Penjaga Hati

Penjaga Hati
Tamu tak diundang


__ADS_3

Selama di kantor pikiran Arka bukan di pekerjaannya tapi di rumah. Arka tidak tenang, ia sering menelefon mamanya menanyakan keadaan Cenza, membuat Bu Riri kesal dengan tingkah anaknya tersebut.


"Ma, gimana Cenza, sudah baikan? dia tidak kenapa-kenapa kan Ma? "


"Cenza lagi istirahat Arka, kalau ada apa-apa tidak mungkin mama diam-diam dan tidak menghubungi kamu"


"Arka kan kuatir Ma"


"Kuatir sih kuatir tapi tidak bikin mama pusing juga kali, dikit dikit ponsel mama bunyi" gerutu Bu Riri


"Mama kayak tidak pernah muda saja, dulu sama papa kan begitu juga" goda Arka


"Papa kamu tidak segila kamu" omel mamanya di sambut tawa Arka.


"Bilang Bi Inah masakin yang enak, nanti siang Arka makan di rumah sama Cenza"


"Ya sudah, jangan telefon lagi ya, tidak akan mama jawab lagi"


"Siap Boss" sahut Arka kemudian mengakhiri panggilannya.


Bu Riri naik ke atas, ke kamar Cenza, ia ingin melihat apakah Cenza sudah bangun atau belum.


Bu Riri mendorong pintu kamar Cenza, ia tidak melihat Cenza, namun bunyi air di kamar mandi menunjukkan bahwa Cenza lagi di kamar mandi.


Bu Riri duduk menunggu Cenza di tempat tidur.


Tak berselang lama Cenza keluar


"Tante, kok tidak panggil Cenza? Tante sudah lama"


"Baru kok sayang, bagaimana sekarang, sudah sedikit enakan atau bagaimana? "


"Iya sudah enakan Tan, Cenza cuma masuk angin"


"Lain kali jangan telat makan lagi kamu, nanti siang Arka pulang makan siang di rumah, mau tunggu Arka atau mau makan sekarang? "


"Tunggu Arka saja Tan"


"Kalau begitu Tante ke bawah dulu ya, kalau butuh apa-apa minta saja sama Bi Inah"


Kata Bu Riri sambil membelai punggung Cenza


"Baik Tan"


Setelah Bu Riri turun, ponsel Cenza berdering, nomor baru memanggil...


"Hallo selamat siang"


"Siang Za, ini David"


"David? Kak David? "


"Iya Za, tetangga kamu yang paling keren"


Cenza tertawa, "Tapi seingat ku, aku tidak memberikan nomor ponsel aku ke Kak David, dapat darimana nomorku Kak? "


"Oh iya Za, ini aku lagi di kantor kamu, tadinya mau ajak kamu makan siang bareng, kebetulan kantor aku kan tidak jauh dari kantor kamu Za. Tapi kata temanmu, kamunya tidak masuk kantor karena lagi sakit, sakit apa kamu Za? "

__ADS_1


"Iya Kak. cuma masuk angin, sekarang sudah baikan kok, besok sudah bisa masuk kantor".


"Cepat sehat ya, kalau begitu sampai ketemu nanti Za"


"Thanks Kak David. See you"


Cenza membunuh rasa bosannya dengan membaca novel kesukaannya. Tanpa ia sadari ia jatuh tertidur.


Ia kaget merasakan ada yang menggenggam tangannya dan merasakan sesuatu menyentuh keningnya. Cenza membuka mata, tatapannya bertemu dengan tatapan mata kekasihnya, yang sekarang tersenyum penuh cinta.


"Puas tidurnya Princess? pasti tadi mimpiin aku ya? " goda Arka


Cenza tidak menjawab hanya melingkarkan tangannya di leher Arka. Ia sangat bahagia bisa mencintai dan dicintai Arka.


"Masih ngantuk? "


Cenza menggeleng. Ia beringsut duduk.


"Sudah lama sayang? "


"Baru kok. Sudah Enakan? "


"Sudah" jawab Cenza malas-malasan dan menyandarkan kepalanya ke dada Arka.


Arka memeluk dan mengusap kepala kekasihnya dengan lembut.


"Sebentar lagi baru dilanjutkan manja-manjanya, makan dulu, nanti masuk angin lagi" bisik Arka


Cenza pun segera mengangkat kepalanya sebelum ia dikuliahi lagi oleh Arka.


Keduanya turun ke ruang makan sambil bergandengan.


"Bapak sama Ibu sedang keluar Tuan, Kata Bapak makan siang dengan rekan bisnis"


"Kalau begitu kami makan dulu ya Bi"


"Ya Tuan" Bi Inah meninggalkan mereka berdua.


