Pendekar Legenda

Pendekar Legenda
Festival bulan merah II (S1)


__ADS_3

Haii guys 🤗🤗!!!


Comeback lagi dengan Pendekar Legenda Ya? Hihihi !!!


Bagaimana pendapat kalian tentang novel ini? Tolong tuliskan segala pendapat kalian di bawah kolom komentar ya, guys!!!


Nah, jangan lupa Vote dan +ke favorit kalian hehehe…


Happy Reading!!!


Saat matahari tepat berada di atas kepala, pertunjukkan bakat dimulai dari jenis seni tari,nyanyian, dan alat musik.


Kaisar Song Ji Lian serta para pejabat-pejabat kota juga sudah duduk rapi di barisan tamu istimewa. Termasuk Jing Shi Ma beserta kedua putranya sebagai tuan rumah.


Semua penduduk kekaisaran yang ada di Kota Yuhan sudah duduk rapi di kursi penonton, mereka menghadap panggung yang ada di tengah-tengah perkumpulan. Mereka semua bertepuk tangan sengan meriah saat pembawa acara pertunjukkan mengatakan bahwa pertunjukan akan dimulai.


Seorang gadis sudah berdiri diatas panggung sambil membawa sebuah seruling. Semua orang bersorak untuk menyemangati gadis itu sebagai peserta pertama yang akan tampil.


“Selamat siang semuanya, namaku Lili semoga kalian menikmati permainan serulingku.” Ujarnya sambil tersenyum manis membuat para pria muda bersiul menggodanya.


Permainan seruling dimualai, alunan nada yang dimainkannya benar-benar membius para warga yang hadir disana. Banyak warga yang bahkan sampai memejamkan mata untuk meresapi setiap alunan nada yang dimainkannya.


Sayang sekali permainan seruling itu hanya berjalan 5 menit sebelum peserta selanjutnya menunjukkan bakat. Ya bagaimanapun mereka harus menghemat waktu mengingat banyaknya peserta yang harus menunjukkan bakat.


Seperti yang di umumkan, perayaan Festival Bulan Merah ini akan dirayakan selama tiga hari sampai pertunjukan bakat selesai. Dan khusus malam ini pertunjukkan akan di tunda dan hanya dijalankan saat siang hari saja karena saat malam nanti bulan merah akan muncul dan saat itu adalah waktu mereka melakukan penghormatan dengan acara penerbangan lampion.


Peserta kedua yang akan menunjukkan bakat akan menampilkan sebuah tarian tradisional. Dia adalah gadis berbaju hijau dengan tubuh mungil namun penuh charisma yang membuat lawan jenisnya terpesona.


Setiap gerakan halus yang ia tunjukkan benar-benar membuat para penonton bersorak heboh, apalagi tubuh mungil itu melakukan setiap gerakan tari dengan lembut gemulai.


Lagi-lagi waktu tidak mendukung para penonton untuk menonton lebih lama lagi tarian itu. Mereka hanya bisa mendesah pelan saat wanita mungil itu menuruni panggung.


Lalu setelahnya seorang wanita berpakaian ungu menaiki panggung sambil membawa kecapi ditangannya. Wanita itu tidak banyak basa-basi dan hanya menundukkan kepalanya kearah Kaisar tanda penghormatan.

__ADS_1


Gadis berpakaian ungu itupun menunjukkan keahliannya dalam memainkan kecapi. Alunan nada yang ia mainkan memang tidak bisa di ragukan lagi. Alunan nadanya bahkan mampu membuat Kaisar Ji Lian mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia menikmati alunan nada yang dibawakan gadis itu.


Acara pertunjukan bakat terus berlanjut hingga sore hari tiba, pembawa acara mengumumkan bahwa acara ditunda sementara dan akan dilanjutkan besok pagi.


Semua warga membubarkan diri.


Beberapa jam sesudah pertunjukan bakat, seluruh warga kembali berkumpul di pusat Kota Yuhan tepatnya di dekat jembatan lentera.


Zhou Shiyue yang menjadi salah satu warga juga mengamati apa saja yang dilakukan oleh warga lainnya. Ia melihat para warga itu membawa satu lampion di tangan mereka. Melihat itu ia juga membeli lampion pada seorang paman yang menjual lampion.


Barulah ia mendekati seorang perempuan paruh baya yang sepertinya sedang mengobrol dengan anaknya yang berumur 5 tahun.


“Permisi bibi, boleh saya bertanya apa yang harus dilakukan pada lampion ini?” tanya Zhou Shiyue.


“Eh iya nak, kita hanya perlu mengucapkan doa dan harapan kita sekaligus mengucapkan tanda penghormatan kita pada bulan merah.” Ucap bibi itu dengan ramah.


