Penguasa Yang Bereinkarnasi

Penguasa Yang Bereinkarnasi
Eps. 51


__ADS_3

BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨


“ Ugh… Dimana aku? *menatap sekeliling*”


“ Apa kau sudah sadar? Aku membuatkanmu sup! Apa kau mau?”


“ Wah… Romantic Scene! *menatap Raisa yang sedang disuapi sup*”


“ Phuuh… Apa maksudmu?! Jangan bodoh! Oh iya… Siapa kau?”


“ Aku adalah Jiu!”


“ Apa kau kerabat dari Airi? Wajahmu sedikit mirip dengannya…”


“ Yap! Kak Ai memintaku menemanimu kemanapun kau pergi!”


“ A… Apa? Bagaimana bisa-”


“ Aku menyamar menjadi pensil di tasmu itu!”


“ Pensil?”


Beberapa saat yang lalu…


“ Oh iya! Raisa? Simpanlah ini sebagai kenang-kenangan dariku. Jangan sampai hilang ya~ *memberikan pensil*”


“ Hah? Pensil? Baiklah… aku akan menggunakannya dengan baik *menerima lalu meletakkan didalam tas*”


“ Jangan digunakan! Itu adalah pensil yang hidup! Tidak boleh digunakan ya~ Ingat itu!”


“ Baik!”


Kembali ke saat ini…


Oh iya… Sepertinya aku melupakan kalau aku menyimpan pensil… Ups… Jiu didalam tasku. Sepertinya Dessy yang memasukkannya kedalam tasku. Memang Dessy yang paling The Best!


Akademi Magic


Kelas Energi Penyembuhan


“ Hachiuu… *bersin dengan tiba-tiba*”


“ Ada apa Dessy? Apa kau sakit?”


“ Ti… Tidak… Hidung Dessy hanya kemasukan debu saja”


“ Oh… Syukurlah kalau begitu… Kita lanjutkan ya~”


“(Apa, Nona baik-baik saja ya? Dessy sangat merindukan, Nona…”


Diluar Akademi


Raisa berada


Aku sungguh merasa sangat beruntung karena bisa melihat dunia lagi. Melihat tanah yang kotor ini lagi. Menyentuh rumput kasar ini lagi. Dan melihat seseorang lagi.


“ Apa kau yang memainkan seruling itu, Jiu?”


“ Tidak! Bukan Jiu. Ada seseorang berjubah putih dan bermasker yang datang memeriksa kalian berdua tapi saat dia melihat Jiu dia langsung pergi tanpa sepatah kata pun”


“(Kira-kira seseorang itu siapa ya?)”


Untuk sementara kami tidak melanjutkan perjalanan karena hari sudah mulai gelap. Tidak kusangka Willy juga bisa menguasai elemen api. Dia membuat api unggun dengan mudahnya.


“ Willy kenapa kau bisa menguasai dua elemen sekaligus?”


“ Pfft… Hahaha… Tidak mungkin kau tidak tau… Kita kan sekelas! Bodoh…”


“ Lalu?”


“ Kau pasti tidak hanya menguasai satu elemen saja kan, Nona? *menatap Raisa hingga hanya berjarak 1 inci saja*”


“ Menjauh dariku! Ternyata kau benar hidung belang! *mendorong Willy*”


Dasar cabul! Hidung belang! Kenapa bisa melakukan itu padahal tidak saling mengenal satu sama lain? Dasar aneh! Haeh… Ngomong-ngomong soal itu. Aku jadi rindu pada Xion.


Kira-kira dia sedang apa sekarang yah? Apa dia sudah makan? Leo dan Fernand? Apakah mereka sudah bisa berbaur? Dan Dessy? Apakah jam segini dia sudah tidur?


Akademi Magic


Ruang Devan


“ Devan? Apa kau yakin dengan misi yang kau berikan ini? Tidakkah terlalu berbahaya?”


“ Mereka bukan anak-anak lagi. Dan mereka adalah kedua reinkarnasi di sang Penguasa. Apakah aku perlu ragu?”


“ Hmm… Betul juga… Hei? Apa menurutmu mereka berdua berjodoh? Kelihatannya mereka sangat akrab! Mereka juga kelihatan serasi”


“ Bukan urusanku”


“ Haeh… Dasar kau ini…”


Asrama Putra


“ Aku merindukan Raisaaa~”


“ Temui saja. Apa susahnya?”


“ Tidak bisa… Jika aku keluar lagi hari ini maka aku akan dihukum lagi…”

__ADS_1


Asrama Putri


“ Si… Siapa kau?”


