
BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨
Aku makan bersama Javier dengan ikan panggang yang aku idam-idamkan sejak kemarin. Dan kulihat Javier juga sangat menyukai ikan panggangnya. Sungguh senang melihatnya menikmati makanannya.
“ Javier? Sebenarnya siapa orang tuamu?”
“*Menunduk dan murung*”
“ Eh? Sepertinya aku salah tanya! Ah… Maaf… Maaf… Anggap saja aku tidak pernah bertanya, yah…”
“ Aku tidak pernah ingat dan tidak pernah tau siapa orang tuaku… Aku hanya tau paman itu yang merawatku…”
“ Apakah dia merawatmu dengan baik?”
“ Tidak… Dia memaksa kami untuk mencuri setiap hari. Lalu hasil curiannya akan ditukar dengan makanan”
“ Haeh… Sudahlah jangan ingat-ingat hal itu lagi, ya… Lebih baik kau habiskan makananmu lalu kita kembali ke penginapan, ya… *menenangkan Javier dengan mengelus kepalanya*”
“*Menganggukkan kepala pelan*”
Aku dan Javier kembali ke penginapan. Dan aku terkejut saat melihat Selia duduk di kasur dengan wajah murung. Dan matanya yang terlihat sembap. Habis menangis kah?
Aku menghampiri Selia yang sedang menangis. Dessy juga terlihat murung saat aku kembali ke penginapan. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Selia dan Dessy terlihat murung begini?
“ Dessy? Sebenarnya apa yang terjadi?”
“ Raisa… Bisakah kita segera melanjutkan perjalanan secepatnya?”
“ I… Iya tapi ada apa sebenarnya?”
“ Ayah dan Ibuku menghilang, Raisa… Hiks… Aku tidak tau dimana mereka… Hiks… Para pengawal kerajaan juga sudah mencari kemana-mana tapi tetap tidak ditemukan…”
“ Baiklah… Kita akan melanjutkan perjalanan sekarang juga… Jangan khawatir Selia! Orang tuamu pasti baik-baik saja!”
Aku dan yang lainnya langsung bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Javier juga akan ikut bersama kami. Karena aku sangat yakin pasti dia akan berguna nantinya.
Perjalanan kami selanjutnya adalah Gunung Flufi. Aku tidak tau kenapa dinamakan seperti itu. Tapi aku merasa sangat tidak asing dengan namanya… ‘Flufi’ terdengar seperti benda yang empuk.
Marshmellow?
Kami sudah keluar dari Desa Javier. Sekarang kami sedang dihadang oleh padang rumput hijau yang luas menghampar di hadapan kami. Kami masih tidak tau apa yang akan kami hadapi selanjutnya.
Di bawah teriknya sinar matahari. Kami melewati padang rumput yang luasnya tak terkira. Selia selalu bilang kami akan segera sampai. Tapi aku masih belum bisa melihat ujungnya.
“ Huwaa… Ini benar-benar panas… Apa kau yakin kita tidak salah jalan, Selia? Kita tidak sampai di ujung padang rumput ini… *menghela nafas dan menghapus keringat di kening*”
“ Uhm… Aku sudah sering lewat sini. Pasti akan segera sampai”
“ Butuh berapa lama lagi hingga kita melewati padang ini?”
“ Hmm… Kurang lebih setengah atau satu hari penuh”
“ Apaaa?! *pingsan dan ditangkap oleh Dessy*”
Kami benar-benar belum sampai di ujung padang rumput ini! Cuaca semakin terik dan panas! Aku rasanya ingin mati saja… Tidak ada tempat bernaung satupun? Tidak ada satupun pohon yang tumbuh?
Hanya rumput yang tingginya sepinggang!
“ Apa kita sudah sampai?”
“ Belum…”
5 menit kemudian…
“ Sudahkah?”
“*Menggelengkan kepala*”
1 jam kemudian…
“ Sudahkah?”
“ Belum, Raisa… Berhentilah bertanya! Kau sudah melakukannya sebanyak ribuan kali!”
“ Oh… Ayolah! Aku sudah lelah melihat hanya rumput di hadapanku!”
“ Raisa? Apa kau ingin ku gendong? *bertanya dengan mata berbinar*”
“(Ugh… Tiba-tiba aku ingin mati saja. Daripada digendong Xion)”
“*Menatap Raisa kebingungan*”
“ Baiklah… Kita sudah sampai di Gunung Flufi!”
