
BACA, LIKE AND COMMENT✨✨✨
Aku mulai berendam di dalam air harum ini. Setelah beberapa lama akhirnya kurasakan ada rasa sejuk dan segar menyelimuti tubuhku. Kolam besar ini dikelilingi oleh pohon yang bunganya indah sekali.
Beberapa kelopak bunganya jatuh di air. Aku mulai teringat kalau ada beberapa orang yang menunjukkan kekuatannya terang-terangan. Kalau begitu tidak apa-apa kan kalau aku bermain sebentar?
Gumpalan air mulai naik, naik, dan naik hingga sama tingginya dengan ubun-ubunku. Aku membentuk air itu seperti bunga. Kadang seperti panah. Kadang seperti air hujan dan jatuh lagi.
“ Menyenangkan?”
“ Apa? Siapa di sana? *mengambil kain yang di tinggalkan Dessy lalu memakainya dan membentuk air menjadi tombak besar yang melayang di tanganku*”
“ Tidak perlu terlalu takut begitu padaku. Aku tidak memiliki kemampuan seperti itu jadi aku tidak akan menyerangmu”
“ Bagaimana aku bisa percaya padamu?”
__ADS_1
Sama sepertiku. Seorang elf juga tapi pakaiannya bagus dan rapi. Tidak mungkin orang biasa. Dia diam di atas pohon itu pun aku tidak menyadarinya. Pasti bukan orang biasa.
“ Hoo… Tuan Putri Kerajaan Elf Hijau memang galak ya? Ini berbeda dengan yang dulu? Biasanya menungguku untuk turun dan menemanimu mandi”
“ (Apa? Mana mungkin aku semesum itu? Ditemani Dessy saja aku tidak mau. Apalagi di temani orang ini?)”
“ Baiklah-baiklah aku mengalah. Aku hanya bergurau padamu *menyentuh pundakku*”
“ (Ugh… Tangannya dingin… Mau membekukanku? MIMPI!!!)”
“ (Apa? Kemana dia? Kenapa bisa menghindar? Aku yakin pasti benar-benar bukan orang biasa!)”
“ Tuan Putri benar-benar cekatan ya? Sama seperti yang dulu… Aku sudah cukup bertemu denganmu hari ini. Kapan-kapan lagi aku akan mengunjungimu. Sampai jumpa!”
Dessy datang dengan tergesa-gesa dan mengatakan bahwa aku sudah harus bersiap-siap untuk pergi ke Ruang itu karena itu adalah perintah Papa. Yah disini aku tidak lagi bisa dengan mudah memanggil begitu.
__ADS_1
Mulai sekarang karena anda adalah Tuan Putri maka harus memanggil dengan kata Ayahanda dan Ibunda. Itu adalah pesan dari Dessy. Baiklah aku akan ikuti alurnya saja.
Aku pergi ke ruang itu dengan anggun. Beberapa hari ini Papa mengirimkan banyak orang untuk melatihku. Sebenarnya menjadi seorang Tuan Putri mendadak seperti ini sangatlah tidak enak!
“ Saya Putri Raisa datang menghadap Ayahanda dan Ibunda *menunduk dan memberi hormat dan perasaanku sangatlah gugup*”
“ Pfftt… Hahhaha… *Mereka berdua saling berpandangan lalu tertawa tebahak-bahak*”
“ Isa. Kamu nggak usah terlalu formal begitu sama kami. Disini juga nggak ada yang lain kan? Kamu ini baru beberapa hari disini sudah jadi Tuan Putri yang anggun ya?”
“ Huft! Mama niii… *berjalan sebal dan duduk di singgasana dengan kesal dan pipi menggembung*”
“ Sudahlah Putri Mama yang cantik jangan cemberut lagi dongg *mencubit pipi anaknya yang menggembung*”
Di ruangan ini memang lengang. Lebar. Dan juga megah. Aku baru tau ada ruangan seperti ini di dalam pohon oak. Ya, tidak heran sih. Pohonnya saja sangat besar.
__ADS_1
Aku melihat dari bawah saja seperti menjadi semut. Eh tapi aku tidak pernah melihat matahari? Bulan juga? Ah mungkin karena di dalam pohon jadi mereka berdua tidak menampakkan wajahnya.