
“Arrghhhh….” Yun Yunzhi menjerit keras saat pedang Yun Yilan berhasil menusuk perutnya.
“Hmhh, habislah kau hari ini.”
Yun Yilan menyeringai jahat, ia melangkah mendekati Yun Yunzhi yang sedang terkapar. Dengan pedang yang berlumuran darah, Yun Yilan mengangkatnya keudara.
“Aku akhiri semua ini.” Ujarnya saat ingin menancapkan pedangnya kea rah jantung Yun Yunzhi.
“Tidak akan semudah itu.” Yun Yunzhi dengan sisa tenaganya ia langsung menendang bagian bawah Yun Yilan hingga membuat pria itu menjerit kesakitan sambil memegang bagian bawahnya.
“Hari ini, walaupun aku mati aku akan membawamu mati bersamaku.” Ujar Yun Yunzhi dengan tatapan membunuh.
Ayah angkat Xiao Ai itu mengambil pedangnya dan mulai melakukan teknik tertinggi yang ia pelajari dalam kitab yang diberikan oleh gurunya sebelum mati.
“Teknik putaran pedang nirwana!!!!!”
Yun Yunzhi memutar pedangnya ketanah hingga membuat lingkaran yang mengelilinginya. Putaran itu semakin cepat sampai menciptakkan angin topan yang kian membesar.
“Teknik apa itu? Aku baru melihatnya.” Gumam Yun Yilan, ia masih memegang bagian bawahnya karena masih terasa sakit.
Perlahan angin topan ciptaan Yun Yunzhi itu menunjukkan samar-samar pedang yang terlihat semakin banyak dimata Yun Yilan.
“Tanpa penyesalan, aku akan membawamu ke neraka YUN YILANNN!!!” Teriak Yun Yunzhi sambil mengerahkan ciptaan angin topannya.
‘gawat, aku bisa mati.’ Ujar Yun Yilan dengan perasaan cemas.
“Sebaiknya aku lari.” Gumamnya lagi.
Yun Yilan berlari kearah hutan barat dengan kencangnya, namun sepertinya angin topan yang berpadu dengan ribuan pedang itu mengejarnya dibelakang.
“Hiyaaaaaa!!!!”
Yun Yunzhi semakin dekat dengan kakaknya, sampai akhir dimana Yun Yilan tidak sengaja tersandung oleh akar rumput.
DWAARRR……..
Angin topan menimpanya dan itu meledak, pedang Yun Yunzhi tertancap di dada kakaknya.
Yun Yilan menjerit kesakitan, darah berceceran kemana-mana namun ia tetap berlari menghindari serangan susulan dari adiknya yang dipenuhi amarah itu.
“Tak kan kubiarkan kau lolos kali ini Yun Yilan.” Ujar Yun Yunzhi yang dilanda api amarah
Meski perutnya juga terus mengeluarkan darah, ia sama sekali tak merasa sakit karena kemarahan dan kekecawaan dihatinya mengalahkan semua itu.
__ADS_1
“Teknik terpaan badai nirwana…..” teriaknya lagi saat ia hampir mencapai Yun Yilan
BOOMMMMMM…
Itu ledakan besar, kali ini Yun Yilan tidak berhasil lolos dan alhasil ia kembali mengalami luka parah di bagian punggungnya. Pedang adiknya itu menembus hingga ke dadanya.
Itu sangat menyakitkan.
“Terimalah serangan terakhirku!” teriak Yun Yunzhi, auranya penuh dengan aura pembunuhan.
Akan tetapi saat Yun Yunzhi hampir menembakan energi besar, serangan datang dari arah barat.
BLARRRRR..
Itu siapa?
Dua bayangan manusia meleset dengan cepat menghampiri Yun Yilan yang sekarat.
“Cepat bawa dia, biar aku yang menghadapinya.” Ujar Yi Zhang He memerintah Zhi Ruei.
“Baik” Zhi Ruei lantas membawa Yun Yilan kembali agar segera diobati.
Yun Yilan dan Yi Zhang He pun saling menatap, mereka mengeluarkan aura pembunuh yang sama kuat. Hanya saja karena kondisi Yun Yunzhi yang tidak stabil, pria itu tentu tidak sekuat sebelumnya. Tubuhnya pucat dan lemah.
Kedua pria itupun kembali bertukar serangan, setiap serangan yang dilontarkan tak tanggung-tanggung telah merusak alam sekitar mereka. Semua tumbang dan tanah cekung setiap kali serangan mereka meleset.
Sampai akhir dimana Yi Zhang He mengerahkan jurus-jurus tingkat tinggi.
“Jurus pedang ilusi bunga persik…” seru Yu Zhang He
Yun Yunzhi yang sudah berada dibatas akhir energinya ia tak mampu lagi menangkis serangan itu dan alhasil tubuhnya kembali terluka karena tusukan pedang Yi Zhang He mengenai tepat di dadanya.
Yun Yilan sudah tidak mampu lagi menggunakan energinya, ia benar-benar tidak punya cara lagi untuk menghadapi musuhnya.
