Penguasa Yang Bereinkarnasi

Penguasa Yang Bereinkarnasi
Eps. 52


__ADS_3

BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨


Aku bangun lebih dulu karena sebenarnya aku tidak tidur sama sekali. Lovan bangun lebih dulu. Mungkin karena mencium bau makanan dari buah yang ku buka. Dia sangat terkejut aku sudah menyiapkan makanan.


“ Apakah kau yang memasak ini?”


“ Pfft… Ya! Aku yang memasak ini semua! Bagaimana? Sudah anggap aku sebagai koki yang hebat tidak?”


“ Ya! Kau adalah koki terhebat yang pernah ku temui! *menatap semua makanan*”


“ Haeh… Apa kau benar-benar seorang Pangeran? Sikapmu tidak seperti seorang Pangeran… *memetik buah lalu membuka dan meletakkan di tangan Lovan*”


Aku agak terkejut dengan reaksi Lovan yang seketika diam membisu. Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu gugat ruang pribadi miliknya. Entah apa yang akan dia katakana nanti. Tapi mau bagaimana lagi?


AKU INI ANAK YANG JIWA KEPONYA SANGAT BESAR!!!


“ E… Lovan? Ada apa? Kenapa kau hanya diam? Lebih baik makan makanannya sebelum Willy bangun. Jika tidak kau tidak akan kebagian…”


“ Raisa? Apa kau tau ingin sesuatu? *menunduk dan menatap makanan*”


“ Hah? Apa itu?”


“ Sebenarnya aku adalah Pangeran dari seorang selir. Ayah tidak ingin aku memakai marganya. Jadilah aku menggunakan marga ibuku. Tidak di berikan hak menikmati Istana. Hanya dapat menjaga pintu masuk Hutan. Maaf aku baru memberitaumu”


“ Hmm… Ternyata begitu… Kau tidak akan lemah karena ini, kan? *meletakkan makanan dan mendekat ke arah Lovan*”


“ Hah… Ka… Kau mau apa? *menutup mata karena melihat wajah Raisa yang mendekat*”


“*Mengambil sarang laba-laba di telinga Rubah Lovan*”


“ Hah… Kau?”


“ Apa yang kau pikirkan, hah? Dasar otak mesum! *mengambil makanan lagi lalu lanjut menyantapnya*”


‘Argghhh!’


“ Hei! Willy! Apa yang kau teriakkan hah? Di dalam mimpi pun ada yang kau takuti ya? Dasar penakut! *menikmati makanan*”


“ Haaa! Kalian tertangkap basah makan makanan tanpa mengajakku!”


“ Masih ada sisa untukmu kok. Tenang saja…”


Aku dan Willy melanjutkan perjalanan pada saat Matahari mulai menunjukkan dirinya. Saat ini aku tidak berada di dalam pohon oak. Jadi bisa melihat langit sepuasnya meskipun kebanyakan yang kulihat adalah ranting pohon yang menghalangi cahaya.


Lovan tidak ikut dengan kami karena dia masih memiliki tugas untuk menjaga pintu masuk Hutan ini. Kami lebih masuk ke dalam hutan. Terkadang terdengar suara raungan di sekitar kami.


“ Willy? Apakah benar jalan yang di berikan oleh Lovan itu?”


“ Ya… Kurasa…”


‘ Gah… Gahh’


“ Willy? Menurutmu apakah itu suara burung gagak biasa? Apa kau yakin jalan yang kita lalui ini benar? Aku kau salah mendengarkan apa yang dikatakan Lovan tadi?”


“ Aku benar, kok! Tadi dia bilang kita harus melewati area ini *menunjuk area terlarang pada peta*”


“ Haaa? Apa kau sehat? Jelas-jelas dia mengatakan ‘hindari area ini!’ Apa kau tidak mendengarkannya? *memijat bagian kening*”


Flashbak on


“ Sampai jumpa lagi… Kalian berdua hati-hati ya”


“ Apakah kau tidak ikut dengan kami?”


“ Tidak. Aku harus menjaga pintu masuk Hutan. Oh iya! Willy… Karena kau yang memegang petanya. Aku akan memperingatkan kalian untuk melewati daerah ini *menunjuk salah satu gambar di peta. Willy tidak memperhatikan. Dan aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan*”


Flashback off


Kami sekarang sudah tersesat. Meskipun sudah mengikuti peta tapi kami tidak bisa menemukan jalan keluar. Semuanya terlihat sama. Jalan yang kami lalui tidak berubah. Seperti labirin yang besar.


