Penguasa Yang Bereinkarnasi

Penguasa Yang Bereinkarnasi
Eps. 54


__ADS_3

BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨


Aku mengajak Dessy, Xion, Leo dan Fernand, juga Willy. Oh iya! Selia tidak bisa ikut karena dia masih sibuk mengurus sesuatu. Sepertinya dia sangat sibuk karena ada sesuatu yang terjadi di Kerajaannya.


Dessy juga bercerita bahwa Selia sering bolak-balik ke Kerajaannya. Dan sering meminta Dessy untuk mengerjakan tugas miliknya. Sebaliknya Selia akan membiayai biaya hidup Dessy selama Raisa tidak ada.


Meskipun Raisa sudah memberikan Dessy cukup banyak. Tapi Selia tetap memberikan Dessy beberapa koin emas. Yah… Daripada menolak rezeki kan? Maka lebih baik Dessy terima saja.


“ Sebenarnya apa yang sedang terjadi di Kerajaan Angin Selatan? Leo? Fernand? Apa kalian tau sesuatu?”


“ Kerajaan Angin Selatan sedang disibukkan dengan munculnya monster tanah yang menyerang warganya. Hamba dengar monster ini sangatlah ganas”


“ Benarkah? Ini sangatlah mengkhawatirkan…”


Aku tidak menyangka ada monster yang begitu ganas menyerang Kerajaan Selia. Pantas saja dia terlihat begitu lelah. Dia pasti tidak cukup tidur karena menyelesaikan masalah ini.


Kami terus berjalan keluar akademi. Menyusuri jalan yang tertera di atas peta. Mengikuti arah yang benar. Hingga kami sampai di depan satu pohon yang sangat besar dan tinggi.


“ Wah… Pohon ini sangat indah… Sangat besar dan tinggi. Kita bisa meneduh dan beristirahat disini beberapa saat”


“*Serentak menganggukan kepala*”


Xion naik ke atas pohon dengan cepat. Seperti kera saja. Aku rasa berdiam diri di dalam kelas membuatnya merindukan hutan. Tempat tinggalnya. Kulihat dia sangat senang berada di alam seperti ini.


“ Ayolah Xion… Cepat turun… Apa kau begitu bahagia bisa berada di alam bebas seperti ini?”


“ Yap! Aku sangat senang! Raisa… Lain kali jika kau keluar bertualang seperti ini ajak kami juga…”


“ Apakah kau merindukanku saat aku berada di luar?”


“ Ya… Aku sangat merindukanmu… *turun dan memeluk Raisa*”


“ Ayolah… Lepaskan…”


“ Raisa… Apakah dia pasanganmu?”


“ Pfft… hahaha… Dia adalah Xion… Dia adalah siluman Harimau putih. Bisa dipanggil sebagai peliharaan lebih tepatnya…”


Aku sangat terkejut saat Willy bertanya hal itu padaku. Yah… Kurasa dia menjadi sedikit aneh dengan Xion. Karena Xion benar-benar manja padaku. Persis seperti kucing kecil yang meminta perhatian tuannya.


Karena waktu yang diberikan oleh guru tidak menentu alias tidak ada batasannya. Jadi kami bisa bersantai sejenak. Kami menghabiskan waktu dan berkemah satu malam di bawah pohon ini.


Yang lain sudah tidur nyenyak dan sudah berada di dalam alam mimpi. Aku masih terbiasa dengan diriku yang tidur larut malam. Aku naik ke atas pohon dan duduk di salah satu batang yang agak kokoh.


“ Haeh… Jika melihat bulan seperti ini rasanya seperti aku bisa memetiknya dan menggantungnya di kamarku”


“ Jika kau begitu. Berarti kau sangat egois, nak. Memiliki bulan hanya untuk dirimu sendiri”


“ Hah! Siapa itu?”


“ Ini aku… Aku adalah pohon. Pohon yang sering dijuluki pohon baik hati”


“ Oh… Maafkan aku… Aku kira siapa yang berbicara… Apakah hanya kau yang bisa berbicara?”


“ Ya. Hanya aku yang bisa berbicara… *menghela nafas*”


“ Kenapa kau bisa berbicara?”


