Penguasa Yang Bereinkarnasi

Penguasa Yang Bereinkarnasi
Eps. 55


__ADS_3

BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨


“Kau ini kenapa bisa begitu ceroboh?”


“ Hah? Kau kira aku mau mengeluarkan kekuatan yang begitu banyak untuk orang yang bukan siapa-siapa?”


“Apa maksudmu?”


“ Semua hewan atau tumbuhan yang bisa berbicara denganku adalah siluman. Aku sudah menyimpulkan hal ini karena beberapa kejadian”


“Bagaimana jika yang kau selamatkan itu orang yang tidak baik?”


“ Itu bisa kita buktikan nanti”


Aku bangun dengan tubuh yang sakit dan lemah. Aku melihat Dessy menggenggam tanganku. Para kurcaci mengelilingiku dan terlihat sumringah ketika aku sadarkan diri.


“ Nona? Syukurlah Nona baik-baik saja… Dessy sangat khawatir, Nona”


“ Do? Dimana yang lainnya?”


“ Mereka menunggu di luar. Eh?! Apakah kau mau keluar? Tubuhmu masih lemah… Lebih baik kau tetap berbaring saja *berusaha mencegah Raisa keluar dari tempat tidur*”


“ Tidak apa-apa. Aku sudah merasa baikan *tersenyum dan berusaha meyakinkan para kurcaci*”


Ku lihat Xion sedang duduk termenung di ruang tamu. Leo dan Fernand juga terlihat termenung di samping Xion. Tunggu?! Dimana kucing kecil itu? Apakah dia melarikan diri setelah aku selamatkan?


“ Hmm? Apakah Kucing kecil ini merindukanku? *memeluk dari belakang*”


“*Melepaskan diri dari pelukan Raisa dan berdiri dengan wajah menunduk*”


“ Eh? Ada apa, Xion? Apa kau baik-baik saja?”


“ Jelaskan padaku…”


“ Eh?”


“ Jelaskan padaku kenapa kau bisa terluka seperti itu? Siapa yang berbuat seperti itu padamu?! Katakan Raisa! *mengguncang tubuh Raisa*”


“ Ini hanya salah paham. Aku hanya terpeleset saat hendak tidur… Tidak usah terlalu serius…”


“ Raisa! Jangan berbohong padaku! Siapa yang mendorongmu malam itu? Aku menemukan ini di kamar waktu itu! *menunjukkan helai bulu kucing di sobekan pakaian Raisa*”


“ Hah? Kau ini apa-apaan… Ini mungkin hanya kain yang aku sobekkan. Tidak usah dianggap serius… Sudahlah… Kemasi barang-barang kalian kita akan pergi sebentar lagi. Aku akan berpamitan dan berterima kasih pada para kurcaci”


Kami segera bersiap-siap untuk berangkat lagi. Lalu berpamitan pada pemimpin kurcaci dan yang lainnya. Baru beberapa langkah berjalan ada keributan yang terjadi pada para kurcaci.


‘Semuanya siap-siap! Segerombolan burung datang lagiii!’


Aku yang melihat itu tidak bisa diam saja. Aku langsung melompat dan menggunakan tekhnik meringankan tubuh. Dan melayang sebentar di udara. Lalu membuat perisai dari air.


Segerombolan burung itu pintar! Mereka membuat formasi seperti jarum yang bisa memecah perisaiku. Meski sudah menambahkan beberapa lapis tapi tetap saja mereka bisa menembusnya.


“ Kalian semua! Kenapa hanya diam saja? Bantu aku cepat!”


Aku berteriak dengan cukup keras. Xion langsung menyerang segerombolan burung-burung itu. Hingga formasi mereka terpecah menjadi dua. Sekarang kami harus melawan dua kelompok burung.


Para kurcaci membantu dengan mengetapel burung-burung hingga jatuh ke tanah. Aku membuat perisai yang lebih tebal dengan bantuan kekuatan Dessy. Yang mengalirkan kekuatannya untukku. Willy juga membantu kami dengan kekuatannya.


Kami semua sibuk melawan segerombolan burung itu. Mereka sangat kuat! Saat kami menjatuhkan satu burung maka aka nada burung lain yang menutupi formasi yang berlubang itu.


Tenaga kami sudah hampir terkuras habis karena melawan segerombolan burung-burung ini. Dessy terlihat sudah tidak bisa lagi menstransfer kekuatannya padaku.


