
Cenza kembali ke kantor, ia mengecek ponselnya, mungkin saja ada pesan dari Arka, tapi harapannya sia-sia.
Ia menghabiskan waktu dengan menduga-duga tidak jelas.
Biasanya mendekati jam pulang kantor, Arka sudah menelefon atau mengirim pesan, menanyakan apakah mau dijemput atau apa.
Hari ini ponselnya benar-benar sepi.
Awalnya curiga, menjadi kesal.
Cenza pulang menggunakan taxi online, ia tidak menghubungi Arka. Kekesalannya membuat lehernya seperti tercekik karena menahan rasa marah.
"Sudah pulang sayang? sama siapa?"
"Tadi sama taxi online Tante" jawab Cenza dan mencium pipi Bu Riri, sudah jadi kebiasaan sebelum dan sepulang bepergian ia mencium pipi Tante Riri.
"Tidak dijemput Arka? "
"Sibuk kali Tan, Cenza ke atas dulu ya Tan"
"Iya Sayang"
Cenza bergegas ke atas, ia masuk dan mengunci kamarnya. Ia bertekad tidak akan berbicara dengan Arka.
Ia mengirim pesan ke Zara, supaya gadis itu tidak mengganggunya, ia benar-benar ingin sendiri.
"Ra, Kak Cenza tidur dulu ya, kalau Om sama Tante tanya bilang saja lagi tidur ok? "
"Ok Kak. Kak Cenza sakit? "
"Tidak sayang, cuma lagi capek"
"Ok, siap Kak"
Cenza segera mandi, setelah itu ia baring-baring di ranjangnya yang empuk, masih berharap ada pesan dari Arka.
Ia melewatkan makan malam bersama Zara, Om Ray, dan Tante Riri, karena takut Arka tiba-tiba pulang, sedangkan ia masih belum ingin berbicara dengannya.
Saat ia mendengar suara Arka di bawah jam sudah menunjukkan pukul 20.24
Ia sudah merasa lapar, tapi tidak mungkin ia keluar.
Ia mendengar langkah kaki mendekati pintu kamarnya. Ia tahu itu pasti Arka
"Tok.. Tok.. Tok, Sayang buka pintunya" suara ketukan diikuti suara Arka.
Cenza tidak menyahut, apalagi membuka pintu.
Arka kembali mengetuk dan memanggilnya
"Sayang, kamu kenapa? biasanya juga tidak kunci pintu"
Tetap tidak ada jawaban, pintu kamar Zara terbuka, ia melongok kan kepalanya
"Kak, tadi Kak Cenza titip pesan, katanya Kak Cenza lagi tidak ingin diganggu. Lagi capek mau istirahat, tapi Zara curiga deh, Jangan-jangan Kak Arka bikin kesal Kak Cenza ya? tidak biasanya Kak Cenza melewatkan makan malam"
Arka melirik jam tangannya, jam begini Cenza belum makan?
Ia kembali mengetuk kamar Cenza kali ini lebih keras, Cenza terpaksa bangun dan membukanya karena tidak ingin Om Ray sama Tante Riri sampai tahu kalau ia lagi kesal sama Arka.
__ADS_1
Arka langsung menerobos masuk, kemudian menutup pintu di belakangnya. Cenza tidak melihat apalagi berbicara dengan Arka. Ia kembali ke tempat tidur dan pura-pura melanjutkan tidur.
"Sayang Kamu kenapa? " tanya Arka ikut naik ke tempat tidur
Saking kesalnya dicuekin sepanjang hari akhirnya Cenza menangis, tapi masih membelakangi Arka.
Arka menyadari ada yang tidak beres, Ia segera membalikkan tubuh Cenza menghadap ke arahnya. Cenza menutup wajah dengan kedua tangannya
"Sayang kamu kenapa? tolong bicaralah, aku tidak ingin kamu sakit"
"Aku ingin sendiri, kembali saja ke kamarmu Ka" kata Cenza setelah berhasil menghentikan tangisnya
"Sayang aku salah apa? kenapa kamu nampak kesal sama aku? "
"Karena kamu terlalu sibuk menemani teman wanita mu sehingga tidak menghubungi aku sedikitpun"
"Teman wanita apa sih sayang? "
"Sudahlah Ka, berhenti berpura-pura, tadi siang aku ke kantormu berniat mengajakmu makan siang bersama, tapi kamu malah pergi sama gadis itu, dan tidak mengabari ku sampai sekarang kamu pulang dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa" semprot Cenza kesal
Arka pun akhirnya mengerti apa yang membuat gadisnya marah.