“ Aku adalah teman sekamarmu. Karena sebenarnya kita tinggal bertiga. Tapi karena ada kendala aku tidak bisa masuk selama beberapa hari. Salam kenal yah… Aku Selia…”


“ Oh… I… Iya…”


Kerajaan Elf Hijau


Istana


“ Sayang… Aku rasa aku merindukan Raisa… Apa dia akan baik-baik saja?”


“ Haeh… Lihat dirimu. Ini sudah ke- 1001 kau menanyakan hal itu. Tenanglah dan percaya pada Raisa. Dia sudah dewasa. Bisa menentukan jalannya sendiri”


“ Hmm… Aku rasa begitu”


Diluar Akademi


Raisa berada


Aku benar-benar penasaran siapa yang bisa menenangkan para mayat hidup itu. Apa yang dia inginkan? Kenapa mau membantu kami? Aku masih menerka-nerka kira-kira siapakah itu.


Keesokan paginya kami berangkat lagi. Semalam kami istirahat di pohon yang agak besar. Yang kosong, sepertinya tidak di tempati lagi.Jiu sudah berubah wujud menjadi pensil dan masuk ke dalam tasku. Aku merasa seperti Dora The Explorer.


Kami segera melanjutkan perjalanan kami pada hari kedua. Tidak ada yang aneh. Aku dan Willy berjalan beriringan tanpa mengobrol. Cuaca hari ini cerah.


Terkadang angina sepoi-sepoi mengelus beberapa helai rambutku. Karena sedang berpetualang seperti ini aku menguncir rambutku seperti ekor kuda. Yah… Tujuannya sih agar tidak gerah dan repot di perjalanan.


Untuk beberapa waktu aku mulai rindu dengan yang lainnya. Yang biasa menemaniku kemanapun aku pergi. Yah… Kurasa aku sedikit rindu dengan Xion.


“ Willy? Apa kita akan tetap mengikuti jalan yang diberitaukan oleh Pak Da?”


“ Ya. Meskipun sedikit berbahaya kita akan semakin cepat mendapatkan buah itu jika melewati jalan yang diberikan Pak tua itu”


“ Willy? Apa mayat hidup itu ada yang mengendalikan?”


“ Tidak. Mayat hidup itu bangkit karena adanya hujan yang turun sebelumnya. Tidak ada hubungannya dengan pengendalian semacam itu”


“ Benarkah?”


Aku memang sedikit curiga karena dia tau segalanya yang menyangkut mayat hidup. Apa yang dia sembunyikan dariku? Kenapa dia bisa tau tentang mayat hidup kemarin?


Kami terus berjalan mengikuti arah jalan yang Pak Da berikan. Hingga sampai di depan hutan yang sangat lebat dan rimbun. Pohon-pohonnya sangat tinggi dan besar.


Seperti pohon oak juga. Tapi ini pohon yang liar. Willy berkata tidak ada yang berani masuk kesana kecuali para petinggi Kerajaan. Tapi karena kami berdua adalah anak murid dari kelas khusus.


Why Not?


“ Willy? Apa kau yakin kita bisa keluar lagi dari hutan yang menyeramkan ini?”


“ Tidak! Siapa bilang aku takut…”


Saat masuk ke hutan ini, aku merasakan aura yang sangat mencekam. Di dalam hutan ini apa yang tidak bisa terjadi. Mungkin saja aku bisa menemui ajalku di dalam hutan ini.


Hutan Kematian


Untuk keluar dari hutan ini, kemungkinan membutuhkan waktu 1 atau 2 hari lamanya. Ini kami lakukan agar bisa mendapatkan buah Veronica itu dan membuktikan bahwa kami bisa belajar dari petualangan ini.


Banyak cerita-cerita yang tidak menyenangkan tentang Hutan Kematian ini. Banyak para pejuang yang menemui ajalnya di dalam hutan ini. Entah apakah kami berdua bisa keluar lagi dari sini.


‘ Srek… Srek…’


Aku dan Willy terkejut secara bersamaan dan bersiap untuk melindungi diri masing-masing. Semak-semak itu makin bergoyang. Membuat kami semakin waspada dengan apa yang akan datang selanjutnya.


Willy mendekati semak-semak itu perlahan-lahan dengan waspada. Peluh mulai mengalir di keningku, saking tegangnya keadaan saat ini. Dan saat Willy membuka semak-semak. Makhluk yang kami lihat adalah…


Rubah kecil?


