Pendekar Legenda

Pendekar Legenda
Keluarga kecil Yun Yunzhi (S1)


__ADS_3

Ditempat lain,


Zhi Ruei, Yun Yilan, dan Yi Zhang He sedang berkumpul di markas rahasia mereka. Ketiga orang itu menunjukkan raut wajah cemas.


“Gawat, sepertinya ada yang sudah mengetahui rencana kita. Buku catatan penyelundupan garam milikku hilang dan sampai sekarang tidak ditemukan.” Ujar Yun Yilan dengan wajah cemas.


“Benar, aku juga kehilangan surat-surat yang kalian kirim padaku ketika ingin pergi ke markas ini. Jika ada seseorang yang mengambilnya maka tempat ini sudah tidak aman lagi bagi kita.” Ujar Zhi Ruei.


“Ini tidak bisa dibiarkan, jika begini rencana kita akan gagal total dan kita akan ditangkap oleh mereka.” Yi Zhang He menjawab dengan cemas.


“Lalu apa yang akan kita lakukan? Apa kita akan diam saja menunggu mereka menangkap kita?” tanya Zhi Ruei pada dua temannya.


“Kita akan menyerang mereka lebih dulu, tapi sebelum itu aku harus menyingkirkan adikku yang naïf itu.” Ujar Yun Yilan bermaksud pada Yun Yunzhi.


“Kapan kita akan menyerang?” tanya Zhi Ruei.


“Tidak, kita tidak boleh terang-terangan menyerang Kaisar. Apa kalian lupa dengan 4 Jendral yang ada disisinya?” Yi Zhang He memperingati mereka


“Benar juga, lalu apa sebaiknya yang harus kita lakukan?” tanya Yin Yilan


“Kita akan menunggu waktu yang tepat disaat para Jendral itu tidakada di Istana” ujar Yi Zhang He.


“Dan kita juga tidak boleh menyerang Kaisar tanpa adanya persiapan, kita harus mencari racun yang ampuh untuk membuatnya lemah. Karena jika tidak maka kitalah yang akan berakhir mengingat kekuatan Kaisar yang berada ditahap suci, ia juga merupakan petraung yang handal.” Ujar Yun Yilan.


“Untuk masalah racun yang bisa melemahkan tubuh, aku memilikinya.” Ujar Zhi Ruei


“Baguslah, kalau begitu kita hanya perlu memikirkan waktu yang tepat untuk menyusup ke Istana.” Ujar Yun Yilan yang diangguki oleh kedua rekannya.


Pada akhirnya mereka semua kembali ke sakte mereka masing-masing.


Seminggu kemudian, mereka telah mengganti lokasi markas mereka. Sekarang mereka sedang berkumpul di markas mereka yang baru dengan masing-masing anggota sakte yang telah mendukung rencana mereka.


Disisi lain,


“Hiyaa hiyaaa..” Yun Yunzhi memandu kudanya dengan cepat karena harus menghindari orang yang saat ini mengejar mereka.


Dihutan yang merupakan perbatasan antara wilayah selatan dan barat.


“Berhenti disana!” orang yang mengejar mereka berteriak sambil mengarahkan panahnya pada kaki kuda.


Terpaksa keluarga kecil itu jatuh berbenturan tanah.


“Xiao Ai dengar ayah, bawa ibu berlari. Telusuri saja jalan lurus ini dan jangan pernah menengok ke belakang. Nanti kau akan sampai di sakte gunung bunga persik. Kau akan bertemu kakak Shiyue disana, minta bantuan padanya.” Ujar Yun Yunzhi sambil memegang erat pundak Xiao Ai yang sedang menangis kejar.


“Baik ayah, aku mengerti.” Ujarnya dengan sesegukkan.


“Lin’er jika aku tidak kembali maka jaga putra kita dengan baik, dan berlindunglah di sakte gunung bunga persik. Mereka akan menerimamu dengan baik.” Yun Yunzhi menatap istrinya dengan penuh kehangatan.


