
Di lokasi peperangan,
Kaisar tersenyum kecil saat melihat gelombang manusia yang masih jauh dari pandangan. Ia yakin bahwa gelombang manusia itu adalah bala bantuan dari aliran putih yang setia pada Kekaisaran.
Sedangkan Zhi Ruei dan Yi Zhang He yang kini berhadapan dengan Jendral Pertama dan Kedua. Mereka bertarung sengit, tak ada dari mereka yang mengungguli pertarungan.
Sedangkan Jendral Keempat sudah kembali ke Istana, saat melihat Kaisar yang bertarung melawan tiga pendekar sekaligus ia langsung menghampiri mereka.
“Peperangan sudah tidak bisa dikendalikan, banyak pasukkan kita yang gugur. Panggil Jendral Ketiga untuk keluar gerbang dengan pasukkannya.” Kaisar langsung menyuruh kakak Zhou Shiyue itu untuk memerintah Jendral Ketiga.
Mau tidak mau Zhou Shen Shi menuruti perkataan Kaisar. Niatnya pun terpaksa diurungkan, ia meleset cepat diudara melintasi para prajurit yang sedang bertarung. Setelah sampai diatas gerbang barulah ia melompat turun kebawah.
“Kaisar memerintahmu untuk membawa pasukkan keluar istana membantu yang lain karena keadaan sudah tidak bisa dikendalikan.” Ujar Zhou Shen Shi to the point.
Jendral Ketiga mengangguk, ia menyuruh dua orang prajurit untuk membuka gerbang. Setelah terbuka lebar mereka semua memelototkan mata melihat pemandangan yang terlihat.
Banyak prajurit Kekaisaran Han yang gugur dengan kondisi tragis, bahkan banyak dari mereka mati dengan tubuh terpisah. Sungguh sangat menyakiti hati mereka.
“Saudara kita telah gugur dibunuh oleh pemberontak itu, ayo balaskan dendam mereka.” Ujar Jendral Ketiga dengan penuh tekanan.
Para prajurit itu menatap prihatin saudara seperjuangan mereka yang sudah tak bernyawa. Denga api amarah yang membara mereka maju tanpa ragu menyerang pasukkan musuh.
Melihat prajurit Kekaisaran Han yang mengamuk, para pasukkan musuh menatap dengan takut dan ragu alhasil mereka terbunuh dengan mudah.
“Ayo teruskan, balaskan dendam kawan kita.” Teriak Jendral Ketiga memberi semangat juang pada rekan-rekannya.
“Bunuhh merekaaaaa…. Bunuhhhhh!!!!” sontak para prajurit semakin bersemangat ingin membunuh pasukkan musuh.
Ribuan pasukkan musuh mati dengan mudah, tak satupun dari mereka berhasil hidup saat para prajurit yang dipimpin Jendral ketiga menyerang.
“Mereaka orang gila, hindari mereka.” Ujar salah satu pasukkan musuh dengan ketakutan, namun naas setelah berucap ia mati dengan kepala menggelinding ketanah.
“Bagus, pengkhianat pantas mati. Ayo bunuh…” teriak Jendral Ketiga menyemangati, ia sendiri juga membunuh puluhan musuh ditangannya.
Sedangkan Jendral Keempat kembali pergi menuju lokasi Kaisar. Sesampainya disana,
“Jangan ikut campur, jika kau mati aku tidak tau bagaiaman reaksi anak itu.” Ujar Kaisar bermaksud pada Zhou Shiyue.
“Dia akan marah jika tau aku takut mati.” Ujar Jendral Keempat menjawab tanpa bersopan santun lagi karena tidak ada waktu untuk membahas hal yang tidak penting.
Kaisar ingin membantah namun tiga pendekar suci itu langsung menyerang dirinya dan Zhou Shen Shi hingga membuatnya tak ada waktu mengusir Jendral Keempat itu.
__ADS_1
Disisi lain,
Putri Song Jixi harus berhadapan dengan seorang pendekar suci wanita dari Kekaisaran Tang.
“Jika saja kau berpihak pada kami mungkin nyawamu akan selamat bahkan Kaisar bisa saja menjadikanmu permaisurinya.” Ujar pendekar suci perempuan yang bernama Ningning.
“Jangan bermimpi!” ketus Song jixi menatap Ningning.
“Wajah cantik mulut pedas, harus diberi pelajaran.” Ujar Ningning dengan kesal.
“Silahkan saja.” Ujar Song Jixi tersenyum sinis.
Ningning menyerang Song Jixi dengan selendangnya, namun beberapa kali menyerang serangannya selalu ditangkis oleh gadis cantik itu.
“Awalnya aku ingin membawamu pulang, tapi melihatmu yang begini aku rasa kau pantas mati.” Ujar Ningning merasa kesal saat melihat wajah ketus Song Jixi.
“Coba saja.” Sinis Song Jixi membuat musuhnya semakin kesal.
“Selendang Shiuwan Shin” ujar Ningning menggumamkan jurusnya.
