
BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨
Kami masuk ke dalam sebuah bangunan yang terkesan kuno dan antik. Sebelumnya seorang lelaki paruh baya membiarkan kami masuk dan berbincang-bincang untuk mencairkan suasana.
“ Sebenarnya apa yang kalian cari hingga jauh-jauh datang kemari?”
“ Kami ingin mencari buah Veronica… Apakah anda tau dimana tempatnya?”
“ Hah?! Buah Veronica? Kalian sebenarnya sudah menemukannya sebelum kalian datang jauh-jauh kemari. Aku hanya bisa memberi tau kalian teka-teki saja”
“ Hah? Teka-teki?”
“ Itu adalah tempat dimana diantara kalian tidak merasa ragu dan tidak merasa harus memperdulikan perkataan orang lain. Tempat dimana kau hanya menggunakan insting untuk masuk kesana”
“ Hah? Teka-teki apa itu? Kenapa sangat berbelit-belit?”
“ Hahaha… Dasar anak muda zaman sekarang…”
Kami sudah menemui pak tua ini yang serba tau. Pak Galileo. Tidak tau apa yang dikatakannya. Sangat membingungkan dan berbelit-belit. Membuat orang menjadi bingung. Sebenarnya apa maksud dari perkataannya?
Kami kembali ke luar bangunan itu. Duduk di bawah Matahari yang cerah. Ada air terjun kecil di depan bangunan ini. Kami duduk dan termenung dan memikirkan perkataan Pak Galileo tadi.
Willy kelihatannya sedang berpikir sangat keras hingga banyak peluh bercucuran di keningnya. Mengalir ke pipi. Apakah dia memikirkannya dengan sangat serius?
“ Willy? Apa yang kau pikirkan?”
“ Hah? Aku hanya berpikir besok adalah hari terakhir kita. Dan kita masih belum bisa menemukan buah Veronica itu. Apa yang akan kita lakukan, Raisa? Aku sangat bodoh membuat kita dikeluarkan dari Akademi”
“ Sudahlah… Kita masih ada waktu satu hari lagi. Kita harus bisa menemukan arti dari teka-teki yang diberikan oleh Pak Galileo”
“*Menganggukkan kepala*”
Kami menghabiskan makan malam bersama Pak Galileo. Kurasa Pak Galileo orangnya cukup ramah. Dia juga bercerita sering pergi keluar untuk mencari udara segar.
Dan jarak yang ia tempuh paling dekat adalah 5 km. Karena mau bagaimana lagi. Sekitar rumahnya adalah tempat yang sangat menyeramkan. Terutama Rawa Setan.
Bahkan Pak Galileo pernah hampir dihabisi oleh salah satu monster di dalam sana. Aku cukup merasa ngeri juga jika membayangkannya. Hanya lewat saja akan membuat orang merasa takut.
Selesai berbincang-bincang dan makan malam bersama. Pak Galileo memberikan kami masing-masing satu kamar. Dan membiarkan kami menginap satu malam.
Kamar yang dia berikan cukup bersih. Seperti selalu terawat dan dijaga. Apakah ada orang yang menempati kamar ini? Kenapa aku tidak melihat orang lain disini? Sebaliknya kamar Willy sangat kotor dan berdebu. Terpaksa aku harus membantunya membersihkan kamarnya juga.
Pak Galileo merasa bersalah dan meminta maaf pada Willy. Dan sebagai permintaan maafnya Willy diberikan kenang-kenangan berupa benda seperti bangunan ini. Sangat mirip. Miniatur!
Aku tidur dengan nyenyak di dalam kamar. Di atas kasur yang sebenarnya bukan milikku. Tapi aku merasa kasur ini sangat… sangat… sangat… nyaman untuk digunakan.
Dan keesokan paginya Pak Galileo sudah bangun dan membuat sarapan. Yang tidak kusangka adalah… Willy yang biasanya bangun didahului oleh Matahari sudah standby di sebelah Pak Galileo.
Mereka mengobrol dan membuat sarapan bersama. Bukan hanya aku yang merasa heran. Bahkan Pak Galileo juga awalnya heran karena Willy bangun pagi-pagi sekali.
Lalu membantu Pak Galileo membersihkan halaman dan air terjun kecilnya itu. Ini kami lakukan untuk berterima kasih atas makanan dan kamarnya. Pak Galileo hanya tersenyum melihat kami berdua.
Kami pamit setelah selesai membereskan kamar yang kami gunakan masing-masing. Pak Galileo memberikan kami beberapa bekal dan persiapan untuk beberapa hari.
