Pendekar Legenda

Pendekar Legenda
Gejolak Ibukota I (S1)


__ADS_3

Malam tiba,


Bulan bersinar sangat terang, cahayanya berhasil membuat seseorang terpana hanya dalam sekali lihat.


Kaisar sedang menikmati indahnya bulan itu, ia duduk tenang diatas tembong gerbang istana sambil memandang langit.


Sayup-sayup ia mendengar jejak manusia yang sangat banyak, semakin dekat dan semakin jelas. Apakah itu benar-benar suara jejak manusia? Atau hanya halusinasinya?


Tidak mungkin!!!


Kaisar menyipitkan matanya kala ia melihat cahaya-cahaya merah kekuningan dari kejauhan, seperti kunang-kungan namun itu tampak semakin besar seiring berlalunya waktu.


Sampai ia membulatkan matanya karena sadar akan apa yang ia lihat.


Itu serangan!!!


“Semuanya, musuh telah datang! Mereka menyerang!” Ujar Kaisar dengan suara dalam membuat para prajurit yang masih terjaga kini terperanjat kaget.


Swushhhh


Swushhhh


Swushhhh


Swushhhh….


Angin dingin menerpa kulit, 4 bayangan secepat kilat berlutut dibawah Kasar. Mereka adalah 4 Jendral Kekaisaran.


“Jendral pertama siapkan anggota pemanah diatas gerbang, saat musuh berjarak 200 meter maka segera lepaskan panah tanpa henti.” Ujar Kaisar


“Baik.” Jendral pertama langsung meninggalkan barisan karena sudah mendapat tugas.


“Jendral Kedua bawa 30.000 anggota keluar gerbang dan tahan mereka yang ingin menerobos masuk.” Ujar Kaisar lagi.


“Baik.” Jendral kedua langsung bergerak.


“Jendral ketiga, ambil posisi dibagian belakang gerbang dengan seluruh pasukkan yang tersisa. Jika saja para musuh berhasil membobol gerbang maka jangan ragu serang mereka saat mereka berhasil masuk.” Ujar Kaisar.


“Baik.” Jendral ketiga pergi dan melakukan tugasnya.


“Dan Jendral keempat, bunyikan lonceng perang yang ada di atas Menara Xujo. Dengan begitu, seluruh pendekar akan tau bahwa ibukota sedang diserang. Dan bala bantuan akan segera datang.” Ujar Kaisar.


“Baik Yang Mulia.” Zhou Shen Shi langsung pergi menuju Menara Sujo yang ada di tengah Kota Bejing/Ibukota Kekaisaran.


Sedangkan Kaisar sendiri, kini ia berjalan memasuki salah satu ruangan rahasianya yang sebelumnya pernah ia masukki bersama Zhou Shiyue.


Ia memakai baju zirah lengkap dan mengambil sebuah tombak yang ditaruh diatas meja. Ia juga mengambil sepasang pedang dan juga panah.


Setelah siap, ia kembali berjalan keluar ruangan. Saat sampai di halaman istana, ia melihat seluruh prajurit berjuang demi kedamaian rakyat dimasa depan.


Matanya menyipit saat tak sengaja melihat seorang gadis mengenakan pakaian pria sedang berdiri diatas gerbang menatap lantang para pemeberontak yang mungkin sudah dekat.


“Siapa itu?” gumamnya.


Kaisar lantas langsung melompat keatas gerbang dan menghampiri gadis berpakaian pria itu. Ia membelalakan matanya saat tau siapa orang itu.


“Astga Jixi, apa yang kamu lakukan?” ujar Kaisar kaget

__ADS_1


“Apa? Aku hanya menunggu orang jahat itu” ketusnya


“Cepat bersembunyi didalam, jangan diluar.” Ujar Kaisar ingin menarik putrinya memasuki area yang aman.


“Tidak, aku tidak mau.” Song Jixi menjauhkan dirinya dari sang ayah, ia juga menatap datar ayahnya itu.


“Huffttt!! Kenapa kamu susah sekali mengerti?” Kaisar sudah kehabisan akal, putrinya itu sangat keras kepala.


“Makanya biarkan aku ikut campur dalam masalah ini, jika tidak aku akan masuk dalam barisan paman jendral kedua.” Ancamnya lagi membuat Kaisar tak bisa berkutik.


“Baiklah kalau begitu, ambil ini.” Kaisar memberikan sepasang pedang yang ia ambil dari ruangan rahasia tadi.


“Ini?” Song Jixi tampak terkejut saat melihat pedang itu.


“Itu adalah pedang kakekmu, aku pernah sekali menujukkan padamu bukan?” Kaisar menajawab pertanyaan yang ada diwajah anaknya itu.


“Akhirnya kau bisa menggunakannnya.” Song Jixi menunjukkan wajah bahagianya, dan itu terlihat sangat menggemaskan.


‘Semoga hari ini dia baik-baik saja.’ Ujar Kaisar dalam hati sambil melihat putrinya.


Disisi lain.


DONGGGGGG…..


DONGGGGGG…..


DONGGGGGG…..


Para penghuni Sakte Gunung Bunga Persik langsung terperbangun dari tidur nyenyak mereka saat nendengar lonceng ibukota, tanpa terkecuali para tetua sakte itu sendiri. Namun seorang pemuda gagah sedang terlihat santai bahkan ada senyum miring dibibirnya.


