
Haii guys🤗🤗 !!!
Comeback lagi dengan Pendekar Legenda Ya? Hihihi !!!
Bagaimana pendapat kalian tentang novel ini? Tolong tuliskan segala pendapat kalian di bawah kolom komentar ya, guys!!!
Nah, jangan lupa Vote dan +ke favorit kalian hehehe…
Happy Reading!!!
Suasana Kota Yuhan saat pagi mulai tiba. Hari ini seluruh penduduk Kekaisaran Han sudah duduk kembali di bangku mereka masing-masing sambil menunggu acara pertunjukan bakat kembali dimulai.
“Selamat siang semuanya, sebelum kita mulai acaranya salam hormat pada Kaisar dan para pejabat lainnya!” ucap pria pembawa acara.
Semua orang menunduk hormat kearah Kaisar yang dibalas anggukan dan senyuman hangat dari Kaisar yang bijaksana.
“Baik, karena semua sudah tidak sabar maka akan kita mulai acaranya sekarang juga. Peserta nomor 121 silahkan tunjukkan pesona anda!” ujar pria itu dengan nada yang membuat semua orang antusias.
Peserta yang ditunjukpun maju diiringin tepuk tangan para warga yang tidak sabar akan pertunjukannya.
Siapa sangka peserta pertama adalah putri Kaisar sendiri. Putri Song Jixi membawa kecapi miliknya dalam genggaman. Gadis cantik itu menunduk hormat kearah ayahnya dan dibalas seruan semangat dari sang ayah membuat para penonton bersorak meriah.
Tanpa basa-basi Putri Song Jixi memainkan kecapinya, kali ini alunan nada yang ia mainkan cukup berbeda dari para peserta yang memainkan kecapi seblumnya. Alunan nada yang ia mainkan penuh ketegangan dan emosi didalamnya. Membuat para penonton mendengarkannya turut merasa tegang.
Alunan nada yang ia mainkan benar-benar berhasil membius para penonton yang merasa sedang berada dalam kondisi menegangkan. Jantung mereka berdegup kencang seakan sudah berada di ambang kematian. Entah mengapa para penonton tidak mampu berkata-kata dan mendeskrepsikan alunan nada yang ia mainkan.
Sayang sekali permainan kecapi itu harus berhenti karena sudah waktunya bagi peserta selanjutnya untuk maju.
“Yahh sayang sekali”
“Padahal aku merasa seperti sedang berada dalam pertarungan”
“Apa tidak bisa diperpanjang lagi?”
Seruan para warga membuat pria pembawa acara tersenyum tipis dan meminta para penonton untuk sabar dan kembali melihat peserta selanjutnya.
Catatatan:
__ADS_1
Bagi para readers yang bertanya, Kenapa Zhou Shiyue tidak menunjukkan bakatnya padahal dia nomor 76? Padahal kan pertunjukkan bakat sudah menampilkan peserta nomor 121?)
Nah jadi begini, pertunjukkan bakat itukan dibagi menjadi dua jenis anggap aja jenis A adalah pertunjukkan seni beladiri. Nah pertunjukkan B adalah pertunjukkan seni tari, nyanyian dan, alat musik.
Yang didahulukan untuk menunjukkan bakat adalah jenis B, sesuai nomor urut mereka. Misalkan peserta no 2 selesai menunjukkan bakat maka giliran nomor 3 untuk tampil tapi kalau nomor 3 peserta dari jenis A maka nomor 4 dan seterusnya yang akan tampil. Jadi tidak ada yang merasa bingung kan?
Oke, kita lanjut ke cerita.
Peserta kali ini adalah putra dari Walikota Yuhan, Jing Zishu. Zhou Shiyue cukup terkejut melihat sahabat karibnya itu naik ke panggung sambil membawa catur.
“Selamat pagi semua, kalian tentu sudah mengenal siapa aku kan? Nah jadi tidak perlu basa-basi. Mohon maaf jika saya boleh meminta salah satu juri untuk bermain catur denganku?” ujar pria tampan baik hati itu.
“Wahh tuan muda kedua memang luar biasa”
“Tapi apakah dia akan menang melawan juri?”
“Aku bertaruh besar padanya, jika dia menang aku akan menyumbangkan 100 koin emasku ke pemerintah.”
“Benar-benar momen langka, aku yakin jika dia menang dia akan langsung terkenal ke seluruh pelosok kekaisaran”
Bisikan-bisak warga terdengar jelas disetiap orang yang hadir disana. Termasuk Zhou Shiyue yang menunjukan senyum tipisnya.
Seorang pria paruh baya naik ke atas panggung dan duduk disebrang Jing Zishu menghadap catur. Para penonton dari kejauhan tak bisa berbuat banyak untuk menonton dengan jelas sebab jarak panggung dan kursi penonton cukup jauh.