‘Lin’er, Xiao Ai maafkan aku. Semoga kalian hidup dengan baik dan bisa merelakan kepergianku.’ Ujar Yun Yilan yang perlahan menutup matanya.
“Untuk memastikan dia mati aku akan memberikan serangan fatal.” Ujar Yi Zhang He, ia mengangkat pedangnya dan ingin memotong leher Yun Yunzhi.
Namun sebelum itu terjadi, sebuah batu menangkis pedangnya hingga membuat pedangnya terlempar.
“Tidak malukah kau pada dirimu sendiri?”
Mye Jing Chen berkata dengan tenang, namun tatapan dinginnya itu tidak beralih dari pandangan Yi Zhang He.
__ADS_1
“Pada akhirnya aku akan berhadapan denganmu Jing Chen.” Ujar Yi Zhang He dengan senyum sinisnya.
“Ya, tapi kau akan mati ditanganku.” Ujar Mye Jing Chen.
“Kalau begitu baiklah, aku akan melayanimu” ujar Yi Zhang He.
Lalu keduanya pun berseteru. Mengeluarkan jurus-jurus andalah mereka. Tapi karena mereka berasal dari sakte yang sama maka tentu saja jurus-jurus mereka juga sama. Bedanya dalam penggunaan jurus tergantung dari siapa yang lebih kuat dan ahli.
Namun dalam hal kekuatan jelas lebih kuat Yi Zhang He tetapi dalam hal keahlian Mye Jing Chen mengunggulinya.
Beberapa menit mereka bertukar pukulan, Zhou Shiyue dan Mye Ai datang ke tempat mereka.
Yi Zhang He yang melihatnya dari kejauhan ia berpikir untuk mundur lebih dulu karena ia hanya sendiri tak akan mampu menghadapi tiga lawan sekaligus.
Mye Jing Chen yang menyadari Yi Zhang He akan kabur, ia segera mencegahnya namun terlambat karena Yi Zhang He menggunakan taktik kotor. Ia melempar asap hitam hingga membuat Mye Jing Chen harus menutup mulut dan matanya seblum racun itu menyerangnya.
“Kakak, biaran saja dia kabur.” Ujar Mye Ai mencegah Mye Jing Chen yang ingin mengejar Yi Zhang He.
“Paman Yunzhi sedang sekarat, aku harus menunda pendarahannya sekarang.” Ujar Zhou Shiyue msaat memeriksa kondisi Yun Yunzhi yang sedang sekarat.
Mereka bertiga tidak mungkin langsung membawa Yun Yunzhi ke sakte mengingat jaraknya cukup jauh dan Yun Yunzhi belum tentu bisa bertahan lebih lama lagi.
Zhou Shiyue mengeluarkan tanaman-tanaman herbal dari ruang penyimpanannya. Bersyukur ia memanen banyak tanaman herbal saat dia melewati suatu tempat yang banyak tanaman-tanaman itu.
Setelah selesai menumbuk tanaman itu, Zhou Shiyue membersihkan luka Yun Yunzhi dibagian perut dan dadanya barulah setelah itu ia menempelkan tanaman yang sudah dihancurkan ke bagian luka Yun Yunzhi.
Sedangkan Mye Jing Chen dan Mye Ai bertugas mengalirkan energi mereka ke tubuh Yun Yunzhi. Setelah wajah pria itu tidak sepucat sebelumnya barulah mereka berhenti.
“Sekarang kita bisa membawanya kembali.” Ujar Zhou Shiyue diangguki kedua rekannya.
Merekapun kembali, Yun Yunzhi dan Zhou Shiyue menunggangi Yuko karena tidak bisa jika Yun Yunzhi hanya dipapah saja selama perjalanan. Sedangkan kedua bersaudara Mye itu menggunakan ilmu meringankan tubuh menyusul mereka.
Sesampainya di sakte, Yun Yunzhi segera dirawat oleh tabib. Istri dan anaknya merasa bersyukur mengetahu Yun Yunzhi sudah selamat meski kembali dengan luka parah.
Tak beda jauh dengan kondisi Yun Yilan yang juga mengalami luka parah, pria itu dirawat oleh kedua rekannya. Tentang rencana mereka menyusup ke istana itu ditunda untuk sementara sampai menunggu Yun Yilan pulih sepenuhnya.
Disisi lain. Pria senja yang berdiri diatas puncak tebing. Ia mengucapkan puisi-puisi yang penuh makna dan tanda tanya.
“Hari itu, langit gelap dan benar-benar gelap. Namun dibumi Susana terang benderang. Bunyi gesekan dan dentingan bergema dimana-mana, para manusia tak bersalah harus menjadi korban keserakahan dan pada akhirnya hanya seorang yang bisa menghentikannya. Takdir langit, kau adalah yang ditakdirkan.” Ujar pria senja itu sambil menatap matahari senja dihadapannya.
“Hari itu akan segera tiba, hari dimana semua akan berakhir ditangan sang takdir langit atau ditangan para manusia serakah. Lantas siapakah yang mampu bertahan hingga akhir?” ujar pria itu lagi.
Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan 🙏🙏!!!
__ADS_1