
2 Minggu setelah musnahnya tiga partai sesat.
“Maaf Kaisar, saya merasa keberatan atas apa yang telah terjadi. Kenapa anda tidak memberitahu kami tentang rencana yang sebenarnya?” Yun Yilan berkata sambil menahan emosinya.
“Ya, andai anda memberitahu kami semua maka akan lebih mudah bagi kita memusnahkan orang jahat itu. Dan tidak perlu membuang-buang waktu dan tenaga kami pergi ke wilayah timur.”
Beberapa orang mulai mempermasalahkan Kaisar dan tidak terima karena merasa dibodoi, namun semuanya kembali bungam saat Kaisar menjawab
“Jika aku memberitahu kalian, lantas taukah kalian semua keberadaan tiga partai itu? Mereke bersembunyi di ibukota. Lantas apa kalian akan memeriksa satu persatu rumah warga? Itu hanya akan membuat warga ketakutan.” Kaisar berkata dengan tegas, ada raut kemarahan diwajahnya.
“Dan juga jika kalian mengetahui kebenarannya, maka sudah pasti kalian akan menjaga di dekat istana. Tentu hal itu akan percuma karena tiga partai itu tidak akan berani menyerang jika masih ada kalian.” Kaisar melanjutkan perkataannya.
“Bukankah dengan memancing mereka datang itu akan menjadi lebih mudah menaklukan mereka? Kita hanya membutuhkan beberapa orang yang memiliki kekuatan tinggi saja untuk membuat mereka kalah, tidak perlu ratusan atau bahkan ribuan pasukkan. Kitalah yang akan rugi banyak karena sudah pasti pasukkan setingkat bumi dan langit akan mati sia-sia jika melawan tiga partai yang licik.” Katanya lagi.
Semua orang yang pergi ke wilayah timur itu bungkam, menundukkan kepala dengan perasaan bersalah. Apalagi ucapan ketua Sakte Wudang dan Emei, mereka merasa malu pada diri mereka sendiri.
“Sekarang tiga partai itu sudah lenyap, tak ada lagi kejahatan yang akan menimpa rakyat. Kalaupun ada paling-paling mereka hanya para perampok dan pencuri. Untuk masalah itu pihak kerajaan yang akan mengatasinya. Sekarang kalian semua boleh pergi ke rumah kalian masing-masing.” Ujar Kaisar dengan tegas.
Semua orangpun pergi ke tempat mereka masing-masing kecuali Zhou Shiyue, para ketua dan tetua Sakte dan juga para Jendral. Mereka semua sedang berkumpul di ruang makan karena hari ini Kaisar akan mengadakan acara makan bersama.
“Semuanya silahkan dinikmati.” Ujar Kaisar memulai acara.
Semua orang yang ada diruangan mulai makan makanan yang ada didepan mereka. Tapi putri Song Jixi sepertinya terganggu oleh seseorang yang duduk tepat disebrangnya.
‘pria kampung itu.’ Batinnya menatap tajam kearah Zhou Shiyue.
Zhou Shiyue yang memakan makanannya merasa ada yang sedang memperhatikannya, setelah matanya tak sengaja menatap mata Song Jixi ia mengangkat sudut bibirnya. Tersenyum sinis kearah putri itu.
‘Beraninya!’ Song Jixi menahan marah dalam hati.
Usai acara makan bersama, Zhou Shen Shi menarik tangan adiknya menuju gazebo yang ada di taman istana.
“Anak nakal ini, kenapa tidak memberitahuku?” ujar Zhou Shen Shi memarahi adiknya yang hanya menunjukkan senyum kecil.
“Saat itu aku tidak menemukanmu, katanya kau sedang bertugas.” Jawab Zhou Shiyue benar adanya.
“Tapi kau tidak ada yang terluka kan?” Zhou Shen Shi memeriksa bagian tubuh Zhou Shiyue.
“Tentu saja tidak.” Jawab Zhou Shiyue
__ADS_1
Lantas kakak dan adik itupun mengambil posisi duduk besebrangan.
“Aku bersyukur kau baik-baik saja setelah menghadapi tiga partai sesat itu.” Ucap Zhou Shen Shi dengan nafas lega.
“Hm”
“Tapi selama ini kau pergi kemana? Kenapa lama tidak datang berkunjung?” tanyanya.
“Aku sibuk berlatih, lain kali aku akan sering berkunjung.” Jawab Zhou Shiyue.
“Baiklah, oh ya? Apa kau sudah mendengar berita tentang keluarga Zhou?” tanya kakaknya.
“Kenapa dengan mereka?” Zhou Shiyue bertanya dengan wajah tak suka.
“Kabarnya Zhou Lan itu akan dilantik sebagai walikota, jika itu terjadi? Bagaimana nasib rakyat timur?”
“Benarkah? Aku baru tau hal ini.” Zhou Shiyue menunjukkan raut wajah terkejut.
“Lantas apa kau akan melakukan sesuatu?” Zhou Shen Shi bertanya serius.