Untung saja aku tidak jadi digendong oleh Xion. Mengingat pengalamanku yang pernah digendong oleh Xion hingga mual dan muntah. Jujur! Aku paling takut jika Xion menanyakan hal itu.
Aku menatap Gunung Flufi. Menjulang tinggi dan besar! Jika dibilang lebih tinggi dari gunung yang pernah kulihat. Banyak batuan di gunung itu. Tidak ada satu pohon pun yang tumbuh di lerengnya.
Tapi Flufi? Aku kira gunungnya akan memiliki aura imut dan empuk begitu. Ternyata tidak sama sekali! Malah bisa dibilang sama seperti gunung batuan biasa. Cih… Apa bedanya?
__ADS_1
Waktu sudah malam dan kami memutuskan untuk menunda perjalanan dan melanjutkan besok hari. Untung saja aku sudah membeli beberapa makanan yang bisa aku makan disini.
Tunggu! Kenapa aku terlihat egois disini? Apakah aku membagi dengan yang lainnya? Tentu saja jawabannya… Tidak! Karena aku sudah menyiapkan bagian mereka masing-masing.
“ Selamat malam, Raisa…”
“ Hmm… Selamat malam, semua”
Yang lain sudah tertidur dengan nyenyak. Bahkan aku bisa mendengar dengkuran Xion yang jaraknya kurang lebih lima meter dari kami. (Kami membagi wilayah dengan para lelaki. Karena Selia masih ragu).
Semuanya terlihat baik-baik saja. Dessy terlihat manis dengan wajahnya yang polos. Aku terbiasa tidur lebih larut. Jadi aku hanya bisa menatap Bulan yang bersinar terang. Kebetulan malam itu adalah bulan purnama.
Jadi, Bulan nampak lebih bulat dari biasanya. Dan lebih terang dari biasanya. Aku juga membandingkan dengan suasana siang tadi yang sangat terik dan panas. Namun sekarang sungguh berkebalikan dari yang tadi.
Suasana saat ini sangat dingin seperti berasa di salju… (Meskipun aku belum pernah merasakan bagaimana rasa salju yang sebenarnya). Aku bahkan memakai jubbah cadanganku.
Dan rasa dingin ini masih terasa di tubuhku. Tapi aku melihat mereka semua tidur dengan nyenyak. Apakah hanya aku yang merasa kedinginan? Apakah mereka bisa tidur dengan nyenyak sedangkan aku tidak?
Ini tidak adil!
‘Syush…’
“(Hah? Apa itu?) *mencoba mengikuti bayangan yang mencurigakan itu*”
Aku masih tidak tau kenapa aku merasa tertarik untuk mengikuti bayang-bayang yang tidak aku ketahui. Dan aku juga tidak tau kenapa hanya aku yang mendengar bunyi itu?
Daripada membangunkan mereka yang sudah lelah di perjalanan. Lebih baik aku pergi sendiri saja. Toh, aku juga sudah menguasai 4 elemen. (Eh? Kenapa aku merasa diriku sedikit sombong?)
Aku melihat bayang-bayang itu pergi masuk ke dalam sebuah tempat yang sangat indah! Seperti Kerajaan Elf Hijau! Apakah ini benar-benar tempat yang sama dengan Istanaku?
Tidak! Tidak mungkin! Aku masih bersama yang lain di perjalanan menuju Kerajaan Angin Selatan! Tapi ini benar-benar sama seperti aku pulang ke Istana!
Tunggu! Itu… Mama? Papa?
“ Raisa… Mama sudah menunggumu lama sekali, nak… Kau darimana saja?”
“ Kemarilah, Raisa… Papa sudah menunggumu… *menjulurkan tangan kearah Raisa*”
“*Mengangguk dan mendekati orang itu*”
“ Ya… Kemarilah, nak… Kami merindukanmu…”
“(Tidak! Tidak mungkin! Ini mungkin hanya ilusi! Tapi ini sangat… sangat… sangat… terasa nyata!)”
Dengan sedikit ragu-ragu aku meraih tangan Papa dan Mama. Awalnya aku agak ragu ketika ingin menyentuh tangan mereka. Apakah mereka memang nyata? Atau hanya ilusiku?
“ Xi… Xion? Kenapa kau- *memasang wajah terkejut dan takut*”
Aku sangat terkejut saat Xion tiba-tiba menamparku. Dan saat itulah aku tau kalau yang aku lihat itu hanyalah ilusi. Bukan Mama dan Papa yang ada di hadapanku.
Melainkan makhluk seperti goblin yang mengerikan!
