Penguasa Yang Bereinkarnasi

Penguasa Yang Bereinkarnasi
Eps. 50


__ADS_3

BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨


Hari ini adalah hari dimana aku berangkat untuk memulai petualanganku… Ups salah. Petualangan kami berdua – Aku dan Willy. Mencari buah dari pohon Veronica.


“ Nona? Apa tidak apa-apa jika Nona hanya pergi dengan dia?”


“ Hmm… Aku rasa tidak apa-apa”


“ Baiklah. Aku akan memberikan kalian beberapa petunjuk. Temukan seseorang yang hatinya sekeras batu. Luluhkan. Maka kau akan dapat buah itu”


“ Siapa kau? Kenapa bukan pria ding- guru kami yang memberitaukannya?”


“ Dia sedang sibuk. Cepat berangkat dan cepat pulang yaa!”


Barang-barang yang kubawa cukup banyak. Yah… barang-barang yang cukup muat di dalam tas gendong kecilku. Tapi Willy tidak membawa apa-apa? Apa dia sudah memikirkan ini?


Sepanjang perjalanan kami terus saling diam. Tanpa bicara. Guru tadi memberikanku semacam peta yang menunjukkan kemana kami harus pergi. Yah kurasa ini akan mudah.


“ Apa kau tidak ingin berterima kasih karena sudah membebaskanmu dari kelas membosankan itu”


“ Tidak… *menggelengkan kepala*”


“ Hah?”


“ Tapi aku berterima kasih karena sudah menemaniku berpetualang seperti ini. Kurasa didalam sana sedikit pengap kan?”


Kami menuju ke sebuah pedesaan kecil yang berada tidak jauh dari akademi. Kami terus berjalan tanpa istirahat. Kurasa Willy cukup kuat berjalan.


Ternyata dia orangnya cukup asik. Beberapa kali dia melontarkan lucu-lucuan untuk mencairkan suasana. Aku jadi cukup menikmati perjalanan ini.


“ Kau ingin main tebak-tebakkan?”


“ Boleh…”


“ Kau memiliki 10 batu. Kau ambil 2 batu. Sisa berapa batu milikmu?”


“ Haha… Ini mudah! 10 batu itu milikku. Lalu kuambil juga milikku 2 batu. Sisa batu milikku tetap 10! Benar kan?”


“ Phuh… Hahaha… Kau hebat! Ternyata kau orang yang cukup pintar!”


Setelah beberapa jam berjalan. Tidak kusangka ternyata turun hujan. Hujan ini agak aneh. Airnya tidak berwarna bening seperti air hujan biasa.


“ Hujan ini bukan hujan biasa!”

__ADS_1


“ Benarkah?”


“ Kita harus cari tempat untuk berlindung sementara”


“*menganggukan kepala*”


“ Lihat! Ada rumah disana! Kita berlindung disana dulu untuk sementara”


Tidak disangka ada rumah kecil di tengah-tengah tempat seperti ini. Kami masuk dengan ragu. Waspada dengan apa yang terjadi selanjutnya.


Hujan ini terlihat aneh. Tidak seperti hujan biasa. Willy membuat api unggun. Untuk sementara kami merasa aman. Suara hujan diluar membuat kami tidak bisa apa-apa.


Kriett…


“ Aiya! Siapa kalian?”


“ Hah?! Maaf… Kami kira tidak ada yang tinggal disini… Maaf Pak… Kami hanya berteduh sebentar karena hujan diluar”


“ Huh… Mengagetkanku saja… Kalian ini murid akademi ya? Apa yang kalian lakukan diluar sini?”


Aku menjelaskan panjang lebar tentang misi kami berdua. Pak tua itu mendengarkan dengan baik penjelasanku. Willy diam saja di sebelahku. Entah apa yang dia lakukan.


“ Pak? Diluar hujan sangat deras. Kenapa kau tidak basah sedikitpun?”


“ Eh? Itu… Itu… Karena aku bernaung sebentar di bangunan tua disana *menunjuk sesuatu dengan tangannya*”


Perkataan Willy ada benarnya juga. Diluar hujannya sangat deras. Tidak mungkin bisa melangkah tanpa terkena air. Namun karena dia sudah menjawab dengan tegas.


Mana mungkin aku bisa menentang kan? Terlebih lagi kami masuk rumah ini diam-diam. Kenapa harus mencurigai tuan rumah? Pak tua itu menghidangkan sup untuk kami.


Rasanya seperti jamur. Kenyal dan enak. Sudah lama tidak makan sup seperti ini. Pak tua ini apa sendirian? Kenapa dia sendirian? Ahh… Aku mulai kepo lagi deh…


“ Pak? Boleh aku tau siapa namamu?”