Seperti kami hanya berputar-putar saja di dalam area ini. Beberapa kali aku mendengar suara raungan yang membuat bulu kudukku merinding. Willy masih memimpin jalan. Entah jalan yang kami lewati ini benar atau salah.


‘Gwoar… Gah… Gah…’


“ Willy… Mataharinya mulai tenggelam. Kita tidak menyiapkan apa-apa. Persediaan makanan kita habis. Dan kita tidak memiliki persediaan makanan lagi. Benih yang tadi adalah benih terakhir.”


“ Huft… Benar juga… Maafkan aku yang bodoh ini, Raisa… Aku terlalu bodoh untuk memimpin… Maafkan aku… *terjatuh di tanah lalu menutup wajah*”


“ Willy? Apa kau menangis?”


“ Tidak aku tidak menangis… Hiks… Hiks…”


“(Ah… Payah…)”


Aku melihat ke atas. Ada celah di atas. Cahaya bulan sangat jelas bisa kulihat dari bawah sini. Memang dinding labirin ini memang tinggi. Tapi tidak ada atap yang menghalangi.


Ahh! Iya! Aku punya ide!


“ Willy? Apa kau bisa memanjat dinding pohon ini?”


“ Yah… Kurasa aku bisa…”

__ADS_1


“ Kalau begitu bawa aku ke atas”


“ Baiklah. Eh? Tunggu! Apa?”


“ Hng… *menyeringai lebar*”


Aku membawa peta dan pensil (Jiu). Meskipun sebenarnya Jiu tidak boleh digunakan. Tapi dalam keadaan mendesak seperti ini. Kenapa tidak? Willy berusaha memanjat dinding labirin yang terbuat dari batang pohon yang sangat besar.


Aku berada di punggung Willy hingga sampai di salah satu batang yang yang cukup besar dan kokoh untuk diduduki. Aku mulai menggambar jalan keluar labirin. Willy mulai takjub dengan pemandangan dari atas sini.


“ Aku tidak pernah berpetualang seperti ini sebelumnya *menatap pemandangan Hutan*”


“ Hmm… Benarkah? *masih fokus menggambar peta*”


“ Ya… Apa kau pernah berpetualang seperti ini?”


“ E… Itu… Itu mungkin tidak bisa dibilang sebagai petualangan”


“ Hah? Apa maksudmu? *menatap Raisa*”


“ Tidak apa-apa. Aku hanya membual saja”


“ Hmm… Dasar kau ini… Tapi ku akui kau cukup cerdas… *menatap Raisa sambil tersenyum*”


“*Menatap sebentar lalu membuang muka kearah samping*”


Sial! Kenapa wajahku rasanya panas sekali? Kenapa jantungku berdetak cepat sekali? Kenapa aku bisa seperti ini? Ahh… Kenapa wajahnya terlihat sangat manis?


Aku terus focus menggambar peta jalan keluar dari labirin. Dan setelah mengikuti peta yang aku gambar. Akhirnya kami keluar dari labirin itu. Dan tidak disangka ternyata kami sudah keluar dari Hutan Kematian.


Tak kusangka ternyata di balik Hutan yang sangat seram ada tempat yang sangat cantik. Banyak kupu-kupu dan burung-burung kecil berbagai warna yang menghiasi tempat ini. Sepertinya tempat ini tidak pernah terjangkau oleh siapapun.


“ Waahh… Aku tidak tau ada tempat sebagus ini… *menatap sekeliling*”


“ Yah… Aku juga… *mengagumi sekeliling*”


“ Tapi tidak ada tempat ini didalam peta”


“ Apa? Benarkah? *mendekat dan melihat peta*”


“*Menganggukan kepala*”


Meskipun tidak ada cahaya Bulan dan Bintang yang masuk. Tapi, cahaya yang dihasilkan oleh kupu-kupu yang berterbangan kesana kemari sudah membuat seperti disinari cahaya Bulan.


Kami memutuskan untuk beristirahat disini. Ada dua alasan kami memutuskan untuk beristirahat disini. Pertama, tidak ada gerak-gerik monster yang menyeramkan.


Dan kedua, suasananya sangat tenang. Membuat kami yang lelah tubuh, hati dan pikiran ini bisa beristirahat dengan nyaman. Tempatnya juga sangat enak dipandang.


Tidak butuh waktu lama untuk kami menuju alam mimpi. Dan saat bangun cuacanya sangat bagus dan cerah. Dan beberapa celah ranting pohon membiarkan cahaya Matahari masuk ke dalam tempat ini.


