?” tanyanya setelah melihat dua orang jahat tadi pergi menjauh.
“Kamu tidak tau? Festival bulan merah itu selalu dirayakan setiap tahun berganti. Bukan hanya untuk berpesta hanya saja festival bulan merah ini sarana unuk menghormati hari tersebut agar tidak ada hal buruk yang terjadi kareana dulu pernah terjadi bencana saat sekali tidak merayakan festival.” Jawab bibi itu menjelaskan.
“Oh ternyata begitu, aku pikir itu hanya sebuah festival biasa.” Sahut Zhou Shiyue.
“Ya begitulah kata orang-orang” ucap bibi itu sebelum pergi meninggalkan Zhou Shiyue.
Tapi ngomong-ngomong ia memiliki pertanyaan yang sampai saat ini belum terjawab. Ia berpikir kenapa waktu ia menuju puncak Xuanjun bersama gurunya ia merasa tak pernah melewati desa-desa yang beberapa hari ini ia lewati? padahalkan dia dan gurunya waktu itu berada di dalam hutan di wilayah Yiheng, bukankah seharusnya saat perjalanan menuju puncak Xuanjun otomatis mereka akan melewati banyak desa?, memikirkan hal tersebut membuat kepala Zhou Shiyue mendadak pening hingga membuatnya berhenti berpikir.
Sambil berjalan santai di desa Yang, ia mendengar keributan di depan sana. Awalnya ia tak ingin terlibat namun ia tak sengaja mendengar jeritan anak kecil yang minta tolong bersumber dari keributan tersebut.
Zhou Shiyue pun mendekati keributan itu, ia melihat seorang pria dewasa tengah memukuli anak kecil berusia tujuh tahunan tersebut.
“Mengaku saja, aku tau kau mencurinya!” ucap pria dewasa itu sambil memukulinya terus menerus.
“Tidak paman, bukan aku. Aku bersumpah bukan aku pelakunya paman!” teriak anak kecil itu minta ampun, namun orang-orang disekitar tampak tidak perduli dan hanya menontoninya saja.
Zhou Shiyue merasa geram, ia mendekati keduanya lalu menepis pukulan pria dewasa itu yang hampir mendarat di kepala anak kecil tersebut.
“Kakak tolong bantu Xiao Ai, Xiao Ai tidak bersalah!!!” anak kecil itu memegang kaki Zhou Shiyue meminta tolong.
Zhou Shiyue dengan cepat membantu anak itu berdiri dan menaruhnya agak kepinggir sedangkan ia sendiri kembali menghampiri pria dewa yang memukuli anak kecil tadi.
“Kau pria tak berhati, berani-beraninya memukuli anak kecil!” geram Zhou Shiyue, ia dengan kipas ditangannya menyerang pria itu sampai babak belur, benar-benar membuat pria tersebut lari ketakutan.
“Apa yang kalian lihat? Kalian juga sama dengan pria itu!” bentak Zhou Shiyue melihati orang-orang yang masih menonton kejadian.
Sontak mereka langsung membubarkan diri takut menerima nasib yang sama dengan pria yang kabur tadi. Zhou Shiyue mendekati anak kecil yang menyebut dirinya Xiao Ai itu.
“Xiao Ai tidak apa-apa?” tanya Zhou Shiyue dengan lembut sambil merapikan anak rambut yang berantakan di wajah anak itu.
__ADS_1
“Xiao Ai baik-baik kak, terima kasih sudah membantu Xiao Ai.” Ucap anak laki-laki tersebut dengan senyum manisanya.
“Tapi kamu terlihat tidak baik-baik saja, kamu ikut kakak dulu ya?” ajaknya dan diangguki oleh Xiao Ai.
Zhou Shiyue membawanya menjauh dari desa sambil menggendong Xiao Ai dipunggungnya. Ia memasuki hutan sambil menggunakan ilmu meringankan tubuh membuat Xiao Ai terkagum-kagum.
“Wahh kakak tampan ternyata bisa terbang!!” serunya dibelakang membuat Zhou Shiyue tersenyum kecil.
Beberapa menit memasuki hutan mereka berhenti disebuah aliran sungai yang tidak terlalu besar. Zhou Shiyue menurunkan Xiao Ai dan mendudukkannya diatas batu didekat air.
Zhou Shiyue membersihkan luka Xiao Ai dengan telaten, tak lupa ia juga mencuci pakaian anak tersebut yang terlihat sangat lusuh.
Mereka berdua menghabiskan waktu berjam-jam disungai itu menunggu Zhou Shiyue mengecilkan pakaian yang ia miliki di dalam cincin penyimpanan sampai pakaian untuk Xiao Ai benar-benar terlihat cocok dan sempurna.
“Wahh pakaian ini sangat bagus, kakak pandai menjahit.” Pujinya dengan mata berbinar.
