
“Akhirnya kau keluar juga” sinis Yun Yilan saat Kaisar datang menghampirinya.
“Hari ini akan ku musnahkan para pemberontak, maka berbanggalah kalian saat pergi ke neraka nanti.” Kaisar berkata dengan penuh penekanan membuat Yun Yilan mengerutkan kening tak suka.
“Hmmh, akulah yang akan mengantarmu ke neraka jahanam Yang Mulia.” Ujar Yun Yilan dengan senyum mengejek.
Mereka berduapun bertarung, melemparkan jurus-jurus mematikan yang mereka kuasai. Disisi lain Zhi Ruei dan Yi Zhang He bertarung melawan Jendral Pertama dan Kedua.
Semuanya bertarung sengit, ledakan ledakkan energi bergema dimana-mana bahkan tanah lapang itu dibuat cekung oleh para pendekar dari Kekaisaran Tang yang menghajar pasukkan Istana.
Tentu saja prajurit biasa tak bisa berbuat banyak saat menghadapi para pendekar dari negeri tetangga itu. Bahkan Kaisar sendiri tak menyangkan bahwa para pemberontak itu akan meminta bantuan dari negeri lain.
“Sungguh memalukan.” Umapt Kaisar mengutuk para pemberontak itu.
“Tombak cahaya ilahi!!!” seru Kaisar
Pemimpin bijaksana itu melayang keudara, tatapannya sangat ganas dan ia sangat marah pada para pemberontak itu.
“Hiyaaaaa!!!!”
BOMMM BOMMM BOMMMM…..
Itu ledakkan yang besar!
Yun Yilan terpukul mundur, ia tak berani menyambut langsung serangan Kaisar. Jika berani maka sama saja bunuh diri.
Beberapa orang yang berada didekat mereka terhempas jauh kebelakang, ada yang terluka parah atau bahkan langsung mati karena efek serangan dahsyat itu.
“Beruntung aku tepat waktu.” Yun Yilan mengelus dadanya saat melihat gelimpangan mayat yang berhamburan akibat serangan Kaisar.
“Jangan melamun saat melawanku!” ujar Kaisar yang tiba-tiba melancarkan serangan susulan.
Yun Yilan terperanjat kaget, karena tidak siapa ia terpental kebelakang dengan seteguk darah segar yang keluar dari mulutnya. Ya! Dia terluka.
“Sialan!” umpatnya mengutuk Kaisar yang saat ini tersenyum mengejek kearahnya.
“Hei kalian, bantu aku!” ujarnya pada beberapa pendekar suci yang sedang melawan prajurit biasa.
“Akhirnya aku menemukan lawan yang imbang.” Ujar salah satu pendekar suci saat berhadapan dengan Kaisar.
Tiga orang pendekar suci Kekaisaran Tang itu kini mengeroyok Kaisar. Meski dirinya dikepung oleh tiga orang setingkat dirinya, Kaisar tetap terlihat tenang dan tak ada rasa takut dimatanya.
“Dia memamg layak menjadi pemimpin negeri, sikapnya yang tak ada rasa takut itu memang layak ada di dalam diri seorang Kaisar. Bahkan Kaisar Mo Jingtian tetap merasa takut jika dirinya terpojok.” Salah satu pendekar suci memuji Kaisar dengan terang-terangan, namun karena nasib malang Kaisar itu ia hanya bisa tersenyum miris.
“Sayang sekali Kaisar telah meminta kami untuk membawa kepalamu pulang jadi tak ada kesempatanmu lagi untuk hidup.” Ujarnya lagi.
Kaisar tampak biasa saja mendengar perkataan pendekar suci itu, bahkan dirinya masih tampak tenang seperti tidak terpojok dalam keadaan.
__ADS_1
“Tunggu apalagi? Serang dia,” perintah Yun Yilan merasa kesal pada tiga pendekar suci itu.
“Cihh tak perlu menggertak kami, setelah dia mati nyawamu ada ditangan kami.” Ujar salah satu pendekar suci itu memelototi Yun Yilan.
Tentu saja Yun Yilan langsung bungkam mengingat dirinya tak akan bisa melawan banyaknya pendekar suci Kekaisaran Tang itu.
Tiga pendekar suci itupun langsung menyerang Kaisar.
“Kalian akan menyesal setelah melakukan konflik dengan Kekaisaran Han.” Ujar Kaisar dengan tatapan tajam, ia bersumpah jika kelak ia masih hidup maka ia akan menyerang negeri tetangga itu.
“Nyawa sudah diujung tanduk tapi masih berkata sombong” sinis musuhnya.
“Sebaiknya terima ini!”
“Amukkan tombak cahaya kebenaran….” Seru Kaisar, tombak itu perlahan membesar sampai ke langit.
“Hiyaaaaa!!!” Kaisar berteriak keras memukul lawannya dengan tombak yang sangat besar dan panjang itu.
BLAAARRRR…
Tombaknya tak berhasil mengenai tiga orang itu, namun efek pukulannya berhasil membunuh ratusan prajurit Kekaisaran Tang yang ada dibelakang tiga pendekar suci itu.
“Jangan biarkan dia bergerak bebas.” Ujar salah satu pendekar suci.
“Baik kak Lin.” Jawab dua pendekar lainnya pada pria paruh baya yang dipanggil Lin itu.