“Jangan harap bisa kabur dariku.” Ujar orang yang mengejar itu saat sudah menginjakkan kaki didepan mereka.

__ADS_1


“Xiao Ai, LARIIIIII…..” Yun Yunzhi mendorong putranya yang saat ini menggenggam tangan Lin Hua.


“Tidak Yunzhi, tidakkk….” Lin Hua menangis kencang ketika ia dipaksa berlari oleh Xiao Ai.


“Ayo ibu, jangan sia-siakan pengorbanan ayah. Lebih cepat bu.” Walaupun hatrtinya sedih, Xiao Ai tetap mamaksakan dirinya untuk berlari membawa ibunya.


“Berhenti kalian.” saat orang itu ingin memanah mereka, Yun Yunzhi dengan sigap menangkap panah itu.


“Sekarang aku akan melawanmu.” Yun Yunzhi menatap orang itu dengan marah sebab ia tak menyangka pria yang merupakan kakak kandungnya itu memiliki niat jahat pada keluarganya sendiri.


“Baiklah Yunzhi, sekarang aku tidak akan segan lagi.” Ujar Yun Yilan menatap penuh kebencian pada adiknya.


Pada akhirnya kakak beradik itupun bertarung sengit, jurus demi jurus mereka lontarkan. Tak ada lagi rasa sayang yang terselip dihati mereka bahkan jika mereka saudara kandung sekalipun.


Yun Yunzhi menatap kakaknya itu dengan penuh kekecewaan akan pengkhianatan sang kakak. Hatinya sangat sakit dan hancur. Tetapi ia tak bisa membiarkannya hidup karena masih ada istri dan anaknya yang harus ia lindungi.


“Aku akan membunuhmu…..” teriaknya, ia mengerahkan jurus andalannya.


“Jurus pedang seribu bintang!!!” serunya dengan keras.


“Mari lihat siapa yang lebih ahli” Ujar Yun Yilan yang juga mengeluarkan jurus yang sama dengan adiknya.


“Hiyaaaaaaaaa!!!!!!”


Booooommmmmmm….


Itu ledakan besar yang ditimbulkan oleh dua energi yang berbenturan. Keduanya saling menatap sengit.


“Apa kau pikir aku tidak sedih? Aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya! Dasar brengsekkkk!!!” teriak Yun Yunzhi semakin marah saat mengetahui alasan Yun Yilan yang sebenarnya.


Kedua kakak beradik itupun kembali mengerahkan jurus mereka masing-masing, mereka bertarung sengit dan belum tau siapa yang akan memenangkan pertarungan.


Disisi lain,


Xiao Ai dan ibunya hampir mencapai Sakte Gunung Bunga Persik, tampaknya mereka berdua sampai dibagian halaman belakang sakte.


“Tolongggg!!!! Tolong kamiiii!!!!” teriak Xiao Ai yang masih berlari kencang meski sudah sampai di halaman belakang sakte.


“Siapa kalian? berhenti.” Penjaga menghentikan mereka.


“Paman tolong selamatkan ayahku, dia sedang melawan orang jahat, Tolong paman.”


Melihat reaksi anak laki-laki itu, penjaga menjadi kasihan. Ia tak peduli lagi dengan peraturan sakte yang tidak membolehkan sembarang orang untuk masuk. Ia mengajak anak kecil dan wanita dewasa itu masuk ke dalam sakte.


“Paman apa benar ini sakte gunung bunga persik? Ayah bilang aku akan bertemu dengan kakak Shiyue disini. Apa dia ada paman?” Xiao Ai tarsus melontarkan pertanyaan meski nafasnya tidak teratur.


“Pelan-pelan adik kecil, aku akan memberitahu ketua soal ini.” Ujar penjaga itu saat melihat Xiao Ai yang tampak begitu khawatir.


Sedangkan Lin Hua hanya menatap kosong sekelilingnya seolah jiwanya telah hilang.