Permainan dimulai. Jing Zishu menaruh wajah serius saat permainan, berbeda dengan lawannya yang merupakan ahli catur, hanya menunjukkan ketenangannya dalam bermain.
Saat ditengah permainan, Jing Zishu membunuh kuda lawan menggunakan bidak kudanya. Tapi sayang sekali ia tidak tau jika itu hanya jebakan untuk membuka jalan membunuh bidak menteri miliknya, alhasil ia dengan berat hati harus melepaskan menteri miliknya.
Meskipun begitu, Jing Zishu tidak putus asa. Ia kembali mengatur strategi untuk mensekakmat bidak catur musuh. Dengan perlahan ia menggunakan bidak lajuk untuk ditaruh di kolom yang sama dengan bidak raja musuh hingga membuat bidak raja itu terpaksa dipindahkan oleh mushnya.
Kali ini ia menunjukkan senyum tipis diwajahnya saat sudah mengetahui cara yang membuat musuhnya tidak berkutik lagi. Lajuk yang tadi masih ditempat yang sama, kali ini ia memainkan bidak benteng dan menaruhnya di baris yang sama dengan bidak raja milik musuh.
Jika bidak raja itu di pindahkan ke samping kiri maka bidak itu akan mati oleh bidak lajuk milik Jing Zishu, itu artinya ia tidak bisa menaruhnya disana. Lalu jika musuh memindahkan bidak raja ke samping kanan maka bidak itu akan mati oleh bidak kuda milik Jing Zishu. Jika bidak lain menutupi jalan bidak benteng kearah bidak raja maka tetap saja akan membunuh raja dengan bidak prajurit milik Jing Zishu, itu artinya lawan telah sekakmat karena tidak memiliki jalan lain untuk menyelamatkan bidak raja.
“Anda menang!” ujar juri tersebut.
“Maaf tuan, bukan maksud saya untuk mempermalukan tuan. Saya hanya berusaha keras untuk membuktikan diri saya.” Ujar Jing Zishu merasa tidak enak hati yang dibalas oleh senyum kecil oleh sang juri.
__ADS_1
“Pemenangnya adalah Jing Zishu !!” ujar pria pembawa acara dengan keras membuat seluruh penonton berdiri dan bersorak sorai.
“Hahah tebakanku tidak salah, karena aku sangat yakin akan kecerdasan tuan muda kedua”
“Benar-benar menakjubkan”
“Pertunjukan kali ini memang berbeda dan memiliki momen bersejarah yang luar biasa”
“Yahh, aku harus mengeluarkan 100 koin emasku untuk pemerintah”
“Dia akan terkenal, pasti masuk dalam nama terpopuler di kekaisaran”
Teriakan-teriakan para penonton yang merasa senang turut membuat Jing Zishu menunjukkan senyum ramahnya menatap mereka semua. Tapi sayang beberapa tatapan pemuda menatap penuh dengki kearahnya.
Setelah Jing Zishu turun dari panggung, saatnya peserta selanjutnya untuk naik dan menampilkan bakatnya.
Waktu terus berjalan, sudah dua puluh peserta lebih yang menunjukkan bakat mereka dari segi nyanyian, tari atau alat musik.
“Peserta nomor 147 silahkan tampilkan keahlianmu!” seru pria pembawa acara masih sama semangatnya meski hari sudah mau sore.
Peserta kali ini adalah dua orang sekaligus yang akan menampilkan sebuah tarian kombinasi dari kedua gadis tersebut. Siapa sangka yang akan tampil kali ini adalah Su Xin dan Jixue? Zhou Shiyue menyipitkan bola matanya untuk melihat dengan jelas siapa yang sedang tampil itu.
Zhou Shiyue tersenyum kecil saat mengetahui dua temannya yang akan menampilkan tarian khas mereka.
Kedua gadis itupun mulai melakukan aksinya, keduanya benar-benar lincah dan tampak memukai saat selendang mereka bergerak dengan lembut dan halus. Bunyi gelang mereka juga terdengar enak ditelinga para pendengar, yah ada yang menyebutnya tari india dari benua asing.
Tarianpun selesai dalam 5 menit. Sayang sekali para penontong tak bisa melihat tarian langka itu lebih lama lagi.
“Yahh sayang sekali”
“Kenapa durasinya tidak bisa lebih lama?”
“Agak kesal sama aturan acara tapi tidak bisa berbuat apa-apa juga”
“Hmm, tarian bagus”
Lagi-lagi bisikan warga membuat suasana kembali riuh. Sayangnya si pembawa acara tidak paham dengan suasana hati mereka yang menginginkan lebih.
__ADS_1
Beberapa peserta kembali tampil dengan bakat mereka masing-masing. Sampai matahari sudah tenggelam. Peserta jenis seni tari, nyanyian, dan alat music pun sudah selesai menunjukan bakat.
Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan !!!