
“Jendral Keempat berhati-hatilah, mereka bukan musuh yang mudah.” Ucap Kaisar dengan serius.
Jendral Keempat mengangguk tak kalah serius, mereka berduapun semakin menggenggam erat senjata mereka.
Disisi lain,
Yun Yilan dan Yun Yunzhi sama-sama terluka parah, mereka berdua terkapar ditanah. Namun tatapan kebencian dimata mereka belum juga padam.
“Sebenarnya apa salahku? Kenapa kau selama ini membenciku?” Yun Yilan akhirnya membuka suara dengan tatapan sedih dan marah.
“Karena kau membunuh ibu. Saat kau lahir ibu harus mati setelah melahirkanmu.” Ujar Yun Yilan dengan tatapan penuh kebencian.
“Kau membenciku karena itu? Apa kau pikir waktu lahir aku bisa berpikir dan mencerna keadaan? Jika aku bisa maka aku berpikir untuk bunuh diri di dalam perut ibu demi dia. Tapi nyatanya apa? Aku hanya seorang bayi yang tidak bisa berbuat apa-apa.” Ujar Yun Yunzhi dengan mata memerah.
“Aku bahkan tidak pernah merasakan sentuhan tangannya.” Yun Yunzhi menundukkan wajahnya dengan air mata yang mengalir deras.
Yun Yilan melihat adiknya menangis ada rasa nyeri dihatinya namun saat kembali mengingat ibunya yang mati ia kembali membenci adiknya itu.
“Kalau begitu pergi saja bunuh aku agar masalah kita berakhir dank au bisa membalaskan dendammu.” Ujar Yun Yunzhi dengan pasrah sambil melempar pedangnya.
Yun Yilan yang dibutakan oleh amarah kini menatap sengit adiknya itu dan berlari dengan sisa tenaga kearah Yun Yunzhi yang masih terduduk.
Yun Yilan mengangkat pedangnya keudaraa, matanya tertutup dan air matanya juga mengalir deras. Lalu saat mata pedang hampir memenggal kepala Yun Yunzhi,
Tringgggg…
Pedangnya jatuh ketanah.
Yun Yunzhi yang merasa ada yang aneh ia membuka matanya dan melihat kesamping tempat pedang Yun Yilan terjatuh. Lalu,
Brukkkk…
Yun Yilan memeluknya dengan air mata yang mengalir deras.
“Maafkan aku! Maafkan aku, adikku!!!” Yun Yilan menangis kejar sambil memeluk adiknya, Yun Yunzhi.
Yun Yunzhi tidak tau harus bereaksi apa, ia hanya menangis dalam rengkuhan kakaknya. Saat mendengar ucapan Yun Yilan yang penuh penyesalan hatinya menjadi sedih dan bersyukur dalam satu waktu.
“Selama ini aku egois, aku merasa sedih karena kehilangan ibu dan melempar semua kesalahan padamu tapi nyatanya kau bahkan tak pernah merasakan kasih sayangnya.” Ujar Yun Yilan dengan suara parau.
Yun Yunzhi tak menyahut, ia hanya menatap kosong sekitarnya. Saat ia melihat bayangan seseorang yang meleset cepat ingin menusuk punggung Yun Yilan. Ia terkesiap dan langsung memutar tubuhnya melindungi Yun Yilan.
“Arggghhhhhhh!!!” Yun Yunzhi berteriak keras kala tombak runcing itu menancap dipunggungnya.
Yun Yilan terkejut, ia lantas melepaskan pelukkannya dan melihat apa yang terjadi. Ia merasa sangat marah saat sebuah tombak menancap dipunggung adiknya.
“Jika aku mati hari ini tolong antar mayatku pada keluargaku, dan aku menitipkan Lin Hua dan Xiao Ai padamu.” Ujar Yun Yunzhi dengan terbata, dan perlahan matanyapun tertutup rapat.
__ADS_1
“Tidakk!!! Yunzhiii bangunn!!! Yunzhi lihat aku, aku tidak akan menyakitimu lagi…” Yun Yilan menggoyangkan tubuh adiknya dengan air mata deras, ia kembali merengkuh adiknya itu dengan penuh kesedihan dan penyesalan.
Setelah beberapa saat akhirnya Yun Yilan memejamkan mata dan menarik nafas panjang. Ia kembali membuka matanya, kini sorot mata penuh dendam terpampang jelas dimatanya.
“Lou Tian!!!” geramnya melihat pria jangkung berparas tampan, meski sudah paruh baya tapi tak bisa dipungkiri pria itu memang tampan.
(Luo Tian adalah kakak seperguruan Yun Yunzhi dimasalalu, jika lupa simak kembali episode 23 tentang tiga saudara seperguruan.)
“Aku tidak berniat membunuhnya, kaulah yang ingin aku bunuh tapi dia malah mengorbankan dirinya untuk kakak yang selama ini ingin membunuhnya.” Ujar Luo Tian, ya pria itu memang sudah mengetahui seluk beluk hubungan kakak beradik itu.
Setelah sekian lama menjalani latihan tertutup, akhirnya Luo Tian menampakkan dirinya.
“Kak Yilan selamatkan saja Yunzhi, biar aku yang menghadapinya.” Seseorang tiba-tiba muncul disana.