“ Oh… Oh iya… Hahaha… Aku saking asyiknya bercerita sampai lupa menyebutkan nama… Namaku adalah Dalla. Panggil saja aku Pak Da”


“ Pak Da, ya? Apa kau tinggal sendiri?”


“ Ehm… Kalau itu…”


Pak Da menceritakan ceritanya yang ditinggal meninggal oleh sang istri. Sebelumnya dia ingin bunuh diri tapi semangatnya berkobar sejak kedatangan seorang anak yang sekarang entah ada dimana.


Lalu menghabiskan hidup seorang diri disini. Yah… Cukup membuatku sedih. Dan dia menghentikan kisahnya saat dia tau aku sudah merasa sedih.

__ADS_1


“ Nak… Yang kalian cari itu sebenarnya bapak tau jalannya. Tapi bapak tidak bisa mengantar kalian. Tapi bapak akan tunjukkan jalannya”


“ Terima kasih pak. Terima kasih banyak…”


“ Tidak usah sungkan. Sudah lama bapak tidak terima tamu. Seharusnya bapaklah yang berterima kasih”


Aku memberikan peta dari guru pada Pak Da. Lalu dia mulai menunjukkan jalan tercepat menuju ke tempat dimana letak buah Veronica itu.


Setelah hujan mereda. Aku dan Willy melanjutkan perjalanan kami berdua. Dengan peta yang sudah dibuat oleh Pak Da tadi tentunya. Tapi Willy hanya diam sepanjang jalan.


“ Raisa. Berikan petanya padaku *menjulurkan tangan*”


“ Oh! Ini… *memberikan peta*”


“ Hmm… Sepertinya ada yang salah dengan peta ini”


“ Hah? Apa yang salah?”


Tiba-tiba sekelompok orang yang seperti zombie mendekati kami. Apa ini? Kenapa tiba-tiba ada hal seperti ini disini? Apa karena hujan tadi? Memang benar hujan tadi benar-benar tidak biasa.


“ Hujan itu yang membangkitkan mereka *melindungi Raisa*”


“ A… Apa? Bagaimana mungkin?”


“ Hujan yang turun sebelumnya membangkitkan amarah para mayat ini. Mereka akan menyerang siapapun yang mereka hadapi. Kawan atau lawan. Mereka tidak akan mengenal siapapun lagi! *menjelaskan sambil melawan para zombie*”


Aku tidak percaya ada hujan yang sejenis itu. Yang membangkitkan amarah para mayat-mayat ini. Tunggu! Kami melewati jalan yang dikatakan oleh Pak Da.


Apa dia sengaja membawa kami melewati ini? Tapi kenapa ingin kami menemui ini? Ingin kami kesulitan? Atau ingin menghentikan kami menjalankan misi ini? Ini benar-benar aneh.


Aku membantu Willy melawan mayat hidup ini. Dengan membuat anak panah yang cukup banyak untuk melawan mayat-mayat hidup ini. Willy menggunakan pedang yang entah dia dapatkan darimana.


Kurasa pedang miliknya cukup ampuh melawan para mayat hidup ini. Dalam sekali tebas dia bisa membunuh 10 mayat. Benar-benar tidak terduga.


Kami tidak cukup kuat. Mayat-mayat hidup yang timbul semakin banyak saja. Sepertinya kami tidak bisa menghalau semuanya. Jika kami langsung pergi maka mayat hidup ini akan menyerang akademi.


Hari sudah semakin gelap. Tenaga kami juga semakin habis dalam melawan para mayat hidup ini. Bagaimana ini? Apa kami berdua akan mati ditangan para mayat hidup ini?


Aku sudah dikepung banyak mayat hidup. Willy juga sudah tidak terlihat lagi. Kemana dia? Apa dia sudah dimakan para mayat hidup ini? Bagaimana denganku? Apa aku akan mati disini?


Dalam kepasrahanku terhadap keadaan. Tiba-tiba terdengar suara seruling yang samar-samar. Lalu para mayat hidup yang hendak menyerangku berhenti bergerak.


“(Ada apa ini? Kenapa mayat-mayat ini berhenti bergerak? Apa karena suara seruling itu?)”

__ADS_1


Suara seruling itu makin terdengar jelas. Terasa sejuk dan menenangkan hati dan pikiranku yang lelah. Kulihat samar-samar para mayat hidup itu mulai masuk ke dalam kuburnya lagi.


Aku tidak bisa melihat siapa yang meniup seruling itu. Tenagaku sudah habis tak bersisa setelah melawan para mayat hidup itu berjam-jam.


__ADS_2