Pendekar Legenda

Pendekar Legenda
Putri Song Jixi (S1)


__ADS_3

Happy Reading🙏🙏!!!


Pagi ini matahari bersinar sangat cerah, tapi entah mengapa ada perasaan tak nyaman terbesit dihati Kaisar Song Ji Lian.


“Untungnya aku sudah mengungsikan penduduk barat dan ibukota satu minggu yang lalu.” Ujarnya menghembuskan nafas lega meski pikiran negative terus bersarang dibenaknya.


Benar saja,


Satu minggu yang lalu Kaisar telah meminta 2 Jendral untuk pergi ke wilayah barat dan memerintah para penduduk untuk mengungsi di wilayah selatan untuk sementara waktu.


Sedangkan 2 Jendral akan bertugas di ibukota untuk memerintah seluruh penduduk ibukota untuk mengungsi di wilayah timur selama beberapa minggu.


Tentu Kaisar tidak mengatakan apa alasannya memindahkan para penduduk ke wilayah lain yang menurutnya paling aman. Ia hanya memberi tahu pada warga bahwa wilayah barat dan ibukota akan ada kegiatan pembersihan lingkungan yang akan dijalankan oleh para prajurit istana.


Setiap rumah penduduk akan dibersihkan oleh sebuah benda yang katanya tidak boleh terhirup oleh indra penciuman. Jadi dengan begitu para penduduk terpaksa dipindahkan ke wilayah lain selama masa pembersihan lingkungan.


Namun alasan sebenarnya bukan itu, tentu saja bukan. Karena kebenarannya adalah Kaisar hanya ingin menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan apabila nanti ada sebuah pertempuran yang melibatkan banyak orang.


Tak terkecuali keluarga Song itu sendiri, Kaisar juga meminta seluruh anggota keluarganya untuk pergi ke wilayah timur dan mengatakan bahwa istana juga akan dibersihkan selama beberapa pekan kedepan.


Kembali ke Sakte Gunung Bunga Persik.


Disana banyak anggota berlalu lalang, ada yang sibuk berlatih, belajar, dan bahkan menyiapkan alat-alat bertarung yang akan digunakan untuk menangkap para pemberontak yang saat ini bermarkas di Sakte Wudang.


Diantara banyaknya orang yang sibuk, hanya Zhou Shiyue sendiri yang terlihat santai di sebuah gazebo yang ada di halaman sakte. Karena kegiatannya yang terlihat santai justru membuat beberapa orang menatap sinis padanya.


“Lihatlah, dia adalah tamu yang paling santai yang pernah aku temui.” Ujar anggota sakte.


“Ya, aku tau dia adalah rekannya para tetua sakte tapi melihat kelakuannya aku jadi ingin bertarung melawannya andai saja dia bukan teman para tetua” ujar anggota lainnya.


“Benar sekali, sudah lama aku ingin menghajarnya tapi saat melihat dia berteman dekat dengan tetuai Mye Ai aku jadi segan.” Ujar anggota lainnya.


Para anggota sakte itu menggosipinya dibelakang namun perkataan mereka hanya dibalas senyum dingin dibibir pria yang jadi bahan ejekkan itu.

__ADS_1


“Hanya tikus kecil, berani mengataiku? Cihh terlalu besar mulut.” Ujar Zhou Shiyue dengan keras sambil merlirik segerombolan orang yang menggosipinya.


Mereka semua menatap marah tetapi tidak berani melawannya dengan terang-terangan.


“Orang yang sudah bau tanah tidak pantas mengataiku.” Ejek Zhou Shiyue dengan sengaja sambil berjalan meninggalkan gazebo.


“Orang itu!!! Dia mengatai kita akan segera mati(bau tanah.)” para anggota itu berucap dengan penuh amarah namun lagi-lagi mereka ditampar oleh kenyataan karena tidak berani melawan pria tampan yang sudah pergi meninggalkan gazebo itu.


“Sudahlah, lupakan soal tamu kurang ajar itu. Sebaiknya sekarang kita bersiap-siap sebelum tetua Mye Ai melihat kita bersantai.” Ujar salah satu dari mereka memperingati.


Mengingat Mye Ai, mereka jadi bergidik ngeri karena mengingat seperti apa karakter peremuan kejam itu.


Disisi lain,


Yun Yilan telah kembali ke Sakte Wudang dengan membawa 50.000 orang pasukkan biasa dan puluhan pendekar kaisar dan pendekar suci.


“Aku yakin dengan mereka maka kita tidak akan kalah.” Ujar Yun Yilan dengan percaya diri pada Zhi Ruei dan Yi Zhang He.


“Meskipun begitu kita juga tidak bisa meremehkan musuh begitu saja bukan?” ujar Zhi Ruei dengan datar, ia tak ingin berbuat ceroboh nantinya.


“Bukan begitu maksudku, aku hanya tidak ingin berhati-hati saja.” Kelah Zhi Ruei dengan cepat tak mau membuat para calon mitranya itu marah.