Song Jixi merasa ada yang tidak beres denga serangan itu, belum sempat ia berpikir. Saat ia ingin menangkis serangan itu dirinya terlempar kebelakang puluhan meter dengan darah segar yang menetes disudut bibirnya.
Merasa lebih baik, Song Jixi langsung memfokuskan energinya lalu mencoba mengambil alih pikiran wanita itu. Namun karena perbedaan kekuatannya, ia jadi tak mampu mengendalikan pikiran wanita itu.
“Dia memiliki kemampuan spiritual yang langka, aku harus membawanya.” Gumam Ningning saat menyadari kemampuan Song Jixi.
Perlahan Ningning berjalan mendekati Song Jixi yang masih duduk ditanah dengan luka dalam yang cukup parah.
Karena tidak berhasil mengendalikan wanita itu, akhirnya dirinya mengendalikan para pasukkan musuh yang bertarung. Ia berhasil mengendalikan mereka dengan jumlah 20 orang lebih. Jumlah yang cukup banyak itu menyerang Ningning secara bersamaan.
“Kemampuannya itu sangat menyebalkan.” Ujar Ningning sambil menghadapi 20 orang rekannya yang saat ini sedang dikendalikan.
“Energiku sudah terkuras banyak.” Gumam Song Jixi, ia merasakan sakit yang luar biasa didadanya.
Perlahan pandangan matanya menjadi gelap, namun samar-samar ia melihat seorang pria bertopeng yang mengenakan pakaian hitam dan merah merengkuhnya dalam pelukkan.
‘Pahlawanku’ batinnya.
Putri Song Jixi pun benar-benar tak sadarkan diri didalam pelukkan seorang pria bertopeng yang saat ini membawanya masuk ke dalam Istana.
“Jaga dia, dan jangan biarkan nafasnya berhenti.” Ujar pria bertopeng itu pada beberapa prajurit yang masih ada di dalam istana.
__ADS_1
“Tuan Putri!!!” seru mereka kaget saat melihat siapa wanita yang terluka itu.
“Alirkan energi kalian padanya, sebisa mungkin buat dia agar tetap memiliki nafas.” Ujarnya lagi.
“Baik tuan, terima kasih.” Ujar prajurit itu.
Pria bertopeng itu mengangguk, lalu pergi kembali ke lokasi peperangan. Tentu kalian bisa menebak siapa pria itu kan? Siapa lagi kalau bukan MC kita heheh.
Zhou Shiyue melihat prajurit Kekaisaran Han yang kini tersisa kurang lebih 10.000 orang sedangkan pasukkan musuh masih berjumlah kurang lebih 20.000 orang. Perbedaan jumalah itu sangat berat bagi prajurit Kekaisaran Han yang saat ini berusaha penuh agar bisa membunuh sebanyak-banyaknya musuh.
Tapi wajah semua prajurit Kekaisaran Han kembali bercahaya saat melihat gelombang manusia yang ada dibelakang pasukkan musuh.
“Mereka orang aliran putih, mereka datang. Bala bantuan sudah tiba!!!” seru beberapa orang dengan senang.
“Bunuh siapapun yang memberontak, meski mereka adalah bagian dari kita sebelumnya. Jangan ragu, bunuh mereka sampai habis.” Ujar Mye Jing Chen sebelum anggotanya pergi menyerang.
“Baik tetua!” ujar mereka dengan semangat.
“Kalau begitu, seranggggg!!!!” seru Mye Jing Chen memandu anggotanya.
Gelombang manusia itupun maju menyerang pasukkan yang ada didepan mereka. Para pasukkan musuh sangat kaget saat melihat ada banyak musuh dibelakangnya.
Disisi lain,
Bing Qiuran juga sudah tiba dilokasi peperangan. Mereka datang dari arah kanan peperangan. Pasukkan musuh semakin tertekan saat melihat banyaknya musuh yang mengepung mereka.
Meski jumlah anggota sakte aliran putih yang jumlahnya seribu dua ribu saja, namun tetap saja mereka adalah anggota terlatih setingkat langit dan Kaisar. Berbeda dengan paasukkan musuh yang merupakan prajurit Kekaisaran Tang yang tidak berkultivasi dan hanya mengandalkan keahlian bertarung mereka saja.
Keadaan kembali berbalik,
Kekaisaran Han mengungguli pertarungan. Yun Yilan dan rekan-rekannya berwajah pucat saat melihat kedatangan para ketua dan tetua Sakte Gunung Es Utara yang konon katanya sangat kuat.
Tak hanya kelompok Yun Yilan saja, para pendekar suci dari Kekaisaran Tang itu juga merasa tertekan saat melihat musuh setingkat mereka semakin berdatangan.
Bahkan Kaisar dan Jendral Keempat juga mendapat bantuan dari Mye Jing Chen dan Bing Qiuran.
Sedangkan Ningning harus berhadapan dengan Mye Ai. Tak beda jauh dengan Zhi Ruei dan Yi Zhang He yang kini dihadapkan oleh Yi Heng dan tiga orang Jendral.
Yun Yilan sendiri kini kembali berhadapan dengan adiknya, Yun Yunzhi.
Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan🙏🙏 !!!
__ADS_1