“ Karena ada seseorang yang memberikanku energy dan membuatku bisa berbicara dan hidup. Tapia pa gunanya jika aku hanya sendirian. Siang menatap Matahari dan malam menatap Bulan sendirian. Tidak tau sudah berapa tahun aku begini”


“ Pasti kau sangat kesepian”


Aku cukup lama berbincang-bincang dengan pohon yang baik hati itu. Dia menceritakan kisahnya yang kesepian setelah seorang elf baik hati itu meninggal dunia.


Pohon ini bercerita banyak kisah dan cukup panjang. Membuat aku yang susah tidur seperti didongengkan oleh Mama dan Papa. Tidak lama setelah didongengkan aku tertidur dan menyandar di batang Pohon.


Esok paginya tidak ada lagi suara yang keluar dari sang pohon baik hati. Yang lain sudah bangun lebih dulu dan membereskan barang-barang. Terutama Dessy yang sudah bersiap-siap.


Xion naik ke atas pohon dan membangunkanku. Aku langsung turun dan membasuh wajah. Kami sarapan terlebih dulu. Lalu melanjutkan perjalanan lagi. Aku sungguh heran kenapa pohon itu tidak hidup lagi.


Apakah tadi malam itu hanya mimpi?


Kami langsung berangkat setelah selesai sarapan. Saat aku menoleh kea rah pohon itu. Seketika aku langsung teringat perkataannya semalam yang mengatakan bahwa dia sangat kesepian.


“ Raisa? Apa ada sesuatu yang salah?”


“ Ah… Tidak… Ayo kita berangkat…”

__ADS_1


Kami melanjutkan perjalanan menuju Istana Ratu Silma. Sebelum itu kami harus melewati hutan dulu. Hutan yang ini kelihatan sangat hijau dan lebat. Banyak binatang kecil di dalam hutan ini.


“ Wah… Benar-benar indah… Ini seperti taman… Dessy benarkan, Nona?”


“*Membalas perkataan Dessy dengan senyuman*”


Kami memandang hutan ini dengan takjub karena hutan ini tampak sangat indah. Membuat siapapun pasti akan takjub melihat hutan ini. Banyak kupu-kupu yang berwarna-warni mengitari pulau ini.


Kami memutuskan untuk terus berjalan hingga tiba di sebuah gunung yang sangat tinggi dan besar. Tak diduga petir dan awan gelap menggantung di atas kepala kami. Memaksa kami untuk berteduh sebentar.


Kebetulan ada sebuah gua yang cukup besar di dekat gunung itu. Kami masuk perlahan-lahan ke dalam gua yang terlihat gelap, menakutkan dan mencekam itu.


“ Tunggu, Nona… *memasukkan batu ke dalam gua*”


Leo melempar batu kecil untuk memeriksa keadaan di dalam gua. Dan setelah menunggu beberapa lama akhirnya Leo memberikan kami isyarat untuk masuk ke dalam gua.


Gua ini sangat gelap, lembap dan sedikit bau. Mungkin karena kotoran kelelawar dimana-mana. Yah… Kami sedikit merasa jijik dengan itu. Tapi tetap saja. Kami membutuhkan tempat untuk berteduh.


Seperti yang sudah kuduga. Hujan turun dengan lebat dan petir juga ikut memeriahkan hujan ini. Membuat suasana makin mencekam. Kami tidak tau kapan hujan ini bisa berhenti.


‘Cit… Cit… Cit…’


Kami langsung menengok kearah dalam gua. Suara itu makin banyak. Seperti suara kelelawar! Tapi kenapa suaranya sangat banyak? Yah… Ini kan gua. Dimana ada gua pasti ada kelelawar.


Apalagi kami sama sekali tidak tau dimana suara kelelawar itu berasal. Kami semakin waspada dengan suara kelelawar yang makin terdengar mendekat. Suaranya semakin jelas. Dan saat kami bersiap untuk menyerang. Ternyata itu adalah…


Kurcaci?


“ Hei! Siapa kalian masuk ke dalam rumah kami?”


“ Kami?”


“ Ya! Kami!”


Kurcaci itu menaiki hewan seperti tikus. Tapi tikus yang ukurannya sebesar keledai! Sangat tidak bisa dipercaya! Ternyata di dunia ini ada kurcaci juga! Saat dia mengatakan kata ‘Kami’ muncullah beberapa kurcaci yang lainnya juga.


Kira-kira total mereka semua adalah 7 kurcaci. Ini benar-benar seperti yang ada di dongeng-dongeng! Apakah kurcaci yang ini nyata? Apa aku benar-benar melihat kurcaci yang asli?