Sang Yu? Luo Tian mengernyitkan keningnya seolah merasa familiar dengan pria berjubah hijau itu.
(Pria berjubah hijau yang bertarung melawan Yun Yunzhi di episode 22, Sang Yu juga adalah adik seperguruan Luo Tian.)
“Kauuu??” Luo Tian membelalakan matanya saat melihat Sang Yu menganggukkan kepala.
“Ya, aku Sang Yu.” Ujarnya.
“Kau pembunuh guru, kau akan mati hari ini.” Ujar Luo Tian dengan api amarah membara.
“Jangan munafik, kaulah yang telah membunuh guru.” Ujar Sang Yu merasa jijik dengan kemunafikan Luo Tian.
“Kau lupa saat itu kau meracuninya!” ujar Luo Tian menyangkal
“Bukan aku yang memberikannya, itu Yunzhi.” Jawab Luo Tian tak kalah sengit.
“Aku tidak percaya, itu pasti kau.” Ujar Sang Yu tak ingin mempercayai Luo Tian.
Kedua saudara seperguruan itupun akhirnya melepaskan serangan mereka. Yang satu dengan tombaknya dan yang satu lagi dengan keahlian pengendali tanaman.
Ada yang mau tau dimana MC kita?
Dari kejauhan Zhou Shiyue melihat Lima Ksatria Bayang bertarung melawan Kaisar dan kakaknya. Ia menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas pertarungan mereka.
Zhou Shiyue membelalakan matanya saat melihat kakaknya terhempas puluhan meter dengan darah segar yang keluar di mulutnya.
Zhou Shiyue langsung menghampiri mereka, awalnya ia ingin langsung memanggil Jendral Keempat itu dengan panggilan ‘kakak’ tapi niatnya ia urungkan mengingat dirinya sedang menyamar.
“Apa kau tidak apa-apa?” ia membantu kakaknya itu untuk bangun.
“Tidak, tapi Kaisar.” Jendral Keempat mengernyit bingung merasa familiar, namun tatapan matanya kembali tertuju pada Kaisar yang saat ini sedang dikepung oleh Lima Ksatria Bayang yang tidak menggunakan jurus kagebusin.
“Biar aku menolongmu dulu, aku akan membantu Kaisar setelah itu.” Ujar Zhou Shiyue, lantas ia langsung membawa Zhou Shen Shi ke dalam Istana karena saat ini Istana menjadi tempat paling aman di Ibukota.
__ADS_1
“Tolong rawat dia, lukanya cukup ddalam tapi tidak separah Song Jixi. Jadi cukup beri dia obat luka dalam saja” ujar Zhou Shiyue pada seorang prajurit.
“Baik tuan.” Ujar prajurit itu patuh.
Setelah menatap mata kakaknya sebentar, ia pun berbalik menuju tempat dimana Kaisar berada.
‘dia terasa sangat akrab bagiku’ batin Zhou Shen Shi merasa familiar.
BOOOMMMMM…
BOOOMMMMM…
BOOOMMMMM…
Ledakkan beruntun terdengar sampai Istana, Zhou Shen Shi mengerutkan keningnya namun juga cemas.
Di luar,
Tiga orang pria senja datang dari arah timur dengan serangan-serangan yang dahsyat. Merekalah yang membuat ledakkan itu terjadi.
Zhou Shiyue merasa ada yang tidak beres dengan ketiga orang itu, ia lantas mempercepat langkahnya kala melihat Kaisar yang ingin diculik oleh tiga pria senja itu.
Kelihatannya Kaisar tidak berdaya dan tidak mampu melawan tiga pria senja itu makanya dengan mudah dibawa oleh mereka.
“Berhenti!!!” ujar Zhou Shiyue pada tiga pria senja itu, membuat ketiganya berbalik menatap Zhou Shiyue.
“Dia berada ditingkat suci, biar aku yang mengurusnya.” Ujar salah satu pria senja.
Sisanya, kedua pria senja tadi ingin melanjutkan langkah mereka membawa Kaisar yang berada dalam kendali mereka.
“Sudah ku bilang berhenti, lepaskan Kaisar!” ujar Zhou Shiyue menatap tajam mereka.
Merasa tak dihiraukan, lantas Zhou Shiyue langsung menembakan energi petir pada dua pria senja yang kembali melanjutkan langkahnya itu.
BOMMMMM…
Langit menyambar mereka dan Kaisar terlepas dari genggaman, lantas ia mendekati Kaisar dan melindunginya.
“Dia bukan pendelar suci biasa.” Ujar ketiga pria senja itu dengan terkejut.
“Kalian, tolong jaga tubuh Kaisar.” Perintah Zhou Shiyue pada beberapa prajurit Kekaisaran.
“Baik.” Jawab mereka kompak.
Zhou Shiyue pun dengan lega meninggalkan Kaisar, kini ia menatap tajam ketiga pria senja itu.
“Pendekar Mahayana! Harusnya kalian fokus pada tahap keabadian, kenapa ikut campur?” Zhou Shiyue berkata dengan nada tidak suka.
__ADS_1
Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan🙏🙏 !!!
Maaf ya kemarin gak up🙏🙏🙏