__ADS_1


“Tetua, seorang anak kecil dan wanita dewasa mencari Shiyue. Apakah pemuda itu ada disakte?” ujar penjaga yang memang tidak tau tentang Shiyue


“Dia adalah pemuda yang ada diruangan disamping ruang baca, kau bisa memanggilnya. Dimana anak kecil itu?” ujar Mye Jing Chen


“Ada di halaman belakang.” Jawab penjaga itu


Mye Jing Chen bergegas menghampiri Xiao Ai dan Lin Hua.


“Xia Ai? Lin Hua? Ternyata kalian. Ada apa?” tanya Mye Jing Chen yang belum tau apa-apa


“Paman Jing, ayahku dalam bahaya. Paman Yilan akan membunuhnya, cepat pergi selamatkan dia!” Xiao Ai berteriak histeris dengan air mata yang mengalir deras, ia menyentuh baju Mye Jing Chen meminta bantuan pria itu,.


“Yunzhi dalam bahaya, dan Yilan yang ingin membunuhnya? Baiklah, aku akan pergi.” Mye Jing Chen sangat terkejut dengan pernyataan Xiao Ai


“Dimana mereka?” tanyanya sebelum pergi.


“Tidak jauh dari sini, pama lurus saja lewat jalan itu. Paman akan menemukannya” ujar Xiao Ai menunjuk jalan yang ia tempun tadi.


Mye Jing Chen bergerak cepat, dengan ilmu meringankan tubuh.


“Xiao Ai?” Zhou Shiyue langsung memeluk Xiao Ai yang menangis sesegukan.


“Kakak Shiyue.” Ujar anak itu membalas pelukan Xiao Ai.


“Apa telah terjadi sesuatu? Diamana paman Yunzhi?” tanyanya


“Dia sedang berkelahi dengan paman Yilan, paman Yilan ingin membunuhnya. Tapi paman Jing sudah pergi menyelamatkannya.” Ujar Xiao Ai menjelaskan.


“Maksudmu Yun Yilan? Diakan ketua sakte wudang dan ayahmu adalah adiknya.” Ujar Zhou Shiyue kebingungan


“Tapi dia benar-benar ingin membunuh ayah dan kami.” Ujarnya.


Zhou Shiyue melirik Lin Hua, ia mengernyit saat melihat wanita itu tidak menunjukkan reaksi apapun selain tatapan kosong.


“Bibi!!! Bibiiii…” Zhou Shiyue terus mengguncang tubuh wanita itu sampai kondisinya kembali.


“Yunzhi, Yunzhiiii… diamana suamiku?” Lin Hua kembali histeris


“Tenang bibio, paman Yunzhi sudah diselamatkan oleh paman Jing. Dia pasti kembali.” Ujar Zhou Shiyue usaha menenangkan wanita itu


“Tidakk, Yunzhiii.. dia akan mati dibunuh Yilann. tidakkk” Lin Hua terus berteriak histeris membuat Zhou Shiyue kehabisan akal, pada akhirnya ia terpaksa menggunakan kekerasan agar membuat wanita itu sadar.


PLAKKK.. Ia menampar Lin Hua dengan keras, bahkan Xiao Ai memelototkan matanya karena kaget.


“Bibi sadarlah, jika paman Jing pergi menyelamtkan maka dia pasti selamat. Lihatlah Xiao Ai, dia bahkan bisa menahan kesabrannya padahal masih kecil. Apa anda tidak kasihan melihtanya yang berusaha tegar?” Zhou Shiyue membentak Lin Hua membuat wanita itu diam seribu bahasa.


“Xiao Ai, maafkan ibu. Ibu mengabaikanmu, maafkan ibu” ujar Lin Hua lalu menarik Xiao Ai masuk ke dalam pelukannya.


Pada akhirnya kedua orang itupun bisa dibujuk agar tenang.

__ADS_1


Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan😁😁 !!!


__ADS_2