
BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨
Setelah makan siang bersama aku dan Papa menggali pasir putih pantai itu. Tidak disangka Papa menemukan kerang yang biasanya di dagangkan oleh para pedagang di pasar.
Aku yang merasa tidak mau kalah pun mulai menggali lebih semangat lagi. Tapi, Eh? Aku mulai berkata dalam hati. Ini benda apa? Berkilau cantik bagai bulan di malam hari.
Temaram. Tidak terlalu terang dan tidak terlalu redup. Cahayanya berpendar-pendar cantik sekali. Aku mulai mengamatinya lamat-lamat. Papa sudah berpindah tempat dari tadi.
Bentuknya seperti Kristal bergerigi. Warnanya biru muda bagai warna air laut yang membasahi kakiku. Aku langsung menyimpannya di dalam kalungku saat ku lihat Mama mendekat.
“ Kamu dapat apa, Sa?”
“ Nggak dapat apa-apa, Ma. Tapi kalo Mama tanya Papa pasti dia dapat”
“ Baiklah. Mama akan tanya dia. Kamu hati-hati ya. Ombaknya besar jangan sampai terbawa”
“ Oke, Ma”
__ADS_1
Sesuai perkataanku Mama langsung mendatangi Papa yang asik mengumpulkan kerang yang bisa di masak itu. Dan ya mereka berdua langsung mencari bersama-sama dengan antusias.
Aku mulai mengeluarkan benda berkilau itu dari kalungku. Benda apa ini sebenarnya? Apakah bisa dijual? Jika dijual dapat berapa ya? Itu semua adalah pemikiran pertamaku. Setelah mengamatinya dengan cermat aku meletakkan benda itu di dalam kalungku lagi.
“ Isa sini! Ada banyak kerang lho! Bantuin kami yuk. Kalo dapat banyak bisa kita masak nih”
“ Iya, Ma”
Kami menghabiskan waktu untuk mencari kerang di bawah pasir putih asin itu. Pikiranku masih saja melayang ke benda berkilau itu. Dan sekali lagi lamunanku di bangunkan oleh Mama.
“ Ayo! Sudah sore kita pulang”
Kami pulang dengan badan yang penat namun hati yang senang. Aku terlalu lelah hingga tidur di mobil sampai di rumah. Mama membangunkanku dan mengatakan jika kami sudah sampai di rumah.
Mama dan Papa membereskan barang-barang dari pantai tadi. Aku ingin membantu tapi Mama memintaku untuk segera mandi karena tadi sudah bermain air terlalu lama. Takutnya nanti masuk angin.
Aku juga tidak ingin melawan perintah orang tua. Jadi aku langsung mencari kamar mandi dan segera membersihkan diri. Di kamar mandi pikiranku masih saja melayang ke benda itu.
__ADS_1
Aku menggerakan tanganku lagi. Air di bak mandi pun mulai mengikuti gerak tanganku. Aku selalu puas melihat kejadian itu meskipun berulang-ulang.
Sambil meliuk-liukkan jariku dengan lembut aku juga memperhatikan benda itu. Cantik sekali, gumamku. Kristal itu. Apa tidak ada orang yang mengetahuinya?
Oh iya, benar saja kan disana belum banyak pengunjungnya. Tidak, mungkin saja kebetulan tapi mimpi tadi? Ahhh kenapa jadi rumit sekali sih?
“ Isaaa? Kamu sudah selesai belum? Kita mau makan malam nih. Cepat selesaikan mandinya!”
“ Iya, Ma. Aku akan segera turun”
Aku bergegas menyelesaikan mandiku. Mengenakan piyama. Lalu turun ke bawah. Ke meja makan. Papa sudah duduk di sana sambil memegang kertas. Sepertinya penting. Karena raut wajah Papa begitu serius.
Aku yang mau makan pun berusaha untuk tidak mengganggu Papa yang sibuk itu. Mama juga mulai kesal dengan kelakuan Papa yang bekerja di meja makan.
“ Pa? Itu bisa di simpan dulu nggak? Kita mau makan lho! *meletakkan piring sambil tersenyum kearah Papa*”
“ Eh? E… Oke kita makan dulu baru Papa kerja lagi”
__ADS_1
“ Pfftt… Papa lucu sekali sih *aku berusaha untuk menyembunyikan tawaku*”