
Selamat Membaca !!!
“Huahhh hmmm” seorang wanita menguap sambil menggosok kelopak matanya. Dia mendenguskan hidungnya ke kenan dan kiri.
“Cepat bangun kalau kau mau makan.” Suara seorang pria berhasil membuatnya bangun dan duduk menatap panggangan seekor kelinci.
“Makanlah” ujar Zhou Shiyue menyerahkan satu ekor kelinci yang sudah selesai ia panggang.
“Terima kasih anak muda” ujar wanita itu yang hanya dibalas anggukkan saja oleh Zhou Shiyue.
Mereka berdua melahap makanan mereka tanpa berbicara sepatah katapun. Setelah makanan mereka habis Zhou Shiyue bangkit berdiri,
“Ayo kita pergi” ajak Zhou Shiyue sambil membungkukkan badannya.
Wanita itu mengangkat alisnya tanda bahwa ia merasa bingung.
“Kau ikut aku kembali ke Kekaisaran Han, masalah tempat tinggal nanti kita bicarakan bersama guruku. Jangan khawatir guruku itu seorang wanita.” Ujar Zhou Shiyue menjelaskan takut wanita itu salah paham.
“Kenapa kau membungkuk seperti itu?” tanya wanita itu
“Kalau kita pergi dengan jalan kaki mungkin kita akan berada di gunung ini selamanya, ayo cepat naik dan jangan banyak tanya” ujar Zhou Shiyue datar
“Huh baiklah” pasrah wanita itu sambil menaiki punggung Zhou Shiyue
Mereka berduapun berangkat menggunakan ilmu meringankan tubuh Zhou Shiyue yang tentu saja sangat cepat membuat wanita dipunggungnya itu pingsan karena kecepatannya.
Zhou Shiyue yang biasanya acuh dengan orang lainpun kini terpaksa membawa wanita itu karena merasa kasihan.
Hari-hari telah mereka lalui bersama selama perjalanan, ternyata gunung perbatasan ini sangat luas pikir Zhou Shiyue. Ya, meskipun banyak sekali hewan buas yang menghadang akan tetapi Zhou Shiyue mampu mengalahkannya dengan mudah.
Dalam hati Zhou Shiyue merasa takjup juga dengan keberuntungan wanita yang ada dipunggungnya itu, tentu saja dia merasa takub. Bagaimana tidak? Wanita itu mampu menempuh perjalanan selama berhari-hari dengan selamat di wilayah gunung ini.
Memikirkan itu membuat kepalanya pusing, pandangannya teralihkan oleh cahaya didepan sana. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai di wilayah Kekaisaran Han.
“Huhh akhirnya!!” Zhou Shiyue menurunkan wanita yang berada dipunggungnya begitu saja membuat wanita itu meringis kesakitan, namun Zhou Shiyue mengabaikannya.
“Rasanya lega sekali menghirup udara segar Kekaisaran Han” ujar Zhou Shiyue berbaring di rerumputan hijau yang asri.
“Terima kasih sudah membawaku pulang” ujar wanita disampingnya
“hmm” jawabnya singkat.
“Kalau boleh tau siapa namamu anak muda?” tanya wanita itu yang selalu memanggil Zhou Shiyue anak muda seolah dirinya sudah hidup lama.
“Namaku Shiyue, dan kenapa selalu memanggilku anak muda?” tanya Zhou Shiyue heran
“Karna usia kita memang jauh berbeda, mungkin jika aku tidak salah aku telah hidup lebih dari 40 tahun.” Ucap wanita itu membuat Zhou Shiyue sedikit tidak percaya
“Padahal aku pikir kau berusia 20 tahunan saja” ujarnya
“Hehee mungkin fisikku mengatakan seperti itu tapi kenyataan aku memang wanita paruh baya” ujar wanita itu terkekeh
Zhou Shiyue tidak menyahutinya, dia hanya termenung mendengar perkataan wanita itu. Dia teringat akan gurunya Ling Xifeng yang ia tau bahwa wanita itu juga sudah berusia puluhan tahun bahkan mungkin ratusan tahun mengingat wanita itu pernah bercerita tentang ayahnya yang merupakan seorang Kaisar di era dulu.