Yah… Aku rasa Pak Galileo tidak sedingin yang Guru dingin itu katakan.
Justru jika dipikir-pikir malah dirinya yang paling dingin. Hahaha… Mungkin dia adalah pria yang paling dingin sedunia.
Eh? Tunggu! Apa dia benar-benar orang yang paling dingin?
“ Willy? Kau tunggu disini, ya… *berlari kembali kearah bangunan Pak Galileo lagi*”
“ Hah?! Apa yang akan kau lakukan? *mengikuti Raisa kembali*”
“ Willy! Apa kau tau siapa anak dari Pak Galileo?”
“ Tidak… Memangnya kenapa?”
“ Guru itu adalah anak dari Pak Galileo! Dia memberikanmu kamar itu karena sudah lama tidak digunakan oleh anaknya lagi. Dan karena dia mengingat anaknya saat melihat dirimu. Akhirnya dia memberikan kenang-kenangan agar mungkin kau bisa kembali lagi untuk mengunjunginya karena dia kesepian!”
“ Be… Benarkah?”
Kami berhenti di depan gerbang bangunan dimana kami menginap, berbincang, dan bercanda di Rumah Pak Galileo. Tapi saat kami kembali… Nihil! Tidak ada bangunan itu. Hanya ada gerbang yang menuju rawa dan semak-semak.
Ini semakin tidak masuk akal! Ini pasti ada hubungannya dengan Pak Guru yang dingin itu. Buah Veronica! Ya! Teka-teki itu! Pak Galileo memberikan kita petunjuk!
“ Willy… Sepertinya aku tau dimana letak buah Veronica itu… *menoleh kearah Willy*”
__ADS_1
“ Benarkah? Dimana?”
“ Di tempat kau menyibak air terjun. Kau bilang kau menyibak air terjun itu dengan insting kan! Dan aku menemukan tanaman yang sedang berbunga. Kau bilang bunga itu akan menjadi buah dalam waktu kurang lebih 10 hari. Ini adalah hari ke sepuluh kita pergi dari air terjun itu. Sudah kupastikan. Tanaman itu adalah tanaman yang menghasilkan Buah Veronica!”
“ Kenapa aku tidak terpikirkan hal ini…”
“ Sudahlah… Waktu kita tidak banyak…”
Aku menggunakan Kristal untuk membuat portal. Yang memiliki tujuan untuk pergi ke Akademi. Karena jika langsung ke air terjun belakang akademi maka akan membutuhkan kekuatan yang lebih besar.
‘Syush…’
Portal telah diaktifkan. Aku dan Willy masuk ke dalam portal. Seketika kami terkejut saat yang kami jumpai pertama kali adalah Pak Guru yang dingin itu. Membuat kami terpaku dan membisu.
Saat itu di akademi sudah malam kurang lebih jam 11 malam. Tubuhku sangat terkuras energinya karena menggunakan portal yang waktu tempuhnya selama 6 hari. Pasti sangat jauh. Kurang lebih 100 kilometer.
“ Kalian gagal membawa buah itu”
“ Tidak! Kami tidak gagal! Waktunya masih ada 1 jam lagi. Kami akan membuktikan bahwa kami bisa!”
“ Hmm… Baiklah… Aku berikan waktu 1 jam lagi. Jika kalian tidak membawa buah Veronica itu. Maka kalian akan dikeluarkan dari Akademi ini”
Tidak membutuhkan waktu lama aku dan Willy berlari kearah air terjun akademi. Willy menyibak air terjun itu dengan instingnya. Lalu kami segera mencari buah yang menentukan nasib kami di akademi.
20 menit lamanya kami mencari kesana-kemari. Tapi hasilnya nihil. Waktu yang diberikan oleh Pak Guru sudah mulai menipis. Willy mulai pasrah dengan keadaan.
Aku tetap mencari meskipun energiku mulai habis. Tubuhku mulai melemah. Dan dalam sekejap mata sepertinya aku sudah hilang kesadaran. Dan tiba di suatu tempat yang aku tidak tau dimana.
“ Raisa… Kau adalah orang yang cerdas. Aku percaya padamu. Apapun itu. Aku hanya akan memberikanmu sebuah petunjuk…”
“ Ugh… Si… Siapa kau? *berusaha berbicara meskipun terbata-bata*”
Tiba-tiba serangkaian kejadian berputar di dalam otakku. Seperti film yang diputar ulang. Aku melihat diriku menyentuh daun lembut tanaman itu. Willy yang sedang asik melihat kupu-kupu yang terbang kesana-kemari.
