Pendekar Legenda

Pendekar Legenda
Festival bulan merah V (S1)


__ADS_3

Haii guys 🤗🤗!!!


Comeback lagi dengan Pendekar Legenda Ya? Hihihi !!!


Bagaimana pendapat kalian tentang novel ini? Tolong tuliskan segala pendapat kalian di bawah kolom komentar ya, guys!!!


Nah, jangan lupa Vote dan +ke favorit kalian hehehe…


**Untuk readers yang mengomemtari tentang novel yang membosankan dan juga MC yang aneh, saya sangat menyesal karena tidak bisa memuaskan hati kalian🙏🙏..


Untuk kedepannya akan saya usahakan menulis lebih baik dan menyesuaikan ekspektasi kalian🙂.


Saya benar-benar minta maaf jika novel saya ini mengganggu kalian dan tidak sejalan dengan keinginan kalian.


Saya hanya berharap agar saya bisa lebih memperbaiki alur cerita agar tidak membosankan.


Author sedih benar-benar sedih 😞 saat mendapat komentar kalian. Tapi author tidak akan putus asa, dan terus melanjutkan karya saya**.


Happy Reading!!!


Hari ketiga festival bulan merah. Para penonton dan peserta sudah hadir dilokasi pertunjukkan bakat. Semuanya berharap acara kali ini berjalan lancar tanpa ada kecurangan. Pria pembawa acara yang kemarin berlindung dari amukan warga juga kembali berdiri diatas panggung.


Para pejabat daerah juga ikut hadir dalam acara termasuk Kaisar sendiri. Tapi entah mengapa tak ada mata keluarga Chong yang terlihat disana. Mungkin karena Chong Yojin, putra pertama keluarga Chong tidak hadir disana.


“Selamat pagi semua, hari ini kita akan kembali melanjutkan acara pertunjukkan dari jenis seni bela diri. Saya akan menjelaskan beberapa hal yang harus diterapkan oleh peserta nanti.” Ucap si pembawa acara.


“Pertama bagi para peserta yang akan menunjukan keahlian dalam menggunakan panah, pedang, tombak, dan tongkat atau alat bertarung lainnya bisa menggunakan alat yang sudah disediakan. Lalu yang kedua bagi para peserta yang ingin bertarung nanti akan langsung dikumpulkan keseluruhan diatas arena pertarungan atau panggung ini sendiri. Nah jadi pemenang dari pengguna alat bertarung dan pemenang dari pertarungan akan di adu untuk menemukan pemenang paling akhir.” Ucarpnya lagi menjelaskan.


“Baik karena semua orang sudah tidak sabar, maka kita akan segera mulai pertunjukannya!” seru pembawa acara dengan semangat mendapat tepuk tangan dari para penonton dan peserta.


“Peserta nomor 13 silahkan maju!” ujarnya, selang beberapa saat kemudia seorang pemuda naik ke panggung. Ia membawa sebilah pedang ditangannya.


Peserta nomor 13 itu menunjukan seni pedang yang ia beri nama jurus pedang pembelah langit. Jurus yang ia tunjukan memiliki energi besar disetiap sentuhannya hingga tak sengaja memotong topi salah satu penonton membuat si penonton panic dan berteriak.


“Ahh, kepalaku hilang!!” teriak si penonton yang topinya terpotong.


“Bukan kepalamu, itu hanya topi.” Ujar kawan disebelahnya membuat yang lain tertawa renyah.


Pertunjukan pertamapun selesai dan waktunya peserta selanjutnya untuk menunjukan keahliannya.


“Peserta nomor 16 silahkan maju!” ujar pembawa acara namun peserta nomor 16 berkata;


“Saya tidak menunjukan keahlian dalam menggunakan alat bertarung, saya adalah petarung tinju.” Ujar pemuda nomor 16


“Baik kalau begitu giliranmu nanti di sesi kedua. Sekarang peserta nomor 19 silahkan maju!” ujar pembawa acara.


Seorang wanita muda maju keatas sana sambil membawa panah ditangannya. Wanita itu langsung mulai menunjukan keahliannya tanpa basa-basi. Ia memanah titik target yang sudah disediakan oleh pihak pengatur acara.


Sett… plak!!


Panahnya menancap tepat di titik sasaran membuat para penonton bersorak apalagi jarak wanita itu dengan target sasaran terbilang cukup jauh. Setelahnya wanita itu langsung turun tanpa menghiraukan tepukan tangan para penonton.


“Peserta selanjutnya nomor 22 silahkan naik keatas panggung!” ujar si pembawa acara.


Seorang pemuda gagah naik keatas sana sambil membawa tongkat kayu ditangannya. Ia menyebut dirinya sebagai Xiu.

__ADS_1


Xia mulai menunjukkan aksinya, memutar mutar tongkat itu dengan lincahnya barulah ia melakukan gerakan-gerakan yang lama-kelamaan semakin cepat. Ia berseru menyebutkan jurusnya.