Mye Jing Chen langsung membangunkan seluruh penghuni sakte yang masih tertidru, saat semua sudah berkumpul ia berkata dengan serius.


Dengan batu teleportasi, seluruh penghuni sakte itu langsung tiba di ibukota tanpa membutuhkan waktu yang banyak.


Tanpa terkecuali Zhou Shiyue itu sendiri.


Tak beda jauh dengan Sakte Gunung Es Utara, pria tua Bing Qiuran itu sudah mengumpulkan seluruh anggota saktenya. Setelah semua berkumpul baru mereka pergi ke ibukota dengan batu teleportasi terakhir yang mereka miliki.


Setiap sakte memang memiliki batu teleportasi tetapi itu juga terbatas. Paling banyak sakte akan memiliki kurang lebih 3 butir batu teleportasi. Jika sudah habis maka mereka tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengikhlaskan batu teleportasi yang sudah digunakan.


Batu teleportasi atau sebuah batu yang mampu memindahkan suatu objek dengan jumalah tak terbatas, itu dibuat oleh seorang sesepuh misterius yang kini keberadaannya sudah tidak ditemukan, entah mati atau hidupnya juga tidak diketahui.


Kembali ke ibukota,


“Seranggggg!!!” seru Yun Yilan pada seluruh orang dipasukkannya.


Mereka semua maju dengan tatapan ganas, tak ada rasa takut dimata mereka. Nafsu pembunuhan telah menyelimuti hati nurani mereka.


Pasukkan Jendral pertama yan ada diatas gerbang kini telah melayangkan panah mereka. Ribuan panah tak terhitung terus menargetkan musuh.


Syutttt


Syutttt


Syutttttt…


Panah terus menyerang siapapun yang melangkah maju, tak ada jeda panah itu membuat pasukkan pemberontak harus kehilangan kurang lebih seribu orang.

__ADS_1


Tak ingin kalah saing,


Yun Yilan memandu pasukkannya untuk mengarahkan tameng mereka keatas kepala dan membentuk kombinasi agar tak ada celah bagi panah musuh.


“Hentikan serangan kalian, itu sudah tidak ada gunanya.” Perintah Jendral pertama pada anggota pemanahnya.


“Sekarang turun dan ambil pedang dan juga tameng kalian, kita akan ikut masuk dalam barisan Jendral kedua.” Perintahnya lagi,


“Baik” seluruh pasukkan pemanah langsung mematuhinya.


Didepan sana,


Jendral kedua yang berdiri paling depan menatap sengit musuh-musuhnya, terutama tiga orang itu.


“Yun Yilan, Zhi Ruei, dan Yi Zhang He. Besok adalah hari penguburan kalian.” ujarnya dengan menatap marah tiga orang itu.


“SERANGGGG!! SEMUANYA BUNUH PENGKHIANAT ITU!! MEREKA TIDAK PANTAS HIDUP!! MEREKA SUDAH MENGOTORI TANAH AIR KITA, BUNUH MEREKAAA!!” Teriaknya dengan keras, ia sudah diselimuti api amarah yang besar.


“SERANGGGGG!!” Teriakan pasukkan Kekaisaran dan pemeberontak bersamaan.


SRENGGGG….


TRINGGG..


TENGGG..


JLEB…


SWUTTT.


SYIIITTTTT…


Bunyi dentingan pedang tak terhindari lagi, bahkan beberapa pasukan dipihak lawan dan rekan juga sudah mulai terkena luka. Meski terluka para pasukkan istana belum menyerah, mereka mengirim serangan-serangan sebanyak hyang mereka bisa selagi mereka belum mati sepenuhnya.


“Arghhh..”


“Hari ini, aku bersumpah meski mati aku akan mati dengan hormat,”


“Pengkhianat tidak layak untuk hidup!”


“Mereka harus mati, Matiiiii!!!”


“Habisi mereka semua!!!”


Teriakan kemarahan dan jeritan kesakitan tak terhindari lagi. Di kejauhan Kaisar dan Putri telah beranjak memasuki peperangan, mereka membawa alat bertarung mereka dengan erat.


“Akhirnya aku menunjukkan keahlianku disaat seperti ini.” Gumam Sing Jixi yang tidak percaya keahlian bertarungnya akan ia praktekkan langsung dipeperangan.


“Putriku, jika keadaan tidak bisa dikendalikan lagi maka segera pergi tinggalkan tempat ini.” Ujar Kaisar dengan serius sebelum benar-benar sampai dipulau pertarungan itu.


Song Jixi mengabaikannya, ia terus meleset tanpa menghiraukan perkataan ayahnya yang selalu berucap seperti orang yang akan mati.


Akhirnya ayah dan anak itupun sampai ditengah pertarungan, baru mendarat disana mereka sudah disuguhi banyaknya musuh yang menyerang mereka. Tapi mereka bukan orang lemah, mereka juga petarung ahli meski jarang bertarung.


Meski Putri Song Jixi juga pertarung setingkat Kaisar, gadis itu juga masih kurang berpengalaman tentu saja ia juga merasa sedikit kerepotan saat melawan 5 orang sekaligus.


Meski begitu gadis ini tetap melayangkan pukulan-pukulan dan serangan mautnya. Beberapa sayatan pedang kembarnya berhasil membunuh musuh-musuhnya yang mendekat.

__ADS_1


Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan😊 !!!


__ADS_2