Burung-burung ini tidak ada habisnya! Seketika ada seseorang yang menyerang menggunakan api. Seketika salah satu burung itu terbakar lalu lenyap tak bersisa.


Aku tidak tau siapa orang yang menyerang menggunakan kobaran api itu. Tapi untuk saat ini hal itu tidaklah penting. Karena yang terpenting saat ini adalah menghabisi para hama burung ini.


Saat aku memberi arahan pada Xion untuk menyerang menggunakan api. Saat itu juga aku lengah dan perisai airku ditembus oleh segerombolan burung. Seekor burung mematuk kepalaku yang terluka.


“(Akh… Sepertinya lukaku terbuka lagi…)”


Sekuat tenaga aku menyeimbangkan tubuhku lagi agar tidak terjatuh ke tanah. Tapi saat aku mencoba menyeimbangkan tubuh. Seekor burung menyerangku lagi hingga membuatku terjatuh ke tanah.


Xion juga terlihat sangat kewalahan menyerang burung-burung itu. Dessy juga sudah tergeletak tidak berdaya di atas tanah. Leo dan Fernand juga sedang sibuk menyerang segerombolan burung itu.


Tenagaku sudah habis total. Kurasakan darah mengalir di keningku. Hangat dan amis. Saat aku ingin menutup mata. Ada seseorang yang menangkapku dengan tangannya yang lembut.


“(Ahh… Apa ini? Apakah seorang Pangeran sedang menyelamatkanku?)”


Saat di detik-detik terakhir aku melihat tangannya mengangkat ke atas. Dan mengeluarkan api yang cukup besar. Membakar hangus semua gerombolan burung-burung yang mengganggu kurcaci.


“(Baguslah… Jika begini… Aku bisa membalas budi para kurcaci yang sudah menyelamatkan kami)”

__ADS_1


Saat aku terbangun aku tidak tau apa-apa lagi. Siapa kau? Siapa aku? Dimana aku? Apa aku sudah bangun dari mimpi? Apa aku sudah kembali ke kamarku? Kenapa tubuhku terasa sangat berat?


“ Raisa apa kau sudah bangun?”


“ Xion! Turun dari tubuhku!”


“ Hehe…”


Pantas saja aku bermimpi ditimpa Gajah. Sekarang aku baru tau siapa Gajah sebenarnya. Dessy sudah duduk di sampingku. Tertawa melihat kelakuan Xion.


Ahh… Langit-langit ini lagi… Dinding ini lagi… Apa kami masih berada di dalam pondok kurcaci? Apa kami sudah melenyapkan segerombolan burung-burung itu?


“ Dessy? Apa kita berhasil melenyapkan segerombolan burung-burung itu?”


“*Tersenyum dan menganggukkan kepala*”


“ Baguslah. Kalau begitu kita berangkat sekarang juga… Akh… Kepalaku sakit *memegang kepala*”


“ Jika kita berangkat sekarang. Tubuh Nona tidak akan kuat. Takutnya akan pingsan di tengah jalan”


“ Apa kau meremehkanku?”


“ Ti… Tidak! Dessy tidak berani!”


“ Ya sudah. Kalau begitu perintahkan yang lain untuk bersiap. Lalu kita berangkat. Kau juga Xion”


“ Baikk~”


Pagi ini cukup cerah. Para kurcaci berterima kasih kepada kami. Lalu kami berpamitan dan berangkat lagi ke Istana Ratu Silma. Kali ini kami harus melewati gunung berkabut.


Yang kabarnya para pejuang pun tidak bisa keluar dari sini hidup-hidup. Dessy juga menceritakan jika ada banyak kisah yang beredar tentang Gunung Berkabut ini.


Rata-rata kisahnya mengenai adanya keberadaan monster di area gunung ini. Awalnya Leo dan Fernand memintaku untuk lebih baik memilih jalan berputar saja. Daripada mendaki gunung ini.


Tapi aku sangat penasaran akan monster apa yang ada di dalam gunung ini. Jika aku menemukan monster bolehkan aku memelihara satu? Hehehe… Aku sangat ingin memelihara monster yang sangat ditakuti itu.


“ Nona? Bukankah ini terlalu berbahaya?”


“ Hmm… Aku rasa tidak… Baiklah! Ayo kita berangkat!”


Kami mendaki sedikit demi sedikit gunung yang berkabut ini. Dari bawah gunung ini juga sudah terlihat kabutnya yang sangat tebal. Bisa dibilang sedikit menyeramkan juga.