Aku berada di tempat seperti gua yang gelap, lembap dan mengerikan. Sungguh menjijikkan karena aku bisa masuk ke dalam gua yang seperti ini. Kenapa aku bisa berhalusinasi seperti ini?
“ Xion… Kita terkepung!”
“ Gunakan kekuatan apimu itu, Raisa… Goblin takut akan cahaya… Terutama api!”
“ Ta…Tapi aku masih belum bisa menguasainya… Kekuatan itu masih belum menyatu dengan sempurna di tubuhku”
“ Aku tau apa yang harus kulakukan! *melompat kearah kelompok Goblin*”
“ Xion! Jangan gegabah!”
“ Aku menyayangimu, Raisa… Cepatlah pergi dari sini… *mencium kening Raisa*”
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Xion melompat dan tenggelam di lautan Goblin yang haus akan daging dan darah! Xion bodoh! Kenapa kau mengorbankan dirimu demi diriku?
“ Argghhhh!!!”
“ Xi… Xionnn!!!”
Kekuatan itu mengendalikan tubuh dan jiwaku lagi. Aku tidak bisa mengendalikan kekuatan ini. Kekuatan api. Kekuatan yang berlawanan dengan kekuatan yang aku miliki sebelumnya—Kekuatan air.
Semuanya sudah terlambat… Meskipun aku sudah menghabisi semua Goblin tanpa sisa. Tapi Xion sudah kehilangan banyak darah. Aku bisa melihat luka di bagian perut kiri bawahnya yang terlihat berlubang.
“ Aku… Aku… Aku sungguh bodoh! Aku tidak bisa menjaga dirimu hingga akhir Xion… Hiks… Hiks… Xion… Jangan tinggalkan aku… Huwaaaa… *menangis dengan air mata yang mengalir deras dan suara yang keras*”
“ Hush… Sudahlah… Aku… Ugh… Baik-… Baik saja… Sshh…”
“ Xion… Xion… Jangan tinggalkan aku… Aku tidak akan memanggilmu kucing kecil lagi! Aku tidak akan mengelus ekor dan telingamu sembarangan lagi! Maafkan aku Xion! Huwaaaa!!!”
“ Aku… Me… Nyayangimu… Ra… I… Sa…”
“ Xion? Xion kau masih hidup, kan? Kau janji padaku akan menemaniku pergi kemanapun, kan? Kenapa kau meninggalkanku, Xion! Jangan menutup matamu! Bangunlah, Xion! Bangun!”
Aku sungguh tidak bisa menerima ini! Aku… Xion adalah teman, sahabat, keluarga, peliharaan yang paling aku sayangi! Aku sangat menyayanginya layaknya seorang kekasih!
“ Ah! Benar! Aku bisa menggunakan energy penyembuhan! Hiks… Xion… Tak akan kubiarkan kau pergi begitu saja! Hiks…”
__ADS_1
“ Raisa! Hah? Xion? Apa yang terjadi padanya? Kenapa… Raisa?”
“ Aku bisa menggunakan energy penyembuhan… Pasti bisa! Hiks…”
“ Raisa! Hentikan! Kau tidak bisa melakukan itu!”
“ Tidak! Jangan halangi aku! Aku akan mengembalikannya seperti semula!”
“ Raisa! Hentikan! *menggunakan elemen angin untuk melindungi Xion*”
“ Kenapa? Kenapa kau lakukan itu? Biarkan… Biarkan aku menyelamatkannya! Aku akan menyelamatkannya! *berusaha menghancurkan perisai yang Selia buat*”
“ Raisa… Aku tau kau sangat menyayangi Xion… Tapi jika kau melakukan hal ini mungkin dia juga tidak akan senang…”
“ Hiks… Kenapa? Kenapa… Hiks… Kenapa Xion yang tiada? Kenapa bukan aku saja? Lebih baik aku saja yang tiada huwaaa!!!”
“ Sudahlah… Aku paham apa yang kau rasakan… *menenangkan Raisa dengan memeluknya*”
Aku sungguh… Masih tidak bisa percaya dengan apa yang terjadi… Barusan aku masih bisa tertawa dan mengobrol dengan biasa bersama Xion. Aku sungguh tak menyangka…
Ini… Ini begitu cepat! Aku tidak tau apakah aku akan bisa menjalankan hari-hari biasa tanpa Xion yang cerewet, pencemburu, manja, nakal, dan baik itu. Apakah semuanya akan sama lagi?