“Tongkat sakti hempasan samudra!” seru Xiu dengan keras.


Udara disekitar Xiu perlahan berputar tak karuan, tongkat miliknya masuk dalam pusaran udara sedangkan ia mengendalikannya tanpa menyentuhnya membuat takjub para penonton.


“Wahh ternyata keahliannya cukup memuaskan.”


“Ia bisa mengendalikan tongkat itu dengan mudah”


“Bagaimana bisa menggerakan benda tanpa menyentuhnya?”


Setelah beberapa saat berdiam diri akhirnya seruan para warga kembali terdengar membuat riuh suasana pertunjukkan.


Sampai Xiu membuat tongkatnya naik ke atas beberapa meter dan kembali lagi ke tangannya. Penampilannya pun selesai.


“Wahh peserta kali ini cukup menarik ya kawan-kawan? Nah sekarang kita lanjut ke peserta selanjutnya dengan nomor 25.” Ujar si pembawa acara.


Lagi-lagi si pemuda nomor 25 ini menjawab hal yang sama seperti nomor 16 sebelumnya, mengatakan bahwa ia adalah peserta sesi kedua.


“Baik, sekarang peserta nomor 27 silahkan maju!” ujar si pembawa acara.


Kali ini seorang gadis mungil naik ke atas panggung sambil membawa sebuah kecapi membuat semua orang bertanya-tanya.


“Apa yang ingin dia lakukan?”


“Kenapa dia membawa kecapi, bukankan acara pertunjukan seni tari, nyanyian, dan music sudah berakhir?”


“Gadis itu? Apa dia salah alamat?”


“Mungkin ia lupa ingatan!”


‘jika dia jahat maka efeknya mengarah ke pendekar aliran putih, tapi jika dia baik maka para orang aliran sesat yang ada disini akan terkena efeknya dan semua akan kacau!’ batinnya.


Gadis mungil itu tak menghiraukan seruan para warga, si pembawa acara juga tidak berniat mencegahnya.


TENGG!! TRENG!!


Akhirnya gadis itu memainkan kecapinya. Awalnya semua biasa-biasa saja tapi lama kelamaan entah mengapa suara kecapi itu menyakitkan telinga orang-orang dari pendekar aliran putih termasuk Zhou Shiyue sendiri.


‘ternyata dia adalah lawan, bukan kawan!’ batinnya berkata sambil menahan efek permainan kecapi itu yang bercampur energi kegelapan.


Mendadak suasana menjadi kacau, para peserta yang belum tampil tak sadarkan diri tiba-tiba hanya ada kurang lebih 30 orang yang masih sadar dan tidak terkena efeknya.


Dibarisan penonton para warga merasa kepalanya pusing dan mata yang berat seakan tidak tidur selama berhari-hari.


“Semuanya waspada, dia adalah orang dari aliran sesat!!” teriak seorang pria yang mengenakan baju zirah. Dia adalah Jendral Kwan Wu, jendral nomor tiga dari 4 Jendral Kekaisaran.


(Untuk penjelasan tentang kedudukan di istana nanti di jelaskan di bawah)


Tentu mendengar perkataan Jendral Kwan Wu semua warga menjadi panic, berhamburan kemana-mana menuju tempat perlindungan.


“Cepat pergi dan cari bala bantuan ke sakte gunung bunga persik!” perintah Kaisar menyuruh kasim disampingnya.


“Baik Yang Mulia!” pria pengirim pesan secepat kilat itupun pergi menuju sakte gunung bunga persik yang bisa ia tembus dalam 1 jam.

__ADS_1


Para pejabat yang memiliki pengawal masing-masing juga turut menyuruh mereka untuk menangkan gadis kecil yang belum juga menghentikan permainan kecapinya.


Namun disaat keadaan masih kacau, tiba-tiba terdebgar suara jeritan yang cukup keras.


“Arrggghhh!!” jeritan itu berhasil membuat semua orang menatap ke sumber suara yang ternyata berasal dari Jing Zishu yang terkena panah di dada bagian kanannya. Bersyukur tidak langsung mengenai jantung jika tidak mungkin Jing Zishu tidak bisa diselamatkan.


Zhou Shiyue yang tadinya masih mengamati keadaan kini beralih menuju Jing Zishu yang terkena panah. Ia sangat khawatir melihat temannya itu.


“Biarkan aku membawanya paman!” ujarnya kepada Jing Shima yang memegangi putranya.


“Siapa kau?” Jing Shima tidak memberikannya begitu saja.


“Aku kenal dia ayah, biarkan dia membawaku!” ujar Jing Zishu sambil menahan sakit.


“Kalau begitu aku percayakan putraku, jika terjadi apa-apa kau akan tau akibatnya!” ucap Jing Shima menyerahkan putranya.