Hingga membentuk sesuatu yang mengerikan! Kelelawar itu membentuk seperti setan dengan tanduk di kepalanya. Sangat besar seperti raksasa! Kami mencoba untuk melawannya.


Tapi kabut ini menghalangi pandangan kami! Aku hanya berdua dengan Xion. Aku tidak tau dimana letak Dessy, Leo dan Fernand dan juga Willy. Sial! Kami terpisah! Bagaimana ini?!


Berteriak pun tidak ada gunanya. Suaraku hanya akan menggema dari jurang yang menganga di depan kami. Aku dan Xion berjaga-jaga dengan apa yang akan terjadi kedepannya.


Monster kelelawar itu masih tidak terlihat. Hanya kabut tebal yang menghalangi pandangan kami. Sesaat kemudian aku mendengar sesuatu yang melompat-lompat.


‘Syush… Syush…’


“ Raisa… Kira-kira itu apa, ya? Ini terasa sedikit menakutkan… Lebih baik kita tidak datang kesini tadi”


“ Sudahlah… Lebih baik diam saja jika tidak ingin lokasi kita diketahui oleh monster itu”


Saat aku berbalik Xion sudah tidak ada di sampingku. Sekarang aku sendirian! Dimana Xion? Kenapa meninggalkanku sendirian? Tiba-tiba ada bayangan tangan besar yang mendekatiku.


“(Sial! Kakiku tergores batu! Harus menggunakan tekhnik meringankan tubuh!)”


Sekuat tenaga aku menggunakan tenagaku yang tersisa untuk melakukan tekhnik meringankan tubuh itu. Sesaat kemudian tenagaku habis dan jatuh kembali ke tanah.


Meskipun sebentar itu cukup untuk menghindari cengkraman monster yang menyerangku tadi. Pada serangan kedua aku tidak sempat menggunakan tekhnik itu lagi.


Aku sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Mungkin aku akan mati disini. Maafkan aku Mama… Papa… Aku tidak bisa kembali lagi ke Kerajaan dan melihat kalian berdua lagi.


‘Syush…’


“ Tertangkap!”


“ Hah? Siapa kau? Kau… Kau…”


‘Plak…’


“ Kenapa kau melakukan hal itu pada orang yang menyelamatkanmu?”


“ Kau juga melakukan itu padaku. Lihat luka ini! Karena kau aku memiliki luka ini, tau!”


“ Yah… Maafkan aku… Aku masih ragu apakah kau benar-benar orang baik atau hanya berpura-pura”


“ Sampai kapan kau menggendongku begini? Apa kau nyaman dengan ini?”

__ADS_1


“ Yap! Kurasa aku cukup menikmatinya…”


“ Dasar mesum!”


Tak kusangka kucing hitam yang aku selamatkan semalam. Membalas kebaikanku. Menyelamatkanku dari cengkraman monster kelelawar. Lalu menggendongku dengan gendongan putri.


“(Wah! Aku benar-benar digendong dengan gaya gendongan putri! Aku sungguh tak menyangka! Haeh… Bodoh sekali…)”


Kami mendarat di bagian gunung yang tidak tertutup oleh kabut tebal. Aku bisa melihat dimana letak Dessy, Xion, Leo, Fernand dan Willy. Juga monster kelelawar yang mengerikan itu.


Yang tidak kusangka ada aliran air disini. Cukup besar dan bersih! Aku bisa menyerap kekuatannya dan memulihkan kekuatanku! Beruntung sekali! Tuhan memang sedang membantuku!


Tidak butuh waktu lama aku akhirnya bisa memulihkan kekuatanku. Dengan menyerap kekuatan air, semua luka dan penat dalam tubuhku hilang seketika. Dan aku sudah merasa cukup kuat untuk mengalahkan monster itu sendirian.


“ Bisakah kau menyelamatkan teman-temanku dulu? Aku akan berusaha menghilangkan kabut tebal ini dan mengalahkan monster itu”


“ Baiklah…”


Siluman kucing hitam itu kembali ke bawah dan menyelamatkan teman-temanku yang lain. Dan aku sedang berusaha menghilangkan kabut tebal yang menutupi gunung ini.


Setelah Dessy dan semuanya sudah diselamatkan baru aku memulai untuk menghilangkan kabut tebal itu. Dengan kekuatan yang sudah pulih aku mencoba menggunakan pusaran air untuk membersihkan kabut tebal itu.


Ternyata tidak bisa! Air tidak bisa menghilangkan kabut tebal ini! Apa yang harus kulakukan? Aku hanya menguasai elemen air! Aku tidak bisa menguasai elemen yang lainnya!