“Yoshi serang dari atas. Dan Jinglu serang dari belakang, aku akan menyerangnya dari depan.” Ucapnya pelag agar tak terdengar oleh Kaisar yang berjarang puluhan meter dari mereka.
Kaisar melihat Yoshi dan Junglu yang memisahkan diri, ia hanya mengernyit dan bertanya-tanya akan apa yang direncanakan tiga orang itu. Awalnya Kaisar sedikit terkejut mengetahui musuhnya yang memisahkan dir, tapi setelah ia menyadari satu hal barulah ia mengerti.
“Mereka berpikir akan menyerangku dari tiga arah agar aku tidak bisa mengelak dari tiga serangan sekaligus. Benar-benar licik.” Sinis Kaisar.
“Tapi mari kita lihat siapa yang lebih licik” ia tersenyum miring menunggu datangnya serangan.
“Sekarang, serang dia!” perintah Lin pada dua adik seperguruannya.
Mereka menggerakkan jurus mereka barulah setelah itu mereka meleset cepat menuju Kaisar yang berdiri tegak di tengah-tengah.
“HIYAAAAA!!!!”
DWARRRR…..
Ledakkan kembali terjadi saat tiga energi itu tertuju pada satu titik dimana Kaisar berada. Akibatnya tanah lapang itu dibuat cekung dan debu berterbangan dimana-mana.
“Apakah itu berhasil?” Lin, Yoshi dan Jinglu bertanya bersamaan.
“Tak kan kubiarkan semudah itu.” Kaisar keluar dari kepulan debu itu, tampak dirinya baik-baik saja bahkan pakaiannya masih utuh.
__ADS_1
“Tidak mungkin.” Seru t Yoshi dan Jinglu itu memelototkan mata mereka.
“Lupakah kalian? dia adalah mantan dewa perang di masalalu.” Ujar Lin dengan santai.
“Kalau dia dewa perang dimasalalu, lantas dimana pedang naga itu? Dia tidak menggunakannya.” Ujar Yoshi membuat dua rekannya berpikiran sama.
Disisi lain kelompok Mye Jing Chen sudah sampai diibukota. Seluruh anggotanya melayang diudara menuju istana yang terlihat penuh cahaya.
“Semoga belum terlambat.” Ujar Mye Jing Chen.
“Semoga saja.” Mye Ai, Yi Heng, dan Yun Yunzhi menyahut beramaan.
“Paman sepertinya aku melupakan sesuatu, aku harus kembali ke sakte sebentar.” Ujar Zhou Shiyue tiba-tiba berbalik arah menuju Sakte Gunung Bunga Persik.
“Hei nak?didepan sana lebih membutuhkan bantuan. Kau mau mau kemana?” teriak Yun Yunzhi dengan keras, namun pemuda yang sudah menajuh itu tak mendengarnya.
“Biarkan saja dia, dia bisa sampai di istana lebih cepat dari yang kita bayangkan jadi tidak mungkin dia tidak sampai tepat waktu.” Ujar Mye Ai.
“Bagaimana bisa? Apa dia memiliki batu teleportasi lain?” tanya Yun Yunzhi mengernyit.
“Entahlah, aku tidak tau juga. Tapi percayalah waktu itu saat ia pergi menemui Yang Mulia diistana, ia kembali dihari itu juga. Memang terdengar mustahil, tapi itulah kenyataannya.” Melihat penjelasan Mye Jing Chen yang terdengar serius maka Yun Yunzhi hanya bisa mengangguk.
“Sebaiknya lanjutkan perjalanan, biarkan saja anak itu.” Ujar Mye Ai menengahi.
Mereka semuapun pada akhirnya kembali melanjutkan perjalanan.
Dikejauhan,
Zhou Shiyue bersembunyi dibalik pohon besar sambil melirik mereka yang sudah melanjutkan langkahnya.
“Aku tidak bisa membiarkan siapapun yang tau bahwa akulah pemilik pedang naga nantinya. Aku hanya tidak ingin mereka menjadi korban keserakahan orang lain, bukan tidak mungkin jika orang lain tahu pemilik pedang naga bagian dari mereka maka bisa saja musuh akan mengancamku melalui mereka.” Gumamnya.
Zhou Shiyue pun mengganti pakaiannya dengan warna hitam dan merah, tak lupa ia juga memakai topeng yang menutup bagian mata dan separuh wajahnya.
“Kurasa dengan begini takkan ada yang mengenaliku.” Gumamnya sambil melihat tubuhnya yang sedang melakukan penyamaran.
Zhou Shiyue juga menyimpan barang-barang yang selama ini ia bawa diluar untuk masuk kedalam ruang penyimpanan, seperti kipas dan kantong uangnya. Setelahnya iapun mengeluarkan pedang naga yang masih tersarung.
“Hari ini adalah hari pertamamu untuk membasmi pemberontak Kekaisaran.” Ujarnya seolah berbicara pada manusia sambil menatap pedang naga.
Zhou Shiyue kembali melangkah menuju istana Kekaisaran dengan tampilan berbeda.
Contoh pakaian yang dukenakan Zhou Shiyue...
Contoh topeng yang dikenakan Zhou Shiyue...
__ADS_1
Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan🙏🙏 !!!