__ADS_1
“Sepertinya disana ada sebuah desa, ayo kita kesana” ajak Zhou Shiyue
Zhou Shiyue dan wanita itu berjalan kaki dengan santai menuju sebuah pedesaan yang tak jauh dari tempat mereka.
“Desa Yulu? Hmm aku seperti tidak asing dengan desa ini” gumam Zhou Shiyue mengingat sesuatu waktu lalu
“Bukankah ini desa bawah gunung Xuanjun, ya itu benar dan nampaknya gunung besar di belakang desa itu adalah gunung Xuanjun” ucap Zhou Shiyue kembali dengan perasaan gembira membuat wanita disebelah menoleh kearahnya
“Kenapa?” tanya wanita itu
“Sebentar lagi kita akan sampai ke rumah guruku” ujarnya dengan senang hati
“Benarkah?” sahut wanita itu ikut senang
Akhirnya Zhou Shiyue dan wanita tadi mempercepat langkahnya agar cepat sampai dipenghujung desa. Meskipun banyak tatapan aneh yang bermacam-macam artinya itu menatap kearah keduanya tapi keduanya sama sekali tak memperdulikannya.
Tak butuh waktu lama akhirnya kedua orang itu sampai dipenghujung desa dan disana suasana sudah sepi dan tidak ada seorangpun selain mereka.
Zhou Zhiyue menyuruh wanita itu menaiki punggungnya dan iapun menggunakan ilmu meringankan tubuh dengan kecepatan tinggi menuju rumah gurunya Zhou Shiyue.
Hingga hampir setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di halaman depan rumah Ling Xifeng.
Zhou Shiyue menurunkan wanita dipunggungnya. Ia melihat sekitarnya dan merasa tidak ada yang berubah dari terakhir kali ia pergi meninggalkan rumah tersebut. Hanya saja hari ini halaman terlihat bersih seperti ada yang merawatnya.
“Apa guru sudah pulang?” gumamnya, namun pikirannya teralihkan saat ia mendengar sebuah suara pertarungan dari belakang rumah Ling Xifeng.
“Siapa yang berkelahi di daerah sini?” dahinya mengkerut penasaran, ia lantas berjalan cepat menuju belakang rumah Ling Xifeng.
“Hey, mau kemana anak muda?” wanita itu penasaran dan berjalan mengikuti Zhou Shiyue.
“Cihh, tentu saja karena bagaiamanapun kau masih jauh dibawahku” sinis Ling Xifeng mengejek pria vampire itu.
“Berhenti menyerangku, aku bisa mati jika kau serang terus” ujar Rain yang berusaha menghindari serangan Ling Xifeng
Sampai akhirnya
BOOMMMMM…
“Ehh, apa itu?” Ling Xifeng dan Rain terkejut bukan main dan lantas mereka menghentikan perkelahian mereka saat melihat rumah Ling Xifeng hancur lebur.
“Heyy, siapa yang berani menghancurkan rumahku!!!” Ling Xifeng sangat marah sampai ia mengeluarkan seluruh auranya hingga membuat Rain yang berada disampingnya sedikit bergidik ngeri melihat wanita cantik itu.
Sedangkan,
“Aku yang menghancurkannya” Zhou Zhiyue berjalan keluar dari kepulan asap hasil hancurnya rumah Ling Xifeng.
“Shiyue??” Ling Xifeng mengerutkan keningnya tak percaya.
Namun…
Jlebbbb!!!!
“ARGGHHHHHHH!!!” Ling Xifeng berteriak kesakitan saat pedang naga berhasil menusuk jantungnya.
__ADS_1
“Shi-yu-er??” Ia menatap tak percaya kearah Zhou Shiyue yang hanya menatapnya dengan datar.
“Sekarang kau bisa tenang.” Ujar Zhou Shiyue dengan datar namun ada kesedihan yang mendalam didalam matanya.