Kejadian itu sangat indah dan terlihat tentram. Aku merasa bahagia melihat diriku yang terlihat memancarkan aura kebahagiaan. Dan Willy yang memancarkan aura tenangnya.
“ Dia ada saat suasana sedang tenang dan tentram! Tenang! Aura itu! Aku tau itu adalah seseorang yang memiliki aura yang tenang dapat membuat tanaman itu terliha-”
Sosok wanita yang hadir dalam mimpiku langsung hilang dalam sekejap mata. Aku terbangun dari mimpiku yang sangat membingungkan. Willy terlihat sangat lelah.
Aku berusaha untuk bangkit dan mencoba untuk mengalirkan energy yang membuat suasana dan aura tenang mendominasi tempat ini. Meskipun sedikit susah. Tapi aku tetap mencobanya.
Kurasa bibirku terasa amis. Ini adalah darah. Sepertinya belum apa-apa beberapa pembuluh darahku sudah ada yang pecah. Lalu tanpa kusadari ada energy penyembuhan yang mengalir dalam tubuhku…
Dessy?
“Nona… Dessy akan selalu membantu, Nona. Apapun yang terjadi…”
“ De… Ssy?”
Bahuku terasa hangat. Lalu aku berusaha untuk bangkit dan mengalirkan aura ketenangan lagi. Untuk kali ini, dengan bantuan Dessy. Aku jadi lebih mudah mengalirkan aura itu lagi.
Tepat 5 menit sebelum waktu habis. Aku sudah melihat tanaman yang kucari-cari itu. Dengan perlahan ku petik buahnya. Saat itu juga buah Veronica itu bersinar. Lalu masuk ke dalam tubuhku.
“Aaakkhhh!!!”
Rasanya seperti terbakar api yang sangat panas. Aku tidak mengendalikan diriku. Dan langsung terjatuh tak sadarkan diri. Samar-samar kudengar seseorang berteriak dan mendekatiku.
Ahh… Tempat ini lagi… Tempat apa ini sebenarnya? Kenapa aku bisa masuk ke dalam sini. Dan siapa sebenarnya sosok wanita yang selalu hadir untuk membantuku itu?
“Elemen api sedang menyesuaikan dirinya denganmu. Karena kau dominan elemen air, jadi sedang berusaha untuk menyatukan mereka”
“ Kenapa aku bisa menguasai elemen yang lain juga? Kenapa aku bisa menguasai elemen lain? Dan sebenarnya siapa dirimu? Kenapa selalu datang membantuku?”
“Kau terlalu dini untuk tau…”
Tidak tau berapa lama aku tidak sadarkan diri. Tapi saat bangun sudah ada Dessy, Xion dan Willy di sampingku. Mereka kelihatan sumringah saat aku sadarkan diri.
“ Nonaaa… Hiks… Dessy takut Nona kenapa-napa… *memeluk Raisa*”
“ Raisa. Kau sungguh membuatku khawatir. Kenapa tidak memintaku menemanimu juga?”
“ Willy?”
“ Maafkan aku… Aku sangat bodoh… *menundukkan kepala*”
“ Sudahlah… Aku masih sama kok… *berusaha tersenyum*”
__ADS_1
Aku sepertinya dirawat di akademi. Karena dindingnya masih sama seperti di asrama. Dessy mengantarku kembali ke asrama. Xion kembali ke kelasnya setelah aku sampai di depan asrama. Begitu juga Willy.
Sepanjang jalan Willy terus menunduk dan seperti merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku. Padahal sebenarnya aku baik-baik saja. Hanya merasa sedikit letih.
“ Raisaaaa!!! Lihatlah iniiii!!! Aku membuatkannya untukmu, lho... Akhirnya kau siumannn… Kau tau betapa khawatirnya aku padamu”
Ada kejutan ternyata dari Selia. Dia tidak menemaniku di ruang perawatan karena menyiapkan kejutan untukku. Pantas saja aku heran kenapa Selia tidak ada di ruang perawatan itu.
“ Apa kau yang menyiapkan ini?”
“ Tidak! Dessy juga ikut membantu kok…”
“ Kalian begitu repot-repot begini. Apakah tidak berlebihan?”
“ Yah… Kami rasa tidak berlebihan. Ya kan, Dessy?”