Semakin membuatku takjub akan tempat ini. Sangat bersih, aman dan tentram. Membuatku ingin tinggal lebih lama. Aku langsung membasuh wajah di air terjun. Dan Willy memetik beberapa buah untuk sarapan.


“ Raisa? Apa kau ingin tinggal di tempat ini?”


“ Tidak. Tapi mungkin setelah aku puas berpetualang dan menemukan pasangan hidup. Aku akan tinggal dan hidup bahagia bersamanya disini”


“ Hmm… Sungguh khayalan yang indah~”


“ Hahaha… Ayolah… Biarkan aku menghayal sebentar…”


‘Ssssttt…’


Kami yang sedang duduk di bawah pohon rindang dan menyantap buah pada pagi hari yang cerah ini terkejut mendengar desisan. Desisan yang aku kenal. Ketakutan terbesarku…


Ular!


Seekor Ular yang sangat besar. Melebihi besar tubuhku. Bahkan melebihi tinggi Willy. Kepalanya mulai melebar dan membentuk seperti sendok. Taringnya tajam. Dan lidahnya menjulur-julur.


‘Sssttt….’


Desisan kedua Ular itu membuatku bergidik ngeri. Wajahku langsung pucat pasi melihatnya yang mulai mendekati kami pelan-pelan. Aku sudah tidak tau apa yang aku lakukan. Seluruh tubuhku membeku.


“Apa yang kalian lakukan disini? Bahkan berani mencuri buah milikku…”


“(Di… Dia bisa bicara! Tapi Willy sepertinya tidak menanggapi. Sepertinya dia tidak paham apa yang dibicarakan oleh Ular itu)”


“Kau! Gadis kecil… Apakah kau bisa memahami perkataanku?”


“(Sudahlah! Lebih baik aku jelaskan semuanya lebih dulu. Baru merasa takut)”


“Aku tau kau bisa memahamiku, gadis kecil. Cepat katakan apa yang kalian lakukan disini!”


“ Kami hanya menjalankan misi menemukan buah Veronica. Tidak ada maksud untuk masuk ke wilayahmu. Tolong maafkan kami. Kami hanya mencari jalan keluar dari labirin itu. Tapi tidak menyangka akan menemukan tempat ini. Minta kamu maafkan kami”


“Hoo… Pintar juga kau berkata-kata… Hmm… Memang Raisa tidak pernah berubah ya…”


“ Apa kau mengenalku?”


Seketika dia berubah menjadi seorang wanita yang bergaun panjang. Ekornya hilang dan tubuhnya bersisik seperti ular. Lidahnya terbelah dua seperti kebanyakan ular lainnya. Taringnya juga tajam.


“ Eh? Mohon maaf sebelumnya… Nona? Apakah kau sedang hamil? *menatap perutnya yang membelendung seperti sedang bunting*”

__ADS_1


“ Hah? Pfft… Tidak! Ini adalah makan malamku kemarin. Kebetulan mangsa yang kemarin cukup besar. Jadi bisa puasa berminggu-minggu”


“(Woah…)”


“ Emh… Tadi kau mengatakan bahwa kau sudah mengenalku. Sebenarnya… Siapa dirimu?”


“ Hmm… Aku ini adalah siluman Ular Putih! Yang pernah kau selamatkan dari siluman Elang di Rawa Setan. Haeh… Itu sudah sangat lama. Aku rasa kau tidak mengingatnya”


“ Ra… Rawa Setan?! Raisa… Apa kau benar-benar pernah kesana?”


“*Mengangkat bahu*”


“ Pfftt… Hahaha… Memang benar-benar Raisa… Oh iya… Kenapa kau tidak pernah kembali kesini? Kau tidak pernah mengunjungi aku lagi… Kau tau seberapa rindunya diriku padamu *memeluk Raisa secara tiba-tiba*”


Kami cukup lama berbincang-bincang dengan siluman Ular itu. Seorang siluman yang pernah aku selamatkan, meskipun sebenarnya aku tidak ingat pernah bertemu dengannya.


Sebenarnya dia sangat ramah dan terbuka dengan kami. Dia juga mengatakan jika kami sangat hebat bisa melewati labirin itu yang terkadang sering membuatnya tersesat juga.


“ Sebenarnya kemana tujuan kalian berdua?”


“ Kami berencana untuk mencari buah Veronica. Apakah kau dimana tempatnya?”


“ Hmm… Buah Veronica ya… Aku sih tidak tau. Tapi aku tau orang yang bisa memberitaukan kalian mengenai buah Veronica itu”


“ Benarkah?!”