Ia meraih Cenza ke dalam pelukannya, meskipun Cenza menolak ia tidak melepaskannya.
"Sssstt dengar dulu sebelum kamu marah-marah lagi" Arka mencium lembut kening Cenza
"Gadis yang kamu liat tadi itu Karina, rekan bisnis aku. Kami bekerjasama dalam proyek yang akan dikerjakan perusahaan kita"
"Bohong. Buktinya saking asiknya sama dia kamu tidak mengabari ku sedikitpun"
"Bukan hanya Karina yang aku temui sayang, biasanya kalau sedang sibuk kan aku suka lupa kasih kabar. Kok hari ini ngambek? Biasanya juga tidak komplain"
Cenza diam, Arka melepas pelukannya namun Cenza malah memeluknya, dan menyembunyikan wajahnya.
"Ayo turun, kamu harus makan. Maafkan aku ya sayang" Di angkatnya wajah Cenza dari dada nya.
"Cepat cuci wajahmu anak nakal, sebelum Papa dan Mama berpikir aku telah melukaimu"
Cenza segera ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Ia malu karena sudah curiga yang macam-macam kepada Arka.
Arka masih menunggunya. Ia berjalan ke pintu karena masih malu ia hendak segera keluar, tapi Arka memeluknya dari belakang.
"Mau ke mana kamu tanpa aku hah? "
Arka menggigit pelan bahu Cenza.
Cenza berbalik melingkarkan tangannya di leher Arka.
"Janji tidak bakalan bikin aku kesal lagi"
"Haha aku kan tidak buat apa-apa sayang, kamu saja yang curiga. Tapi ya janji deh tidak bakalan bikin Cenza Putri kesal lagi"
Cenza tersenyum senang ia memberi hadiah ciuman lembut di bibir menawan milik Arka.
Arka membalas ciuman Cenza dengan lembut dan lebih dalam.
ketukan di pintu menghentikan mereka berdua
"Kak Cenza" panggil Zara
__ADS_1
"Ya Ra" sahut Cenza merapikan rambutnya dan berjalan ke pintu diikuti Arka.
"Ada apa Ra? Kak Cenza baru mau turun"
"Aku pikir Kak Cenza masih tidur"
Arka muncul di belakang Cenza.
"Kakak ngapain? pasti habis merayu Kak Cenza ya? aku sudah tahu, Kak Cenza pasti tadi lagi kesal sama Kak Arka, ya khan?" goda Zara
"Anak kecil tahu apa, sana masuk kamar mu" sahut Arka dan menggandeng Cenza ke bawah.
Arka menemani Cenza di meja makan, Ia sudah makan jadi hanya menemani Cenza.
"Lain kali awas kamu kalau melewatkan jam makan" gerutu Arka
Cenza hanya diam. Menatap Arka dengan bola matanya yang indah.
\*
Sebelum ke kantor semua sarapan bersama di meja makan.
Tiba-tiba Cenza mual dan hampir memuntahkan kembali makanan yang sudah di telannya. Ia segera berlari ke kamar mandi di lantai bawah.
Semua mata sekarang menatap curiga ke arah Arka
"Apa-apaan sih? Kenapa semua pada menatap Arka sih? "
"Kamu sudah apakan Cenza Ka? " tanya Bu Riri
"Apakan apa sih Ma? "
"Jawab saja pertanyaan mama kamu Ka" Pak Ray pun nampak mencurigai anak lelakinya.
"Jawab apa sih? Arka mau lihat Cenza dulu sepertinya dia lagi sakit"
Arka tidak menghiraukan tatapan curiga adik dan orang tuanya. Ia bergegas ke kamar mandi
"Sayang, kalau kamu sakit tidak usah ke kantor saja ya"
Cenza nampak lemas.
"Ini gara-gara kamu telat makan semalam. Jangan sampai kemarin siang kamu tidak makan? "
Cenza tidak menyahut. Arka membawanya kembali ke kamar diikuti tatapan curiga Pak Ray dan Bu Riri.
Mereka segera menelefon dokter keluarga. Arka menunggu sampai Cenza selesai diperiksa baru ia ke kantor.
"Tidak apa-apa, Nona Cenza sepertinya cuma masuk angin. Hari ini istrahat saja dulu"
"Terima kasih Dokter Charles" kata Bu Riri. Mereka mengantar dokter Charles ke depan dengan lega
Arka menyelimuti Cenza, dan mencium keningnya.
"Tidur saja lagi sayang, nanti siang aku pulang"
__ADS_1
Cenza mengangguk.
Arka segera turun dan meminta Pak Arif mengantarnya ke kantor.