“ Hah? Ternyata hanya hewan kecil… Sudahlah. Ayo kita pergi… Membuat kaget saja…*berjalan lagi*”


“ Huft… Sungguh melegakan… *menghela nafas dan mengelus dada*”


‘ Nona baik? Tolong aku… Aku kehilangan jejak orang tuaku… Hiks… Aku tau kamu orang baik... Aku mohon… Tolonglah aku… *meraih tangan Raisa*’


“ Willy? Bolehkah kita membawa hewan kecil ini bersama kita juga?”


“ Tidak! Tidak boleh!”


“ Ayolah… Biarkan dia ikut yaaa… (Jika aku gunakan jurus mata berbinar dan membuat wajah imut pasti dia tidak akan menolak! Hehehe…)”


“ Ti- (Sial dia imut sekali…)”


“ (Pfft… Wajahnya memerah… Pasti dia izinkan!)”


“ Tetap tidak boleh!”


“ Ayolahhh~ (Ayolah izinkan saja… Aku sudah lelah membuat wajah imut ini…)”


“ Baiklah, tapi untuk kali ini saja…”


“ Yeay!”


Aku tidak tau mengapa. Tapi aku bisa berbicara dengan hewan ini juga! Ternyata aku tidak hanya bisa berbicara dengan Furu dan Pohon hidup! Tapi sesekali saat aku berbicara dengan hewan biasa. Mereka tidak menanggapi.


Apakah ada hal yang spesial pada setiap makhluk yang bisa berkomunikasi denganku? Ini pasti ada hubungannya dengan kekuatanku. Ayah bilang aku hanya menguasai elemen air.


Tapi kenapa aku bisa menggunakan energy penyembuhan? Kenapa aku bisa membantu mengobati luka pohon oak di Istana, yang ilmunya harus dipelajari berbulan-bulan? Kenapa aku dimasukkan ke kelas khusus ini?

__ADS_1


Willy! Aku masih belum tau apa elemennya. Tapi saat dia menyibak air di air terjun dekat akademi, dia bisa melakukannya dengan mudah. Tapia pa dia benar-benar elemen air sama sepertiku?


“ Beruang kecil apakah kau lelah? *mengangkat dan menggendongnya*”


“ Hei! Apa yang kau lakukan? Kenapa membiarkannya berada di pelukanmu seperti itu? *menatap beruang kecil dengan amarah*”


“ Tidak apa-apa Willy… Aku lihat dia kelelahan. Jadi ku angkat dan ku gendong. Aku juga tidak begitu lelah jadi bisa gendong dia”


Willy menatap beruang kecil itu dengan tatapan mengerikan. Seperti ingin memakan, membanting, melahap beruang kecil ini. Tatapannya membuatku sedikit gemas.


Arti tatapan Willy yang sebenarnya…


“Atas dasar apa kau bisa berada di pelukannya hah? Dasar rubah kecil licik!”


Kami masuk lebih dalam ke hutan. Suasana semakin mencekam saat hari mulai gelap. Untung saja Willy sudah membuat pondok di atas pohon. Dia bilang jika bermalam di atas tanah maka tingkat bahayanya akan sangat besar.


Sedangkan jika bermalam di atas pohon, tingkat bahayanya sedikit berkurang. Persediaan makananku habis dan berhamburan saat melawan para mayat hidup. Dan sekarang Willy sedang mencari sesuatu yang bisa dimakan.


“ Haeh… Dia lama sekali yah… Rubah~ Rubah kecil~ Apa kau tidak dilahap para monster saat sendirian di tempat tadi? *berbicara sambil memainkan telinga Rubah*”


‘Poof…’


Tidak disangka Rubah itu berubah menjadi seseorang. Lelaki! Sama seperti Xion yang berubah menjadi elf. Hanya saja telinganya seperti Rubah dan ekornya… Ekornya… Ekornya…


Menggemaskan!!!


Belum apa-apa aku sudah tergiur ingin mengelus telinga dan ekornya. Sangat imut~ Jika Rubah biasa kebanyakan berwarna orange dan putih, maka ini berbeda karena dia berwarna putih polos!


Untuk saat ini. Jika kalian bisa melihat wajahku mungkin sudah ada banyak bintang di mataku saking senangnya melihat ekornya yang halus. Dan air liurku yang menetes karena tergiur dengan ekor putih polosnya.


“ Hng… Apakah kau tergiur dengan ketampananku? *meninggikan kepala dan membenarkan rambut*”


“ Tidak! Aku tergiur dengan ekormu… *terus menatap bagian ekor*”


“ Apa? Kau tidak tertarik dengan ketampananku? Wanita mana yang tidak tertarik dengan ketampananku?”


