
BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨
Saat tali aliran penenangku sudah sampai di Papa. Akhirnya Papa mulai tenang. Mama juga sudah agak tenang karena ku tenangkan. Papa terkulai lemas di sofa ruang keluarga.
Aku masih harus memeriksa apakah jiwa Diana masih merasuki Papa. Aku memeriksa nadi Papa. Fiuhh… Untung saja Papa sudah tidak di rasuki lagi oleh Diana itu.
Papa bangun dengan wajah yang bingung. Karena sebelum ia dirasuki posisinya sedang memperbaiki rancangan proyek baru di kantor. Tapi setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.
Mama yang sangat cemas sejak kemarin pun memeluk Papa sambil menangis. Aku juga langsung terkulai lemas. Karena sudah sejak lama aku tidak mengeluarkan kekuatan sebanyak ini.
Sepertinya Mama juga melupakan kejadian tadi. Aku juga merasa lega karena Mama masih bertahan dengan melihat kekuatanku secara langsung. Jujur. Aku tak pernah menunjukkan kekuatan ini pada siapapun.
Mama dan Papa juga tidak mengetahui hal ini. Dan sepertinya Papa dan Mama akan mengetahuinya tidak lama lagi. Aku juga harus bersiap-siap dengan keadaan yang akan datang.
Setelah istirahat beberapa saat, akhirnya aku bisa bangun dengan badan yang segar dan pulih lagi. Mama juga sudah menungguku dengan cemas di samping. Tak terkecuali Papa.
__ADS_1
Ku lihat Papa sudah mulai membaik. Mata panda Mama juga sudah mulai menghilang. Beberapa hari setelah aku bertemu dengan jiwa Diana. Perasaanku selalu saja merasa tidak enak.
Besok harinya aku berangkat ke sekolah. Dan untuk ke sekian kalinya Penguntit itu datang ke rumahku. Fire. Selalu mengajakku untuk berangkat ke sekolah bersama.
“ Kenapa kamu selalu mengajakku untuk berangkat bersama? *masih fokus dengan novel*”
“ Haehh… Ternyata si pengendali air ini curiga padaku… Hupp… Uwuwuwuw *aku langsung menutup mulutnya dengan tanganku*”
“ Apa yang kau bi-ca-ra-kan HAH! *berbisik*”
“ Hehh? Kau kan memang pengendali air. Untuk apa masih menyembunyikannya padaku. Kau lihat apa? Mereka? Mereka tak akan mengerti dengan apa yang aku bicarakan. Paling-paling hanya menganggap aku membual saja”
Aku tetap fokus dengan buku novelku. Dan dia.. Dia terus saja bermain dengan api kecil di tangannya. Aku rasa dia memang orang paling bodoh di kelas.
Karena bermain sesuatu yang dapat memancing orang-orang di depan umum seperti ini. Setelah beberapa menit berjalan dengan orang menyebalkan ini akhirnya kami sampai di sekolah.
__ADS_1
“ Heiii! Kalian berdua tunggu aku!!!”
“ Hmm? Ohhh ini dia si Tu-an Pu-tri Se-li-a!”
“ Apa hah? Kau ingin ku tampar? *mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi*”
“ Hahaha… Kaburrr… Ada nenek sihir jahattt”
“ Sudahlah biarkan saja dia *aku menarik tangan Selia dengan lembut sambil tetap fokus dengan buku novelku*”
Kami sampai di kelas dengan selamat. Kelas masih lengang saat itu. Aku langsung menduduki tempat dudukku. Membuka jendela dan menghirup udara segar di pagi hari.
Mendengarkan celotehan para siswa di lapangan. Mendengarkan kicauan burung yang bersahut-sahutan. Itu biasanya yang kulakukan di pagi hari. Tapi hari ini kuurungkan niatku.
Awan gelap menutup matahari. Dalam hatiku bergejolak sesuatu. Tidak enak. Apakah ini pertanda buruk? Anginnya juga lebih kencang dari biasanya.
__ADS_1
‘ Tes.. 1.. 2.. 3 Murid kelas 3-A atas nama Raisa, Selia dan Fire di mohon untuk ke ruang guru. Ada yang ingin saya sampaikan.’
Kami bertiga saling berpandangan satu sama lain. Aku juga mulai tidak fokus dengan buku novelku. Perasaan yang tenang berganti dengan sesuatu yang bergejolak di dada. Ada apa ini?