
BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨
Untuk pergi ke Kerajaan Angin Selatan kami harus melewati Desa Javier, Gunung Flufi, dan Rawa Furtheis. Kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk sampai disana adalah 3 hari atau lebih.
Aku masih bingung kenapa Mama memberikanku liontin ini. Tapi tidak ada liontin ini di dalam ingatanku. Apakah ini milik orang lain? Aku merasa sedikit asing dengan liontin ini.
“ Raisa? Aku dengar kau sudah menemukan Kristal milikmu sendiri apa itu benar?”
“ Yah… Itu benar… Apakah kau masih menyimpan Kristal biru itu?”
“ Yap! Aku menyimpannya dengan sangat baik. Awalnya… Tapi aku tidak tau kenapa… Tapi Kristal itu menghilang secara tiba-tiba *menunduk murung*”
“ Apakah Kristal yang kuberikan itu adalah Kristal Kerajaan Angin Selatan?”
“*Menganggukkan kepala pelan*”
Aku sungguh heran kira-kira apakah orang yang mengambil Kristal itu adalah orang yang sama? Orang yang hendak mencuri Kristal di Kerajaan Elf Hijau juga? Yang tidak lain dan tidak bukan adalah…
Diana
Apa yang akan dia lakukan dengan semua Kristal itu? Haeh… Jika aku pikir-pikir apakah dia akan menggunakan Kristal-kristal itu untuk menguasai dunia? Tapi ini benar-benar tidak masuk akal karena dia juga mengambil benda pusaka milik para kurcaci.
Kami berjalan sambil mengobrol tentang keadaan Kerajaan Angin Selatan yang tenang dan tentram. Hingga kehadiran monster ganas dan kedatangan seorang pencuri Kristal.
Aku bisa memahami apa yang Selia rasakan. Dia pasti sedang tertekan saat ini. Banyak kejadian yang terjadi padanya. Terutama kekuatan orang tuanya yang melemah.
“ Sebentar lagi hari akan gelap. Aku sering lewat sini. Beberapa kilometer lagi akan ada pondok kecil. Jadi kita bisa beristirahat disana”
“ Baiklah”
Kami masuk ke dalam pondok kecil yang Selia maksud. Aku rasa Selia sering mampir disini. Karena dia tau dimana letak barang-barang tersembunyi. Seperti ubi yang tersimpan di bawah tanah. Hanya dia yang tau itu.
“ Apa kau sering kemari, Selia?”
“ Hmm… Aku sering kesini dan beristirahat sebentar untuk menghilangkan penatku. Mau ubi bakar? *menawarkan ubi yang kulitnya sudah gosong separuh*”
“ Yah… Terima kasih… *menerima ubi yang diberikan Selia*”
Kami bermalam di pondok kecil ini untuk sementara. Aku merasa cukup aman karena ada api unggun kecil yang menerangi. Rasanya sangat tidak nyaman jika keadaan gelap gulita.
“ Raisa? Aku kedinginan… Peluk aku huhu… *berubah wujud menjadi Harimau Putih dan mendekati Raisa*”
“ Dasar kau ini… Kenakan saja jubahku pasti tidak dingin lagi *melepaskan jubbah dan memberikan kepada Xion*”
“ Aku tidak mauuu~ *memeluk Raisa tiba-tiba*”
“ Haeh… Dasar kucing kecil…”
Biarkanlah Xion seperti ini saja. Aku juga tidak begitu memperdulikannya. Saat dia memelukku rasanya juga menjadi sedikit hangat. Apalagi bulu lembutnya membuatku seperti tidur dengan bantal yang berisi bulu angsa.
Sangat halus dan lembut!!!
Dan keesokan paginya aku bangun dengan Xion yang sudah berubah lagi seperti biasa. Sesak sekali… Pelukannya terlalu erat… Tapi dia masih nyenyak tertidur begini… Hmm… Apa yang sedang dia mimpikan?
“ Raisa? Bukankah kau sedikit terlalu memanjakannya?”
“ Hoaem… Aku rasa juga begitu… *menguap*”
“ Bukankah kau merasa dia imut?”
“ Hmm… Aku rasa iya… *mengelus telinga Xion*”
“ Emh…”
“ Kita tunggu sampai semuanya bangun saja, ya… Aku rasa mereka sedikit lelah di perjalanan… Hoaem…”
“ Baiklah…”
Aku membiarkan Xion tidur di pelukanku. Sebenarnya dia yang memelukku. Argh… Rasanya sangat sesak! Dia ini mimpi apa sih? Ingin sekali rasanya memukul wajahnya itu!