“ Kalau begitu aku jadi yang pertama!”


“ Hmm… Baiklah… Kalau begitu biar kau lihat lebih dekat ketampanan wajahku ini… *mendekat ke Raisa hingga jarak wajah mereka hanya 2 jari*”


“*Terkejut karena sang Rubah tiba-tiba mendekat*”


Aku benar-benar terpesona dengan ekornya yang kelihatan putih, bersih, dan halus. Aku benar-benar tidak bisa memalingkan wajahku dari ekornya. Sampai dia mendekatiku secara tiba-tiba.


‘ Bruk…’


Willy masuk secara tiba-tiba dan mendorong Rubah kecil hingga jatuh. Aku juga sangat terkejut karena Willy melakukannya secara tiba-tiba. Dan buruannya? Mungkin sudah dia lempar entah kemana. Sepertinya tidak ada makan malam hari ini.


“ Raisa apa yang dia lakukan padamu? *memegang tangan Raisa dan memeriksa apakah ada yang terluka*”


“ Aku tidak apa-apa… Tenang saja… Lebih baik kamu tanya dia yang kau dorong dengan tenaga maksimalmu itu *menunjuk Rubah yang sudah tersungkur tak berdaya*”


“ Hei Rubah licik! Apa yang kau lakukan pada Raisa hah!”


“ Ini dia sang Pangerannya…”


“ Raisa… Sudah kubilang jangan bawa dia! Dia adalah siluman! Kita tidak tau apakah dia baik atau jahat!”


“ Sudahlah… Ini bisa kita bicarakan baik-baik saja”


Kami bertiga berbicara baik-baik satu sama lain. Setelah dia menjelaskan ternyata aku baru tau kalau dia adalah Pangeran di dalam hutan ini. Pangeran Renelovan.


Yang menguji kami saat masuk ke hutan ini. Dia mengatakan hanya orang yang bisa mengerti perkataannya yang bisa masuk ke dalam hutan ini. Dan hanya beberapa orang yang bisa memahami dan mengerti perkataannya.


Dan untuk kali ini ada orang yang bisa membuatnya berubah secara tiba-tiba. Dia juga mengatakan ada ramalan 5 orang yang akan melawan bencana yang akan tiba di masa mendatang. Dan dia sudah menemukan salah satunya.


“ Tapi siapa 4 orang itu?”


“*Mengangkat bahu*”


Yah… Dia juga tidak tau siapa satu orang yang akan datang itu. Tapi aku sudah menduga bencana yang dia maksud pasti ada hubungannya dengan Diana. Itu pasti… Aku sangat yakin akan hal itu.


‘ Kruk…’


“ Oh iya! Willy? Mana hasil buruanmu?”


“ E… Itu… Sepertinya aku melemparkannya entah kemana…”


“ Haeh… Ya sudahlah untuk malam ini kita tanam ini saja”


“ Hah? Tanam apa? Kenapa kita menanam?”


“ Hoho… Jangan remehkan benda ini lho…*menunjukkan benih buah yang diberikan oleh Ai*”


“ Makanan? Ini hanya benih! Bagaimana kita bisa kenyang makan ini?”


‘Tuk…’


“ Bodoh! Kita tidak makan benihnya! Kita makan buahnya!”


“ Sekarang?”


“ Tidak… Ini butuh waktu beberapa jam. Besok pagi baru kita makan buahnya. Jadi tahan lapar kalian untuk beberapa jam, ya…”


Sebenarnya aku tidak bisa tidur jika tidak makan. Tapi kelihatannya mereka berdua tidak masalah dengan hal ini. Yah… Aku kan sudah terbiasa makan sebelum tidur.


Meskipun aku tidak bisa tidur, tapi tetap kupaksakan untuk tidur lelap. Kulihat Willy dan si Rubah tidur dengan nyenyak. Sebenarnya nama si Rubah itu adalah Lovan. Tapi dia mengikuti marga ibunya. Jadilah bernama Rene Lovan.


Tapi tunggu?! Bukankah marga biasanya diambil dari ayah? Kenapa bisa dari ibu? Apakah dia adalah anak yatim? Seharusnya seorang Pangeran hanya duduk tenang di Istananya. Kenapa dia malah berada di Pintu Masuk Hutan Kematian? Dan menguji para petualang yang datang? Ini sangat membingungkan!

__ADS_1


__ADS_2