Zhou Shiyue tentu saja secepat kilat membawa Jing Zishu menjauh dari kerusuhan. Ia meminta Jing Zishu untuk menunjuk arah kediaman pemuda itu. Setelah beberapa saat mereka sampai di depan mansion keluarga Jing.


“Pengawal, tolong segera obati Zishu. Dan terapkan pengawasan agar tidak ada yang bisa masuk ke wilayah kediaman.” Ujarnya saat melihat beberapa orang terlihat panik melihat kondisi Jing Zishu yang terluka parah.


“Bertahanlah dan istirahat disini, aku ingin kembali membantu yang lain.” Ucapnya pada Jing Zishu saat menyerahkan Jing Zishu pada para pengawal keluarga Jing.


“Tolong lindungi keluargaku” ucap Jing Zishu sebelum perlahan menutup kedua matanya.


Zhou Shiyue hanya mengangguk, ia tau kalau kawannya itu terluka, tapi ia juga lebih tahu betapa bahayanya para warga yang masih di lokasi kerusuhan. Ia kembali ke lokasi tempat kekacauan terjadi.


Sesampainya disana, ia melihat banyak darah yang sudah mengalir. Sekitar 100 orang berpakaian hitam menyerang para warga yang tidak bersalah, tapi beruntungnya beberapa pendekar aliran putih dan Kaisar sendiri berhasil melawan mereka meski sudah banyak korban yang terbunuh.


Zhou Shiyue bergegas menyelamatkan para warga yang masih selamat. Ia memandu beberapa orang untuk masuk ke dalam sebuah rumah yang kelihatannya terbengkalai. Lalu menyuruh mereka untuk tidak mengeluarkan suara sampai ia kembali.


Saat sudah menyelamatkan beberapa warga, ia kembali menyelamatkan warga lainnya yang masih berlaria kocar-kacir untuk menghindari panah yang mengincar mereka.


‘ternyata ini yang mereka rencanakan.’ Batinnya mengingat ia menemukan kelompok pemanah waktu itu.


“Kalian semua, ayo lewat sini!” ia memanggil para warga yang berlarian itu sampai para warga melihat kearahnya dan berlari secepat mungkin menghindari anak panah yang selalu siap membunuh mereka.


Ia kembali mengantar beberapa orang itu ke rumah terbengkalai tadi. Saat sampai disana ia mengetuk pintu dan berkata bahwa dia penyelamat mereka tadi jadi para warga yang didalam tak perlu waspada. Saat warga di dalam membuka pintu warga yang baru di bawa Zhou Shiyue pun langsung masuk ke dalam dan mengunci pintu saat Zhou Shiyue pergi.


Zhou Shiyue terus melakukan hal yang sama ke beberapa warga yang lainnya sampai ia berhasil menyelamatkan kurang lebih 400 orang warga yang ia sembunyikan di beberapa rumah yang tidak terurus.


Saat kembali di lokasi, Zhou Shiyue hanya bisa menghela nafas berat sebab sudah banyak korban yang berjatuhan bahkan dari aliran putih sekalipun meski kekacauan baru terjadi kurang lebih dua jam.Ternyata festival kali ini benar-benar kejutan yang luar biasa.


Kaisar dan Jendral Kwan Wu masih bertahan bersama beberapa orang aliran putih. Melihat itu sebenarnya Zhou Shiyue masih bertanya-tanya, kemana para pendekar aliran putih yang ahli? Apa mereka tidak menghadiri festival? Apa orang-orang dari sakte besar tidak diundang?


Zhou Shiyue sungguh merasa heran tapi ia tak bisa berdiam diri saja saat tiga orang pria paruh baya ingin mengeroyok Kaisar.


“Woy tua bangka, sudah tau tua masih saja main keroyokan.” Ucap Zhou Shiyue sambil mendarat ditengah-tengah Kaisar dan tiga orang itu.


“Anak muda apa yang kau lakukan?” Kaisar mengernyit, ia tak ingin ada lagi korban yang harus gugur.


Disisi lain Jendral Kwan Wu juga tak bisa berbuat banyak untuk melindungi Kaisarr karena saat ini ia sedang bertarung melawan pria berjubah hijau yang bisa mengendalikan tanaman sekitar.


“Tenang saja Kaisar, kita berdua akan menghadapinya bersama.” Ujar Zhou Shiyue dengan formal.


“Baiklah kalau begitu” Kaisar hanya bisa mengiyakan karena keadaan sedang tidak baik. Beruntung putrinya sudah ia titipkan kepada para pejabat yang mau pergi dari lokasi kekacauan.

__ADS_1


Beberapa pendekar aliran putih yang masih bertahan dari suara kecapi gadis kecil tadi kini sedang berhadapan dengan gadis kecil si pencipta kekacauan.


Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan !!!


__ADS_2