“Kalau benar dia akan segera menjadi walikota maka aku akan menghentikannya, tapi untuk saat ini ada masalah yang lebih penting yang harus diselesaikan.” Ujar Zhou Shiyue membuat kakaknya mengernyit penasaran.
“Aku baru tau hal ini.” Jawab Zhou Shen Shi menunjukkan ekspresi kaget
‘kenapa Kaisar tidak memberitahunya?’ tanya Zhou Shiyue dalam hati.
“Apa yang kau pikirkan?” tegur Zhou Shen Shi saat melihat adiknya melamun.
“Tidak ada, karena kau tidak mengetahuinya maka aku akan menceritakannya. Jadi…….”
Zhou Shiyue menceritakannya secara detail, termasuk siapa saja yang tidak ikut campur dalam rencana para pengkhianat itu untuk menjatuhkan Kaisar.
“Sungguh biadab, berani sekali mereka. Apa mereka lupa dengan 4 Jendral Kekaisaran yang siap mati melindungi Kaisar?” Zhou Shen Shi merasa marah, ia mengutuk orang-orang itu.
“Jadi selama ini Kaisar juga sudah tau? Mengapa ia tidak memberitahu kami apa-apa?” Ujar Zhou Shen Shi merasa heran.
“Mungkin ia memiliki rencana lain atau belum memiliki waktu yang tepat untuk memberitahu kalian.” ujar Zhou Shiyue menebak.
“Karena aku sudah tau, tak akan ku biarkan orang-orang itu menyakiti Kaisar.” Ujar Zhou Shen Shi dengan nafsu pembunuh dimatanya.
__ADS_1
“Kakak tenang saja, selama ada kita tidak aka nada yang berani menyentuhnya.” Ujar Zhou Shiyue.
Setelah berbincang lama kakak beradik itu akhirnya menyudahi perbincangan mereka karena akan melakukan aktivitas masing-masing.
“Kau darimana saja? Kami menunggumu daritadi.” Ujar Yi Heng saat Zhou Shiyue menghampiri mereka yang sedang berkumpul di depan Istana.
“Hanya jalan-jalan disekitar” ujar Zhou Shiyue berbohong, ia tak ingin mereka tau hubungannya dengan sang kakak.
“Oh, kalau sudah selesai ayo pulang.” Ajak Yi Heng dan diangguki oleh Zhou Shiyue.
Pada akhirnya mereka semua pulang ke Sakte Gunung Bunga Persik, untuk beberapa saat Zhou Shiyue akan menetap disana sementara waktu karena mereka harus mengatur menunggu Kaisar memerintah mereka menangkap Sakte Wudang dan Emei.
Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, mereka sampai dalam satu minggu perjalanan.
“Beristirahatlah, dan pergi ke kediamanku saat malam tiba.” Ujar Mye Jing Chen pada Zhou Shiyue yang dibalas anggukkan oleh pemuda itu. Lalu ia diantar oleh seorang pelayan ke sebuah ruangan yang layak.
Setelah pelayan itu pergi ia menutup rapat ruangannya.
Lalu Zhou Shiyue mengeluarkan naga putih, tapi sebelum itu ia menyuruh naga itu keluar dengan wujud mereka yang kecil.
“Kenapa?” tanya naga putih tidak biasanya.
“Aku ingin bertanya, jika aku menggunakan pedang naga nanti apakah itu akan berbahaya?” tanyanya to the poin.
“Selama kau mampu mengatasi siapapun yang ingin merebut pedangmu, maka tidak akan berbahaya. Tapi jika kau tidak mampu maka tentu akan sangat berbahaya.” Jawab naga putih itu.
“Menurut kalian sekarang ini dengan kekuatanku apakah bisa menahan mereka yang ingin merebut pedang naga?” tanyanya lagi.
“Di tingkat pendekar suci, aku rasa kau sudah mampu. Hanya saja perjalananmu kedepannya tidak akan berjalan dengan lancar, pasti ada saja yang mengganggu ketenanganmu. Apa kau paham?”
“Aku paham, sebenarnya aku menanyakan hal ini karena sebentar lagi akan ada pertarungan antara pendekar suci. Aku hanya ingin menyelesaikan masalah itu tanpa membuang waktu lama, jika menggunakan pedang itu mungkin akan lebih mudah dan cepat dalam menyelesaikannya.” Ujar Zhou Shiyue berterus terang akan rencana pribadinya.
“Menggunakan pedang itu atau tidak, semua tergantung dirimu sendiri. Merasa mampu atau tidak melawan semua orang-orang yang bisa saja lebih kuat darimu. Jika merasa sudah mampu makan kau bisa menggunakannya semaumu.” Ujar naga putih.
“Baiklah kalau begitu”
Zhou Shiyuepun memasukkan kembali naga putih ke ruang penyimpanan.
Jangan lupa baca episode selanjutnya kawan-kawan 😁😁 !!!
__ADS_1