“*Menganggukkan kepala*”
Kami bertiga duduk di meja makan. Bercerita dan bercanda semalaman. Dan esok paginya aku bangun dan segera bersiap-siap untuk kelas dan menemui pak guru dingin itu.
Tidak kusangka saat keluar dari asrama sudah ada Willy yang menunggu di luar. Aku juga sangat heran melihat wajahnya yang selalu menunduk dan murung. Tidak seperti biasanya.
“ Maafkan aku, Raisa… Karena diriku kau jadi berada di ruang perawatan berhari-hari… *berbicara sambil terus menunduk*”
“ Hmm… Sebenarnya aku belum memaafkan dirimu, sih… Jika kau ingin aku memaafkanmu maka kau harus melakukan sesuatu untukku”
“ Hah? Apa itu?”
Aku dan Willy masuk ke dalam ruang kelas yang pengap, sepi dan membosankan itu lagi. Pak guru yang dingin itu ternyata masih tidak ada di dalam ruang kelas itu.
“ Kalian kenapa hanya berdiri di depan pintu?”
“ Hiii! *terkejut setengah mati*”
Pak guru dingin itu masuk ke dalam kelas lalu duduk di kursi biasanya. Kami juga langsung duduk di kursi kami masing-masing. Suasana pun menjadi tegang dan canggung.
“ Pak guru… Kami sudah gagal membawa Buah Veronica itu padamu. Kami pantas dihukum dan di keluarkan dari akademi ini”
“ Kata siapa kalian tidak berhasil membawa buah itu padaku?”
“ Hah? Maksudmu?”
“ Buah itu sudah menyatu dengan raga dan jiwamu, Raisa. Membawa dirimu masuk ke dalam kelas ini. Itu sama masuk membawa buah itu. Karena itu, aku cukup merasa bangga dengan kalian berdua”
Aku cukup merasa heran dan aneh dengan pak guru yang dingin ini. Di ucapkan selamat oleh Pak guru seperti merasa bangga, senang dan sedikit ragu. Karena ini terasa menakutkan.
Pak guru yang biasanya hanya membaca buku dan memberikan kami tugas membaca. Akhirnya memberi selamat pada kami yang berhasil menyelesaikan misi yang dia berikan.
“ Oh iya, Pak… Aku ingin bertanya… Apakah kau mengenal Pak Galileo?”
“*Menatap Raisa dengan wajah yang terkejut*”
“ Emh… Ma… Maaf jika saya salah bertanya, Pak”
“ Apakah kamu menemui orang tua yang bernama Galileo itu? Benarkah? Haeh… Sepertinya dia sudah kesepian di sana. Mungkin lain waktu aku akan berkunjung ke sana”
“ Sebenarnya siapa Pak Galileo itu, Pak?”
“ Dia adalah orang tua yang sangat cerewet, banyak omong dan suka memerintah. Sebenarnya aku adalah orang yang dia angkat menjadi anaknya. Sepertinya sudah lama aku tidak kesana. Mungkin dia sedikit merindukanku. Jadi menampakkan dirinya”
“ Oh iya… Dia memberikan ini padaku sebagai kenang-kenangan. Mungkin sebaiknya kuberikan ini padamu saja *memberikan barang yang di berikan oleh Pak Galileo*”
“*Menerima lalu mengamati sambil tersenyum lembut*”
Yah… Kurasa Pak guru dingin ini sedikit berkurang kakunya. Dan setelah memberikan itu dia memberi kami misi untuk mencari sebuah barang yang langka.
Dia mengatakan bahwa dia yakin kami akan dapat membawa barang itu ke akademi. Barang yang harus kami bawa adalah sisik dari ular merah yang merupakan peliharaan dari Ratu Silma.
Waktu yang dia berikan tidak terbatas. Terserah kami akan pulang dalam berapa hari. Tapi dia juga memberikan kami masing-masing 1 kantung. Yang pertama berwarna biru dan kedua berwarna merah.
Kami masih tidak diperbolehkan membuka kantung itu. Dia juga memberikan kami peta. Seperti peta 3 dimensi. Kami hanya perlu menyebut nama tempatnya maka muncullah peta 3 dimensi di atas kertas itu.
“ Kalian berhati-hatilah di perjalanan. Karena perjalanan kali ini mungkin akan membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih banyak”
“ Ya…”
“ Apakah kami boleh membawa teman?”
__ADS_1
“ Hmm? Kalau itu permintaan kalian aku akan mengabulkannya. Kalian bawalah beberapa orang teman untuk membantu kalian”
“ Baik, Guru…”