“ Hai gadis! Lebih baik kau menggunakan elemen api untuk menghilangkan kabut dan menghabisi monster itu!”


“ Tapi aku tidak menguasai elemen api!”


“ Ya kau menguasainya! Kau adalah reinkarnasi dari sang penguasa itu! Kau pasti bisa!”


Aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan. Menggunakan elemen api? Aku hanya bisa menguasai elemen air! Dan penyembuhan? Tapi saat itu wanita yang ada dalam mimpiku mengatakan sesuatu tentang penyatuan elemen dalam tubuhku.


Apakah aku benar-benar bisa menguasai elemen yang lainnya? Dengan sekuat tenaga aku mencoba mengeluarkan elemen api. Tapi tidak terjadi apa-apa! Ini tidak berguna!


Aku sudah menyerah dan pasrah dengan keadaan. Air tidak bisa menghilangkan kabut tebal itu. Hingga Dessy di cengkram oleh monster itu. Siluman Kucing hitam itu sudah tidak bisa bergerak setelah menyelamatkan yang lain.


“Nonaaaa!!! Tolong Dessyyy!!! *berteriak sekencang mungkin*”


Tiba-tiba ada perasaan yang bergejolak di dalam hatiku. Perasaanku mulai kacau! Tidak ada yang bisa kulakukan adalah satu-satunya hal yang paling kubenci.


Melihat Dessy dicengkram oleh monster itu membuatku mengeluarkan kekuatan yang tidak terkendali dalam diriku. Mengeluarkan harimau dalam tubuhku yang sebenarnya.


Aku sudah tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Saat aku merasa tubuhku sudah tidak terkendali tiba-tiba aku sudah berada di tempat itu lagi. Tempat yang biasanya menarikku jika aku tak sadarkan diri.


Tempat dimana aku bertemu dengan wanita yang tidak aku kenali. Yang bisa membawaku masuk ke tempat itu. Memberiku arahan, semacam hal-hal yang tidak aku ketahui.


“Kau sudah dikendalikan oleh kekuatan api itu, nak…”


“ Bagaimana… Bagaimana aku bisa menghentikan kekuatan ini?”


“Aku tidak bisa membantumu… Hal ini hanya kau sendiri yang bisa mengendalikan tubuhmu”


“ Bagaimana caranya aku mengendalikan kekuatan ini?”


Saat aku berbalik wanita itu sudah hilang dari pandangan. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Aku sudah menghilangkan kabut tebal, juga menghabisi monster itu.


Tapi aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Kekuatan ini tak terkendali! Sangat sulit dikendalikan! Tidak seperti kekuatan air yang biasa aku gunakan. Kekuatan ini mengendalikanku!


Di dalam kepalaku hanya ada kata ‘Habisi! Habisi! Habisi semua!’


Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan. Pipiku terasa hangat… Air mata! Tanpa kusadari air mataku mengalir deras di pipiku. Apa ini? Perasaan apa ini? Kenapa aku menangis?


Seketika tubuhku terasa lemas dan kurasakan angina yang lembut menurunkanku ke atas tanah. Lalu aku melihat seseorang menangkapku. Aku tau itu siapa.


“ Terima kasih…”


“ Tidak perlu berterima kasih padaku”


‘Cup…’


Apa ini? Dia…. Dia menciumku?! Kenapa kau menciumku bodoh?! Aku hanya mengucapkan terima kasih! Tidak mengizinkanmu menciumku! Aku akan membalasmu nanti!


INGAT ITU!


Aku hanya menatapnya dengan tatapan membunuh karena aku tidak bisa melakukan apa-apa. Karena ini sedang di ketinggian. Dan nyawaku berada di tangannya. Baiklah. Anggap saja ucapan terima kasihku.


Perlahan-lahan tenagaku mulai habis. Dan kurasakan tangan Dessy. Ah… Untung saja Dessy baik-baik saja. Aku benar-benar khawatir akan dirinya. Yah… Ini cukup aneh. Padahal aku yang lebih parah tapi malah memperhatikan orang lain.


Kulihat Dessy sudah selamat meskipun baju dan wajahnya kotor terkena tanah. Dan rambutnya mulai acak-acakkan. Membuat aku sedikit merasa bersalah sudah mengajaknya bersamaku.


Tapi apa boleh buat… Kami sudah seperempat perjalanan. Sedikit lagi kami akan sampai di Istana Ratu Silma. Tapi aku malah lemah dan tidak berdaya seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2