Penjaga Hati

Penjaga Hati
Kesal


__ADS_3

Cenza menatap Amplop yang dikirim untuknya.


Tidak ada nama pengirimnya. Cenza menimbang-nimbang apakah akan membukanya di bawah atau dibuka di kamar saja. Ia kuatir isinya mungkin saja rahasia yang hanya boleh ia ketahui.


"Apa tuh Kak Cenza?"


"Surat Ra, kurang tahu juga siapa pengirimnya. Kakak ke kamar dulu ya"


"Kak Arka sudah ke kantor? "


"Sudah Ra, kamu belum berangkat? "


"Ini sudah mau jalan kak, bye Kak"


"Bye Ra, Hati-hati ya"


"Asiiap"


Setelah Zara pergi Cenza buru-buru masuk ke kamarnya dan Arka.


Ia duduk di pinggir tempat tidur dan mulai membuka amplop coklat di tangannya dengan hati-hati. Apa sih isinya?


Cenza terbelalak memandang foto di tangannya.


Arka nya bertemu diam-diam dengan Vanny.


Mungkinkah Arka masih menyukai Vanny? itukah alasan dia pulang terlambat semalam? Tapi semalam katanya Ia bertemu temannya.


Kata orang, seorang laki-laki biasanya akan sulit melupakan cinta pertama mereka. Mungkin hal itu juga berlaku untuk Arka. Vanny adalah cinta pertamanya, sudah sewajarnya ia tidak bisa melupakan Vanny.


Cenza merasa terluka menyadari bahwa Arka masih memiliki ruang tersendiri di hatinya untuk Vanny.


Dipandangnya kembali Foto di tangannya. Jika Arka memang benar-benar hanya mencintainya, tidak mungkin Arka berbohong hanya untuk bertemu Vanny.


Sejak pagi ia yang memang sudah merasa tidak sehat sehingga tidak ke kantor menjadi semakin malas.


Duduk dan berbaring di kamar tidak membuatnya merasa nyaman. Untuk membunuh rasa bosannya ia berniat hendak keluar saja.


Cenza sudah bersiap-siap untuk pergi sebentar mencari angin untuk menghilangkan rasa sesaknya, namun dering ponselnya berbunyi


Bukankah ini nomor David?


Suasana hatinya yang sudah buruk semakin buruk mengingat apa yang telah David lakukan.


Dijawabnya panggilan David


"Hi Cenza, senang rasanya kamu menjawab telefon dari ku"


"To the point saja, karena aku tidak punya waktu untuk berbincang-bincang dengan mu"


Cenza merasa tidak perlu bersopan santun menghadapi orang seperti David


"Wah baru kali ini kamu sekasar itu Cenza, kamu tidak lupakan? aku masih cinta pertamamu Za, dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu"


"Sepertinya kamu salah makan obat. Aku ingin kamu mendengarnya dengan baik, Aku sangat menyesal karena di masa remaja ku pernah menyukai dan mengagumi orang seperti dirimu.

__ADS_1


Kamu tahu, kamu bagaikan buku yang memiliki sampul yang indah namun sayang isinya benar-benar tidak bermutu"


Kata-kata Cenza menusuk dan membuat David murka.


David yang awalnya masih berbicara diselingi tawa berubah kasar


"Kamu tahu Cenza, rumah dan tanah milik keluargamu ada di tanganku, apakah kamu lupa kalau kamu harus menyembah padaku agar aku mengembalikan harta yang masih tersisa milik keluarga mu?"


"Oh ya? aku tidak menyangka bahwa inilah dirimu sebenarnya. Sangat disayangkan yang menjadi istrimu kelak. Jangan bermimpi aku akan membiarkanmu lolos setelah membuat aku dan orang tuaku kehilangan harta milik kami yang masih tersisa. Karena kamu tidak akan mampu mengambil kenangan kami yang terlukis indah di sana"


"Hahahaha, aku benar-benar takut saat ini Cenza. saking takutnya aku tidak bisa menahan tawa"


"Apakah kamu sudah puas tertawa? jika sudah aku akan menutupnya"


"Bye Cenza, aku menunggu kamu ditemani pacar mu memohon-mohon agar Aku mengembalikan rumahmu"


Cenza segera menutup telefon dan menjatuhkan dirinya ke tempat tidur.


Mimpi apa aku semalam sehingga menjalani hari ini dengan amarah membuat aku tersiksa karena tidak bisa melampiaskan nya.


David masih mengingat dengan jelas kata-kata Cenza tadi.