“ Ra… I… Sa… Jangan tinggalkan aku… *berucap pelan*”
“ Hah? Kau ini mimpi apa sih, Kucing Kecil? *mencubit pipi Xion*”
“ Mm…”
Setelah menunggu beberapa menit. Akhirnya semua orang sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Aku juga akhirnya bisa bernapas dengan lega. Karena sudah terlepas dari pelukan Xion.
Kami melanjutkan perjalanan dengan dipimpin oleh ahlinya yaitu Selia. Sepertinya dia benar-benar ingat dan tau jalannya. Karena aku lihat dari kemarin dia tidak menggunakan peta sama sekali.
Kami memasuki satu Desa Kecil yang bernama Desa Javier. Ada banyak pedagang-pedagang pinggir jalan yang menawarkan kami barang dagangannya dengan semangat.
“ Jika kalian ingin berbelanja silahkan saja… Tapi waktu berbelanja ini hanya 1 jam. Saat waktu sudah habis kita akan berkumpul disini lagi. Paham?”
“ Apa kau yakin, Selia?”
“ Yap! Karena aku mau berbelanja juga, hehehe…”
__ADS_1
“(Sudah kuduga…) *menepuk dahi*”
Aku masih tidak tertarik dengan barang-barang yang dijual disini. Xion dan yang lain sudah berpencar dan tidak tau dimana keberadaan mereka. Aku hanya berkeliling di sekitar pasar itu.
Semua barang-barang yang dijual memang bisa dibilang bagus. Tapi jika aku tidak mood dan tidak tertarik ya percuma saja. Dessy juga sudah hilang dari pandanganku. Entah kemana dia pergi.
“ Tangkap pencuri itu!”
“ Nona tolong tangkap pencuri itu!”
“ Hah? Melakukan apa?”
Aku sangat kebingungan saat orang-orang meneriakkan kata ‘Pencuri’ sambil berlari mengejar seorang anak kecil. Dan dengan sigap aku langsung menggunakan tekhnik meringankan tubuh.
Anak itu masuk ke dalam gang-gang sempit untuk mengecohku. Tapi percuma saja anak kecil~ Aku ini bisa menemukanmu lhooo… Eh? Kenapa rasanya seperti sedang bermain petak umpet?
Aku terus mengejarnya hingga dia terpojok di salah satu jalan buntu. Hng… Akhirnya aku menangkapmu. Aku tidak tau kenapa dia sampai mencuri milik orang lain hingga dikejar orang-orang.
“ Baiklah… Jadilah anak baik dan ikut aku… *mengulurkan tangan*”
“*Menggeram seperti kucing kecil*”
“(Jika dilihat dari telinganya. Dia pasti adalah siluman kucing. Jika aku mendekatinya dengan tergesa-gesa pasti dia akan menyerang balik)”
“*Menatap Raisa dengan garang*”
Anak kecil itu masih menatapku seolah-olah aku adalah musuhnya. Dan sesaat kemudian kerumunan orang datang dan berniat untuk menangkap dan menghukum kucing kecil ini.
Jika dilihat benar-benar dia ini hanya kelaparan. Tidak bisa bekerja, mungkin masih tidak tau apa-apa. Dia juga sepertinya kehilangan orang tuanya jadi kelaparan dan mencuri makanan dari pedagang.
“ Nona… Kami berterima kasih karena nona berhasil menangkap pencuri kecil yang meresahkan ini… *membungkuk dan memberi hormat pada Raisa*”
“ Kalau aku tidak salah tebak apakah anda kepala desa?”
“ I… Iya! Bagaimana nona bisa tau hal ini?”
“ Hmm… Kalau begitu aku harap kau bisa melepaskan anak ini. Aku akan membawanya. Jadi tidak akan meresahkan kalian lagi…”
“ E… Tapi… Nona… Anak ini benar-benar pembawa masalah”
“ Haeh… Anak kecil… Jika kau tidak punya uang lebih baik jangan mencuri… Aku akan memberimu beberapa keeping koin emas… Kau jangan pernah mencuri lagi ya… *berbicara dengan anak kecil itu dan mengabaikan kepala desa*”
Tatapan matanya yang garang berubah menjadi tatapan polos yang tidak tau apa-apa. Sudah kuduga dia adalah anak yang masih tidak tau apa-apa. Karena kelaparan jadi tidak bisa berpikir jernih.
