
BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨
Kami berhasil mengalahkan monster Gurita itu. Tapi masih ada yang mengganjal di hatiku. Kenapa aku tiba-tiba menangis saat membunuh gurita itu?
“ Tuan Putri? Apa anda baik-baik saja? Anda terlihat murung sejak kita keluar dari area pohon hidup… Anda tidak sakit kan?”
“*Menggelengkan kepala lalu tersenyum kearah Dessy dengan wajahnya yang lugu*”
“ Tuan Putri? Kenapa anda sangat ingin pergi dari Kerajaan Elf Hijau?”
“*Menghela nafas*”
“ Ah! Iya… Tuan Putri? Apakah anda mau istirahat sebentar? Perjalanannya akan dilanjutkan besok saja. Jalannya juga masih beberapa kilometer lagi”
“*mengganggukan kepala*”
Aku sudah tak bisa berkata-kata lagi. Pikiranku sedang kacau sekarang. Meskipun aku sudah membantu para pohon membunuh gurita itu. Tapi rasanya sangatlah aneh. Seperti ada yang salah.
Kami melakukan hal yang biasa kami lakukan saat istirahat. Setelah menyantap makan malam. Kami merebahkan tubuh di atas rumput yang hijau.
Malam itu sama saja. Karena pikiranku kacau jadi akupun tidak bisa tidur meskipun aku memaksa. Yah masih kepikiran gurita itu tentunya. Dan lelaki itu? Sudah ku bunuh. Sangat mudah tapi ini terlalu mudah.
“ Kau tidak tidur?”
“ Dan kau kenapa tidak tidur? Tubuhmu pasti lelah setelah dia hipnotis. Jadi istirahat sana!”
“ Aku merasa tidak nyaman. Instingku merasakan sesuatu yang aneh disini. Ah bukan! Bukan tempat ini tapi orang-orangmu itu”
__ADS_1
“ Apa yang kau maksud?”
“ Ah! Tidak apa-apa… Mungkin hanya khayalanku saja. Emh… Aku ingin bertanya bagaimana kau menyelamatkanku dari hipnotis itu?”
“ Hah? Sudahlah jangan banyak tanya lagi! *pergi dengan rasa malu*”
“ Tunggu! *memegang tangan*”
“ Apa yang kau mau hah? *menarik tangan*”
“ Emh.. A… Aku… Ingin berterima kasih padamu”
“ Baiklah! Baik! Sekarang kau berhutang budi padaku! Lakukan sesuatu untukku!”
“ Apa itu?”
Kami jalan beriringan tanpa obrolan. Sepanjang perjalanan hanya terdengar bunyi hewan-hewan dan ranting-ranting pohon yang bergesekkan saking rimbunnya hutan ini.
“ Raisa? Eh… Ma… maaf hamba salah mengucapkan kata tersebut. Tuan Putri”
“ Ya. Tidak apa-apa. Sudah biasa kau memanggilku begitu kan?”
“ Ya. Oh iya. Raisa! Apa kau punya seorang teman di Kerajaan?”
“ Hmm… Itu adalah dirimu”
“ Ehh? Apakah mereka bukan temanmu? *berbisik dengan suara pelan*”
__ADS_1
“ Ya. Mereka bukan temanku…”
“ Hmm… Kalau begitu baguslah!”
‘Syush…’
Dessy! Ah bukan… itu bukan Dessy. Itu adalah badan tiruan yang dikendalikan lelaki kemarin. Mengayunkan pedang tajam ke arahku. Aku dengan terkejut tanpa sengaja terduduk di rerumputan.
Dia dengan wajah menyeramkannya itu mendekatiku dengan pisau tajam di tangannya. Aku berusaha untuk meraih rerumputan di sampingku dengan perlahan.
“ Oh iya! Aku melupakan temanmu itu! Ayo kemarilah para budakku… *membuat bisikan untuk menghipnotis Leo dan Fernand*”
“ Leo! Fernand! Apa yang kalian lakukan? Jangan mengikutinya!”
“ Ayolah para budak-budakku~”
“ Dimana Dessy?”
“ Oh! Jadi namanya adalah Dessy? Gadis lugu itu sudah ku tempatkan di tempat yang aman. Jadi kau tidak usah mengkhawatirkannya Tuan Putri Raisa~”
“ Tsk… Sialan! Aku tidak punya cara lain lagi! Cepatlah! Aku mohon! Sadarlah! Leo! Fernand! Apa yang kalian lakukan? Menyerang orang yang ingin kalian lindungi? Apa itu disebut dengan pengabdian?”
“ Bwahahahaha! Apa ini? Drama? Hahahaha!”
“ Baiklah! Sudah cukup! Xion! Leo! Fernand! Dessy! Ayo!”
“ Hah?”
__ADS_1