“ Maafkan kami wahai kurcaci. Kami hanya ingin meneduh sebentar. Setelah hujan reda kami pasti akan segera pergi. Mohon izinkan kami berteduh sebentar”


“ Hmm… Aku rasa kalian anak-anak yang cukup sopan dan baik. Ayolah… Ikuti kami… Disini sangat kotor. Hujan ini mungkin sampai malam. Kalian ikut saja dengan kami *berjalan keluar dari gua sambil menaiki tikus seukuran keledai*”


“ Sudahlah… Tidak apa-apa *seperti membaca mantra atau apalah itu lalu keluar dari gua*”


Kurcaci itu berjalan di bawah derasnya hujan. Tapi dia tidak basah sedikitpun. Hanya ada sepeerti selaput tipis yang melindunginya dari tetesan air hujan. Kami yang melihat itu langsung sedikit terkejut dan terpana.


Lalu kami mengikuti kurcaci itu keluar dari gua. Dan benar saja kami juga tidak terkena tetesan hujan sedikitpun. Entah apa yang dilakukan oleh kurcaci itu.


Dia membawa kami menuju sebuah pondok kecil yang ukurannya lebih besar sedikit dari kurcaci itu. Aku sampai harus jongkok untuk masuk ke pondok ini. Tapi saat masuk ternyata tidak sama seperti yang terlihat dari luar.


Ini hampir mirip konsepnya dengan rumah milik Ai. Dari luar kelihatan kecil, sesak dan sempit tapi saat masuk ke dalam ternyata ruangannya sangat besar, luas dan lega.


“ Wahh… Sungguh tidak diduga…”


Salah satu kurcaci membawa kami masuk ke sebuah ruang makan. Ada cukup banya kursi di dalam sini. Salah satu kurcaci menyiapkan makanan di dapur. Aku dan Dessy pergi ke dapur juga untuk membantu.


“ Apakah aku boleh membantu?”


“ Oh… Oh… Ini… Tentu saja kau boleh membantu…”


“ Terima kasih”


“ Apakah kalian sering terima tamu seperti ini?”


“ Tidak juga… Sebenarnya kami sering menerima tamu yang hanya memiliki hati yang murni dan polos. Tidak ada maksud jahat. Tapi beberapa bulan yang lalu ada seseorang yang berkunjung dan mencuri benda pusaka kami. Oleh karena itu, pemimpin jadi lebih pemilih dalam mendatangkan tamu”


“ Oh… Ternyata begitu”


Yah… Sepertinya aku tau siapa orang yang dimaksud oleh kurcaci itu. Tidak lain tidak bukan adalah Diana. Yang sedang mengumpulkan semua benda pusaka milik para penghuni di dunia ini.


Tapi jika benar dia mencuri semua benda pusaka. Untuk apa dia melakukannya? Jika memang untuk menghancurkan dunia, bukankah ini sudah terlalu serius?


Kami makan siang bersama saat itu. Beberapa kurcaci menceritakan kegelisahannya saat berada di dalam gua saat itu. Katanya ada sesuatu yang merayap di dalam gua.


“ Untuk apa kalian ke gua itu?”


“ Kami sedang mengumpulkan berlian”

__ADS_1


“ Berlian?”


“ Ya. Berlian itu kami gunakan untuk bahan persenjataan”


“ Senjata?”


“ Yah… Akhir-akhir ini ada segerombolan burung-burung menyerang ladang kami. Sudah beberapa kali kami mencoba menghalau para kelompok burung itu. Tapi mereka selalu kembali lagi. Kami sudah tidak tau apa yang harus kami lakukan”


Ternyata mereka melawan para burung pengganggu itu dengan menggunakan ketapel dan berlian. Yah… Bagaimanapun berlian adalah benda yang lebih keras daripada batu.


Sungguh malang nasib berlian di dunia ini, hahaha… Di dunia manusia sangat mahal harganya, sedangkan di sini tidak ada harganya sama sekali. Dan digunakan untuk melempari hama burung pula.


Sangat disayangkan aku tidak bisa membawa pulang barang satu buah berlian sebesar kuku ke dunia manusia. Mungkin jika aku bawa akan langsung kaya. Hahaha… Haluku sudah keterlaluan, ya?


