
BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨
Aku kembali ke penginapan dengan beberapa barang-barang cantik dan yang menurutku menarik. Aku tidak mengambil yang ukurannya lebih dari genggaman tangan.
Karena jika dibawa maka akan menjadi beban saja. Meskipun aku bisa menyimpannya di dalam kalung. Tapi tetap saja itu membuang-buang uang kan?
“ Tuan Putri? Dessy bawakan cemilan untuk Tuan Putriii!”
“ Dessy… Panggil aku Raisa sajaa!”
“ Tapi Tuan Putri… Dessy tidak bisa melakukannya…”
“ Baiklah panggil Nona saja ya… Oh iya apa Xion sudah kembali?”
“ Belum, Nona”
“ Hmm… Kira-kira dia kemana yah?”
Aku merebahkan diri di kasur. Sudah lama tidak tidur di atas kasur. Selalu tidur di atas daun atau semak. Dan meskipun rasanya lebih nyaman di kasur tapi tetap saja di alam lepas lebih bebas.
Xion juga tidak datang ke penginapan. Entah dimana dia sekarang. Oh iya! Saat di hutan aku juga memperingatkannya untuk menutupi identitas aslinya agar tidak menarik perhatian para elf.
Dan dia menyembunyikan telinga dan ekornya dan menggantinya dengan telinga elf biasa. Tapi itu sangatlah di sayangkan karena aku tidak bisa mengelus ekornya yang lembut ituu.
Aku tidur di kamar yang sama dengan Dessy. Sedangkan Leo, Fernand dan Xion tidur di kamar lain. Bagaimanapun juga mereka adalah lawan jenis kan?
Sebenarnya Leo dan Fernand tidak ingin tidur di penginapan dan memilih tidur di luar. Biasanya sih mereka tidur di atas atap katanya. Tapi itu sangatlah tidak wajar. Jadi aku bersikeras meminta mereka tinggal di penginapan.
Tidak terasa hari mulai pagi. Cahaya yang hangat seperti cahaya matahari masuk ke dalam kamar melalui jendela yang sudah dibuka oleh Dessy yang sudah terjaga lebih dulu.
__ADS_1
“ Dessy? Apakah Xion sudah kembali? Hoaemm… *mengusap-usap mata*”
“ Hmm? Belum, Nona. Apakah Nona mengkhawatirkannya?”
“ Yah. Begitulah. Rasanya seperti peliharaanku hilang satu iya kan? Furu!”
“ Furururu…!”
“ Pftt… Furu sangatlah menggemaskan, Nona”
“ Benar kan? Dia sangat imut!”
“ Apakah aku tidak imut?”
“ Oh… Kau sudah kembali… Apa yang kau lakukan sejak kemarin? Kemana saja kau?”
“ Aku pergi mencari uang! Lihatlah! *menunjukkan 1 kantung koin yang cukup digenggam oleh tangan*”
“ Berhentilah menatapku sedekat itu!”
“ Hmm… Baiklah simpan uang itu baik-baik. Jangan sampai hilang”
Kami membereskan barang-barang dan pergi lagi kea rah menuju puncak pohon untuk melihat langit. Xion membawa koinnya dengan bangga. Dan tidak menggunakannya sepeserpun. Aku rasa dia sudah bosan dengan koinnya.
“ Xion? Apa kau mulai betah dengan wujud elf itu?”
“ Yap! Aku kira begitu. Rasanya sangat nyaman tanpa tatapan aneh dari para elf lain”
“ Hmm… Kembalilah ke wujud asalmuu… Aku ingin mengelus ekormuuu… Ayolahhh… Ayolah Kucing kecilll…”
__ADS_1
“ Tidak!”
“ Hwaaa! Aku mau ekor muu! Emh… Bagaimana jika telinga saja?”
“ Tidak! Tidak akann!”
“ Baiklah ini kau yang minta! Furu tangkap dia!”
“ Fururururu!”
“ Ayo kita serang dengan serangan gelitik!”
“ Pfftt… Hahahaha…. Hentikan ituu! Aku tidak bisa menahannya hahaha! Baiklah baik… Aku akan kembali ke wujudku sebelumnya… Kau menang! Puas?”
“ Ayooo!”
‘Gwoarrr’
“ Xion jangan lakukan hal itu di tengah kota!”
“ I… Itu bukan aku!”
“ Naga kematian datang lagiii! Ayo sembunyiiii! *berlari tanpa arah yang jelas*”
“ Naga kematian? Apa itu?”
“ Hei! Jelaskan pada kami apa itu Naga kematian!”
“ Na… Naga itu kembali lagi… Ayo cepat sembunyiiii!”
__ADS_1
“ Hah?”