Aku rasa tidak…
Perlahan-lahan tubuh Xion lenyap dan digantikan dengan butiran-butiran halus yang bercahaya indah sekali… Andaikan… Andaikan aku bisa memeluknya untuk yang terakhir kali… Pasti aku akan sangat bahagia…
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tanpa terasa kami sudah sampai di Rawa Furtheis. Tidak ada apapun yang terjadi. Perjalanan yang awalnya sangat seru bisa terasa sangat membosankan dan hambar.
Aku masih mengingat kejadian Xion yang menenggelamkan dirinya di dalam lautan Goblin yang rakus dan kejam. Kejadian itu seakan-akan terus berputar di dalam otakku.
Ingatan itu masih belum terhapus di dalam otakku. Sungguh tidak bisa aku lupakan. Setiap aku mengingat hal itu. Aku akan menatap Bulan dan menceritakan kesedihanku pada Bulan.
“ Raisa! Lihat apa yang aku dapatkan! Aku mendapatkan bunga langka! Jika dijual bisa akan mendapatkan ratusan koin emas, lho… *menunjukkan sekuntum Bunga langka ke hadapan Raisa*”
“ Oh… Sangat bagus… *tersenyum tipis*”
Beberapa hari ini Selia selalu menghiburku dengan berbagai macam barang-barang yang aneh dan tidak aku ketahui. Terkadang aku hanya tersenyum atau mengatakan kata ‘bagus’ untuk menghargainya.
“(Sampai kapan kau akan terus-terusan bersedih, Raisa? Aku sebagai sahabatmu sudah lelah mencoba untuk menghiburmu…)”
Aku sudah lelah dengan semuanya hingga pada suatu malam aku bermimpi bertemu dengan wanita itu lagi. Yang mengaku bahwa aku adalah reinkarnasi darinya.
“Raisa? Kenapa kau masih saja berlarut-larut dengan kesedihan yang merugikan itu?”
“ Tidak apa-apa… Aku hanya tidak selera saja…”
“ Apakah kau begitu sangat menyayangiku, Raisa?”
“(Tidak mungkin! Suara ini kan?!)*terkejut dan langsung menoleh kearah sumber suara*”
“ Yoo! Raisa… *melambaikan tangan*”
“ Xi… Xion? Apa kau benar-benar Xion? *meraba wajah Xion untuk memastikan apakah itu benar-benar orang yang dia maksud*”
“ Yap! Aku adalah Xion! Rubah Putih dari Kerajaan Elf Hijau!”
“ Berhentilah mengejekku! Dasar kucing nakal!”
Aku terbangun dengan wajah, jiwa, dan suasana baru. Aku tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan seperti yang dikatakan oleh wanita itu dan Xion. Meskipun hanya dalam mimpi…
Aku sudah bahagia dengan melihat wajah, suara, dan kejahilan Xion meskpun itu hanya mimpi. Hanya halusinasiku (mungkin). Apakah Xion benar-benar menemuiku dalam mimpi?
“ Raisa?”
“ Ya?”
“ Apa kau sudah merasa baikan?”
“ Uhm! *tersenyum dan menganggukkan kepala*”
“(Baguslah… Tersenyumlah seperti ini terus ya, Raisa…) *memeluk Raisa tiba-tiba*”
“ Eh?”
Rawa Furtheis memang sama seperti yang tertera di peta. Sungguh luas dan besar. Untuk melewatinya mungkin perlu dua sampai tiga hari. Dan kami sudah melewatkan satu hari dan sudah berada di tengah-tengah Rawa Furtheis.
“ Selia? Apakah waktu ini… Sempat?”
“ Aku rasa… *menunduk*”
“(Aku tau kau merasa sangat buruk, Selia… Malah lebih terpuruk dariku… Tapi kenapa kau malah menomorsatukan diriku daripada masalahmu sendiri?)”
Kami sudah melewati satu hari penuh tanpa istirahat. Tidak kusangka Javier ternyata kuat berjalan jauh. Mungkin karena dia memang sering diajak berjalan jauh oleh paman yang itu.
Dan untuk malam ini kami lebih baik untuk beristirahat terlebih dahulu. Kasihan juga dengan Dessy yang selama ini kurang tidur. Leo dan Fernand juga sama…
Kami sudah lelah… Lelah raga dan jiwa. Meskipun begitu kami akan tetap berjalan lagi! Tidak peduli apapun tantangan dan halangannya! Kami akan melewatinya bersama! Bersama!
Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan Xion!
__ADS_1