
BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨
Aku mengangguk pada Papa dan memegang tangan Mama dengan lembut. Sedikit demi sedikit ku alirkan energi penenang untuk Mama. Dan setelah beberapa menit berlalu Mama mulai tenang.
“ Maaf, Sa. Mama nggak sanggup menerima kebenaran ini. Ini… ini terlalu tiba-tiba dan mendadak. Mama nggak punya persiapan. Dan Mama nggak nyangka kalau reinkarnasi itu akan jatuh ke kamu”
“ *Aku hanya mengangguk menjawab pernyataan Mama*”
“ Pa? *menengok kearah Papa*”
“ Ya! Sepertinya sudah waktunya”
“ Apa?”
Tiba-tiba Mama dan Papa menghilang dari pandanganku. Cahaya yang terang memaksaku untuk menutup wajah dengan tangan. Berganti dengan ruangan luas berwarna putih yang cerah.
Papa dan Mama tidak lagi menggunakan baju piyama. Mereka?
__ADS_1
“ Wah… Baju Mama dan Papa bagus sekali!”
“ Huft... Ma... *Menghela nafas*”
“ Ups... Hehe maaf aku lupa... ”
Mama menggerakkan jarinya. Bajuku berubah. Panjang sekali. Seperti baju para bangsawan jaman dahulu. Tapi untuk apa aku mengenakan pakaian seperti ini? Mama dan Papa pergi kearah yang lain.
Aku yang tidak tau apa-apa hanya bisa mengikuti mereka saja. Papa meliuk-liukkan tangannya. Ruangan putih ini pun berganti menjadi ruangan megah.
Aku berjalan mengikuti Papa dan Mama yang menuju sebuah kursi, eh bukan! Itu adalah singgasana. Baiklah! Sekarang pikiranku mulai berputar-putar mencari apa yang sebenarnya terjadi.
“ Dimana para pengawal, penasihat dan peramal yang biasanya menunggu kami disini?”
Tiba-tiba pintu terbuka lebar dan masuklah orang-orang yang aku sendiri tidak mengenali mereka. Tapi ada sesuatu yang membuatku terkejut. Telinga mereka. Runcing.
Bagai elf yang biasanya di gambarkan di buku novel fantasy kesukaanku. Badan mereka bagus dan ramping. Melihatnya begitu seperti melihat model atau para artis yang sedang ber-cosplay.
__ADS_1
“ Panggil ketua untuk meresmikan putriku menjadi Tuan Putri yang sesungguhnya”
“ Maaf Yang Mulia, hamba bukannya ingin memotong perkataan Yang Mulia. Tapi apakah benar dia adalah Putri kandung Yang Mulia? Dilihat dari auranya saja tidak mirip dengan Yang Mulia”
“ Oh… Maaf ya, Isa. Mama lupa *mengangkat tangannya dengan senyumnya yang lembut*”
Mama menyentuh dahiku lembut. Dan ku rasakan sesuatu yang hangat di sekujur tubuhku. Para pengawal, penasihat dan para elf yang lain tiba-tiba terkejut menatapku.
“ Ah! Maaf Yang Mulia. Hamba sudah menuduh Yang Mulia. Hamba pantas di hukum”
“ Hmm… Tidak perlu terlalu formal begini. Tuan Putri kalian sudah kembali lagi. Aku juga yang lupa menghapus pelindung padanya. Jadi kalian tidak mengenalinya”
Aku tidak tau apa-apa karena tidak ada cermin di ruang itu. Dan aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Mama mengatakan aku akan di dandani oleh para dayang. Jadi ku ikuti saja.
Bahkan seorang dayang pun sangat cantik. Aku sempat merasa terkejut dengan ini. Dan akhirnya aku berhenti dan masuk ke dalam tempat, ah bukan! Ruangan!
Ruangan yang besar sekali. Mereka bilang ini adalah kamarku. Yah. Aku juga merasa tidak asing dengan kamar ini. Aku merasa inilah milikku. Aku sudah mengenalinya.
__ADS_1
Mereka membawaku untuk duduk ke kursi kecil. Cermin? Cerminnya dari air? Apa tidak tumpah? Tapi bukan itu yang menjadi fokus utamaku. Siapa? Siapa yang di dalam cermin itu?