“Apa kau senang?” tanya Zhou Shiyue sambil mengacak-acak rambut Xiao Ai.
“Iya, Xiao Ai senang sekali tapi Xiao Ai takut ibu dan ayah akan memarahi Xiao Ai saat melihat Xiao Ai memakai pakaian bagus.” Ucap Xiao Ai dengan wajah cemberut.
Zhou Shiyue tidak banyak bertanya, ia tidak ingin mengungkit masalah yang membuat Xiao Ai akan merasa sedih.
“Apa Xiao Ai lapar?” tanyanya.
“Iya, tapi kakak tidak perlu khawatir Xiao Ai bisa menahan lapar selama seminggu.” Ucap anak itu dengan senyum polosnya.
Mendengar hal itu hati Zhou Shiyue merasa sakit namun ia hanya bisa diam, ia merasa nasib anak ini tidak beda jauh dengan dirinya. Ia sudah mengambil keputusan bahwa dia akan membawa anak ini untuk ikut bersamanya.
“Kalau Xiao Ai mau, kamu bisa ikut kakak berkeliling kekaisaran. Xiao Ai tidak perlu lagi ikut dengan keluarga Xiao Ai apalagi Xiao Ai juga tidak senang ada disana kan?” bujuk Zhou Shiyue.
“Benarkah kak? Horeee!! Akhirnya Xiao Ai bisa jalan-jalan, Xiao Ai juga tidak mau kembali lagi ke rumah itu.” Ucap Xiao Ai dengan kegirangan merasa dirinya telah bebas.
“Kalau begitu ayo kita berangkat kak!” ajaknya dengan penuh antusias.
__ADS_1
“Tapi kita isi perut dulu biar tidak sakit, ok?” tanyanya
“Ok kak.”sahut anak itu.
Zhou Shiyue pun dengan kekuatannya ia menangkap ikan di sungai tersebut. Melihat apa yang dilakukan Zhou Shiyue, Xiao Ai merasa kagum dan penasaran.
Apalagi saat Zhou Shiyue mulai menyalakan api dengan energi di tangannya membuat anak itu semakin memelototkan mata.
“Wahh kakak sangat hebat, apa Xiao Ai bisa buat api ditangan seperti kakak?” tanyanya dengan penasaran.
“Tentu saja, tapi itu nanti jika kamu sudah besar. Diusia segini kamu cukup membaca buku dan menulis saja.” Jawab Zhou Shiyue sambil tersenyum hangat.
Biasanya ia melakukan semua aktivitasnya sendiri kali ini ia akan mengajak Xiao Ai ikut bersamanya, apakah perjalanannya akan tetap berjalan lancar seperti biasanya?
Zhou Shiyue dan Xiao Ai telah selesai makan, matahari juga sudah berada tepat diatas kepala mereka. Remaja dan anak laki-laki itupun melanjutkan perjalanan dengan menunggangi Yuko. Yuko sendiri merasa senang karena akan kembali kdunia luar, ia sungguh merasa bosan di dalam dunia yang semuanya tampak gelap itu.
Sudah berjam-jam mereka menunggangi kuda sampai sinar rembulan sudah menyinarai kegelapan.
“Kakak, Xiao Ai sangat ngantuk bolehkan Xiao Ai tidur?” tanya Xiao Ai yang gerak-geriknya terlihat mau tidur.
“Ya, tidur saja. Kakak akan memegangimu.” Jawab Zhou Shiye sambil memeluk anak itu yang duduk dibagian depan.
Karena kali ini Zhou Shiyue menunggangi kuda maka perjalanannya benar-benar terbilang lambat, bahkan mungkin membutuhkan sekitar lima hari untuk keluar dari hutan tersebut.
Melihat gua didepan sana, Zhou Shiyue berencana untuk bermalam di gua tersebut apalagi tubuh Xiao Ai sudah terasa dingin. Anak itu akan masuk angin jika tidak dihangatkan terlebih dulu.
Sesampainya digua ia mengumpulkan ranting-ranting kayu lalu membuat api unggun. Tak lupa ia juga mengambil beberapa lembar kain yang ada di dalam penyimpanan untuk menyelimuti Xiao Ai.
Setelahnya baru ia berbaring disamping Xiao Ai untuk menyusul anak itu ke dalam mimpinya.
Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan 😊😊!!!
Bagi yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran Xiao Ai silahkan tulis komentar kalian. Jadi author akan meerubah sedikit alur agar Xiao Ai tidak perlu ikut ke dalam kehidupan Zhou Shiyue.
__ADS_1
Tapi jika kalian tidak merasa ada masalah atau terganggu maka author juga akan menyesuaikan ceritanya.
Tenang aja, tujuan dari cerita tidak akan berubah. Pemeran utama tetap Zhou Shiyue. Jadi jangan khawatir jika danya perubahan yang diluar dugaan.