“Jadi kapan rencana pasti akan menyerang istana?” tanya Yi Zhang He langsung pada intinya.


“Malam ini kita akan pergi menyerang, karena masih memiliki satu batu teleportasi lagi maka kita akan bisa sampai disana dengan cepat.” Ucap Yun Yilans serius.


“Baiklah, kalau begitu aku akan mempersiapkan semuanya.” Ujar Zi Zhang He beranjak pergi dari lapangan terbuka itu.


Pada akhirnya sekelompok pemberontak dan para sekutunya itupun mempersiapkan segala keperluan untuk berperang nanti.


Di istana,


Kaisar Song Ji Lian duduk dengan tenang menatap para penghuni istana yang sedang sibuk melakukan aktivitas mereka. Ia menghembuskan nafas berat beberapa kali, lalu memanggil Jendral Zhou Shen Zhi untuk mendekat.

__ADS_1


“Salam Yang Mulia, ada apa?” tanya Zhou Shen Shi dengan sopan.


“Aku merasakan ada sesuatu yang mengganjal dipikianku, jika nanti terjadi sesuatu yang diluar dugaan maka tolong bawa putriku pergi dari istana.” Ujar Kaisar seperti orang yang akan mati.


“Mohon maaf Yang Mulia, bukan saya membantah hanya saja saya tidak ingin Yang Mulia berkata yang bukan-bukan.” Ujar Jendral keempat itu.


“Aku hanya berpesan saja, tapi aku harap tidak akan terjadi hal yang buruk nanti.” Ujar Kaisar, setelahnya pria berwibawa itupun pergi meninggalkan aula istana dan berjalan menuju kamar sang putri.


“Kenapa yah?” Putri Song Jixi mengerutkan kening saat ayahnya masuk ke dalam ruangannya.


“Putriku? Sebaiknya kamu segera pergi menyusul keluarga di wilayah timur. Aku tidak ingin terjadi hal yang buruk padamu nanti.” Ujar Kaisar dengan lembut membujuk putrinya yang kini menunjukkan wajah dingin.


“Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan pergi! Jika pemberontak itu datang maka aku akan ikut bertarung melawan mereka, apa ayah lupa dengan kemampuanku yang selama ini telah kusembunyikan dari semua orang?” Song Jixi berteriak marah mendengar perkataan ayahnya


Jadi selama ini Putri Song Jixi memang sudah tahu kebenaran tentang para pemberontak itu, bahkan akal-akalan sang ayah yang ingin seluruh penduduk ibukota dan wilayah barat serta keluarganya mengungsi ke wilayah lain, ia juga tau alasan sebenarnya.


Melihat perjuangan sang ayah yang ingin menyelamatkan rakyatnya dan juga keluarganya, Putri Song Jixi tidak ingin berdiam diri saja, ia akan ikut melawan para pemberontak itu nanti meski nyawa sendiri taruhannya.


Kaisar Song Ji Lian tidak beradaya menatap putri ketiganya itu, meski pribadi Song Jixi yang dingin dan galak tapi dibalik semua itu ada sosok gadis rapuh yang tak pernah merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya.


Ibunya mati setelah melahirkannya, jadi selama ini ia hanya dirawat oleh ibu tirinya yang kini tengah menjadi permaisuri. Meski permaisuri menyayangi dan mencintainya dengan tulus itu tetap saja kurang karena sesungguhnya kasih sayang ibu kandunglah yang ia butuhkan.


Song Jixi memiliki banyak keahlian dan dia sangat berbakat di bidang apapun, hanya saja selama ini ia menyembunyikan sebuah rahasia yang hanya dirinya dan sang ayahlah yang tau.


Putri Song Jixi memiliki energi spiritual yang sangat kuat, kekuatan khususnya ini mampu mengendalikan pikiran seseorang. Jika dia sudah mengendalikan seseorang maka suatu hal yang tidak mungkin terjadi bisa saja terjadi. Jika dia ingin orang itu mati maka orang itu benar-benar akan mati.


Tapi dibalik kelebihannya juga ada kekurangan yang dia miliki, semakin sering ia menggunakan kemampuannya maka semakin sakit juga efek samping yang ia rasakan bahkan yang paling parahnya dia akan mati karena tidak bisa menahan rasa sakit yang dialami.


Maka dari itulah Kaisar tidak ingin melibatkan putrinya nanti jika seandainya peperangan itu benar-benar terjadi.


“Jika ayah masih melarangku, maka jangan salahkan aku nanti jika aku pergi mencari para pemberontak itu sendiri.” Ancam Song Jixi menatap ayahnya.


Mau tidak mau Song Ji Lian hanya bisa mengangguk menuruti perkataan gadis ketus itu. Setelah tidak berhasil membujuk sang putri, ia berjalan meninggalkan ruangan putrinya itu.

__ADS_1


Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan 🙏🙏!!!


__ADS_2