Dengan tatapan lembut aku menggandeng tangan anak kecil itu. Dan kembali ke tempat aku akan berkumpul dengan yang lain lagi. Tanpa menghiraukan apa yang dikatakan oleh sang kepala desa.
“ Haeh… Sungguh merepotkan… *melemparkan beberapa koin emas ke arah pedagang yang berteriak tadi*”
Aku kembali berkumpul dengan yang lainnya lagi. Tentu saja dengan membawa anak kecil ini. Yang lain masih bingung dengan tindakanku yang membawa anak kecil yang tidak diketahui asal-usulnya.
“ Raisa? Kenapa kau membawa anak kecil yang kumal ini?”
“ Ingin saja…”
“ Apa kau bilang? Ingin saja? Apa kau tidak cukup memiliki aku saja?”
“ Hmm… Aku rasa tidak…”
“*Berusaha membunuh anak kecil itu dengan tatapan matanya yang tajam*”
Kami mampir sebentar ke penginapan di Desa Javier ini. Aku sudah membelikan anak kecil itu beberapa pakaian untuk dia kenakan. Dan beberapa sabun dan shampo untuk membersihkan dirinya.
“ Raisa?! Apa benar kau yang akan memandikan kucing sialan itu? *masuk ke kamar dengan tergesa-gesa dan berteriak pada Raisa*”
“ Ya… Ada apa?”
“ Ka… Kau… Kucing kecil sialan… Raisa! Biar aku saja yang memandikannya!”
“ Kau yakin? Kau tidak akan membunuhnya diam-diam kan?”
“ Akh… (Rasanya seperti ditusuk dengan panah bertubi-tubi)”
“ Pfftt… Baiklah… Kita mandikan dia bersama-sama, oke?”
Aku dan Xion memandikan kucing kecil itu bersama-sama. Awalnya kucing kecil itu sangat takut dengan air. Yah… Aku tau itu kan memang sifat alami kucing, yaitu takut air.
Dan setelah mengganti air dengan air yang hangat-hangat kuku. Akhirnya dia mau juga masuk ke dalam bak mandi. Bak mandi disini tidak seperti dunia manusia yang terbuat dari keramik, tapi terbuat dari kayu.
Selesai memandikan kucing kecil itu. Kami lanjut untuk menggantikan pakaiannya. Sungguh tidak dapat dipercaya! Ternyata dia sangat tampan! Apa dia seorang Pangeran? Aku bisa merasakan aura itu dari tubuhnya.
“ Raisa? Anak ini siapa lagi?”
“ Ini adalah anak yang aku bawa tadi… *melipat tangan di depan dada*”
“ Benarkah? Aku rasa dia menjadi sangat tampan!”
“ Hng… Hng… Aku tidak salah kan, membawanya juga…”
__ADS_1
“ Kurasa tidak apa-apa”
Tidak terasa memandikan anak itu membutuhkan waktu berjam-jam. Tapi jika diingat-ingat kejadian itu sangatlah menyenangkan! Apalagi aku tidak pernah punya seorang adik.
Jadi membawa anak ini bersamaku sama saja seperti sedang bersama adik sendiri. Selia juga tidak keberatan dengan keputusanku yang tiba-tiba ini. Tidak tau apakah Mama akan setuju jika aku mengadopsi dia menjadi adikku.
Ahh… Senang sekali rasanya memiliki seorang adik kecil! Tapi ini sangat aneh. Dia adalah seorang siluman di tengah-tengah elf biasa kebanyakan. Kira-kira apa yang terjadi padanya sebelumnya?
Dari awal membawa anak kecil itu hingga membersihkan dirinya, memakaikan dia pakaian. Dia tidak pernah berbicara satu katapun. Hanya mengangguk atau menggeleng.
“ Apakah kau memiliki nama? Bagaimana aku harus memanggilmu?”
“*Menggelengkan kepala*”
“ Apakah kau tidak punya nama? Hmm… Bagaimana jika aku memilihkan nama untukmu?”
“*Mengganggukkan kepala*”
“ Kau tidak banyak bicara… Aku tidak tau apa nama yang cocok… Tapi jika aku mengingat kau aku temukan di desa ini. Jadi bagaimana jika namamu Javier saja? Oh iya! Namaku adalah Raisa!”