"Aku akan membuatmu menyesali kata-kata mu Cenza, tunggu saja tanggal mainnya" geram David


dibanting nya ponselnya ke tempat tidur.


Ia bertekad akan membalas Cenza.


Arka menelefon Cenza saat istirahat siang.


Cenza yang dari pagi menunggu kabar dari Arka tidak mau menjawabnya, bahkan saat Arka memanggil sekali lagi ia me reject nya.


Arka kembali menelefon Cenza, namun lagi-lagi diriject.


Arka menjadi kesal, apa yang salah dengan istrinya sungguh membuat dia bingung.


Ia menelefon mamanya tapi tidak di jawab.


Ia pun menelefon Bi Inah


"Bi, Non Cenza di mana? "


"Di kamar Tuan, mungkin lagi tidur"


"Ok Bi, tolong siapkan makanan, aku makan siang di rumah saja"


"Baik Tuan"


Bi Inah segera melanjutkan apa yang tadi sedang ia kerjakan


Hanya beberapa menit, Arka sudah sampai di rumah, dan Ia langsung menuju kamar.


Ia membuka pintu kamar dengan terburu-buru.


Cenza sedang membaca novel, melihat Arka datang ia tidak peduli dan terus melanjutkan membaca novel di tangannya.

__ADS_1


Arka berdiri menatap Cenza


"Sayang kamu cuekin aku? "


Tak ada jawaban


"Sayang? " Arka mulai kesal dicuekin


Masih tak ada respon.


Arka berjalan ke arah Cenza mengambil novel yang dibacanya. Cenza mengangkat wajahnya, matanya sudah berka-kaca


"Sayang kamu kenapa? " Arka duduk di tepi tempat tidur dan menggenggam kedua tangan Cenza.


Cenza menarik kedua tangannya.


"Kalau kamu tidak benar-benar mencintai aku kenapa kamu menikahi aku Ka? " air mata mulai menuruni pipinya.


"Sayang kamu bicara apa sih? kamu tahu sendiri sebesar apa aku mencintai kamu, aku tidak ingin kehilangan kamu, tapi kenapa kamu malah bicara seperti itu? "


Cenza mengambil foto-foto yang tadi di simpan nya di bawah bantal dan menunjukkannya kepada Arka.


"Kalau kamu memang sayang sama aku kenapa harus ada foto-foto seperti ini yang datang pada ku? "


Arka terdiam melihat foto-foto nya semalam dengan Vanny. Sialan gadis itu, ini pasti rencananya kemarin


"Sayang aku bisa menjelaskannya. Semalam aku tidak memberitahu kamu karena tidak ingin kamu kuatir dan curiga sama aku"


Cenza tidak menjawab ia malah berbalik dan tidur membelakangi Arka. Arka melepas sepatunya dan ikut naik ke tempat tidur. Memeluk Cenza dan membalikkan tubuh Cenza menghadap ke arahnya


"Ini semua akal-akalan Vanny sayang, kemarin ia datang ke kantor ku memohon-mohon untuk membantu nya, ia hanya ingin menunjukkan kepada Gio bahwa ia sudah move on. Karena Vanny berjanji tidak akan mengganggu ku lagi jika aku menolongnya kali ini jadi aku ke sana menemuinya. Tapi aku sungguh tidak menyangka kalau dia sudah merencanakan semuanya" Jelas Arka panjang lebar


"Tapi kamu bisa beritahu aku kan? kenapa juga kamu harus berbohong? "


"Karena aku tidak ingin membuat kamu kuatir sayang, tapi jika tahu akhirnya begini lebih baik kemarin aku bilang dulu ke kamu" Arka mendekap Cenza ke dadanya


"Sayang, sungguh aku tidak bisa melihat kamu seperti ini, sudah ya, kita baikan" diciumnya kening Cenza.


"Sungguh kamu tidak punya perasaan lagi pada Vanny? "


"Sungguh sayang" Arka mulai menghujani bibir dan leher Cenza dengan ciuman.


Meninggalkan tanda yang nanti harus membuat Cenza kerepotan mencari cara untuk menutupinya.


Tangan Arka mulai bergerilya ke mana-mana.


berlomba dengan bibirnya.


Ketukan di pintu membuat dia menghentikan aksinya. Sialan siapa lagi yang mengganggu kesenangannya


Zara membuka pintu dan masuk. Si pengacau


"Oops sorry ada Kak Arka ya?"


"Kalau sudah tahu segera pergi sana, hus hus" usir Arka

__ADS_1


"Dasar Kak Arka, maunya berdua mulu" Zara menutup pintu dan pergi.


Arka bergegas mengunci pintu dan kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda


__ADS_2