Tempat Pohon Baik Hati


“ Haeh… Mereka sudah pergi rasanya sepi sekali… Menatap Bulan sendiri lebih baik bunuh diri. Bisa berbincang dengan dewa kematian”


“ Hng… Hng… Kakek tua! Hai!”


“ Siapa kau?”


“ Aku adalah Jiu! Nona Raisa memberikanku padamu. Berniat temani kau disini. Tapi jika kau ingin bunuh diri, lebih baik aku pergi saja”


“ Hai anak bandel! Aku sangat ingin punya teman! Kau hendak pergi saja? Tidak tau bisa habiskan makan malam sendiri atau tidak…”


“ Benarkah?”


Pondok Kurcaci


Raisa berada


“ Tidak terasa hari sudah malam. Hujan memang sudah berhenti tapi hari masih malam. Kalian harus menetap semalam disini. Di luar terlalu berbahaya. Kami akan siapkan beberapa kamar untuk kalian”


“ Hmm… Terima kasih pemimpin kurcaci”


“ Tidak usah panggil aku begitu. Panggil saja aku Do”


“ Baik, Do”


“ Aku rasa temanmu yang lain sudah pergi ke kamar mereka. Kamu sebaiknya juga pergi ke kamarmu sebelum larut malam”


“*Menganggukkan kepala*”


Aku segera pergi ke kamar yang sudah disiapkan oleh seorang kurcaci. Aku sekamar dengan Dessy. Dan Dessy sudah tidur lebih dulu. Aku paham itu, mungkin karena dia terlalu lelah di perjalanan.


Aku sudah bersiap-siap untuk tidur. Tapi saat aku membuka selimut. Ada seekor kucing kecil berwarna hitam?! Aaahhh! Kucing siapa ini? Kenapa bisa ada di bawah selimutku?


Kucing itu terlihat lemah dan tidak berdaya. Seperti kelelahan atau semacamnya. Nafasnya terlihat sesak. Membuatku khawatir melihatnya. Ada apa dengan kucing kecil ini?


Dengan pelan aku mengalirkan energy penyembuhan. Dalam beberapa menit kemudian akhirnya kucing kecil itu perlahan membuka matanya. Dan menatapku. Aku menyentuh telinganya lembut tapi.


“ Siapa kau! Kenapa kau menyentuhku?!”


“ Haaaahh? Apa ini balasanmu pada orang yang menyelamatkanmu?”


“ Aku tidak pernah memintamu menyelamatkanku!”


“ Hng… Tubuhmu masih belum sembuh total. Kau terbius bisa ular. Perlu di alirkan energy penyembuhan beberapa kali baru akan hilang sepenuhnya”


“ Ugh… Kau… Dasar kau…”


“ Terserah apa maumu… *menaiki kasur dan segera tidur*”


Tak kusangka dia berubah wujud. Nafasnya kelihatan semakin sesak. Dan mungkin jika aku tidak bangun maka nyawanya akan melayang. Dan segera hilang dari pandangan. Jika begitu maka aku yang akan berdosa.


Segera aku turun dari kasur dan berusaha mengalirkan energy penyembuhan melalui bagian yang terkena bisa ular. Tapi kucing kecil itu malah mendorongku menjauh hingga terbentur ranjang kasur.


“ Pergilah kau! Kau bilang tidak ingin menyelamatkanku! Lebih baik kau pergi saja! *berusaha menahan rasa sakit*”


“ Akh… (Sial! Darahku keluar lagi! Aku akan mengalirkan energy dari jauh saja!)”


Meskipun kekuatanku terkuras banyak, tapi aku tetap berusaha mengalirkan energy penyembuhan dari jauh. Dia yang kelihatan megap-megap akhirnya bisa bernafas normal.


Dan setelah aku selesai mengalirkan energy penyembuhan. Penglihatanku mulai buram. Dan kurasa kepalaku mengeluarkan darah juga. Mungkin karena terbentur tadi.


Yah… Tidak apa-apa. Hanya terbentur sedikit saja. Ini lebih baik karena siluman kucing hitam itu bisa terlepas dari bisa ular yang menggigitnya. Dengan begini rasa bersalahku sedikit reda. Meskipun aku masih merasa sedikit kesal dengan tingkahnya malam itu.

__ADS_1


Sungguh tidak tau terima kasih! Huft!


__ADS_2