“ Ra… I… Sa… *mengeja dengan suara pelan*”
“*Terkejut sampai lupa berkedip*”
“*Menatap Raisa kebingungan*”
“(Ahhh! Dia imut sekalii!! Aku terharu karena kata pertama yang dia ucapkan adalah namaku bukan namanya sendiri!!!)”
Xion sudah kembali ke kamarnya. Untuk mala mini aku akan tidur bersama dengan anak kecil yang imut ini. Hihi… Rasanya seperti ini ternyata jika mempunyai seorang adik.
Rasanya sangat hangat ketika dia mencoba untuk memelukku. Ahh… Rasa ini tidak pernah kurasakan sebelumnya. Di dunia manusia aku mencoba untuk mengurung diri dan tidak menyukai anak-anak.
Tapi di dunia ini kenapa Tuhan membawakan anak kecil ini padaku? Aku rasa Tuhan merencanakan sesuatu yang aku tidak tau. Tapi aku percaya… Apa yang Ia rencanakan pasti sangat indah.
“Raisa? Kenapa kau membawa anak kecil itu bersamamu?”
“ Entahlah… Aku hanya kasihan padanya… Lagipula aku akan merasa sangat bersalah jika tidak membawanya bersamaku”
“Haeh… Sudahlah… Terserah padamu saja…”
Paginya Dessy membangunkanku dengan wajah khawatir dan cemas. Aku masih kebingungan dengan tingkahnya itu. Javier sudah membersihkan dirinya sendiri. Aku merasa cukup bangga.
“ Hoaem… Ada apa, Dessy?”
“ Nona… Ada seseorang di depan pintu yang mencoba menerobos masuk… Dessy… Dessy sudah mencoba untuk menenangkan orang itu… Tapi dia tetap berusaha untuk mas-”
‘Brak…’
“ Hoaem… Orang ini siapa sih?”
“ Kau! Kau adalah gadis kecil yang tidak bisa apa-apa! Apa benar kau menculik anakku?!”
“ Anak? Aku tidak tau apa yang kau maksud… Haeh… Mengganggu saja… *kembali menutup diri dengan selimut*”
“ Kau! Kau berani kembali tidur seperti itu di hadapanku?!”
“ Siapa yang tidak berani untuk kembali tidur? Dasar pak tua”
Dengan amarah yang memuncak lelaki paruh baya itu menarik selimut yang aku pakai dan mencoba untuk memberikan bogem kepadaku. Untung saja aku cepat-cepat menggunakan tekhnik meringankan tubuh dan menghindar.
“ Kau… Kau sungguh gadis kecil yang menyebalkan!!!”
“ Oh… Aku? Menyebalkan? Apakah aku benar-benar menyebalkan? Javier?”
“ Javier? Kau! Apa kau mengikuti gadis ini dan akan pergi dengannya? Kau sungguh tidak tau diri!!! *memberikan satu pukulan dengan tangan kosong*”
Dengan cepat aku menarik Javier yang hampir mati terkena pukulan yang bisa meremukkan sebuah kulkas itu. Dasar pak tua yang tidak bisa mengendalikan amarah!
“ Hei, Pak tua! Jika kau benar-benar tidak bisa mengendalikan amarahmu itu… Siapapun tidak akan mau berada di dekatmu! Blee… *menjulurkan lidah untuk mengejek Si Pak Tua*”
“ Kau… Dasar gadis sialan!”
“ Ohh… Baiklah berikan aku bogem mentahmu itu… Jika kau mengenai salah satu bagian tubuhku. Maka anak ini akan kembali padamu”
“ Baik! Tapi kita akan bertarung di atas arena pada saat matahari tepat di atas kepala! Aku akan menunggu kehadiranmu gadis kecil! Aku sudah tidak sabar melihat wajah cengengmu itu”
“ Hng… Mari kita nantikan itu, Pak tua *menyeringai lebar*”
Selia dan yang lain masuk ke kamar yang sudah hancur berantakan ini. Aku juga sudah kembali menginjak lantai. Dan meletakkan menurunkan Javier yang sedari tadi ketakutan di pelukanku.
“ Haeh… Aku akan tidur lagi ah…”
“ Raisa! Apa kau tidak terlalu gegabah?”
“ Hmm? Aku rasa tidak…”
“ Raisa?! Kau ini memang benar-benar tidak bisa diatur!”
__ADS_1
“ Benar! Aku memang tidak suka dikekang!”