“*Menanggukkan kepala*”


“ Terima kasih… Aku benar-benar berterima kasih padamu…”


“ Tidak perlu berterima kasih seperti itu. Kau sudah pernah menyelamatkanku dua kali. Bantu kamu satu kali tidak sama. Oh iya! Aku bisa mengantar kalian kesana agar lebih cepat. Bagaimana?”


“ Boleh…”


Kami berangkat lagi. Kali ini siluman Ular itu yang mengantarkan kami. Ternyata dia tidak pergi dengan wujud Ularnya. Sebaliknya memanggil hewan seperti burung yang bisa dinaiki.


“ Raisa? Apakah ini aman? Aku masih ragu dengan siluman ini… *berbisik pada Raisa*”


“ Kau ini! Dia sudah baik juga kenapa kau masih ragu? *balasku pada Willy sambil berbisik*”


“ Kalian sudah siap?”


“ Ya!”


“ I… Iya…”


Dalam satu kejapan mata kami sudah setara dengan awan. Willy berpegangan sangat erat di pelukanku dan berusaha untuk tidak melihat ke bawah. Pfft… Apakah dia takut ketinggian?


Pemandangan dari atas sini sangatlah indah. Jarang-jarang bisa terbang setinggi ini. Dengan menggunakan kendaraan yang tidak biasa, lagi! Ini berasa seperti naik pesawat! Hanya saja aku bisa merasakan anginnya.


Tidak butuh waktu lama kami sudah mendarat di suatu tempat yang sangat indah. Ini adalah Rawa Suci seperti yang dikatakan Wei (siluman Ular). Dia hanya mengantar kami hingga gerbang masuk.


“ Aku hanya bisa mengantar kalian sampai sini… Dosaku terlalu banyak. Dan sudah pasti aku tidak diizinkan masuk *menunduk*”


“ Terima kasih atas segalanya. Kau adalah orang yang baik. Bukan orang jahat. Aku yakin kau pasti akan bisa masuk kesini”


“*Mengangkat kepala lalu mengangguk untuk mengiyakan perkataan Raisa*”


‘Cup…’


Wei langsung pergi setelah memberikan aku ciuman. Aku langsung diam membeku setelah dia memberikan ciuman itu. Itu… Itu vulgar sekali! Sa… Sangat aneh! Kenapa dia melakukannya pada sesama jenis?!


“ Apa kau belum menyadarinya? *mendekati Raisa. Sebenarnya dia mabuk dan muntah-muntah dari tadi*”


“ Hah? *menoleh ke Willy*”


“ Dia itu laki-laki, Bodoh!”


“ A… Apa? Laki-… Laki? Tunggu… Apa dia laki-laki? Kenapa aku tidak menyadarinya?! Tapi jelas-jelas pakaiannya seperti pakaian wanita! Apanya yang bisa membuktikan dia laki-laki?!”


“ Simple! Dadanya rata… *melirik ke arah dada Raisa*”


“ Hah? Hei! Perhatikan arah matamu itu! *menutup bagian dada*”


Ada-ada saja. Bagaimana aku bisa tidak menyadari jika dia adalah seorang laki-laki? Tapi dia sangat cantik dan anggun. Dia bisa disebut Wanita Tulen! Bagaimana bisa disebut seorang laki-laki?


Benar seperti kata Wei. Ada seperti penjagaan di depan pintu gerbang sebuah bangunan. Apa ini benar tempat yang Wei katakan? Tapi aku tidak menyangka bangunan seperti ini dibangun di atas Rawa.


“ Berhenti! Siapa kalian? Apa tujuan kalian kemari?”


“ Kami adalah murid dari Akademi Magic. Datang kemari ingin menjalankan misi. Ingin bertanya sesuatu pada tuan kalian. Apakah ada?”


“ Tidak! Tuan kami sedang keluar! Mungkin akan datang beberapa hari lagi! Kalian kembalilah ke Akademi kalian”


“ Tapi kami sudah jauh-jauh kemari hanya ingin menemui tuan kalian!”


“ Ada apa ini ribut-ribut? Siapa kalian?”


“ Kami adalah murid Akademi Magic. Apakah anda Tuan Galileo?”


“ Ya itu aku. Biarkan mereka masuk. Sudah lama tidka ada yang datang kemari. Rasanya sangat sepi *berjalan masuk*”

__ADS_1


“*Saling bertatapan lalu mengikuti tuan itu dan masuk bersama*”


__ADS_2