“pa gege dak wu? Ita an melayakannya tiap tahun.” (Apa gege tidak tau? Kita kan merayakannya setiap tahun)Celoteh anak bibi tersebut.


“Husstt jangan ngomong gitu, kakak ini mungkin juga tamu dari wilayah lain nak. Jadi kamu jangan ngomong begitu sama kakak ini ya?” ujar bibi tadi menegur lembut anaknya.


“Tu an, gege ja dak malah.” (Tuh kan, gege saja tidak marah.) celetuk anak itu dengan pipi gembung.


“Hustt, sudah-sudah jangan ganggu kakak ini. Ayo kita ke ayah.” Ajak bibi itu, ia tersenyum kearah Zhou Shiyue dan pergi membawa anaknya.


“Bocah itu mengingatkanku dengan Xiao Ai” gumamnya sambil menatap kepergian bibi dan anaknya tadi.


Waktu terus berlalu sampai momen yang ditunggu-tunggupun tiba. Semua orang berseru senang melihat bulan merah sudah menampakan diri. Mereka mengucapkan doa dan harapan serta rasa hormat mereka dengan penuh penghayatan di dalam hati mereka masing-masing. Baru setelahnya mereka mulai menerbangkan lampion ke udara.


Satu persatu lampion mulai berterbangan sampai langit terlihat warna-warni karena lampion yang memiliki warna berbeda-beda.


Zhou Shiyue sendiri juga sudah menerbangkan lampion miliknya. Tak banyak doa yang ia ucapkan. Ia hanya berharap seluruh masyarakat Kekaisaran Han terus berbahagia dan harmonis seperti saat ini yang ia lihat. Selebihnya ia tak berharap apapun selain keselamatan orang terdekatnya seperti Jing Zishu, Ling Xifeng, Zhou Nana, dan Xiao Ai.


Penerbangan lampion itu berjalan dua jam. Kaisar Song Ji Lian bersama putrinya Song Jixi juga hadir malam itu.

__ADS_1


Namun tanpa ada yang menyadari, tiga orang pria misterius sedang mengamati perayaan tersebut dari gelapnya malam.


“Malam ini aku biarkan kalian menikmati acara dengan tentram. Besok kalian akan melihat pertunjukan yang bagus yang tidak akan pernah kalian lupakan.” Ucap salah satu dari mereka dengan senyum jahat dibibirnya.


“Kita lihat saja bagaimana mereka akan memohon untuk dilepaskan.” Sahut pria yang satunya.


Ketiga pria itu hanya tersenyum penuh kekejaman sebelum pergi meninggalkan lokasi perayaan.


Tapi ternyata dibalik persembunyian mereka, seorang pria berjubah putih sedang duduk dengan tenang diatas kursi disebuah gubuk.


“Jangan kalian pikir perayaan ini tidak memiliki pengawasan. Aku akan menghalangi niat jahat kalian, jangan harap bisa menganggu acara jika aku masih ada.” Ucap pria berjubah putih itu.


Saat penerbangan lampion selesai, satu persatu warga mulai meninggalkan lokasi tempat perayaan dan pulang kerumah masing-masing. Sampai lokasi perayaan benar-benar sepi.


Zhou Shiyue juga sudah beranjak ke penginapan sedari tadi. Apalagi ia merasa cukup bosan berada disana. Ia pikir ia akan menunjukkan bakatnya tadi siang namun sayang pertunjukan bakat itu di tunda. Andai dia tau dia pasti akan tiduran saja di penginapan.


Sekarang pemuda tampan berkulit putih itu sedang berbaring beranjak untuk tidur. Hingga matanya tertutup dengan rapat dan ia masuk ke dalam mimpi.


Dalam mimpi ia kembali melihat pristiwa yang kembali membuat dirinya bingung.


Kali ini ia melihat Ling Xifeng yang mengenakan pakaian hitam sedang duduk di sebuah singgasana. Ada mahkota kecil diatas kepala wanita itu.


“Salam hormat ratu, semoga panjang umur dan sehat selalu.” Ucap seseorang berlutut didepannya.


“Hm, ada apa?” sahut Ling Xifeng, gurunya Zhou Shiyue itu.


“Raja neraka berkunjung dan meminta anda menemuinya di lembah salju.” Jawab orang itu.


“Baiklah, kau boleh pergi.” Ucapnya.


Saat Zhou Shiyue melihat gurunya pergi ke sebuah tempat bersalju, ia tiba-tiba bangun dari mimpinya.


“Apa yang ku lihat tadi? Kenapa akhir-akhir ini aku terus memimpikan guru?” gumamnya saat tersadar dari mimpinya.

__ADS_1


Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan !!!


__ADS_2