Sedangkan Rain dan wanita dipojok sana menatap tak percaya dengan apa yang terjadi didepan mereka.
“Xixi?? Xixii????” Rain mendekati tubuh Ling Xifeng yang sudah berlutut tak beradaya sambil menunduk ketanah.
“Ak-hir-nya a-ku bi-sa ma-ti, ra-in..” ucap Ling Xifeng terbata dengan senyum dibibirnya.
“Pergilah dengan tenang Xixi” jawab Rain dengan senyum sambil menunduk kearah Ling Xifeng yang dibalas anggukkan oleh wanita itu hingga pada akhirnya Ling Xifeng menutup kedua belah matanya.
Tak lama kemudian sebuah sinar terpancar dari tubuh Ling Xifeng dan setelahnya tubuhnya pun lenyap ditelan sinar tersebut.
“Aku hanya ingin beban yang selama ini guru tanggung itu berakhir, maafkan aku guru” ucap Zhou Shiyue dalam hati, karena dia tau hanya dirinyalah yang bisa membunuh gurunya tersebut.
Dibalik rasa sedih Rain soal kawannya itu matanya tiba-tiba teralihkan pada wanita dipojokkan sana yang menatap penuh kejut kearahnya. Rain menyipitkan matanya dan betapa terkejutnya saat melihat wanita itu.
“Han Ruei??” ucap Rain
“Apakah aku juga harus membunuh Rain untuk membantunya mengakhiri derita keabadiannya?” gumam wanita yang bernama Han Ruei itu.
“Ruei’er, kemana saja selama ini kau pergi hingga baru menampakkan diri?” tanya Rain yang sudah sampai dihadapannya.
“Maafkan aku Rain” jawab Han Ruei tertunduk sedih
“Aku tau kau masih mencintaiku, tapi tolong Ruei’er hanya kau yang bisa mengakhiri penderitaanku.” Ujar Rain dengan serius namun ada raut sedih diwajahnya.
“Tapi Rain?”
“Hussttt. Untuk terakhir kalinya aku minta bunuh aku Ruei’er, sebagai imbalannya aku akan menghapus ingatanmu agar nanti kau tidak merasa bersalah dalam hidupmu.” Ujar Rain menyela ucapan Han Ruei.
“Baiklah” dengan berat hati akhirnya Han Ruei menyetujuinya. Dia mengambil sebuah pedang yang saat ini berada di punggung Rain lalu,
JLEBBBB!!!
Pedang itu berhasil menusuk jantung Rain.
Rain tersenyum tenang menatap wanita yang sangat ia cintai itu, dia lalu menyentuk kepala wanita itu sambil merapalkan beberapa mantra hingga membuat Han Ruei jatuh pingsan.
“Hiduplah dengan bahagia, Ruei’er.” Ujar Rain.
Sedangkan Zhou Shiyue yang memperhatikan mereka dari kejauhan hanya menatap tanpa ekspresi.
“Ternyata tidak hanya guru yang menanggung derita yang begitu besar tapi orang itu juga” gumamnya sambil menatap tubuh Rain yang perlahan dilahap oleh sinar matahari.
Lalu matanya menatap kearah pedang naga yang tergelak ditanah, setelah tubuh Ling Xifeng menghilang ternyata pedang tersebut masih utuh.
“Pedang naga, mungkin ini kali terakhir kamu membunuh seseorang namun kali ini kamu telah membunuh seseorang tanpa niat membunuh sekalipun. Dan untuk selamanya kamu tidak akan pernah digunakan lagi.” Ujar Zhou Shiyue saat ia memasukkan pedang naga ke dalam cincin penyimpanan dan membakar cincin itu hingga hangus jadi debu.
~TAMAT~
Maaf jika ending ceritanya diluar dugaan kalian, sungguh author minta maaf. Dan untuk kedepannya author akan berusaha sebaik mungkin dengan alur cerita karya-karya yang nantinya author ciptakan.
__ADS_1
TERIMA KASIH, DAN SALAM SEJAHTERA UNTUK KITA SEMUA.
~ASSALAMMUALAIKUM WR.WB.~