Belum sepuluh menit Arka dan Cenza makan, Bi Inah muncul lagi.


"Non Cenza, ada tamu untuk Non Cenza"


"Tamu siapa Bi? " tanya Arka


"Saya tidak kenal Tuan. Namanya David"


"Oh Kak David"


"David siapa sayang? aku kenal? "


"Tidak sayang kamu tidak mengenalnya. Dia tetangga ku dulu, aku baru saja bertemu lagi dengannya kemarin di restoran depan kantor"


Cenza memilih untuk menjelaskan sedetail-detailnya sebelum Arka curiga yang aneh-aneh.


"Bilang saja tunggu sebentar Bi" ujar Arka


"Baik Tuan"

__ADS_1


Selesai makan Arka merangkul pundak Cenza dan berjalan menuju ruang tamu dimana David menunggu. Ia seolah-olah ingin memproklamirkan bahwa Cenza adalah miliknya, tidak ada yang bisa merebutnya. Cenza hanya tersenyum dengan sikap Arka.


Melihat Cenza muncul dirangkul cowok tampan yang nampak rapi dan necis itu David langsung menduga kalau pria muda di depannya adalah pacar Cenza.


"Hi Kak David, maaf menunggu. Kenalkan Kak ini calon suami Cenza" Cenza memperkenalkan Arka sebagai calon suaminya membuat hidung Arka kembang kempis karena senang.


Dua cowok tampan itu bersalaman. Dalam hati Arka bersyukur karena sudah menjadikan Cenza kekasihnya, kalau tidak mungkin Cenza sudah jatuh ke pelukan cowok ini. Karena menurut penglihatannya David tipe cowok yang tampan dan mudah memikat wanita dengan wajahnya yang memiliki darah blasteran.


David sendiri punya penilaian tersendiri untuk Arka, menurutnya Arka tipe cowok tampan yang sepertinya sedikit tertutup.


"Kak David kok tidak bilang-bilang kalau mau datang? "


Cenza bertanya berusaha mencairkan suasana yang sedikit kaku.


"Kebetulan aku lewat sini Za, makanya aku mampir sekalian melihat kamu yang lagi sakit"


Arka menggeram dalam hati, darimana dia tahu Cenza sakit?


"Aku sudah baikan kok Kak"


Cenza merasakan bahunya diremas Arka. Ia tahu Arka pasti tidak suka dengan perhatian David padanya.


"Syukurlah Za. Senang mendengarnya"


Arka sudah hendak menyahut ketika tiba-tiba Zara muncul. Ia baru pulang sekolah diantar temannya.


"Selamat siang"


"Selamat siang Ra, sama siapa? "


"Sama teman kak" Zara menjawab Cenza tapi matanya memperhatikan David.


"Busyet, nih cowok cakep banget, siang-siang bisa cuci mata liat yang cakep-cakep, untung dirinya masih kelas Dua Belas, kalau tidak ia pasti sudah naksir berat sama cowok satu ini"


"Ya sudah ke dalam, kok masih berdiri saja" tegur Arka


"Ya Kak" jawab Zara tidak iklas, karena ia masih ingin berlama-lama di depan.


David menengok jam tangannya,


"Sorry Za, Arka, sepertinya aku harus pergi sekarang, aku mau jemput mamaku di Airport.


Senang berkenalan denganmu Arka, semoga kita bisa berteman" ujar David sambil memamerkan senyum sejuta pesonanya.


"Senang juga berkenalan denganmu David" kata Arka. Arka bisa melihat, ada yang aneh dengan tatapan David saat melihat Cenza. Sepertinya David menyimpan perasaan khusus pada Cenza. Mudah-mudahan saja ia salah melihat.


"Titip salam untuk Tante Clara ya Kak"


"Ok Za. bye"


Setelah David pergi Arka segera menarik tangan Cenza ke dalam.


"Mulai sekarang, aku tidak ingin melihat kamu bertemu dengan cowok itu"


"Loh emangnya kenapa sih Ka? kita cuma teman kok"


"Kalau aku bilang tidak ya tidak sayang" tegas Arka

__ADS_1


"Tapi Ka, kita itu tetangga sejak kecil, orang tua kita saling kenal juga. Lagipula aku tidak mungkin suka sama Kak David, meskipun dulu waktu masih remaja Kak David itu cinta pertama aku, tapi Kak David tidak pernah menyukai aku, ia cuma menganggap aku adiknya, sebatas tetangga saja" Cenza berkata sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.


Dan itu adalah kesalahan besar yang sudah dilakukan oleh Cenza.


__ADS_2